Tuesday, August 25, 2026

Dua Tahun Menentukan Masa Depan PB GABSI: Dari Barbados 2027 Menuju HUT ke-75 Tahun 2028

 


Dua Tahun Menentukan Masa Depan PB GABSI: Dari Barbados 2027 Menuju HUT ke-75 Tahun 2028

Oleh: Bert Toar Polii - Tukang Bridge

Setelah Kejurnas Bridge ke-60 dan Kongres GABSI ke-27 di Mamuju pada September 2026, kepengurusan PB GABSI yang baru akan menghadapi dua tahun yang sangat menentukan.

Memang, masih ada pekerjaan besar yang harus dilakukan di dalam negeri, terutama pemasalan bridge melalui program Bridge Masuk Sekolah dan Bridge Masuk Institusi, pembenahan tata kelola organisasi serta percepatan digitalisasi.

Namun di luar pekerjaan tersebut, sudah menunggu sejumlah agenda besar yang membutuhkan perencanaan sejak jauh-jauh hari.

Tahun 2027 akan menjadi tahun yang sangat padat dengan agenda internasional dan nasional. Sementara 2028 mempunyai arti yang jauh lebih istimewa karena selain menjadi tahun PON XXII, PB GABSI juga akan memasuki usia 75 tahun.

Karena itu, dua tahun ini sebaiknya tidak dilihat sebagai dua kalender yang berdiri sendiri, tetapi sebagai sebuah roadmap dua tahun menuju prestasi dan momentum sejarah PB GABSI.

2027: Tahun Menuju Barbados

Agenda internasional terbesar pada 2027 adalah APBF Championship.

Kejuaraan Asia Pacific Bridge Federation ini bukan sekadar kejuaraan regional. APBF Championship merupakan kejuaraan zonal Zone 6 dan pada tahun-tahun ganjil menjadi bagian penting dari proses kualifikasi menuju World Bridge Team Championships.

Rencananya APBF Championship 2027 akan diselenggarakan di Manila pada Mei–Juni 2027, dan seperti pola yang selama ini berlaku, bulan Juni kemungkinan menjadi waktu penyelenggaraan.

Bagi Indonesia, kejuaraan ini harus menjadi salah satu target utama.

APBF Championship 2027 sekaligus menjadi seleksi Zone VI untuk menentukan tiga negara yang akan mewakili APBF pada World Bridge Team Championship di Barbados, 24 Agustus–4 September 2027.

Artinya, target Indonesia seharusnya bukan sekadar berangkat ke Manila.

Targetnya adalah merebut tiket ke Barbados.

Persiapan untuk itu tentu tidak bisa dimulai beberapa bulan sebelum APBF Championship.

Mulai akhir 2026 harus sudah dipikirkan program seleksi, pemilihan pemain, try out, pembentukan tim, pelatihan dan pendanaan.

Jika ingin bersaing dengan negara-negara kuat di Zone VI, Indonesia membutuhkan persiapan yang serius dan terencana.

Empat Kategori di Kejuaraan Dunia

World Bridge Team Championship merupakan salah satu event paling bergengsi dalam kalender bridge dunia.

Kejuaraan dunia ini mempertemukan tim-tim nasional dalam kategori Open, Ladies, Senior dan Mixed, dengan kejuaraan dunia tim sebagai puncak kompetisi antarnegara.

Karena itu, pembinaan prestasi PB GABSI juga sebaiknya tidak hanya terfokus pada Open Team.

Ladies, Senior dan Mixed juga harus mempunyai jalur pembinaan yang jelas.

Jika Indonesia mampu meloloskan lebih dari satu kategori ke Barbados, tentu akan menjadi pencapaian yang sangat membanggakan.

Tetapi bahkan jika target utama adalah Open, program pembinaan untuk kategori lainnya tidak boleh ditinggalkan.

Jangan Melupakan Junior

Agenda internasional penting lainnya pada 2027 adalah Kejuaraan Dunia Junior.

Biasanya kejuaraan dunia junior berlangsung sekitar bulan Agustus, meskipun lokasi penyelenggaraan 2027 masih perlu menunggu kepastian.

Di sinilah hasil APBF Youth Championship di Hainan pada September 2026 menjadi sangat penting.

Tim U31 Indonesia yang berangkat ke Hainan mempunyai peluang untuk lolos dan mewakili Zone VI pada Kejuaraan Dunia Junior.

Jika peluang tersebut berhasil diwujudkan, PB GABSI harus segera mempunyai program lanjutan.

Jangan sampai kita berhasil mendapatkan tiket ke Kejuaraan Dunia tetapi persiapan baru dimulai setelah tiket berada di tangan.

Regenerasi adalah investasi jangka panjang.

Karena itu, keberhasilan tim U31 harus dilihat bukan hanya sebagai prestasi satu kelompok pemain, tetapi sebagai bagian dari pembentukan generasi penerus tim nasional Indonesia.

Dua Kejurnas Tetap Wajib

Di tengah padatnya agenda internasional, satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah dua Kejurnas yang selama ini menjadi agenda rutin PB GABSI setiap tahun.

Karena sudah menjadi kalender tahunan, maka 2027 dan 2028 juga harus tetap memiliki dua Kejurnas.

Keduanya sebaiknya mempunyai karakter yang berbeda.

Kejurnas pertama dapat menggunakan model Kejurnas utama seperti yang diterapkan di Mamuju, yaitu kompetisi nasional yang menjadi ajang utama bagi pemain-pemain terbaik dari seluruh Indonesia.

Kejurnas kedua adalah Kejurnas Antar Pelajar dan Mahasiswa.

Keduanya tidak boleh dipandang sebagai kegiatan yang saling menggantikan.

Kejurnas utama adalah arena prestasi nasional.

Kejurnas Pelajar dan Mahasiswa adalah bagian penting dari regenerasi.

Justru ketika program Bridge Masuk Sekolah dan Bridge Masuk Institusi semakin berkembang, PB GABSI harus mempunyai jalur kompetisi nasional bagi pemain muda yang dihasilkan oleh program tersebut.

Dengan demikian terbentuk sebuah rantai yang jelas:

pemasalan → pembinaan → kompetisi → prestasi → regenerasi.

Pra-PON 2027 Harus Menjadi Prioritas

Selain dua Kejurnas, agenda nasional yang sangat penting adalah Pra-PON menuju PON XXII 2028.

Karena PON 2028 sudah berada di depan mata, persiapan tidak boleh menunggu tahun 2028.

Pra-PON harus menjadi salah satu prioritas utama pada 2027.

Di sinilah muncul gagasan yang menarik untuk efisiensi.

Jika secara regulasi dan kalender memungkinkan, Kejurnas Antarprovinsi dapat sekaligus dijadikan ajang Pra-PON.

Satu penyelenggaraan dapat mempunyai dua fungsi: menentukan juara nasional sekaligus menentukan provinsi yang lolos ke PON.

Tentu format ini harus dikaji secara matang agar tidak mengorbankan kualitas Kejurnas maupun memenuhi seluruh ketentuan kualifikasi PON.

Tetapi dari sisi efisiensi biaya, gagasan ini sangat layak dipertimbangkan.

PB GABSI tidak perlu membuat dua event besar yang terpisah apabila keduanya dapat dirancang menjadi satu event dengan sistem pertandingan yang memenuhi dua kepentingan.

2028: Tahun yang Sangat Padat

Kalau 2027 adalah tahun mengejar tiket dunia dan mempersiapkan PON, maka 2028 akan menjadi tahun yang jauh lebih padat.

Setidaknya ada lima agenda besar yang harus diperhatikan:

  1. PON XXII 2028 NTT–NTB;

  2. dua Kejurnas rutin PB GABSI;

  3. APBF Congress;

  4. kemungkinan menjadi tuan rumah event internasional;

  5. HUT ke-75 PB GABSI pada 12 Desember 2028.

Karena itu, kalender 2028 harus disusun jauh-jauh hari.

Jangan sampai PON membuat dua Kejurnas rutin terlupakan.

Sebaliknya, jangan pula dua Kejurnas ditempatkan pada waktu yang membuat persiapan PON terganggu.

Semua harus diatur dalam satu kalender nasional yang terintegrasi.

PON XXII: Target Prestasi, Bukan Sekadar Partisipasi

PON XXII 2028 akan menjadi agenda prestasi nasional yang sangat penting.

Setelah Pra-PON 2027, provinsi-provinsi yang lolos harus mempunyai waktu yang cukup untuk mempersiapkan atletnya.

PB GABSI perlu membantu menciptakan standar persiapan yang lebih baik, termasuk program latihan, try out dan kompetisi menuju PON.

Karena PON adalah kompetisi antarprovinsi, maka pembinaan tidak boleh hanya dilakukan menjelang PON.

Provinsi harus sudah mempunyai program pembinaan sejak jauh-jauh hari.

Dengan demikian, Pra-PON bukan menjadi tujuan akhir, tetapi menjadi pintu masuk menuju program pembinaan PON.

Target akhirnya tentu bukan sekadar “bridge ikut PON”.

Targetnya adalah bridge memberikan kontribusi medali bagi kontingen daerah masing-masing.

Dua Kejurnas 2028 Tetap Harus Berjalan

Di sinilah pentingnya menegaskan kembali bahwa 2028 tetap merupakan tahun Kejurnas.

Walaupun ada PON dan perayaan 75 tahun, dua Kejurnas rutin harus tetap diselenggarakan.

Kejurnas pertama tetap dapat menjadi kompetisi nasional utama.

Kejurnas kedua tetap diarahkan kepada Pelajar dan Mahasiswa.

Bahkan Kejurnas Pelajar dan Mahasiswa 2028 dapat menjadi momentum yang sangat menarik.

Bayangkan jika pada saat itu program Bridge Masuk Sekolah sudah berjalan lebih luas di berbagai daerah. Maka peserta Kejurnas Pelajar dan Mahasiswa 2028 seharusnya sudah semakin banyak dan semakin berkualitas.

Artinya, Kejurnas tersebut dapat menjadi salah satu indikator keberhasilan program pemasalan yang dimulai beberapa tahun sebelumnya.

Dengan kata lain, hasil pemasalan 2026–2027 mulai terlihat di meja pertandingan pada 2028.

75 Tahun PB GABSI

Di luar PON dan Kejurnas, 2028 mempunyai satu momentum sejarah.

PB GABSI akan berusia 75 tahun.

Tujuh puluh lima tahun adalah usia yang sangat istimewa.

Karena itu, perayaan HUT ke-75 PB GABSI sebaiknya jangan berhenti pada seremoni internal, gala dinner atau pemberian penghargaan.

Tentu semua itu boleh dilakukan.

Tetapi akan jauh lebih bermakna apabila PB GABSI meninggalkan warisan berupa sebuah event internasional.

Tidak harus World Championship.

Justru kita harus realistis.

World Championship merupakan event yang sangat besar dan membutuhkan persyaratan penyelenggaraan serta biaya yang tidak kecil.

Masih ada beberapa pilihan yang jauh lebih realistis.

Indonesia Bisa Menjadi Tuan Rumah APBF

PB GABSI dapat mempertimbangkan untuk mengajukan Indonesia sebagai tuan rumah salah satu event APBF pada 2028.

Misalnya APBF Championship atau APBF Youth Championship.

Jika APBF Championship Open dapat diperoleh, tentu nilainya sangat tinggi karena Indonesia akan menjadi pusat perhatian bridge Asia Pasifik.

Tetapi jika peluangnya lebih besar pada APBF Youth Championship, ini juga sangat menarik.

Justru dengan mengangkat tema regenerasi pada usia 75 tahun, Indonesia dapat menunjukkan bahwa masa depan bridge menjadi bagian penting dari perayaan tersebut.

ABCC & SEABF Championship

Ada pula alternatif lain yang menurut saya sangat layak diperjuangkan, yaitu menjadi tuan rumah ABCC & SEABF Championship 2028.

Kejuaraan ini akan memberikan nuansa internasional, tetapi secara skala masih jauh lebih realistis dibandingkan World Championship.

Kalau kalender memungkinkan, event tersebut dapat ditempatkan mendekati 12 Desember 2028.

Dengan demikian, pemain dan official dari negara-negara peserta tidak hanya datang untuk bertanding.

Mereka juga dapat menjadi bagian dari sejarah 75 Tahun PB GABSI.

Bayangkan sebuah event internasional di Indonesia, diikuti pemain dari berbagai negara Asia, kemudian ditutup dengan perayaan HUT ke-75 PB GABSI.

Menurut saya, itu akan menjadi perayaan yang jauh lebih berkesan.

APBF Congress Juga Harus Dimanfaatkan

Tahun 2028 juga terdapat APBF Congress.

Ini merupakan kesempatan penting untuk diplomasi olahraga.

PB GABSI dapat memanfaatkan Congress tersebut untuk memperkuat hubungan dengan federasi-federasi anggota APBF dan sekaligus mempromosikan Indonesia sebagai tempat penyelenggaraan berbagai event bridge internasional.

Bahkan tim-tim dari luar negeri dapat ditawarkan datang ke Indonesia dengan biaya mandiri.

PB GABSI cukup menyediakan event yang menarik, venue yang baik, sistem pertandingan yang profesional dan paket kegiatan yang membuat perjalanan mereka ke Indonesia mempunyai nilai tambah.

Ini merupakan cara yang lebih realistis untuk mendatangkan peserta internasional tanpa seluruh biaya harus dibebankan kepada PB GABSI.

Jangan Semua Menjadi Beban Anggaran PB GABSI

Ini juga menjadi pelajaran penting untuk dua tahun mendatang.

Setiap event besar harus sejak awal mempunyai business plan.

Berapa biaya?

Dari mana sumber dananya?

Apa kontribusi PB GABSI?

Apa kontribusi pemerintah daerah?

Apa yang dapat diperoleh dari sponsor?

Apa yang dapat dibebankan kepada peserta?

Apa manfaat ekonomi bagi tuan rumah?

Dan bagaimana event tersebut dapat dibuat berkelanjutan?

Kita tidak boleh lagi berpikir bahwa setiap event internasional harus dibiayai sepenuhnya oleh PB GABSI.

Sebaliknya, PB GABSI harus menjadi penggagas, regulator dan pengendali kualitas, sementara sumber pembiayaan dapat berasal dari berbagai pihak.

Kalender Dua Tahun Harus Dibuat Sejak 2026

Dengan begitu banyaknya agenda, hal pertama yang harus dilakukan kepengurusan baru adalah menyusun Kalender Strategis PB GABSI 2027–2028.

Bukan hanya kalender pertandingan.

Tetapi kalender yang berisi:

  • agenda internasional;

  • seleksi tim nasional;

  • try out;

  • pemusatan latihan;

  • Kejurnas pertama;

  • Kejurnas Pelajar dan Mahasiswa;

  • Pra-PON;

  • PON;

  • APBF Congress;

  • event internasional;

  • HUT ke-75;

  • serta agenda pembinaan dan pemasalan.

Setiap kegiatan harus mempunyai penanggung jawab, jadwal, target, anggaran dan sumber pendanaan.

Dengan cara ini PB GABSI tidak akan selalu bekerja dalam situasi “pemadam kebakaran”.

Roadmap yang Sebenarnya Sudah Terlihat

Kalau kita susun, sebenarnya roadmap dua tahun tersebut sudah cukup jelas.

2027

Prestasi internasional

  • APBF Championship Manila;

  • perjuangan merebut tiket Zone VI menuju Barbados;

  • World Bridge Team Championship Barbados;

  • Kejuaraan Dunia Junior jika Indonesia berhasil lolos.

Kompetisi nasional

  • Kejurnas utama;

  • Kejurnas Antar Pelajar dan Mahasiswa;

  • Pra-PON.

Persiapan 2028

  • persiapan PON;

  • persiapan HUT ke-75;

  • persiapan kemungkinan event internasional di Indonesia.

2028

Prestasi nasional

  • PON XXII NTT–NTB;

  • evaluasi hasil PON.

Kompetisi nasional

  • Kejurnas utama;

  • Kejurnas Antar Pelajar dan Mahasiswa.

Agenda internasional

  • APBF Congress;

  • kemungkinan APBF Championship atau APBF Youth Championship;

  • kemungkinan ABCC & SEABF Championship.

Momentum organisasi

  • 75 Tahun PB GABSI pada 12 Desember 2028.

Dengan demikian, tidak ada alasan untuk mengorbankan Kejurnas hanya karena tahun 2028 mempunyai PON dan HUT ke-75.

Justru kemampuan menyelenggarakan seluruh agenda tersebut dengan baik akan menunjukkan kualitas tata kelola PB GABSI.

Dua Tahun yang Saling Berkaitan

Pada akhirnya, 2027 dan 2028 bukanlah dua tahun yang berdiri sendiri.

2027 adalah tahun mengejar prestasi dunia sekaligus mempersiapkan PON.

2028 adalah tahun PON, dua Kejurnas, event internasional dan 75 tahun PB GABSI.

Apa yang dilakukan pada 2026 akan menentukan hasil 2027.

Apa yang dilakukan pada 2027 akan menentukan keberhasilan 2028.

Karena itu, kepengurusan PB GABSI hasil Kongres Mamuju akan mempunyai pekerjaan yang sangat besar.

Bukan hanya membuat bridge semakin populer.

Tetapi juga membawa atlet Indonesia kembali bersaing di tingkat dunia, membangun regenerasi, menjaga kesinambungan kompetisi nasional, mempersiapkan PON, memperkuat posisi Indonesia di APBF, dan menjadikan usia 75 tahun sebagai momentum kebangkitan baru.

Jangan Menunggu Sampai 2027

Semua itu harus mulai dipikirkan sejak sekarang.

Begitu kepengurusan baru terbentuk, saya kira sangat baik jika langsung dibentuk sebuah Tim Perencanaan 2027–2028.

Tim ini tidak perlu menjadi struktur organisasi baru yang rumit.

Tugasnya sederhana tetapi penting: memastikan semua agenda besar sudah mempunyai rencana kerja, jadwal, penanggung jawab dan sumber pendanaan jauh sebelum hari H.

Karena kita tidak sedang mempersiapkan satu turnamen.

Kita sedang mempersiapkan dua tahun perjalanan bridge Indonesia.

Dan akhirnya, ketika pada 12 Desember 2028 PB GABSI merayakan ulang tahunnya yang ke-75, mudah-mudahan kita tidak hanya mengatakan:

“PB GABSI sudah berusia 75 tahun.”

Tetapi kita dapat mengatakan:

“Pada usia 75 tahun, PB GABSI membuka babak baru.”

Babak baru yang lebih profesional.

Lebih modern.

Lebih digital.

Lebih terbuka kepada dunia.

Lebih kuat dalam pembinaan.

Dan tentu saja, lebih berprestasi.

Dari Mamuju 2026, menuju Barbados 2027, bertanding di PON 2028, tetap menyelenggarakan dua Kejurnas, dan kemudian merayakan 75 tahun PB GABSI pada 12 Desember 2028.

Inilah dua tahun yang akan sangat menentukan masa depan bridge Indonesia.

No comments: