BRIDGE MASUK INSTITUSI
Dari Meja Permainan Menjadi Gerakan Nasional Pembentukan SDM
Oleh: Bert Toar Polii - Tukang Bridge
Selama ini kita terlalu sering melihat bridge hanya sebagai olahraga yang dimainkan di klub, hotel, gedung olahraga, atau pada kejuaraan-kejuaraan nasional dan internasional.
Padahal, kalau kita mau melihat lebih jauh, bridge jauh lebih besar daripada sekadar permainan kartu.
Bridge adalah latihan berpikir.
Bridge adalah latihan mengambil keputusan.
Bridge adalah latihan bekerja sama.
Bridge adalah latihan mengendalikan emosi, membaca situasi, menghitung risiko dan bertanggung jawab terhadap keputusan yang kita ambil.
Karena itu saya pernah mengusulkan sebuah gagasan sederhana tetapi menurut saya sangat penting:
Bridge harus masuk institusi.
Bukan hanya masuk sekolah, tetapi juga perguruan tinggi, kementerian, lembaga negara, TNI dan Polri, BUMN, perusahaan swasta, pemerintah daerah, organisasi profesi, bahkan berbagai komunitas masyarakat.
Sebab kalau bridge hanya dimainkan oleh orang-orang yang memang sudah menjadi penggemar bridge, kita sebenarnya sedang membatasi potensi olahraga ini.
BRIDGE BUKAN SEKADAR PERMAINAN KARTU
Mari kita lihat apa yang terjadi di meja bridge.
Seorang pemain mendapatkan 13 kartu.
Tidak ada pemain yang bisa memilih kartu yang diterimanya.
Ia harus menerima keadaan tersebut dan kemudian membuat keputusan terbaik berdasarkan informasi yang tersedia.
Bukankah kehidupan juga demikian?
Kita tidak selalu bisa memilih keadaan yang kita hadapi. Tetapi kita bisa memilih bagaimana merespons keadaan tersebut.
Di bridge, kita juga belajar bahwa keputusan yang baik tidak selalu menghasilkan hasil yang baik.
Sebaliknya, keputusan yang buruk kadang-kadang bisa menghasilkan keberuntungan.
Karena itu pemain bridge belajar menilai proses pengambilan keputusan, bukan hanya hasil akhirnya.
Inilah salah satu nilai pendidikan bridge yang sangat penting.
BRIDGE MENGAJARKAN CARA BERPIKIR
Bridge menuntut pemain untuk menganalisis informasi.
Berapa high card point lawan?
Distribusinya bagaimana?
Kartu mana yang mungkin dimiliki lawan?
Apa yang menjadi risiko terbesar?
Apakah kita harus bermain aman atau mengambil peluang?
Semua itu dilakukan dalam waktu yang terbatas.
Artinya, bridge melatih kemampuan seseorang untuk:
menganalisis masalah;
menyusun strategi;
memperkirakan risiko;
mengambil keputusan;
beradaptasi terhadap perubahan;
berkonsentrasi;
mengendalikan emosi;
dan mengevaluasi keputusan setelah permainan selesai.
Kemampuan seperti ini tentu tidak hanya berguna di meja bridge.
Inilah alasan bridge layak masuk institusi.
BRIDGE DAN PENDIDIKAN
Lingkungan pertama yang paling logis adalah sekolah dan perguruan tinggi.
Kita tidak harus langsung menjadikan bridge sebagai mata pelajaran wajib.
Bisa dimulai sebagai ekstrakurikuler.
Bisa pula sebagai klub mahasiswa.
Bahkan dapat dikembangkan menjadi bagian dari program pengembangan kemampuan berpikir, matematika, logika, komunikasi dan kerja sama tim.
Anak yang belajar bridge tidak hanya belajar memegang kartu.
Ia belajar berpikir sebelum bertindak.
Ia belajar bahwa informasi harus dianalisis.
Ia belajar bahwa partner harus dipercaya.
Ia belajar bahwa kesalahan harus dievaluasi, bukan dicari siapa yang harus disalahkan.
Dan yang tidak kalah penting, ia belajar bahwa partner bukan lawan.
Dalam bridge, kita menang bersama partner dan kalah bersama partner.
Nilai seperti ini sangat penting dalam pendidikan karakter.
BRIDGE UNTUK PEMIMPIN DAN PENGAMBIL KEPUTUSAN
Kalau bridge baik untuk anak sekolah, manfaatnya tentu tidak berhenti di sana.
Justru orang-orang yang setiap hari harus mengambil keputusan strategis dapat memperoleh manfaat yang sangat besar.
Bayangkan bridge dimainkan dalam lingkungan:
kementerian, lembaga negara, pemerintah daerah, BUMN, perusahaan swasta, TNI, Polri, dan berbagai organisasi profesi.
Di tempat-tempat tersebut, setiap hari orang harus mengambil keputusan berdasarkan informasi yang tidak pernah lengkap.
Tidak semua variabel dapat diketahui.
Ada risiko.
Ada ketidakpastian.
Ada kepentingan pihak lain.
Dan keputusan harus tetap dibuat.
Persis seperti bridge.
Bedanya, kesalahan dalam bridge mungkin hanya kehilangan beberapa IMP.
Dalam dunia nyata, kesalahan mengambil keputusan bisa jauh lebih mahal.
Karena itu latihan mengambil keputusan melalui bridge bukan sesuatu yang remeh.
BRIDGE MENGAJARKAN KERJA SAMA
Ada satu keunikan bridge yang sering dilupakan.
Bridge bukan permainan individu.
Kita bermain berpasangan.
Kita harus berkomunikasi dengan partner menggunakan sistem dan bahasa yang telah disepakati.
Tetapi komunikasi itu mempunyai batas.
Tidak boleh ada komunikasi yang tidak sah.
Tidak boleh memberikan informasi melalui gestur, ekspresi wajah atau gerakan tubuh.
Dengan demikian bridge mengajarkan sebuah prinsip penting:
kerja sama harus dibangun melalui sistem yang disepakati bersama.
Ini sangat relevan dalam organisasi modern.
Sebuah perusahaan tidak akan berhasil hanya karena memiliki satu orang hebat.
Sebuah kementerian tidak akan berjalan hanya karena memiliki seorang pejabat yang hebat.
Sebuah tim olahraga juga tidak akan berhasil hanya karena memiliki satu bintang.
Yang dibutuhkan adalah kerja sama yang terstruktur.
Bridge mengajarkan hal tersebut secara nyata di meja permainan.
BRIDGE MENGAJARKAN SPORTIVITAS DAN INTEGRITAS
Bridge juga mempunyai keunikan lain.
Karena informasi yang dimiliki setiap pemain sangat terbatas, maka integritas menjadi bagian fundamental dari permainan.
Pemain harus mengikuti aturan.
Tidak boleh mengambil keuntungan dari informasi yang tidak sah.
Tidak boleh memberi atau menerima kode rahasia.
Dan ketika terjadi kesalahan, pemain harus bersedia menerima konsekuensinya.
Ini merupakan pendidikan karakter yang sangat konkret.
Kita sering berbicara mengenai integritas.
Bridge memberikan tempat untuk mempraktikkan integritas tersebut.
DARI SEKOLAH KE INSTITUSI
Karena itu gagasan Bridge Masuk Institusi jangan dipahami hanya sebagai program mengajari pegawai bermain bridge.
Konsepnya jauh lebih besar.
Bridge dapat menjadi alat pengembangan sumber daya manusia.
Di sekolah, bridge digunakan untuk melatih logika, konsentrasi dan kerja sama.
Di perguruan tinggi, bridge dapat menjadi sarana pengembangan kemampuan analitis dan komunikasi.
Di lingkungan pemerintahan, bridge dapat menjadi aktivitas pengembangan kepemimpinan dan pengambilan keputusan.
Di perusahaan, bridge dapat menjadi sarana team building.
Di TNI dan Polri, bridge dapat menjadi latihan analisis situasi, disiplin, strategi dan pengambilan keputusan.
Di organisasi profesi, bridge dapat menjadi ruang membangun networking sekaligus meningkatkan kemampuan berpikir.
Dengan kata lain:
yang kita tawarkan bukan sekadar permainan kartu.
Yang kita tawarkan adalah nilai-nilai yang terkandung di dalam bridge.
MENGAPA SEKARANG?
Pertanyaan berikutnya adalah: mengapa gagasan ini penting sekarang?
Karena dunia berubah sangat cepat.
Teknologi berkembang.
Artificial intelligence berkembang.
Informasi semakin mudah diperoleh.
Tetapi semakin mudah informasi diperoleh, semakin penting kemampuan manusia untuk memilah informasi dan mengambil keputusan.
AI dapat memberikan banyak informasi.
Tetapi manusia tetap harus menentukan:
Apa yang harus dipercaya?
Apa yang harus dilakukan?
Apa risikonya?
Dan siapa yang bertanggung jawab terhadap keputusan tersebut?
Bridge telah melatih kemampuan itu selama ratusan tahun.
Karena itu bridge seharusnya tidak takut terhadap perkembangan teknologi.
Sebaliknya, bridge harus memanfaatkan teknologi untuk memperluas jangkauannya.
DARI GERAKAN KECIL MENJADI GERAKAN NASIONAL
Saya membayangkan Bridge Masuk Institusi tidak berhenti sebagai program satu atau dua organisasi.
Ia bisa dikembangkan menjadi sebuah gerakan nasional.
Sebuah Gerakan Nasional Bridge Masuk Institusi.
Tidak harus dimulai dengan sesuatu yang besar.
Satu sekolah.
Satu universitas.
Satu kantor pemerintah.
Satu perusahaan.
Satu komunitas.
Satu program pelatihan.
Kemudian berkembang.
Yang penting adalah ada contoh keberhasilan yang dapat ditiru oleh institusi lain.
PB GABSI dan para pengurus daerah tentu mempunyai peran penting dalam hal ini.
Tetapi gerakan ini tidak mungkin berhasil jika hanya dibebankan kepada organisasi bridge.
Kita membutuhkan kerja sama dengan Kementerian Pendidikan, perguruan tinggi, kementerian dan lembaga pemerintah, pemerintah daerah, BUMN, dunia usaha, TNI, Polri, organisasi profesi dan komunitas masyarakat.
JANGAN HANYA MENCARI JUARA
Selama ini ukuran keberhasilan olahraga sering kali terlalu sederhana:
berapa banyak medali yang diperoleh?
berapa banyak juara nasional?
berapa banyak juara internasional?
Tentu prestasi tetap penting.
Tetapi olahraga mempunyai fungsi yang jauh lebih luas.
Kalau bridge hanya mengejar medali, kita kehilangan sebagian besar potensinya.
Bridge juga harus mampu menghasilkan:
manusia yang mampu berpikir, mampu bekerja sama, mampu mengambil keputusan dan mampu bertanggung jawab.
Kalau itu berhasil dilakukan, maka sebenarnya kita sedang membangun prestasi yang jauh lebih besar daripada sekadar memenangkan sebuah kejuaraan.
MEJA BRIDGE SEBAGAI MINIATUR KEHIDUPAN
Mungkin inilah cara paling sederhana untuk menjelaskan semuanya.
Meja bridge adalah miniatur kehidupan.
Kita menerima kartu yang tidak kita pilih.
Kita memiliki informasi yang tidak lengkap.
Kita berhadapan dengan ketidakpastian.
Kita mempunyai partner yang harus dipercaya.
Kita mempunyai lawan yang harus dihormati.
Kita harus membuat keputusan.
Kita bisa salah.
Kita harus menerima konsekuensi.
Dan setelah semuanya selesai, kita harus mampu menganalisis kembali apa yang telah kita lakukan.
Bukankah itu juga yang kita lakukan dalam kehidupan?
Karena itu saya percaya bridge mempunyai tempat yang jauh lebih luas daripada sekadar ruang pertandingan.
SAATNYA BRIDGE KELUAR DARI KOTAK
Mungkin sudah waktunya kita berhenti berpikir bahwa tugas kita hanya membawa orang bermain bridge.
Sebaliknya, kita harus mulai berpikir:
Apa yang bisa diberikan bridge kepada masyarakat?
Kalau jawabannya adalah kemampuan berpikir, pengambilan keputusan, kerja sama, disiplin, sportivitas dan integritas, maka tidak ada alasan bridge harus tinggal di dalam klub.
Bridge harus keluar dari kotak.
Masuk ke sekolah.
Masuk ke kampus.
Masuk ke kantor.
Masuk ke perusahaan.
Masuk ke pemerintahan.
Masuk ke berbagai institusi.
Dan akhirnya masuk ke kehidupan masyarakat yang lebih luas.
Sebab tujuan akhir olahraga bukan hanya mencetak juara.
Tujuan akhirnya adalah membentuk manusia.
Dan kalau kita sungguh percaya bahwa bridge mampu membentuk manusia yang lebih baik, maka sekarang waktunya kita membawa bridge ke tempat-tempat di mana manusia dibentuk.
Bridge Masuk Institusi bukan sekadar program pengembangan olahraga.
Ini adalah gagasan tentang bagaimana olahraga bridge dapat ikut membangun manusia Indonesia.

No comments:
Post a Comment