Wednesday, August 26, 2026

KERUKUNAN KELUARGA KAWANUA Dari Pinasungkulan Ne Toudano Menuju Wale Wangko Tou Kawanua

 


KERUKUNAN KELUARGA KAWANUA

Dari Pinasungkulan Ne Toudano Menuju Wale Wangko Tou Kawanua

Oleh: Bert Toar Polii

Bagi orang Minahasa di tanah perantauan, Kerukunan Keluarga Kawanua (KKK) bukan sekadar organisasi sosial kemasyarakatan. KKK adalah tempat bertemunya orang-orang yang memiliki akar budaya yang sama, tempat menjalin kembali hubungan kekeluargaan, sekaligus ruang untuk menjaga agar nilai-nilai yang diwariskan leluhur tidak hilang ditelan zaman.

Karena itu, KKK dapat dipandang sebagai Wale Wangko, rumah besar bagi Tou Kawanua di perantauan. Rumah besar ini seharusnya terbuka bagi siapa saja yang merasa memiliki ikatan dengan Kawanua, baik karena darah dan keturunan maupun karena perkawinan dan hubungan kekeluargaan.

Gagasan tersebut sejalan dengan filosofi Minahasa Si Tou Timou Tumou Tou, yang secara luas dimaknai sebagai manusia hidup untuk memanusiakan atau menghidupkan manusia lain. Nilai itu bertemu dengan semangat Mapalus, tradisi kebersamaan dan gotong royong Minahasa yang mengajarkan bahwa pekerjaan besar akan lebih mudah diselesaikan apabila dilakukan bersama.

Namun, sebelum menjadi rumah besar seperti yang dikenal sekarang, KKK memiliki perjalanan sejarah yang panjang. KKK tidak lahir begitu saja pada satu hari melalui sebuah keputusan formal. Ada proses, ada gagasan, ada pertemuan, ada perbedaan, bahkan ada masa perpecahan yang kemudian diikuti oleh perjuangan panjang untuk kembali bersatu.

Memahami sejarah KKK berarti memahami pula perjalanan persaudaraan orang Minahasa di tanah perantauan.


Dari Pinasungkulan Ne Toudano

Pada awal dekade 1970-an, sejumlah tokoh Kawanua di Jakarta melihat perlunya sebuah wadah yang dapat mempertemukan orang-orang Minahasa yang hidup jauh dari tanah leluhur.

Para tokoh tersebut berasal dari berbagai pakasaan dan latar belakang. Dari Pakasaan Kakas antara lain terdapat Jan Walandow, Hein Lalamentik, Hans dan Non Tengker, Jules Walandow serta Radus Lalamentik. Dari Pakasaan Remboken terdapat Daan Mogot, sedangkan dari Tondano, Touliang dan Toulimambot antara lain terdapat Frans Sigar, Ben Watulandi, Giroth Wagey, Otto Rondonuwu, Laksamana (Purn.) Frick Sumanti, Hans Kawulusan dan Eddy Mambu.

Mereka kemudian sepakat membentuk sebuah perkumpulan bernama Pinasungkulan Ne Toudano.

Nama tersebut menunjukkan bahwa wadah awal ini masih memiliki lingkup tertentu, terutama menghimpun orang-orang yang berasal dari kawasan Tondano. Namun sejak awal, semangat yang dibangun sebenarnya sudah mengarah kepada kebutuhan yang lebih besar, yaitu mempererat hubungan kekeluargaan Kawanua di perantauan.

Untuk memperkenalkan organisasi tersebut kepada masyarakat Kawanua di Jakarta, diselenggarakan pertunjukan kesenian “Semalam Suntuk di Danau Tondano” di Istora Senayan. Kegiatan tersebut mendapat sambutan masyarakat dan ikut mendorong semakin banyak orang bergabung.

Jan Walandow kemudian dipercaya menjadi ketua Pinasungkulan Ne Toudano.

Dari sinilah perjalanan menuju lahirnya KKK dimulai.


Ketika Pinasungkulan Diperluas

Perkembangan berikutnya menjadi salah satu titik penting dalam sejarah organisasi.

Beberapa tokoh melihat bahwa Pinasungkulan Ne Toudano akan mempunyai manfaat yang jauh lebih besar apabila tidak hanya menjadi wadah kelompok tertentu, tetapi dapat menaungi seluruh orang Minahasa di perantauan.

Tiga nama yang secara khusus disebut dalam catatan sejarah adalah L.N. Palar, Willy Pesik dan Mayjen Piet Ngantung.

Mereka mengusulkan agar Pinasungkulan Ne Toudano diperluas menjadi Pinasungkulan Ne Kawanua.

Usulan tersebut diterima. Laksamana (Purn.) Frick Sumanti kemudian dipilih menjadi ketua.

Perubahan ini sangat penting karena terjadi pergeseran gagasan. Kalau sebelumnya organisasi lebih menekankan kesamaan asal daerah, maka kemudian yang dikedepankan adalah identitas Kawanua.

Kawanua menjadi identitas yang melampaui batas-batas pakasaan, roong dan negeri asal.

Dengan demikian, proses menuju KKK sebenarnya telah berlangsung sebelum nama Kerukunan Keluarga Kawanua digunakan.


21 Mei 1973: Lahirnya Kerukunan Keluarga Kawanua

Dalam perkembangan selanjutnya, di bawah kepengurusan Mayjen Piet Ngantung, organisasi tersebut berubah nama menjadi Kerukunan Keluarga Kawanua (KKK) pada tahun 1973.

Tanggal berdirinya kemudian dicatat secara spesifik, yaitu 21 Mei 1973 di Jakarta.

Tanggal tersebut menjadi tonggak sejarah penting bagi Kawanua di perantauan.

Menariknya, keberadaan KKK pada masa awal bukan hanya berdasarkan cerita yang diwariskan secara lisan. Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) juga menyimpan dokumentasi mengenai KKK dalam koleksi arsip L.N. Palar.

Inventaris arsip tersebut mencatat dokumen KKK pada periode 1973–1976, termasuk program kerja, surat-menyurat, laporan panitia serta bahan konsolidasi organisasi. Bahkan terdapat buletin KKK Ne Matuari Mariwu Maengkom tahun 1974.

Dengan demikian, kita memiliki bukti dokumenter bahwa KKK sudah aktif menjalankan kegiatan organisasi tidak lama setelah kelahirannya.


Bukan Hanya Lima Pendiri

Dalam berbagai tulisan mengenai sejarah KKK sering muncul istilah “lima tokoh inti pendiri KKK”.

Namun setelah menelusuri berbagai sumber, sejarahnya ternyata jauh lebih kaya.

KKK tidak lahir dari pekerjaan lima orang saja. Ada banyak tokoh yang terlibat dalam berbagai tahapan, mulai dari pembentukan Pinasungkulan Ne Toudano, perluasan menjadi Pinasungkulan Ne Kawanua, hingga perubahan menjadi KKK.

Karena itu, lebih tepat menyebut mereka sebagai tokoh-tokoh yang berperan dalam proses kelahiran KKK, daripada menyederhanakannya menjadi sebuah daftar lima pendiri tanpa konteks.

Di antara nama yang memiliki peranan penting dalam fase awal terdapat Jan Walandow, L.N. Palar, Willy Pesik, Piet Ngantung, Frick Sumanti, Hans Kawulusan, Eddy Mambu dan banyak tokoh lainnya.

Masing-masing memberikan kontribusi pada tahap yang berbeda.

Hal ini justru menunjukkan bahwa KKK sejak awal dibangun dengan semangat Mapalus: banyak orang memberikan tenaga dan pikirannya untuk membangun sesuatu yang manfaatnya dirasakan bersama.


Kesaksian Para Pelaku Sejarah

Dalam menulis sejarah organisasi yang telah berusia lebih dari setengah abad, persoalan terbesar adalah semakin sedikitnya pelaku sejarah yang masih dapat dimintai keterangan langsung.

Karena itu, setiap catatan dari para pelaku sejarah menjadi sangat berharga.

Salah satu dokumen penting adalah catatan bertanggal 26 Januari 2003 yang ditandatangani Eddy Mambu.

Catatan tersebut menyebut empat tokoh yang ketika itu masih hidup dan dapat dikonfirmasi mengenai proses sejarah dari Pinasungkulan Ne Toudano hingga berkembang menjadi organisasi Kawanua yang lebih luas.

Keempat tokoh tersebut adalah:

Mayjen (Purn.) Piet Ngantung, Kol. (Purn.) Hans E. Kawulusan, Julian Walandow dan Eddy Mambu.

Naskah tersebut kemudian diketik kembali oleh Berce J. Paoki berdasarkan data yang diberikan Mona Djemat Sigar dari naskah tulisan tangan Eddy Mambu.

Materi sejarah inilah yang kemudian menjadi salah satu sumber penting dalam penelusuran sejarah KKK.

Dalam proses penulisan artikel ini, materi tersebut juga telah saya konfirmasikan secara langsung kepada Mona Sigar dan Ronny Sompie. Keduanya menyampaikan bahwa secara umum materi sejarah tersebut sudah benar.

Konfirmasi tersebut menjadi tambahan penting karena sejarah organisasi tidak cukup hanya dibangun dari dokumen formal. Kesaksian orang-orang yang mengetahui perjalanan organisasi dari dekat juga mempunyai nilai yang sangat besar.


KKK Berkembang Menjadi Rumah Besar

Setelah masa kepemimpinan Piet Ngantung, kepemimpinan KKK kemudian diteruskan oleh Ventje Sumual.

Pada masa ini KKK berkembang semakin luas. Berbagai perkumpulan keluarga, negeri atau kampung, serta organisasi profesi mulai masuk dalam jaringan KKK.

Hubungan dengan Kawanua di luar Jakarta juga semakin diperluas, termasuk dengan komunitas Kawanua di berbagai kota dan bahkan di luar negeri.

Pada masa tersebut juga berkembang gagasan Gema Mapalus Raya, yang antara lain mendorong pendirian bank-bank perkreditan rakyat di Minahasa.

Ini merupakan contoh menarik bagaimana semangat Mapalus dapat diterapkan dalam kehidupan modern.

Mapalus tidak hanya berarti membantu tetangga menyelesaikan pekerjaan di desa, tetapi dapat pula diterjemahkan menjadi kerja bersama untuk memperkuat kehidupan ekonomi masyarakat.

Dengan demikian, KKK mulai berkembang dari organisasi sosial menjadi salah satu wadah yang menghubungkan Kawanua di perantauan dengan tanah leluhur.


Budaya, Olahraga dan Tanah Leluhur

Setelah Ventje Sumual, kepemimpinan KKK dilanjutkan oleh Benny Tengker.

Pada periode ini perhatian terhadap olahraga semakin berkembang. Hubungan dengan Pemerintah Daerah Minahasa dan Majelis Kebudayaan Minahasa juga semakin erat.

Berbagai seminar, pagelaran kesenian dan kegiatan kebudayaan di Minahasa dihadiri pengurus KKK. Sebaliknya, berbagai kegiatan KKK di Jakarta juga mendapat dukungan dan perhatian dari pihak-pihak di tanah leluhur.

Hubungan tersebut memperlihatkan bahwa KKK sejak awal tidak hanya berorientasi kepada kepentingan warga Kawanua di perantauan.

Ada kesadaran bahwa perantauan dan tanah leluhur merupakan dua bagian yang tidak dapat dipisahkan.

Kawanua boleh tinggal jauh dari Minahasa, tetapi hubungan batin dengan tanah leluhur tetap dipelihara.


Kepemimpinan Kolektif

Memasuki periode 2002–2007, KKK menggunakan model kepemimpinan kolektif melalui Presidium, sesuai keputusan Majelis Perwakilan Anggota.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa KKK terus beradaptasi dengan dinamika organisasi.

Namun, di tengah perubahan kepemimpinan, satu hal yang tetap penting adalah menjaga kesinambungan sejarah.

Generasi baru membutuhkan informasi mengenai siapa yang membangun organisasi, mengapa organisasi itu didirikan dan nilai apa yang menjadi dasarnya.

Karena itu, dokumentasi sejarah menjadi sama pentingnya dengan kegiatan organisasi.

Organisasi dapat berganti nama program, struktur dan pengurus, tetapi tanpa sejarah yang terjaga, generasi baru akan kehilangan akar.


Masa Sulit: Dualisme KKK

Perjalanan KKK kemudian memasuki salah satu periode paling sulit.

Setelah MPA VII pada 15–16 November 2012, terjadi konflik internal yang kemudian berkembang menjadi dualisme kepengurusan.

Situasi tersebut berlangsung sekitar satu dekade.

Bagian sejarah ini perlu ditulis dengan kepala dingin karena berbagai sumber mengenai konflik tersebut berasal dari perspektif yang berbeda.

Yang terpenting untuk dicatat bukanlah mengulang semua tuduhan atau perdebatan masa lalu, melainkan mengakui fakta bahwa KKK pernah mengalami dualisme yang cukup panjang.

Ironisnya, organisasi yang dibangun untuk mempersatukan Kawanua justru mengalami perpecahan.

Namun sejarah tidak selalu hanya berisi keberhasilan.

Kadang-kadang sebuah organisasi justru belajar tentang arti persatuan setelah mengalami perpecahan.

Dan dari pengalaman itulah kemudian muncul orang-orang yang berusaha membuka kembali jalan menuju penyatuan.


Jalan Panjang Menuju KKK Bersatu

Penyatuan KKK pada 2022 sebenarnya tidak dimulai pada hari Musyawarah Tua-Tua.

Ada proses panjang yang berlangsung sebelum itu.

Ada sejumlah Kawanua yang menyadari bahwa dualisme tidak boleh terus berlanjut. Mereka melihat bahwa apabila KKK dibangun sebagai rumah besar untuk seluruh Kawanua, maka tidak seharusnya ada dua organisasi KKK yang berjalan sendiri-sendiri.

Dalam proses awal penyatuan tersebut terdapat empat penggagas utama, yaitu:

Dr. Ronny F. Sompie
Dr. Audy Wuisang
Angelica Tengker
Michael Lakat

Keempatnya bukan hanya menyampaikan gagasan mengenai persatuan.

Mereka bergerak.

Mereka bertemu.

Mereka membangun komunikasi.

Mereka berkeliling menemui berbagai pihak.

Mereka berusaha menciptakan suasana yang memungkinkan dua kelompok Kawanua yang sebelumnya terpisah dapat kembali duduk bersama.

Inilah bagian sejarah yang sering kali tidak terlihat.

Sebuah deklarasi memang mempunyai tanggal.

Tetapi sebelum tanggal itu tiba, ada orang-orang yang bekerja bertahun-tahun tanpa mengetahui apakah hasilnya akan berhasil.


Persatuan Tidak Lahir dari Wacana

Apa yang dilakukan keempat penggagas tersebut bukan sekadar membuat pernyataan bahwa KKK harus bersatu.

Mereka berusaha mewujudkan persatuan melalui tindakan nyata.

Pertemuan demi pertemuan dilakukan. Hubungan dibangun kembali. Berbagai kegiatan bersama mulai dilakukan untuk mengurangi jarak yang telah terbentuk selama bertahun-tahun.

Semangatnya sederhana:

Kalau KKK dibentuk untuk mempersatukan Kawanua, mengapa harus ada dua KKK?

Menurut penjelasan Ronny Sompie, proses pendekatan tersebut telah berlangsung beberapa tahun sebelum Deklarasi Aryaduta dan semakin intensif dalam periode menjelang 2022.

Kedua pihak mulai melakukan berbagai kegiatan bersama. Hubungan yang sebelumnya renggang secara perlahan mulai diperbaiki.

Dalam proses tersebut tentu tidak semuanya mudah.

Dua organisasi memiliki sejarah masing-masing.

Dua organisasi memiliki struktur masing-masing.

Bahkan terdapat dua AD/ART yang berbeda.

Karena itu, penyatuan tidak cukup hanya dengan membuat kesepakatan moral.

Diperlukan proses konsolidasi yang serius agar dua organisasi benar-benar dapat dilebur menjadi satu.


26 Agustus 2022: Deklarasi Aryaduta

Titik penting akhirnya tiba pada 26 Agustus 2022.

Pada hari itu dilaksanakan Musyawarah Tua-Tua Kawanua di Hotel Aryaduta, Jakarta.

Pertemuan tersebut mempertemukan tokoh-tokoh senior Kawanua dan dua pihak yang selama ini berada dalam dua organisasi KKK.

Proses tersebut difasilitasi antara lain oleh Theo Sambuaga dan Benny Mamoto.

Setelah melalui pembicaraan yang panjang, lahirlah kesepakatan yang sangat penting:

Hanya ada satu Kerukunan Keluarga Kawanua.

Kesepakatan tersebut menetapkan Angelica Tengker sebagai Ketua Umum dan Ronny F. Sompie sebagai Ketua Dewan Pembina.

Keduanya kemudian mendapat mandat untuk membentuk kepengurusan KKK Persatuan dan membawa hasil kesepakatan tersebut ke tahap berikutnya.

Bagi masyarakat Kawanua, peristiwa di Hotel Aryaduta bukan sekadar rapat organisasi.

Ia menjadi simbol bahwa setelah sekitar satu dekade mengalami dualisme, KKK memilih kembali menjadi satu rumah.


Dari Aryaduta Menuju Musyawarah Budaya Kawanua

Deklarasi Aryaduta bukan akhir dari pekerjaan.

Justru setelah deklarasi, pekerjaan besar dimulai.

Bagaimana menyatukan dua organisasi yang memiliki dua struktur?

Bagaimana menyatukan dua perangkat AD/ART?

Bagaimana mengakomodasi orang-orang dari kedua pihak?

Bagaimana memastikan bahwa persatuan bukan hanya kesepakatan di atas kertas?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut harus dijawab melalui konsolidasi.

Pertemuan dan komunikasi terus dilakukan.

Kemudian pada 22 Oktober 2022, bertempat di Kobexindo Tower, Ancol, Jakarta, dilaksanakan Musyawarah Budaya Kawanua (MBK).

Forum tersebut menjadi tahapan penting dalam proses peleburan dua organisasi menjadi satu.

Dua DPP KKK dilebur menjadi satu organisasi dan satu kepengurusan.

Angelica Tengker menjadi Ketua Umum dan Ronny F. Sompie menjadi Ketua Dewan Pembina.

Yang menarik, kepengurusan baru bukan sekadar mengambil satu struktur dan menghilangkan struktur lainnya.

Sebaliknya, dilakukan upaya mengakomodasi unsur-unsur dari kedua organisasi yang sebelumnya terpisah.

Itulah sebabnya proses tersebut membutuhkan konsolidasi yang panjang.


Dua Organisasi, Dua AD/ART, Menjadi Satu

Penyatuan KKK mempunyai tingkat kesulitan yang tidak kecil.

Yang dilebur bukan hanya dua daftar nama pengurus.

Ada dua organisasi, dua struktur dan dua AD/ART.

Semua harus ditempatkan dalam satu wadah.

Karena itu, keberhasilan penyatuan tidak dapat diukur hanya dari foto bersama setelah deklarasi.

Persatuan harus diwujudkan dalam bentuk organisasi yang benar-benar dapat berjalan.

Proses konsolidasi terus dilakukan setelah MBK.

Perangkat organisasi disesuaikan.

Struktur disatukan.

Administrasi diselesaikan.

Dan akhirnya proses legalitas organisasi juga memperoleh bentuk formal.

Perubahan Perkumpulan Kerukunan Keluarga Kawanua kemudian memperoleh persetujuan melalui Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor AHU-0002010.AH.01.08 Tahun 2022 tanggal 3 November 2022.

Dengan demikian, proses penyatuan memperoleh bukan hanya legitimasi moral dari masyarakat Kawanua, tetapi juga bentuk legal secara organisasi.


Di Balik Sebuah Deklarasi Ada Keringat

Sejarah sering kali mengingat sebuah tanggal.

26 Agustus 2022.

Namun tanggal itu tidak berdiri sendiri.

Di belakangnya terdapat tahun-tahun komunikasi, pertemuan, pendekatan, kesabaran dan kerja keras.

Karena itu, peran Ronny Sompie, Audy Wuisang, Angelica Tengker dan Michael Lakat sebagai penggagas awal penyatuan patut dicatat dalam sejarah KKK modern.

Mereka menunjukkan bahwa persatuan tidak dapat dibangun hanya dengan slogan.

Persatuan harus dikerjakan.

Harus ada orang yang bersedia datang menemui pihak lain.

Harus ada orang yang bersedia mendengarkan.

Harus ada orang yang bersedia mengalah demi kepentingan yang lebih besar.

Dan harus ada orang yang tetap bekerja meskipun hasilnya belum tentu segera terlihat.

Di sinilah semangat Mapalus menemukan bentuknya dalam kehidupan organisasi modern.


“Satria di Dalam dan di Luar Arena”

Ada sebuah moto dalam dunia tinju Indonesia yang sangat menarik:

“Jiwa yang sehat adalah satria di dalam dan di luar arena.”

Menurut saya, moto ini sangat relevan dengan cara kita berorganisasi.

Dalam pertandingan, kita boleh berjuang sekuat tenaga.

Tetapi setelah pertandingan selesai, kita tetap harus menghormati lawan.

Begitu pula dalam organisasi.

Perbedaan pendapat adalah sesuatu yang wajar.

Perbedaan pilihan juga sesuatu yang wajar.

Tetapi ketika seseorang sudah memutuskan tidak lagi berada dalam sebuah organisasi, sebaiknya ia tidak terus berusaha menjadi penyebab “air keruh”.

Lebih baik kita mendoakan agar organisasi tersebut berhasil dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Sebab organisasi bukan arena untuk saling menjatuhkan.

Organisasi adalah sarana untuk berbuat sesuatu bagi masyarakat.

Dan dalam konteks KKK, yang harus kita perjuangkan bukan kemenangan satu kelompok terhadap kelompok lainnya.

Yang harus kita perjuangkan adalah kemenangan persaudaraan Kawanua.


Dari Deklarasi Menuju Konsolidasi

Proses penyatuan KKK tidak selesai ketika deklarasi dibacakan.

Para penggagas dan pengurus harus terus bekerja.

Selama sekitar dua tahun setelah proses penyatuan, konsolidasi dilakukan untuk memastikan bahwa hasil kesepakatan dapat diwujudkan dalam organisasi yang benar-benar bersatu.

Ada banyak pekerjaan yang mungkin tidak terlihat dari luar.

Menyatukan orang.

Menyatukan persepsi.

Menyatukan struktur.

Menyatukan aturan.

Menyelesaikan persoalan administrasi.

Dan membangun kembali rasa saling percaya.

Itulah pekerjaan yang sering kali lebih berat daripada sekadar membuat deklarasi.

Karena itu, keberhasilan penyatuan KKK seharusnya dilihat sebagai buah dari proses panjang, bukan hasil satu pertemuan.


MPA X: Memeteraikan Hasil Perjuangan

Setelah proses panjang tersebut, KKK memasuki tahap berikutnya.

MPA X menjadi momentum untuk memeteraikan hasil perjuangan penyatuan yang telah berlangsung selama sekitar dua setengah tahun.

Apa yang dirintis oleh empat penggagas—Ronny Sompie, Audy Wuisang, Angelica Tengker dan Michael Lakat—telah berkembang menjadi proses organisasi yang lebih besar.

Mereka tidak bekerja sendirian.

Banyak Tua-Tua Kawanua, tokoh masyarakat, pengurus dan warga Kawanua ikut memberikan dukungan.

Namun sejarah perlu mencatat siapa yang pertama kali berani mengambil langkah ketika persatuan masih terlihat sulit diwujudkan.

Karena itu, keberhasilan yang dirayakan dalam MPA X bukan hanya keberhasilan sebuah kepengurusan.

Ia adalah buah keringat dan jerih payah banyak orang yang memilih persatuan.

Dan harapannya, semangat tersebut dapat dilanjutkan untuk dua setengah tahun berikutnya dan seterusnya, sehingga persatuan KKK bukan hanya bertahan, tetapi semakin kuat.


Rekonsiliasi sebagai Kembali kepada Jati Diri

Rekonsiliasi 2022 pada akhirnya bukan sekadar menyelesaikan konflik organisasi.

Ia merupakan usaha untuk mengembalikan KKK kepada jati dirinya.

KKK didirikan untuk menjadi rumah besar.

KKK didirikan untuk mempersatukan.

KKK didirikan untuk menjadi wadah kekeluargaan.

Karena itu, persatuan bukan tambahan dari tujuan KKK.

Persatuan adalah alasan utama KKK ada.

Dalam konteks ini, filosofi Si Tou Timou Tumou Tou menjadi sangat relevan.

Manusia hidup untuk menghidupkan manusia lain.

Tidak ada ruang bagi ego pribadi apabila tujuan akhirnya adalah menghidupkan sesama.

Begitu pula Mapalus.

Mapalus tidak mengenal keberhasilan seorang diri.

Mapalus berbicara tentang keberhasilan bersama.


KKK Memasuki Periode 2025–2030

Setelah proses rekonsiliasi dan konsolidasi, KKK memasuki babak baru.

Dalam MPA X KKK pada 11–12 April 2025, Angelica Tengker kembali terpilih sebagai Ketua Umum DPP KKK periode 2025–2030.

Angelica memperoleh 172 suara, sedangkan Irjen Pol Tommy Watuliu memperoleh 57 suara.

Pemilihan tersebut menandai berlanjutnya kepemimpinan setelah proses penyatuan.

Namun yang jauh lebih penting adalah bagaimana kepengurusan 2025–2030 mampu menjaga hasil rekonsiliasi.

Persatuan yang diperoleh dengan susah payah jangan sampai dianggap sebagai sesuatu yang otomatis akan bertahan.

Persatuan harus dirawat.

Harus dijaga.

Harus terus dihidupkan melalui kegiatan dan sikap sehari-hari.


Tantangan Generasi Muda

KKK kini telah melewati usia lebih dari setengah abad.

Generasi yang membangun organisasi ini sebagian besar telah pergi.

Kini tanggung jawab berada di tangan generasi berikutnya.

Generasi muda Kawanua hidup dalam dunia yang berbeda.

Mereka lahir di Jakarta, Surabaya, Bandung, kota-kota lain di Indonesia, bahkan di luar negeri.

Tidak semua mengenal langsung wanua leluhurnya.

Karena itu, tantangan KKK bukan hanya mempertahankan organisasi, tetapi memastikan bahwa identitas Kawanua tetap relevan bagi generasi muda.

Budaya Minahasa harus diperkenalkan melalui cara yang menarik.

Sejarah harus didokumentasikan.

Bahasa daerah perlu diwariskan.

Kesenian harus diberi ruang.

Olahraga dapat menjadi sarana persaudaraan.

Pendidikan dan kewirausahaan dapat menjadi ruang kolaborasi.

Teknologi digital dapat digunakan untuk mempertemukan Kawanua di seluruh dunia.

Dengan demikian, pelestarian budaya bukan berarti hidup di masa lalu.

Pelestarian budaya berarti membawa nilai terbaik masa lalu ke masa depan.


Mapalus sebagai Cara Berorganisasi

Jika KKK ingin menjadi Wale Wangko yang sesungguhnya, maka Mapalus harus lebih dari sekadar kata yang sering disebut dalam pidato.

Mapalus harus menjadi cara berorganisasi.

Ketika ada Kawanua yang membutuhkan bantuan, kita hadir.

Ketika ada generasi muda yang membutuhkan kesempatan, kita membuka jalan.

Ketika ada kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat, kita bekerja bersama.

Ketika ada perbedaan pendapat, kita mencari jalan keluar melalui musyawarah.

Dan ketika ada orang yang memilih jalan berbeda, kita tidak perlu menjadikannya musuh.

Kita doakan kesuksesannya.

Karena pada akhirnya, keberhasilan seorang Kawanua adalah bagian dari kebanggaan Kawanua.


Wale Wangko yang Harus Dijaga

Setelah melihat seluruh perjalanan sejarah tersebut, kita dapat memahami mengapa KKK layak disebut sebagai Wale Wangko.

Rumah besar tidak dibangun oleh satu orang.

Rumah besar dibangun oleh banyak tangan.

Ada yang meletakkan fondasi.

Ada yang membangun dinding.

Ada yang memasang atap.

Ada yang merawatnya ketika sudah berdiri.

Demikian pula KKK.

Generasi pertama meletakkan fondasi.

Generasi berikutnya memperbesar rumah.

Generasi yang mengalami masa sulit belajar tentang pentingnya persatuan.

Dan generasi sekarang mendapat tugas untuk menjaga agar rumah itu tetap kokoh.

Karena itu, tidak ada seorang pun yang boleh merasa KKK adalah miliknya sendiri.

KKK adalah milik bersama Tou Kawanua.


Sejarah Harus Menjadi Pelajaran

Sejarah KKK mengajarkan bahwa persatuan tidak selalu mudah.

Kadang-kadang perbedaan dapat menjadi konflik.

Kadang-kadang organisasi dapat terpecah.

Tetapi sejarah juga menunjukkan bahwa sesuatu yang terpecah masih dapat dipersatukan apabila ada kemauan, kebesaran hati dan orang-orang yang bersedia bekerja untuk itu.

Dari Pinasungkulan Ne Toudano lahirlah gagasan yang lebih besar.

Dari Pinasungkulan Ne Kawanua lahirlah identitas persaudaraan yang lebih luas.

Pada 21 Mei 1973, lahirlah Kerukunan Keluarga Kawanua.

Lebih dari empat puluh tahun kemudian, KKK mengalami masa dualisme.

Namun setelah perjuangan panjang, pada 26 Agustus 2022, para Tua-Tua Kawanua menyatakan kembali:

Hanya ada satu KKK.

Dari Aryaduta proses berlanjut ke MBK.

Dari MBK berlanjut ke konsolidasi.

Dari konsolidasi berlanjut ke legalitas.

Dan akhirnya hasil perjuangan itu diteruskan kepada generasi berikutnya.


Dari Kawanua untuk Kawanua

Pada akhirnya, sejarah KKK bukan hanya tentang tanggal dan nama.

Ia adalah cerita tentang manusia.

Tentang orang-orang yang meninggalkan tanah leluhur untuk mencari kehidupan di tempat lain.

Tentang kerinduan kepada kampung halaman.

Tentang persahabatan.

Tentang gotong royong.

Tentang perbedaan.

Tentang konflik.

Tentang pengampunan.

Dan akhirnya tentang persatuan.

Itulah sebabnya filosofi Si Tou Timou Tumou Tou tetap relevan.

Manusia hidup untuk menghidupkan manusia lain.

Begitu pula semangat Mapalus.

Kita kuat bukan karena kita berdiri sendiri, tetapi karena kita berdiri bersama.

Dan itulah sesungguhnya makna KKK.

Bukan sekadar organisasi.

Bukan sekadar kepengurusan.

Bukan sekadar nama.

Tetapi rumah besar Tou Kawanua.

Rumah yang dibangun oleh para pendahulu.

Rumah yang diperjuangkan oleh generasi sekarang.

Dan rumah yang harus diwariskan kepada generasi yang akan datang.

Di mana pun seorang Kawanua berada, ia seharusnya tahu bahwa ia tidak pernah benar-benar sendirian.

Karena selalu ada rumah besar yang menunggunya.

Wale Wangko Tou Kawanua.

Kerukunan Keluarga Kawanua.

Pakatuan wo Pakalawiren.

Iyayat u santi.

No comments: