Mengurai Benang Kusut Silsilah Minahasa
Belajar dari Perjalanan Menyusun Silsilah Keluarga Polii–Lilah
Oleh : Bert Toar Polii
Ada satu pertanyaan sederhana yang kadang ternyata tidak sederhana sama sekali:
“Kita ini sebenarnya keluarga apa?”
Bagi orang Minahasa, pertanyaan seperti ini sangat sering muncul ketika dua orang bertemu dan mulai saling menelusuri asal-usul keluarga.
“Fam apa?”
“Polii.”
“Wah, kita mungkin masih keluarga.”
“Dari mana?”
“Dari oma saya.”
“Oma yang mana?”
“Yang dari….”
Kemudian mulailah nama-nama disebutkan. Nama opa, oma, saudara, kampung asal, nama panggilan, bahkan cerita-cerita lama yang sudah hampir terlupakan.
Pada akhirnya sering ditemukan satu titik pertemuan.
“Oh, ternyata kita memang keluarga!”
Tetapi muncul pertanyaan berikutnya:
“Tapi hubungan kita persisnya apa?”
Pertanyaan sederhana ini ternyata bisa menjadi pekerjaan yang sangat panjang.
Saya sendiri merasakannya ketika mencoba menyusun silsilah keluarga Polii–Lilah.
Awalnya saya berpikir pekerjaan ini sederhana. Tinggal memasukkan nama orang tua, kakek-nenek, anak-anak dan cucu-cucu.
Ternyata tidak.
Semakin banyak nama yang berhasil ditemukan, semakin banyak pula cabang baru yang muncul.
Ada nama lengkap yang berbeda dengan nama panggilan.
Ada nama keluarga yang berubah atau tidak lagi digunakan.
Ada informasi yang hanya diketahui oleh satu anggota keluarga.
Ada cerita yang diwariskan secara lisan.
Ada foto lama tetapi tidak ada keterangan siapa orang-orang di dalamnya.
Dan yang paling menarik, semakin jauh saya menelusuri ke generasi sebelumnya, semakin banyak fam lain yang muncul.
Di situlah saya mulai menyadari:
Menyusun silsilah keluarga Minahasa bukan sekadar pekerjaan mencatat nama. Ini adalah pekerjaan mengurai benang sejarah.
Minahasa dan Jaringan Kekerabatan yang Luas
Salah satu hal yang membuat silsilah Minahasa menarik adalah karakter sistem kekerabatannya.
Secara umum, masyarakat Minahasa mengenal sistem kekerabatan bilateral atau kognatik. Artinya, hubungan kekerabatan dari pihak ayah maupun pihak ibu sama-sama mempunyai arti.
Ini berbeda dengan sistem yang secara kuat memusatkan penelusuran genealogis pada satu garis tertentu.
Karena itu, ketika kita membuat silsilah keluarga Minahasa, kita tidak bisa hanya bertanya:
“Siapa ayah dari ayah saya?”
Kita juga harus bertanya:
“Siapa ibu dari ayah saya?”
Kemudian:
“Siapa ayah dari ibu saya?”
Dan:
“Siapa ibu dari ibu saya?”
Dari empat orang kakek-nenek, kita kemudian bergerak ke delapan buyut.
Dari delapan menjadi enam belas.
Kemudian tiga puluh dua.
Dan seterusnya.
Secara sederhana, setiap generasi ke atas membuat pohon keluarga semakin melebar.
Yang semula terlihat seperti satu pohon ternyata berubah menjadi sebuah jaringan besar.
Dan setiap cabang dapat membawa fam yang berbeda.
Pengalaman Menyusun Silsilah Polii–Lilah
Ketika mulai menyusun silsilah keluarga Polii–Lilah, saya merasakan sendiri persoalan tersebut.
Pada awalnya saya hanya ingin mengetahui hubungan antaranggota keluarga.
Tetapi kemudian muncul kebutuhan untuk mencatat lebih banyak hal.
Siapa orang tua mereka?
Siapa saudara kandungnya?
Siapa pasangan mereka?
Siapa anak-anak mereka?
Fam apa yang dibawa oleh pasangan?
Dari mana keluarga tersebut berasal?
Dan yang tidak kalah penting:
apa nama lengkapnya?
Ternyata nama dalam keluarga tidak selalu sesederhana yang kita bayangkan.
Ada nama resmi.
Ada nama panggilan.
Ada nama yang lebih dikenal oleh keluarga.
Dan kadang orang yang sama dikenal dengan nama yang berbeda oleh generasi yang berbeda.
Misalnya, seseorang mungkin lebih dikenal oleh keluarganya dengan nama panggilan tertentu, sementara dokumen resmi menggunakan nama lengkap.
Kalau hal seperti ini tidak dicatat, generasi berikutnya bisa saja mengira dua nama tersebut adalah dua orang yang berbeda.
Karena itu, dalam menyusun silsilah saya mulai melihat bahwa nama panggilan juga merupakan bagian dari sejarah keluarga.
Ketika Satu Nama Membuka Cabang Baru
Salah satu pengalaman menarik dalam penelitian keluarga adalah ketika satu nama ternyata membuka pintu ke cabang keluarga yang sebelumnya tidak diketahui.
Misalnya kita menemukan nama seorang oma.
Kita kemudian mencari nama orang tuanya.
Dari sana ditemukan bahwa ibunya berasal dari fam lain.
Kemudian kita menemukan saudara-saudaranya.
Salah satu saudara ternyata menikah dengan keluarga yang kita kenal.
Dari sana muncul hubungan dengan cabang keluarga lain.
Kemudian muncul lagi nama-nama baru.
Pada titik tertentu kita mungkin bertanya:
“Kok keluarga kita jadi sebesar ini?”
Jawabannya sederhana.
Karena sejak awal kita melihat keluarga sebagai satu garis, padahal sebenarnya ia adalah jaringan.
Fam Ibu yang Sering Terlupakan
Di sinilah saya melihat salah satu tantangan terbesar dalam dokumentasi silsilah Minahasa.
Dalam kehidupan sehari-hari, anak umumnya meneruskan fam ayah.
Akibatnya, fam dari pihak ibu sering tidak muncul lagi dalam nama generasi berikutnya.
Padahal hubungan genealogisnya tetap ada.
Seorang anak dari keluarga Polii, misalnya, tetap mempunyai hubungan darah dengan keluarga ibunya yang mungkin berasal dari fam yang berbeda.
Tetapi ketika anak tersebut mempunyai anak lagi, fam dari pihak ibu tadi semakin jauh dari nama keluarga sehari-hari.
Dua generasi kemudian, cucu mungkin hanya mengetahui:
“Saya Polii.”
Tetapi belum tentu tahu:
“Oma saya dari pihak ibu adalah siapa?”
Lebih jauh lagi:
“Ibunya oma saya siapa?”
Padahal di situlah terdapat bagian penting dari sejarah keluarganya.
Karena itu, dalam penelitian silsilah Minahasa kita harus mempunyai kebiasaan baru:
Jangan hanya mencatat fam ayah.
Catat juga fam ibu.
Mengapa Cerita Lisan Sangat Penting?
Dalam proses menyusun silsilah keluarga, dokumen memang sangat penting.
Tetapi dokumen bukan satu-satunya sumber.
Ada sumber lain yang sering kali justru menjadi pintu pertama:
ingatan orang tua.
Opa dan oma mungkin mengetahui cerita yang tidak pernah ditulis.
Mereka tahu siapa saudara siapa.
Mereka tahu keluarga yang pindah dari satu kampung ke kampung lain.
Mereka tahu nama panggilan seseorang.
Mereka tahu siapa yang menikah dengan siapa.
Mereka bahkan mungkin mengetahui cerita yang tidak tercantum dalam dokumen resmi.
Masalahnya adalah ingatan manusia tidak abadi.
Ketika seseorang meninggal, sebagian pengetahuan yang tersimpan di dalam ingatannya dapat ikut hilang.
Karena itu saya semakin percaya bahwa:
wawancara dengan orang tua harus dilakukan sekarang, bukan nanti.
Foto Lama Juga Merupakan Dokumen
Dalam perjalanan menyusun silsilah Polii–Lilah, foto keluarga lama menjadi sangat berharga.
Satu foto mungkin memperlihatkan beberapa generasi sekaligus.
Tetapi sering muncul pertanyaan:
“Yang berdiri di belakang itu siapa?”
“Yang duduk di sebelah oma siapa?”
“Ini adiknya opa atau kakaknya?”
Kalau tidak segera diberi keterangan, dalam beberapa puluh tahun foto tersebut mungkin masih ada, tetapi identitas orang-orang di dalamnya sudah tidak diketahui.
Karena itu setiap foto lama sebaiknya diberi keterangan:
siapa saja yang ada di foto;
kapan foto dibuat;
di mana;
siapa fotografernya jika diketahui;
hubungan antarorang;
dan sumber informasi tersebut.
Sebuah foto lama bukan sekadar kenangan.
Ia adalah dokumen genealogis.
Dari Album Foto ke Family Tree Digital
Untungnya kita hidup di zaman yang berbeda.
Dulu, membuat silsilah berarti menggambar garis dan kotak di atas kertas besar.
Sekarang kita dapat menggunakan aplikasi digital seperti MyHeritage, Ancestry, atau Geni.
Keuntungannya sangat besar.
Kita dapat membuat cabang dari ayah dan ibu sekaligus.
Kita dapat memasukkan foto.
Kita dapat menambahkan tanggal.
Kita dapat menambahkan catatan.
Dan ketika ada informasi baru, pohon keluarga dapat diperbarui.
Ini sangat cocok dengan karakter kekerabatan Minahasa yang bercabang ke berbagai arah.
Namun teknologi hanya alat.
Data tetap harus berasal dari manusia dan sumber yang dapat dipercaya.
Jangan Percaya Begitu Saja pada Semua Informasi
Pengalaman menyusun silsilah juga mengajarkan satu hal penting:
cerita keluarga perlu diverifikasi.
Bukan karena orang yang bercerita sengaja memberikan informasi yang salah.
Sering kali mereka hanya mengingat berdasarkan apa yang mereka dengar dari generasi sebelumnya.
Bisa terjadi perbedaan:
tahun kelahiran;
ejaan nama;
nama panggilan;
urutan anak;
nama kampung;
bahkan hubungan antaranggota keluarga.
Karena itu setiap informasi sebaiknya diberi tingkat kepastian.
Misalnya:
Terverifikasi — didukung dokumen.
Sangat mungkin — didukung beberapa sumber keluarga.
Informasi keluarga — berasal dari satu sumber lisan.
Belum terverifikasi — masih perlu penelitian lebih lanjut.
Cara seperti ini akan membuat family tree menjadi lebih jujur.
Kita tidak perlu memaksakan semua bagian menjadi pasti.
Lebih baik menulis:
“Belum diketahui.”
daripada mengisi dengan informasi yang kita sendiri tidak yakin.
Gereja dan Arsip Stamboek
Jika kita ingin melakukan penelitian yang lebih serius, kita perlu melihat sumber sejarah yang lebih tua.
Salah satu sumber penting adalah arsip gereja.
Catatan baptisan, perkawinan, kematian, dan berbagai administrasi jemaat dapat menjadi sumber primer yang sangat berharga.
Bagi Minahasa, yang mempunyai sejarah panjang komunitas Kristen, arsip gereja dapat membantu mengisi bagian-bagian silsilah yang sudah tidak lagi diketahui keluarga.
Bayangkan jika arsip-arsip jemaat tua dapat didigitalisasi dengan baik.
Generasi muda tidak perlu hanya mengandalkan cerita:
“Katanya opa saya berasal dari kampung itu.”
Mereka dapat mencari bukti yang lebih kuat.
Tentu akses terhadap arsip harus tetap memperhatikan aturan gereja dan perlindungan data pribadi.
Tetapi secara prinsip, digitalisasi arsip genealogis merupakan proyek kebudayaan yang sangat penting.
Rukun Fam Bisa Menjadi Pusat Data
Di sinilah saya melihat peran penting rukun fam dan rukun keluarga.
Selama ini organisasi keluarga banyak berfungsi sebagai wadah sosial.
Mengadakan pertemuan.
Membantu keluarga yang berduka.
Merayakan peristiwa keluarga.
Mengadakan kegiatan kebersamaan.
Semua itu penting.
Tetapi ada satu fungsi lain yang bisa ditambahkan:
Menjadi penjaga data keluarga.
Setiap rukun fam dapat mempunyai satu database yang terus diperbarui.
Tidak harus langsung sempurna.
Bisa dimulai dengan:
Nama – orang tua – pasangan – anak – fam – tempat lahir – kampung asal.
Kemudian perlahan ditambahkan foto dan dokumen.
Dengan demikian, rukun keluarga bukan hanya menjaga hubungan sosial hari ini.
Ia juga menjaga hubungan sejarah antargenerasi.
Anak Muda Harus Dilibatkan
Pekerjaan seperti ini tidak bisa hanya diserahkan kepada generasi tua.
Justru anak muda mempunyai keunggulan.
Mereka lebih terbiasa menggunakan:
komputer;
smartphone;
scanner;
cloud storage;
aplikasi family tree;
media sosial;
dan berbagai teknologi digital.
Karena itu setiap keluarga sebaiknya mempunyai satu atau dua orang yang dapat disebut:
“Arsiparis Keluarga.”
Tugasnya bukan sesuatu yang rumit.
Ia cukup memastikan bahwa:
cerita dicatat,
foto diberi keterangan,
dokumen disimpan,
nama ditulis dengan benar,
dan
family tree terus diperbarui.
Dengan cara sederhana seperti itu, kita dapat menyelamatkan sejarah keluarga.
Silsilah Bukan Sekadar Nama
Pada akhirnya, saya menyadari bahwa menyusun silsilah Polii–Lilah bukan hanya pekerjaan mencari nama leluhur.
Di balik setiap nama terdapat cerita.
Ada orang yang lahir di sebuah kampung.
Ada yang pindah ke kota.
Ada yang merantau.
Ada yang menikah dengan keluarga dari fam lain.
Ada yang kemudian pergi jauh dari Minahasa.
Ada yang kembali.
Ada yang meninggalkan foto.
Ada yang meninggalkan surat.
Ada yang hanya meninggalkan cerita dalam ingatan anak-anaknya.
Ketika semua itu disatukan, kita bukan sekadar mendapatkan sebuah family tree.
Kita mendapatkan sejarah keluarga.
Dari Keluarga Polii–Lilah ke Keluarga Minahasa
Pengalaman pribadi menyusun silsilah keluarga Polii–Lilah membuat saya berpikir lebih jauh.
Kalau satu keluarga saja sudah sedemikian kompleks, bagaimana dengan seluruh keluarga Minahasa?
Berapa banyak hubungan keluarga yang sebenarnya saling bersilang tetapi sudah tidak diketahui?
Berapa banyak fam yang terhubung melalui perkawinan beberapa generasi lalu?
Berapa banyak cerita perpindahan keluarga dari satu kampung ke kampung lain yang sudah hilang?
Dan berapa banyak foto lama yang masih tersimpan di lemari rumah tetapi tidak lagi diketahui siapa orang-orang di dalamnya?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa pekerjaan menyusun silsilah bukan hanya proyek pribadi.
Ia bisa menjadi bagian dari gerakan pelestarian budaya Minahasa.
Kita Tidak Harus Menunggu Pohon yang Sempurna
Ada kecenderungan bahwa kita baru mau memulai kalau semua data sudah tersedia.
Padahal justru sebaliknya.
Mulailah dari data yang kita punya.
Mulai dari diri sendiri.
Tuliskan nama lengkap.
Tuliskan nama orang tua.
Tuliskan nama opa dan oma.
Kemudian tambahkan saudara.
Tambahkan fam dari pihak ibu.
Tambahkan kampung asal.
Kemudian tanyakan kepada orang yang lebih tua.
Pelan-pelan pohonnya akan tumbuh.
Tidak perlu langsung lima atau sepuluh generasi.
Satu generasi yang terdokumentasi dengan baik jauh lebih berharga daripada sepuluh generasi yang hanya menjadi cerita samar.
Jangan Sampai Terlambat
Ada satu kenyataan yang harus kita hadapi.
Waktu tidak menunggu kita selesai menyusun silsilah.
Orang-orang yang paling mengetahui sejarah keluarga adalah generasi yang lebih tua.
Dan mereka tidak akan selalu bersama kita.
Karena itu, pertanyaan yang belum kita ajukan hari ini mungkin menjadi pertanyaan yang tidak akan pernah bisa kita jawab lagi besok.
Kalau masih ada opa atau oma yang mengetahui sejarah keluarga, tanyakan sekarang.
Kalau masih ada album foto lama, identifikasi sekarang.
Kalau masih ada dokumen keluarga, scan sekarang.
Kalau masih ada cerita keluarga yang hanya diketahui satu orang, rekam sekarang.
Karena kehilangan sebuah foto mungkin menyedihkan.
Tetapi kehilangan identitas orang di dalam foto tersebut jauh lebih menyedihkan.
Penutup: Jangan Biarkan Benang Itu Putus
Sekarang saya semakin memahami bahwa “benang kusut” silsilah Minahasa bukanlah sesuatu yang harus kita keluhkan.
Justru kerumitan tersebut menunjukkan betapa luas dan kayanya jaringan keluarga kita.
Kita mempunyai hubungan dari pihak ayah dan ibu.
Kita terhubung dengan banyak fam.
Kita mempunyai sejarah perpindahan antarkampung.
Kita mempunyai cerita perkawinan antarkeluarga.
Dan semuanya membentuk identitas kita hari ini.
Tugas generasi kita bukan menyalahkan generasi sebelumnya karena tidak meninggalkan family tree yang lengkap.
Tugas kita adalah mulai mengerjakannya sekarang.
Saya belajar dari pengalaman menyusun silsilah keluarga Polii–Lilah bahwa pekerjaan ini memang tidak mudah.
Kadang membingungkan.
Kadang menemukan informasi yang berbeda.
Kadang harus kembali bertanya kepada orang yang lebih tua.
Kadang satu nama justru membuka sepuluh pertanyaan baru.
Tetapi setiap nama yang berhasil kita identifikasi adalah satu potongan sejarah yang berhasil diselamatkan.
Setiap foto yang berhasil diberi nama adalah satu kenangan yang tidak lagi anonim.
Setiap fam dari pihak ibu yang berhasil dicatat adalah satu cabang keluarga yang berhasil diselamatkan.
Dan setiap hubungan yang berhasil kita dokumentasikan adalah satu benang yang berhasil kita uraikan.
Mungkin kita tidak akan pernah menghasilkan silsilah yang benar-benar sempurna.
Tetapi kita bisa meninggalkan sesuatu yang jauh lebih baik daripada yang kita terima:
sebuah peta keluarga bagi generasi sesudah kita.
Kepada generasi muda Kawanua, pesan saya sederhana:
Mulailah mencatat.
Tanyakan kepada orang tua.
Dengarkan cerita opa dan oma.
Catat nama lengkap dan nama panggilan.
Jangan lupakan fam dari pihak ibu.
Simpan foto dan dokumen lama.
Buat family tree.
Dan terus perbarui.
Sebab pada akhirnya, mengetahui siapa leluhur kita bukan hanya soal mengetahui dari mana kita berasal.
Ini juga tentang mengetahui siapa diri kita.
Mengetahui dari mana kita berasal adalah cara terbaik untuk memastikan kita tidak kehilangan arah di masa depan.
Dan mungkin, setelah kita berhasil mengurai benang-benang yang selama ini kusut, kita akan menemukan sebuah kenyataan yang indah:

No comments:
Post a Comment