Memperbanyak Kejuaraan Pasangan, Membangun Lebih Banyak Pasangan Berkualitas
Oleh: Bert Toar Polii
Kejuaraan Bridge Pasangan Piala Ketua Umum KKK yang baru saja berlangsung memberikan satu pelajaran penting: pertandingan pasangan perlu lebih sering digelar.
Sebagai penggagas kejuaraan tersebut, saya justru mendapat banyak masukan agar format pertandingan pasangan seperti ini tidak berhenti sebagai sebuah event sesaat. Sebaliknya, perlu dibuat secara rutin dengan frekuensi yang lebih banyak.
Saya sependapat.
Ada sejumlah alasan mengapa pertandingan pasangan sangat penting bagi perkembangan bridge Indonesia.
Melahirkan pasangan-pasangan baru yang berkualitas
Pertandingan pasangan memberikan kesempatan kepada pemain untuk memperoleh jam terbang yang tinggi dengan lawan yang lebih beragam.
Berbeda dengan pertandingan beregu yang sering kali membuat seorang pemain berulang kali berhadapan dengan kelompok pemain yang relatif sama, dalam pertandingan pasangan pergerakan pasangan dan lawan jauh lebih dinamis.
Situasi ini sangat baik untuk pembinaan.
Pemain tidak hanya belajar bagaimana memainkan kartu dengan baik, tetapi juga belajar membangun komunikasi, memahami gaya bermain pasangan, mengembangkan sistem, serta mengambil keputusan dalam situasi yang berbeda-beda.
Dari sinilah pasangan-pasangan baru yang berkualitas bisa lahir.
Pelatih nasional Santje Panelewen bahkan menyampaikan pandangan yang sangat menarik. Menurutnya, pertandingan pasangan jauh lebih bermanfaat untuk pembinaan dibandingkan pertandingan beregu.
Alasannya sederhana tetapi sangat penting.
Dengan semakin banyak pertandingan pasangan, akan semakin banyak pemain yang terdorong untuk berlatih secara khusus sebagai pasangan, tanpa harus terlebih dahulu memikirkan bagaimana mencari pemain lain untuk membentuk sebuah tim.
Ini akan menciptakan ekosistem pembinaan pasangan yang sehat.
Lebih murah daripada pertandingan beregu
Faktor lain yang tidak kalah penting adalah biaya.
Untuk mengikuti kejuaraan beregu, seorang pemain tentu harus membentuk tim terlebih dahulu. Biasanya diperlukan empat atau enam pemain, tergantung format pertandingan, belum termasuk berbagai biaya perjalanan, akomodasi dan kebutuhan lainnya.
Bagi banyak pemain, terutama pemain muda dan pemain yang sedang berkembang, biaya tersebut cukup berat.
Pertandingan pasangan jauh lebih sederhana.
Dua pemain sudah bisa ikut bertanding.
Dengan biaya yang lebih terjangkau, mereka bisa mendapatkan pengalaman bertanding yang berkualitas. Artinya, lebih banyak pemain mempunyai kesempatan untuk bertanding secara rutin.
Dan semakin banyak kesempatan bertanding, semakin cepat pula proses pembinaan mereka.
Beregu sering dikuasai tim elite
Ada persoalan lain yang juga perlu diperhatikan.
Dalam banyak kejuaraan beregu, peluang menjadi juara sering kali didominasi oleh beberapa tim elite. Mereka mempunyai kemampuan untuk mengumpulkan pemain-pemain terbaik dan membentuk tim yang sangat kuat.
Hal ini tentu bukan sesuatu yang salah. Justru merupakan bagian dari kompetisi.
Namun dari perspektif pembinaan, kondisi tersebut kadang membuat pemain-pemain lain merasa peluang mereka untuk bersaing menjadi sangat kecil.
Pertandingan pasangan menawarkan suasana yang berbeda.
Pemain dari berbagai klub dan berbagai tingkat kemampuan dapat berpasangan dan mendapatkan pengalaman bertanding melawan pasangan-pasangan yang lebih kuat.
Bahkan pasangan yang belum terkenal bisa saja membuat kejutan.
Inilah kompetisi yang kita perlukan untuk melahirkan generasi baru.
Kita pernah memiliki budaya pertandingan pasangan
Menariknya, gagasan memperbanyak pertandingan pasangan sebenarnya bukan sesuatu yang baru.
Pada era 1980-an dan 1990-an, khususnya di Jakarta, pertandingan pasangan sangat banyak.
Ada Mensos Cup, Baroto Cup, Sirkuit Bapindo dan berbagai pertandingan pasangan lainnya.
Pada masa itu, kegiatan bridge juga hidup karena hampir setiap hari terdapat tempat untuk bermain dan berlatih.
Senin ada latihan di Hotel Hilton.
Selasa ada kegiatan IBWI di Bulungan.
Kamis di Petroleum Club.
Jumat di PLN.
Sabtu di Pertamina.
Dan Minggu di Bridge Centre Bulungan, jika tidak sedang ada turnamen.
Bayangkan ekosistem seperti itu.
Pemain mempunyai banyak kesempatan untuk bertemu, bermain, berlatih dan belajar.
Tidak mengherankan jika pada masa tersebut banyak pasangan berkualitas bermunculan.
Menghidupkan kembali budaya bertanding
Karena itu, saya sebagai Tukang Bridge sependapat bahwa ke depan kita perlu mencoba memperbanyak turnamen pasangan.
Tujuannya bukan sekadar menambah jumlah pertandingan dalam kalender.
Yang lebih penting adalah menghidupkan kembali budaya bertanding dan berlatih sebagai pasangan.
Saya membayangkan sebuah kalender pertandingan yang memungkinkan pemain mengetahui bahwa setiap akhir pekan selalu ada kesempatan untuk bertanding.
Dengan demikian, pemain tidak perlu menunggu kejuaraan besar untuk mendapatkan pengalaman kompetisi.
Format yang saya bayangkan
Ke depan, saya ingin mencoba mengembangkan format pertandingan pasangan yang berlangsung selama dua hari.
Hari Sabtu dapat digunakan untuk:
Open Pairs
Ladies Pairs
Junior Pairs
Sedangkan hari Minggu dapat diisi dengan:
Senior Pairs
Mixed Pairs
Pelajar
Mini Bridge untuk pemula
Format seperti ini mempunyai keuntungan besar.
Satu event dapat memberikan ruang kepada hampir semua kelompok pemain, mulai dari pemain elite sampai pemula.
Khusus kategori pelajar, saya juga mendapat masukan agar Best Pelajar diberikan secara lebih konsisten. Ini penting karena pemain muda membutuhkan penghargaan dan target yang jelas untuk memacu semangat mereka.
Mini Bridge jangan dilupakan
Satu hal yang menurut saya sangat penting adalah menyediakan ruang untuk Mini Bridge.
Kita tidak boleh hanya memikirkan pemain yang sudah mahir.
Kalau ingin membangun masa depan bridge Indonesia, kita harus memikirkan dari mana pemain-pemain tersebut berasal.
Mini Bridge dapat menjadi pintu masuk bagi anak-anak yang baru mengenal bridge.
Mereka bisa merasakan suasana pertandingan tanpa tekanan seperti kejuaraan Open.
Dari sana, mereka perlahan naik ke kategori pelajar, junior dan akhirnya Open.
Inilah sebuah rantai pembinaan yang harus kita bangun.
Dari turnamen pasangan menuju pembinaan nasional
Pada akhirnya, tujuan memperbanyak pertandingan pasangan bukan sekadar menghasilkan lebih banyak juara.
Tujuan utamanya adalah menciptakan lebih banyak pasangan berkualitas.
Pasangan-pasangan inilah yang nantinya dapat menjadi fondasi tim nasional maupun tim klub.
Kita tidak mungkin membangun tim nasional yang kuat tanpa memiliki banyak pasangan kuat sebagai bahan bakunya.
Karena itu, pertandingan pasangan seharusnya dilihat sebagai bagian dari sistem pembinaan, bukan sekadar hiburan akhir pekan.
Kejuaraan Bridge Pasangan Piala Ketua Umum KKK mudah-mudahan menjadi salah satu pemicu untuk memulai kembali tradisi tersebut.
Saya berharap semakin banyak klub, komunitas, organisasi maupun sponsor yang berani membuat pertandingan pasangan.
Tidak perlu selalu besar.
Tidak harus mahal.
Yang penting rutin, berkualitas dan memberikan kesempatan bermain kepada sebanyak mungkin pemain.
Sebab dalam bridge, seperti juga dalam olahraga lainnya, pemain menjadi kuat bukan hanya karena banyak berlatih, tetapi karena banyak bertanding.
Dan kalau kita ingin melahirkan lebih banyak pasangan hebat di Indonesia, maka jawabannya sederhana:
Mari kita perbanyak pertandingan pasangan.
Tukang Bridge siap ikut mendorongnya.

No comments:
Post a Comment