Sunday, August 23, 2026

Pengorbanan Terbesar Michael Bambang Hartono untuk Bridge Indonesia


Pengorbanan Terbesar Michael Bambang Hartono untuk Bridge Indonesia

Oleh: Bert Toar Polii

Pada 19 Maret 2026, bridge Indonesia kehilangan salah satu tokoh yang telah memberikan begitu banyak kepada perkembangan olahraga ini.

Michael Bambang Hartono berpulang pada usia 86 tahun.

Pada 2 Oktober 2026, seharusnya beliau merayakan ulang tahunnya yang ke-87.

Bagi masyarakat Indonesia, nama Bambang Hartono tentu sudah sangat dikenal. Tetapi bagi dunia bridge Indonesia, beliau memiliki tempat yang jauh lebih khusus.

Puluhan tahun Bambang Hartono berbuat banyak untuk bridge Indonesia. Namun sebagian besar pengabdiannya dilakukan tanpa banyak diketahui masyarakat luas, kecuali oleh para penggemar olahraga bridge.

Ia mendirikan Djarum Bridge Club, mengadakan Turnamen Bridge Internasional Djarum Cup, membina pemain-pemain pemula di klubnya, dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk berkembang.

Beberapa pemain yang pernah mendapatkan pembinaan di lingkungan Djarum Bridge Club kemudian menjadi pemain penting dan bahkan menjadi andalan tim nasional Indonesia.

Di samping itu, Bambang juga memberikan dukungan kepada Pengurus Gabungan Bridge Seluruh Indonesia (PB GABSI).

Semua itu tentu merupakan kontribusi yang sangat besar.

Tetapi bagi saya, ada satu pengorbanan Bambang Hartono yang jauh lebih istimewa.

Pengorbanan yang Tidak Terlihat

Kalau kita berbicara tentang pengorbanan seseorang yang sangat kaya untuk olahraga yang dicintainya, mungkin orang akan langsung berpikir tentang uang.

Bambang Hartono memang mengeluarkan banyak uang untuk bridge.

Tetapi terus terang, sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia, saya tidak melihat pengeluaran uang untuk bridge sebagai pengorbanan terbesar.

Ia mencintai bridge.

Ia percaya pada olahraga ini.

Ia ingin melihat bridge berkembang.

Karena itu, mengeluarkan uang untuk sesuatu yang dicintainya mungkin merupakan hal yang sangat pantas bagi seorang Bambang Hartono.

Tetapi ada sesuatu yang jauh lebih berharga daripada uang yang kemudian ia korbankan.

Yaitu privasi.

Bambang yang Tidak Ingin Dikenal

Saya mengenal Bambang sejak awal tahun 1980-an.

Selama puluhan tahun itu saya mengenal beliau sebagai pribadi yang justru sangat tidak suka menjadi pusat perhatian.

Ia tidak mengejar popularitas.

Ia tidak membutuhkan publikasi.

Bahkan sebisa mungkin ia menghindari foto dan pemberitaan mengenai dirinya.

Ketika saya pernah bertanya mengapa ia begitu menjaga privasi, jawabannya sederhana.

Ia tidak ingin terlalu dikenal karena menurutnya, kalau orang sudah mengenal dirinya, kebebasan pribadinya akan berkurang.

Kami tidak bisa lagi bebas melakukan hal-hal sederhana seperti makan di tempat umum, katanya.

Dan saya memahami maksudnya.

Kenangan di Lucky Plaza

Saya masih mengingat satu kejadian pada tahun 2016.

Kami makan berdua di sebuah food court di Lucky Plaza, Singapura.

Tempat itu sangat ramai dan penuh sesak.

Kami bahkan harus makan sambil berdiri.

Bambang sama sekali tidak terlihat terganggu.

Ia santai saja, seperti orang biasa.

Justru saya yang merasa tidak tenang.

Saya berpikir, bagaimana kalau ada orang yang mengenali beliau?

Bagaimana kalau ada yang mengambil foto?

Bambang sendiri tampaknya tidak memikirkan hal itu.

Itulah Bambang yang saya kenal.

Seorang miliarder yang bisa duduk dan makan di food court yang penuh sesak tanpa membutuhkan perlakuan khusus.

Tahun 1985: Satu Tim Bersama Bambang

Hubungan kami dengan bridge juga sudah berlangsung sangat lama.

Pada tahun 1985, kami berada dalam satu tim mewakili Djarum Bridge Club pada ASEAN Bridge Club Championships di Singapura.

Itu terjadi lebih dari empat puluh tahun yang lalu.

Kemudian kami kembali bertemu dan bermain bersama dalam berbagai kejuaraan, termasuk kejuaraan-kejuaraan internasional.

Saya juga mendapat kesempatan menjadi partner Bambang dalam World Team Bridge Championship 2017 di Lyon, Prancis.

Ada satu kejadian di Lyon yang sampai sekarang masih saya ingat.

Saya pernah memuat foto Bambang di halaman Facebook saya.

Saya kemudian ditegur.

Bukan karena fotonya jelek.

Bukan karena tulisannya salah.

Tetapi karena saya mempublikasikan foto dirinya.

Itu menunjukkan betapa seriusnya Bambang menjaga privasinya.

Bayangkan, bahkan ketika kami sedang berada dalam sebuah kejuaraan dunia dan saya adalah partnernya, ia tetap tidak ingin dirinya terlalu terekspos.

Kemudian Semuanya Berubah

Lalu datanglah Asian Games 2018.

Bambang Hartono yang selama puluhan tahun berusaha menjauh dari sorotan publik tiba-tiba menjadi salah satu atlet yang paling banyak diberitakan.

Media Indonesia memberitakannya.

Media internasional ikut memberitakannya.

Bambang menjadi viral.

Bukan hanya karena ia bermain bridge.

Tetapi karena ia adalah atlet tertua dalam kontingen Indonesia, sekaligus salah satu orang terkaya di Indonesia.

Kisahnya menjadi sangat menarik bagi media.

Seorang pria kaya raya yang sudah lanjut usia ternyata masih turun sebagai atlet dan membela Indonesia.

Kamera mengejarnya.

Wartawan mewawancarainya.

Foto-fotonya tersebar.

Namanya muncul di berbagai media.

Bambang Hartono yang selama puluhan tahun menjaga privasinya tiba-tiba menjadi “selebriti bridge”.

Bagi orang lain mungkin hal tersebut merupakan sesuatu yang menyenangkan.

Tetapi bagi saya, ada sisi lain yang jauh lebih menarik.

Saya tahu bahwa Bambang sebenarnya tidak menyukai semua itu.

Ia Tidak Mencari Popularitas

Bambang tidak menjadi terkenal karena ia ingin terkenal.

Ia tidak mencari popularitas.

Ia bahkan selama puluhan tahun justru melakukan kebalikannya.

Tetapi kali ini ia bersedia menerima sorotan tersebut.

Mengapa?

Karena secara tidak langsung, sorotan kepada Bambang adalah sorotan kepada bridge.

Dan di sinilah saya melihat pengorbanannya.

Ia bersedia mengorbankan sesuatu yang selama ini sangat ia jaga demi kepentingan olahraga yang dicintainya.

Privasi.

Bambang Menjadi Pintu Masuk bagi Masyarakat Mengenal Bridge

Saya kebetulan juga ikut diwawancarai oleh beberapa media pada masa Asian Games tersebut.

Dari pengalaman itu saya menyadari sesuatu.

Sebagian besar wartawan yang meliput Bambang sebenarnya bukan orang yang memahami bridge secara mendalam.

Dan itu bukan kesalahan mereka.

Bridge memang belum menjadi olahraga yang dikenal luas oleh masyarakat Indonesia.

Tetapi justru karena Bambang menjadi berita, wartawan mulai bertanya tentang bridge.

Apa itu bridge?

Bagaimana cara bermainnya?

Mengapa seorang yang sudah lanjut usia masih mampu bertanding?

Mengapa bridge membutuhkan konsentrasi dan kemampuan berpikir yang tinggi?

Mengapa bridge dipertandingkan di Asian Games?

Dan tanpa disadari, pemberitaan mengenai Bambang telah membawa bridge masuk ke ruang keluarga masyarakat Indonesia.

Orang yang sebelumnya tidak pernah peduli terhadap bridge menjadi tahu bahwa olahraga ini ada.

Mereka mungkin awalnya membaca berita karena tertarik kepada sosok Bambang Hartono.

Tetapi setelah itu mereka mengenal bridge.

Menurut saya, inilah salah satu warisan terbesar yang ditinggalkan Bambang kepada olahraga ini.

Ada Satu Kenangan yang Selalu Membuat Saya Tersenyum

Di balik semua cerita besar tentang Bambang Hartono, ada pula kenangan-kenangan kecil yang justru membuat sosok beliau terasa sangat manusiawi.

Salah satunya terjadi ketika kami bertanding di Amerika.

Pada suatu kesempatan, saya dan Bambang mendapat giliran istirahat.

Karena sedang tidak bermain, kami mempunyai waktu untuk bersantai.

Bambang kemudian mengajak saya menikmati wine, yang memang merupakan salah satu kegemarannya.

Kami menikmati waktu istirahat tersebut dengan santai.

Masalahnya, tiba-tiba kami mendapat pemberitahuan bahwa kami harus kembali bertanding.

Kami pun kembali ke meja pertandingan.

Tetapi ada satu masalah.

Pak Bambang sudah sangat mengantuk.

Dan pertandingan tetap harus dimainkan.

Akibatnya, Pak Bambang bermain sambil tidur!

Sebagai partnernya, tentu saja saya cukup panik.

Tetapi lawan kami ternyata sangat maklum setelah saya menjelaskan situasinya.

Saya mengatakan kepada mereka tentang usia Pak Bambang dan bagaimana ceritanya kami tiba-tiba harus kembali bertanding setelah waktu istirahat.

Bukannya marah atau merasa terganggu, mereka justru tersenyum.

Akhirnya pertandingan itu berubah menjadi sebuah kejadian yang sampai sekarang menjadi kenangan lucu.

Setiap kali Pak Bambang mulai tertidur, saya dan lawan secara bergantian membangunkannya.

Bayangkan sebuah pertandingan bridge internasional, tetapi partner salah satu pemain malah tertidur di meja!

Saya tidak tahu apakah lawan kami pernah mengalami kejadian seperti itu sebelumnya.

Saya sendiri yakin belum pernah.

Tetapi justru itulah salah satu kenangan yang paling saya ingat.

Kami mungkin sudah lupa skor pertandingan tersebut.

Kami mungkin juga sudah lupa berapa board yang kami mainkan.

Tetapi saya tidak pernah lupa bagaimana kami harus bergantian membangunkan partner saya yang tertidur setelah menikmati wine pada waktu istirahat.

Dan sekarang, setiap kali saya melihat foto Pak Bambang sedang memegang segelas wine, kenangan itu langsung kembali.

Saya tersenyum sendiri.

Itulah Pak Bambang yang saya kenal.

Bukan hanya seorang pengusaha besar.

Bukan hanya seorang miliarder.

Bukan hanya sponsor olahraga.

Bukan hanya pemain bridge.

Tetapi seorang sahabat bermain yang bisa menikmati kehidupan dengan sederhana dan santai.

Dari Sponsor Menjadi Duta Bridge

Selama bertahun-tahun Bambang membantu bridge terutama melalui klub, turnamen, pembinaan dan dukungan finansial.

Tetapi pada Asian Games 2018, perannya berubah.

Tanpa pernah meminta gelar tersebut, ia menjadi semacam duta bridge Indonesia.

Wajahnya membawa perhatian publik kepada bridge.

Kisah hidupnya membuat orang membaca tentang bridge.

Usianya membuat orang penasaran dengan bridge.

Dan statusnya sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia membuat media semakin tertarik.

Semua itu memberikan exposure yang mungkin tidak akan pernah didapat bridge melalui promosi biasa.

Pengorbanan Terbesar

Karena itu, ketika sekarang Bambang telah meninggalkan kita, saya tidak ingin hanya mengenang berapa banyak uang yang pernah beliau keluarkan untuk bridge.

Saya juga tidak ingin hanya mengingat berapa banyak turnamen yang pernah ia dukung.

Saya ingin mengingat sesuatu yang jauh lebih pribadi.

Bambang Hartono telah mengorbankan privasinya untuk bridge.

Ia adalah orang yang tidak ingin dikenal.

Tetapi demi bridge, ia bersedia dikenal.

Ia adalah orang yang tidak suka menjadi pusat perhatian.

Tetapi demi bridge, ia bersedia menjadi pusat perhatian.

Ia adalah orang yang tidak membutuhkan publikasi.

Tetapi demi bridge, ia membiarkan media mempublikasikan dirinya.

Bagi saya, itulah pengorbanan yang sesungguhnya.

Warisan Bambang untuk Generasi Berikutnya

Warisan Bambang Hartono tidak berhenti pada pemberitaan Asian Games.

Ada Djarum Bridge Club.

Ada Djarum Cup.

Ada pemain-pemain yang pernah mendapatkan kesempatan belajar dan berkembang karena dukungannya.

Ada dukungan terhadap PB GABSI.

Ada generasi pemain yang mengenal bridge dan mendapat kesempatan bertanding karena lingkungan yang ia bangun.

Dan ada sebuah pelajaran penting bagi kita semua.

Bahwa seseorang tidak harus selalu berada di depan panggung untuk memberikan kontribusi.

Bambang selama bertahun-tahun bekerja dari belakang.

Tetapi ketika keadaan membutuhkan dirinya berada di depan panggung, ia bersedia maju.

Selamat Jalan, Pak Bambang

Pada 19 Maret 2026, perjalanan hidup Michael Bambang Hartono berakhir.

Tetapi kontribusinya untuk bridge Indonesia tidak berakhir bersama kepergiannya.

Bagi saya pribadi, beliau bukan hanya seorang sponsor.

Bukan hanya seorang pemain.

Bukan hanya seorang anggota tim.

Ia adalah teman bermain bridge yang saya kenal sejak awal tahun 1980-an.

Saya pernah satu tim dengannya pada tahun 1985 di Singapura.

Saya pernah menjadi partnernya di Lyon pada 2017.

Saya pernah makan bersamanya di food court Lucky Plaza pada 2016.

Saya pernah ditegur karena memuat fotonya di Facebook.

Saya pernah bermain bersamanya di Amerika, dan bersama lawan pertandingan harus bergantian membangunkannya karena tertidur setelah menikmati wine.

Kenangan-kenangan kecil seperti itulah yang sekarang terasa sangat berharga.

Mungkin ada ironi yang indah dalam perjalanan hidupnya.

Orang yang paling tidak ingin dikenal justru akhirnya menjadi salah satu orang yang paling banyak memperkenalkan bridge kepada masyarakat Indonesia.

Bambang tidak pernah meminta dirinya menjadi ikon bridge.

Tetapi sejarah mungkin akan menempatkannya di sana.

Karena pada saat bridge membutuhkan perhatian publik, ia bersedia memberikan sesuatu yang bagi dirinya sangat berharga:

privasi.

Semoga pengorbanan itu tidak sia-sia.

Semoga semakin banyak masyarakat Indonesia mengenal bridge.

Semoga semakin banyak anak muda tertarik bermain bridge.

Semoga semakin banyak pemain berkualitas lahir dari klub-klub yang dibina dengan semangat seperti yang pernah dilakukan Bambang.

Dan semoga para pemain bridge Indonesia tidak pernah melupakan jasa seorang pria yang selama puluhan tahun memberikan begitu banyak kepada olahraga ini tanpa banyak bicara.

Selamat jalan, Michael Bambang Hartono.

Terima kasih untuk semuanya.

Terima kasih untuk persahabatan, untuk permainan, untuk tawa, dan untuk semua pengorbanan yang mungkin tidak pernah Bapak anggap sebagai pengorbanan.

Bridge Indonesia akan selalu mengenangmu.

— Bert Toar Polii


No comments: