SEJARAH DAN SISTEM MASTER POINTS WORLD BRIDGE FEDERATION
Dari Sistem Penghargaan Pemain hingga Menjadi Catatan Prestasi Bridge Dunia
Oleh: Bert Toar Polii – Tukang Bridge
Dalam olahraga bridge, kemenangan dalam satu turnamen tentu penting. Tetapi bagaimana kita mengukur prestasi seorang pemain selama bertahun-tahun?
Bagaimana membedakan pemain yang hanya sekali menjadi juara dengan pemain yang selama puluhan tahun konsisten tampil di kejuaraan internasional?
Pertanyaan seperti inilah yang melatarbelakangi lahirnya World Bridge Federation Master Point System.
Master Points WBF pada dasarnya bukan sekadar angka. Sistem ini dirancang untuk memberikan gambaran mengenai nilai, aktivitas dan prestasi seorang pemain bridge, sekaligus menyediakan dasar untuk pemberian gelar internasional.
WBF sendiri menjelaskan bahwa sistem Master Points mulai dirumuskan pada akhir dekade 1970-an sebagai sistem untuk memberikan penghargaan kepada pemain terbaik dan menyediakan mekanisme pemberian gelar.
Dalam perkembangannya, sistem tersebut mengalami perubahan besar dan kemudian dikenal sebagai Bernasconi System.
AWAL MULA MASTER POINTS WBF
Sistem Master Points WBF mulai dikembangkan pada akhir 1970-an.
Tujuan utamanya sederhana tetapi sangat penting:
memberikan penghargaan yang objektif kepada pemain yang berhasil mencapai prestasi tinggi dalam kompetisi bridge internasional.
Sebelum sistem ini berkembang, keberhasilan pemain lebih banyak dikenali melalui kemenangan dalam kejuaraan tertentu.
Namun bridge adalah olahraga yang mempunyai karakteristik unik.
Seorang pemain dapat mempunyai karier selama 20, 30 bahkan 40 tahun.
Ia mungkin tidak selalu menjadi juara, tetapi secara konsisten tampil di berbagai kejuaraan besar.
Karena itu diperlukan sebuah sistem yang mampu mencatat prestasi jangka pendek sekaligus perjalanan karier.
Dari sinilah kemudian muncul dua konsep penting:
Master Points (MP)
dan
Placing Points (PP).
MASTER POINTS DAN PLACING POINTS
Keduanya sering dianggap sama, padahal fungsinya berbeda.
MASTER POINTS — MENGGAMBARKAN KEKUATAN SAAT INI
WBF menjelaskan bahwa Master Points dimaksudkan untuk berusaha menunjukkan “true worth” seorang pemain.
Artinya, Master Points lebih diarahkan untuk menggambarkan aktivitas dan kemampuan pemain dalam periode yang relatif baru.
Karena itu, MP yang diperoleh bertahun-tahun lalu nilainya secara bertahap berkurang.
Jika seorang pemain berhenti berprestasi, jumlah Master Points-nya akan terus menurun dan pada akhirnya dapat mendekati nol.
WBF menggunakan sistem depresiasi 15 persen setiap tahun.
Dengan kata lain:
Master Points = bentuk ukuran prestasi yang lebih mencerminkan kondisi terkini.
PLACING POINTS — MENGGAMBARKAN KARIER
Berbeda dengan Master Points.
Placing Points tidak mengalami depresiasi.
WBF menjelaskan bahwa PP menggambarkan career of a player.
Jadi PP yang diperoleh 20 atau 30 tahun lalu mempunyai nilai yang sama dengan PP yang diperoleh sekarang. PP terus terakumulasi sepanjang karier.
Konsep ini sangat menarik.
Bayangkan dua pemain:
Pemain A sangat aktif dalam lima tahun terakhir tetapi belum mempunyai sejarah panjang.
Pemain B sudah bermain selama 30 tahun dan pernah memenangkan berbagai kejuaraan besar, tetapi sekarang tidak terlalu aktif.
Master Points mungkin lebih tinggi pada pemain A.
Tetapi Placing Points dapat jauh lebih tinggi pada pemain B.
Dengan demikian WBF mempunyai dua cara melihat seorang pemain:
MP menggambarkan “seberapa kuat dan aktif sekarang”.
PP menggambarkan “seberapa besar perjalanan kariernya”.
LAHIRNYA SISTEM BERNASCONI
Pada 1992, WBF melakukan perubahan besar terhadap sistem Master Points.
Sistem baru tersebut dikenal sebagai Bernasconi System, mengambil nama dari tokoh yang terkait dengan pengembangan sistem tersebut.
Pada saat sistem ini mulai diberlakukan, total Master Points setiap pemain dihitung kembali dengan hanya memperhitungkan MP yang diperoleh dalam 12 tahun terakhir, yaitu periode 1981–1992.
Total tersebut kemudian dikalikan sepuluh.
Tujuan pengalian tersebut adalah memperbesar rentang angka Master Points sehingga lebih banyak turnamen dapat diberikan Master Points dengan skala yang memadai.
Sementara itu, Placing Points tetap memperhitungkan seluruh hasil sepanjang karier pemain.
Yang juga penting, gelar WLM dan WGM yang sudah diperoleh berdasarkan sistem sebelumnya tetap dipertahankan.
MENGAPA MASTER POINTS MENGALAMI DEPRESIASI?
Setiap akhir tahun, total Master Points pemain dikurangi 15 persen.
Namun MP yang baru diperoleh pada tahun tersebut belum terkena depresiasi.
Periode yang disebut sebagai Master Point Year juga mempunyai definisi khusus.
Menurut aturan WBF, satu Master Point Year berlangsung dari awal World Bridge Championship sampai awal World Bridge Championship berikutnya.
Dengan sistem ini, WBF berusaha mencegah seorang pemain yang sudah lama tidak aktif tetap berada di posisi teratas hanya karena pernah mengumpulkan banyak poin puluhan tahun sebelumnya.
Jadi sistemnya mempunyai logika:
Prestasi lama tetap dihargai melalui PP.
Prestasi terbaru tercermin melalui MP.
GELAR WBF
Master Points dan Placing Points kemudian digunakan untuk menentukan berbagai gelar.
Untuk kategori Open dan Women, gelar utamanya adalah:
WORLD MASTER — WM
Diperoleh dengan mencapai:
150 Master Points.
WORLD INTERNATIONAL MASTER — WIM
Diperoleh dengan:
350 Master Points.
WORLD LIFE MASTER — WLM
Diperoleh dengan:
5 Placing Points
atau
memenangkan setidaknya satu World Championship.
WORLD GRAND MASTER — WGM
Membutuhkan:
10 Placing Points
dan
memenangkan setidaknya satu World Championship.
Ada sesuatu yang sangat menarik di sini.
Untuk menjadi WIM, pemain membutuhkan akumulasi Master Points.
Tetapi untuk mencapai WLM dan WGM, yang diperlukan adalah Placing Points dan/atau kemenangan World Championship.
Artinya, gelar yang lebih tinggi tidak semata-mata diberikan kepada pemain yang banyak mengumpulkan poin.
Ada unsur prestasi puncak dan prestasi karier.
GELAR BERLAKU SEUMUR HIDUP
Salah satu perubahan penting dalam sejarah WBF adalah keputusan yang berlaku sejak Montreal 2002.
WBF menetapkan:
Semua pemain yang telah memperoleh gelar akan mempertahankan gelarnya seumur hidup.
Ini merupakan prinsip yang sangat penting untuk memahami daftar pemegang gelar Indonesia.
Misalnya seorang pemain memperoleh WIM ketika masih aktif bermain.
Bertahun-tahun kemudian ia berhenti bermain dan Master Points aktifnya mengalami depresiasi.
Gelar WIM-nya tidak hilang.
Karena itu:
MP bisa turun.
Gelar tidak turun.
Inilah alasan mengapa kita tidak boleh membuat daftar pemegang gelar WBF hanya berdasarkan ranking Master Points terbaru.
OPEN, WOMEN DAN MIXED
WBF Master Points tidak hanya mempunyai satu daftar.
Master Points diberikan secara terpisah untuk:
Open
Women
Mixed
WBF menjelaskan bahwa Master Points diberikan secara terpisah untuk ketiga kategori tersebut.
Hal ini mempunyai konsekuensi menarik.
Seorang pemain perempuan yang bermain dalam event Women dapat mengumpulkan Women Master Points.
Tetapi apabila ia bermain dalam event Open, ia dapat memperoleh Open Master Points.
Demikian pula dalam event Mixed, sistem mempunyai pencatatan tersendiri sesuai ketentuan WBF.
Inilah yang nanti menjelaskan mengapa dalam daftar pemain Indonesia terdapat pemain seperti Lusje Olha Bojoh dan Conny Eufke Sumampouw yang mempunyai gelar dalam lebih dari satu kategori.
SENIOR POINTS
WBF juga mempunyai sistem khusus untuk pemain Senior.
Senior Points (SP) hanya diberikan untuk event Senior dan dicatat dalam ranking Senior tersendiri.
Senior Points juga mengalami depresiasi 15 persen per tahun.
Gelar Senior terdiri dari:
SENIOR MASTER — SM
150 Senior Points
SENIOR INTERNATIONAL MASTER — SIM
350 Senior Points
SENIOR LIFE MASTER — SLM
Memenangkan WBF Senior World Championship
SENIOR GRAND MASTER — SGM
1.000 Senior Points dan memenangkan WBF Senior World Championship.
Perlu dicatat bahwa Senior events tidak memberikan Placing Points.
Karena itu sistem Senior berbeda dengan sistem Open dan Women.
BERAPA BESAR MASTER POINTS YANG DIBERIKAN?
Jumlah Master Points tidak sama untuk setiap kejuaraan.
WBF mempunyai Master Point Tables yang menetapkan jumlah poin untuk berbagai kejuaraan.
Misalnya dalam World Bridge Games, juara Open Teams mendapatkan:
1.000 Master Points
peringkat kedua:
700 MP
peringkat ketiga:
500 MP
dan seterusnya.
Untuk World Women's Knockout Teams atau McConnell Cup, juara mendapatkan 450 MP, runner-up 340 MP dan peringkat ketiga 300 MP.
Untuk World Women's Pairs, juara mendapatkan 600 MP, runner-up 550 MP dan peringkat ketiga 500 MP.
Sedangkan pada World Senior Pairs, poin yang diberikan adalah Senior Points, bukan Master Points biasa.
Juara mendapatkan 600 SP, runner-up 450 SP dan peringkat ketiga 300 SP.
Ini menunjukkan bahwa WBF tidak memberikan angka secara sembarangan.
Jumlah poin ditentukan berdasarkan jenis, ukuran dan tingkat kompetisi.
WBF juga menyatakan bahwa Master Points pada prinsipnya diberikan kepada tidak lebih dari setengah peserta dalam suatu kategori.
MENGAPA KEJUARAAN BESAR MEMBERIKAN POIN LEBIH BANYAK?
Logikanya sederhana.
Semakin besar dan kuat sebuah turnamen, semakin besar pula penghargaan Master Points yang diberikan.
WBF menjelaskan bahwa jumlah poin untuk suatu event ditentukan sebelumnya dan mempertimbangkan antara lain kekuatan serta ukuran turnamen.
Karena itu memenangkan kejuaraan dunia mempunyai nilai yang sangat berbeda dengan memenangkan turnamen kecil.
Master Point dengan demikian bukan sekadar:
“Saya juara, saya mendapat poin.”
Tetapi lebih kepada:
“Saya berprestasi dalam kompetisi dengan tingkat kekuatan dan ukuran tertentu, sehingga saya memperoleh nilai yang sesuai.”
MASTER POINTS UNTUK TURNAMEN BEREGU
Dalam pertandingan tim, pemain juga tidak otomatis mendapatkan seluruh Master Points yang dimenangkan tim.
WBF mempunyai ketentuan mengenai jumlah board yang harus dimainkan agar pemain berhak memperoleh poin.
Ini penting karena WBF ingin memastikan bahwa poin diberikan kepada pemain yang benar-benar memberikan kontribusi dalam pertandingan.
Jadi status sebagai anggota tim saja tidak selalu cukup.
Pemain harus memenuhi persyaratan partisipasi yang ditetapkan dalam Conditions of Contest dan Master Point Rules.
WBF YEAR POINTS
Tidak semua turnamen yang memberikan pengakuan WBF diselenggarakan langsung oleh WBF.
Karena itu WBF mempunyai sistem:
WBF Year Points — WYP.
Master Points yang diberikan dalam kompetisi yang diselenggarakan WBF disebut WBF Master Points.
Sedangkan poin yang diberikan dalam kompetisi organisasi lain yang memenuhi persyaratan WBF disebut WBF Year Points.
Ada persyaratan tertentu untuk sebuah event memperoleh status WYP.
Antara lain berkaitan dengan:
tingkat kekuatan pemain,
jumlah peserta,
jumlah board,
penggunaan screens pada final,
serta Tournament Director yang diakui WBF.
Misalnya, untuk event pairs diperlukan sekurang-kurangnya 60 pairs, sedangkan untuk team-of-four sekurang-kurangnya 20 teams. Event juga harus memainkan sekurang-kurangnya 128 boards.
WYP kemudian dapat dikonversikan menjadi WBF Master Points dengan mekanisme yang ditetapkan WBF.
Aturan yang berlaku menyebut bahwa 10% WYP yang diperoleh dalam tahun tersebut menjadi WBF Master Points, dengan ketentuan pemain memenuhi jumlah minimum WYP yang dipersyaratkan.
Ini merupakan mekanisme yang memungkinkan turnamen berkualitas di luar penyelenggaraan langsung WBF tetap mempunyai hubungan dengan sistem Master Points internasional.
ONLINE BRIDGE: SISTEM YANG BERBEDA
Perkembangan teknologi kemudian membawa WBF ke wilayah baru:
bridge online.
WBF mempunyai sistem khusus yang disebut:
WBF Online Bridge Points — WOBP.
WBF secara eksplisit memisahkan poin online dari Master Points untuk table bridge.
Alasannya adalah WBF menganggap online bridge dan bridge di meja sebagai dua bentuk permainan yang berbeda sehingga tidak ada konversi yang masuk akal antara keduanya.
Ini sangat penting untuk artikel kita nanti tentang pemain Indonesia.
Jadi jangan mencampur:
WBF Master Points
dengan
WBF Online Bridge Points.
Keduanya mempunyai sistem dan gelar tersendiri.
SISTEM ONLINE WBF
Dalam sistem WOBP, jumlah poin bergantung pada jenis dan panjang pertandingan.
Untuk pairs atau individual:
8–11 boards: juara mendapat 5 WOBP
lebih dari 12 dan kurang dari 18 boards: juara 12 WOBP
lebih dari 18 boards: juara 15 WOBP
Untuk team event:
lebih dari 12 dan kurang dari 18 boards: juara 15 WOBP
lebih dari 18 boards: juara 18 WOBP.
Poin kemudian dibagikan kepada posisi berikutnya berdasarkan skala WBF Online Bridge.
Jumlah peserta juga diperhitungkan. Peringkat terakhir yang memperoleh poin tidak boleh berada di luar 50% peserta.
GELAR ONLINE WBF
WBF juga mempunyai gelar khusus untuk pemain online.
WBF ONLINE TOURNAMENT PLAYER — WOTP
Diperoleh setelah mencapai:
500 WOBP
Namun gelar ini bergantung pada pemain tetap mempunyai jumlah WOBP yang memenuhi ketentuan karena poin online mengalami depresiasi.
WBF ONLINE BRIDGE MASTER — WOBM
Diperoleh setelah mencapai:
1.000 WOBP
Gelar ini berlaku seumur hidup.
WBF ONLINE BRIDGE INTERNATIONAL MASTER
Diperoleh setelah mencapai:
2.500 WOBP
dan juga berlaku seumur hidup.
Ini membuka sebuah dunia baru.
Seorang pemain yang sangat aktif dalam kompetisi online dapat mempunyai gelar resmi WBF khusus online, tanpa harus mencampurkannya dengan gelar WBF table bridge.
ONLINE MASTER POINT JUGA MENGALAMI DEPRESIASI
Ada perbedaan penting dengan MP konvensional.
Master Points biasa mengalami depresiasi:
15% per tahun.
Sedangkan WOBP mengalami depresiasi:
40% per tahun.
Mengapa lebih tinggi?
Karena WBF ingin Online Master Points mencerminkan aktivitas online yang relatif baru.
Dengan demikian seorang pemain tidak dapat mengumpulkan poin online sekali dalam jumlah besar lalu tetap mempertahankan posisi tersebut selama puluhan tahun tanpa bermain lagi.
E-BRIDGE DAN ONLINE MASTER POINTS
Di sinilah perkembangan terbaru menjadi sangat menarik bagi pemain Indonesia.
Dalam aturan WBF mengenai Online Master Points, e-bridge bahkan disebut secara eksplisit sebagai contoh organisasi/organiser yang dapat menjalankan event online yang disanksi WBF.
Ini berarti online bridge bukan lagi sekadar permainan rekreasi.
Ada sistem resmi.
Ada penyelenggara yang disanksi.
Ada penghitungan poin.
Dan ada gelar WBF khusus online.
Dalam perkembangan berikutnya, berbagai event online besar seperti eBridge Cup menjadi contoh bagaimana kompetisi online dapat terhubung langsung dengan ekosistem WBF.
Pembahasan mengenai eBridge Cup dan pemain Indonesia yang memperoleh atau mengejar poin online akan kita buat dalam bagian tersendiri, agar tidak mencampur sistem online dengan Master Points konvensional.
MASTER POINT SEBAGAI “RAPOR” PEMAIN
Kalau kita sederhanakan, sistem WBF sebenarnya dapat dilihat seperti sebuah rapor dengan beberapa kolom.
MASTER POINTS
Menggambarkan:
“Seberapa aktif dan kuat pemain dalam beberapa tahun terakhir?”
PLACING POINTS
Menggambarkan:
“Seberapa besar prestasi pemain sepanjang karier?”
SENIOR POINTS
Menggambarkan:
“Bagaimana prestasi pemain dalam kompetisi Senior?”
YEAR POINTS
Menggambarkan:
“Prestasi dalam event yang memenuhi standar WBF tetapi diselenggarakan organisasi lain.”
ONLINE BRIDGE POINTS
Menggambarkan:
“Prestasi pemain dalam kompetisi bridge online yang disanksi WBF.”
Dengan sistem seperti ini, WBF mempunyai beberapa alat untuk menggambarkan perjalanan seorang pemain.
MENGAPA SISTEM INI PENTING BAGI INDONESIA?
Bagi Indonesia, sistem Master Point WBF mempunyai nilai sejarah yang sangat besar.
Dengan melihat database WBF, kita dapat mengetahui:
siapa saja pemain Indonesia yang pernah mencapai gelar dunia,
berapa besar prestasinya,
berapa banyak Placing Points yang dikumpulkan,
kejuaraan dunia apa yang pernah diikuti,
dan
bagaimana perjalanan karier mereka.
Inilah yang nantinya memungkinkan kita menyusun daftar:
Pemegang Gelar World Bridge Federation dari Indonesia.
Dan daftar tersebut tidak boleh hanya berdasarkan ranking terbaru.
Harus ada kombinasi antara:
People Finder WBF + Master Point ranking + Placing Points + arsip kejuaraan dunia + data historis.
MASTER POINT BUKAN SEKADAR ANGKA
Pada akhirnya, angka Master Point mempunyai cerita di belakangnya.
Di balik:
10 MP
ada pertandingan.
Di balik:
100 MP
ada perjalanan.
Di balik:
350 MP
ada konsistensi.
Dan di balik:
Placing Points
ada sebuah karier.
Karena itu, ketika kita melihat seorang pemain Indonesia mempunyai gelar WM, WIM, WLM, WGM, SM, SIM, SLM atau SGM, kita sebenarnya sedang melihat hasil dari perjalanan panjang pemain tersebut di dunia bridge.
PENUTUP
Sistem Master Point World Bridge Federation telah berkembang dari sebuah sistem penghargaan pada akhir 1970-an menjadi arsip prestasi internasional pemain bridge.
Perubahan besar melalui sistem Bernasconi sejak 1992 membuat Master Points lebih mencerminkan prestasi yang relatif baru.
Depresiasi 15 persen menjaga MP tetap relevan sebagai ukuran aktivitas dan kekuatan pemain.
Placing Points menjaga catatan perjalanan karier.
Gelar yang sudah diperoleh tetap melekat seumur hidup.
Senior Points memberikan jalur tersendiri bagi pemain Senior.
Year Points memungkinkan event berkualitas di luar penyelenggaraan langsung WBF tetap terhubung dengan sistem WBF.
Dan perkembangan online melahirkan WBF Online Bridge Points serta gelar-gelar khusus online.
Dengan demikian, sistem WBF sebenarnya mempunyai satu tujuan besar:
mengubah prestasi yang terjadi di meja bridge menjadi sebuah catatan yang dapat dikenang sepanjang karier pemain.
Bagi Indonesia, catatan tersebut merupakan harta sejarah.
Karena di balik angka-angka Master Point WBF terdapat nama-nama pemain yang telah membawa Merah Putih ke panggung bridge dunia.
Dan itulah yang akan kita telusuri pada bagian berikutnya:
SIAPA SAJA PEMEGANG GELAR WORLD BRIDGE FEDERATION DARI INDONESIA?
Mulai dari Santje Panelewen, Giovanni Watulingas, Taufik Asbi, Robert Parasian, Franky Karwur, Eddy Manoppo, hingga para pemain putri seperti Suci Amita Dewi, Kristina Wahyu Murniati, Lusje Olha Bojoh, Rury Andhany, Fera Damayanti, Liem Riantini, Conny Sumampouw dan pemain-pemain lainnya.
Itulah perjalanan panjang yang akan kita dokumentasikan satu per satu.

No comments:
Post a Comment