Friday, August 28, 2026

Danau Tondano Bukan Sekadar Tempat Wisata


 

Danau Tondano Bukan Sekadar Tempat Wisata

Oleh : Bert Toar Polii - Tukang Bridge

Jangan sampai kita baru menyadari nilainya setelah kerusakan menjadi terlalu besar untuk diperbaiki.

Kalau kita berbicara tentang Danau Tondano, yang biasanya muncul dalam pikiran adalah pemandangan yang indah, udara sejuk Minahasa, restoran di tepi danau, perahu, ikan mujair, atau tempat menikmati akhir pekan bersama keluarga.

Dan itu memang benar.

Danau Tondano adalah salah satu ikon Sulawesi Utara.

Tetapi ada satu hal yang sering terlupakan:

Danau Tondano bukan sekadar tempat wisata.

Danau ini mempunyai fungsi yang jauh lebih strategis bagi kehidupan masyarakat Sulawesi Utara.

Ia adalah sumber air, bagian dari sistem energi, sumber penghidupan masyarakat, kawasan pertanian dan perikanan, sekaligus aset ekologis yang nilainya tidak mungkin dihitung hanya dari jumlah wisatawan yang datang.

Danau yang Menghidupi

Air Danau Tondano tidak berhenti sebagai pemandangan yang kita nikmati dari restoran di pinggir danau.

Sistem air Tondano mempunyai hubungan dengan pembangkit listrik tenaga air di wilayah tersebut.

PLTA Tonsea Lama dan PLTA Tanggari merupakan bagian dari sistem pembangkit yang memasok kebutuhan listrik Sulawesi Utara dan Gorontalo. Bahkan keberadaan PLTA Tonsea Lama memiliki sejarah panjang dalam sistem kelistrikan Indonesia. Pemerintah mencatat bahwa Tonsea Lama sudah termasuk dalam pembangkit yang dikelola perusahaan listrik negara pada masa Hindia Belanda.

Dengan demikian, kita sebenarnya sedang berbicara tentang sesuatu yang lebih besar daripada sebuah danau.

Danau Tondano adalah bagian dari infrastruktur alam yang mempunyai nilai strategis bagi energi daerah.

Infrastruktur biasanya kita bayangkan sebagai jalan, jembatan, bendungan, pelabuhan atau pembangkit listrik.

Tetapi ada juga infrastruktur yang dibentuk oleh alam.

Danau adalah salah satunya.

Karena itu, ketika kondisi Danau Tondano memburuk, yang terancam bukan hanya keindahan alamnya.

Yang terancam adalah sebuah sistem kehidupan.

Pendangkalan Bukan Masalah Kecil

Persoalan Danau Tondano sebenarnya sudah lama diketahui.

Salah satu tulisan mengenai rehabilitasi DAS Tondano mencatat bahwa kedalaman danau yang pada sekitar 1940 mencapai 43 meter kini tinggal sekitar 14 meter. Luas danau juga mengalami penyusutan. Sedimentasi menjadi salah satu persoalan utama, dengan laju yang pernah dilaporkan sangat tinggi.

Data yang lebih baru juga menunjukkan bahwa persoalan pendangkalan masih berlangsung.

Pada 2025, hasil pengukuran yang diberitakan dari Balai Wilayah Sungai Sulawesi I menyebut kedalaman terdalam Danau Tondano sekitar 14 meter dan terjadi pengurangan kedalaman sekitar 13,4 sentimeter per tahun. Sedimen dibawa masuk oleh sungai-sungai yang bermuara ke danau.

Ini seharusnya menjadi alarm.

Sebab sebuah danau tidak akan tiba-tiba rusak dalam satu malam.

Kerusakan terjadi sedikit demi sedikit.

Hutan di hulu berkurang.

Tanah tererosi.

Sedimen terbawa sungai.

Sedimen masuk ke danau.

Danau semakin dangkal.

Eceng gondok berkembang.

Bahan organik bertambah.

Kualitas air menurun.

Dan pada akhirnya seluruh ekosistem mengalami tekanan.

Jangan Hanya Memerangi Eceng Gondok

Ketika berbicara tentang Danau Tondano, perhatian masyarakat sering tertuju pada eceng gondok.

Memang benar, pertumbuhan eceng gondok harus dikendalikan.

Tetapi jangan sampai kita berpikir bahwa persoalan Danau Tondano selesai setelah eceng gondok diangkat.

Tidak sesederhana itu.

Eceng gondok hanyalah salah satu gejala dari persoalan yang lebih besar.

Kalau sumber nutrien dan sedimentasi yang masuk ke danau tidak dikendalikan, masalah akan terus berulang.

Karena itu rehabilitasi Danau Tondano harus dilakukan dengan pendekatan DAS dari hulu sampai hilir.

Artinya, yang harus dibenahi bukan hanya permukaan danau.

Kita harus melihat seluruh ekosistemnya.

Pertama, daerah tangkapan air harus dipulihkan.

Hutan di kawasan hulu mempunyai fungsi yang sangat penting untuk menahan erosi dan mengatur aliran air.

Kalau hulu rusak, tanah akan lebih mudah terbawa air hujan menuju sungai dan akhirnya masuk ke danau.

Maka rehabilitasi hutan dan lahan di kawasan DAS Tondano harus menjadi prioritas.

Kedua, sedimentasi harus ditangani.

Pengerukan mungkin diperlukan pada lokasi-lokasi tertentu, tetapi pengerukan tidak boleh dianggap sebagai satu-satunya solusi.

Kalau sumber sedimen dari hulu terus mengalir ke danau, kita hanya akan mengulangi pekerjaan yang sama.

Karena itu prinsipnya sederhana:

Jangan hanya mengangkat lumpur di hilir. Hentikan juga lumpur dari datang dari hulu.

Ketiga, sampah dan limbah harus dikendalikan.

Danau bukan tempat pembuangan sampah.

Masyarakat, pelaku usaha, pemerintah daerah dan seluruh pihak yang hidup dari Danau Tondano harus mempunyai tanggung jawab yang sama.

Tidak masuk akal kita berbicara tentang pariwisata Danau Tondano tetapi membiarkan sampah masuk ke dalamnya.

Keempat, eceng gondok harus diubah dari masalah menjadi peluang.

Ini justru bisa menjadi salah satu inovasi ekonomi masyarakat.

Eceng gondok dapat diolah menjadi berbagai produk kerajinan, furnitur, bahan dekorasi dan produk kreatif lainnya.

Artinya, kegiatan membersihkan danau dapat sekaligus menciptakan lapangan pekerjaan.

Tetapi tentu saja pengolahannya harus memperhatikan kualitas lingkungan dan tidak menjadi alasan untuk membiarkan eceng gondok berkembang.

Dari Masalah Lingkungan Menjadi Ekonomi Baru

Di sinilah kita harus mengubah cara berpikir.

Rehabilitasi Danau Tondano jangan dilihat hanya sebagai proyek lingkungan yang membutuhkan anggaran.

Lihatlah sebagai investasi pembangunan.

Bayangkan kalau Danau Tondano kembali sehat.

Airnya terjaga.

Sedimentasi terkendali.

Eceng gondok tidak lagi mendominasi.

Hutan di kawasan tangkapan air semakin baik.

Perikanan danau dikelola secara berkelanjutan.

Restoran dan kawasan wisata tertata.

Wisatawan datang bukan hanya untuk makan di tepi danau, tetapi untuk menikmati ekowisata.

Masyarakat lokal memperoleh pekerjaan.

Anak-anak muda Minahasa mendapatkan kesempatan membangun usaha tanpa harus semuanya pergi ke Manado atau keluar daerah.

Itulah ekonomi yang sesungguhnya.

Bukan sekadar mengejar jumlah wisatawan.

Tetapi menciptakan rantai ekonomi yang hidup di sekitar danau.

Danau Tondano dan Kemandirian Energi

Ada alasan lain mengapa rehabilitasi Danau Tondano harus dipandang sebagai agenda strategis.

Yaitu energi.

Indonesia sekarang semakin sering berbicara mengenai ketahanan dan kemandirian energi.

Pemerintah juga mendorong pemanfaatan berbagai sumber energi domestik dan penguatan sektor-sektor strategis. Dalam diskusi mengenai Prabowonomics, kemandirian energi dan pemanfaatan sumber daya alam untuk kesejahteraan rakyat termasuk agenda yang mendapat perhatian.

Di sisi lain, gagasan Sumitronomics yang menghidupkan kembali pemikiran ekonom Sumitro Djojohadikusumo juga menekankan pentingnya pembangunan nasional, kemandirian ekonomi, industrialisasi dan penguasaan sumber daya strategis.

Kalau kedua gagasan tersebut kita tarik ke tingkat daerah, pertanyaannya menjadi sederhana:

Mengapa kita tidak memperlakukan Danau Tondano sebagai aset strategis Sulawesi Utara?

Bukan untuk dieksploitasi tanpa batas.

Justru sebaliknya.

Karena nilainya strategis, maka harus dilindungi.

Kalau airnya dibutuhkan untuk mendukung sistem energi, maka kelestarian danau adalah bagian dari kebijakan energi.

Kalau danau menjadi sumber penghidupan nelayan dan petani, maka kelestariannya adalah bagian dari kebijakan ekonomi.

Kalau danau menjadi destinasi wisata, maka kebersihannya adalah bagian dari kebijakan pariwisata.

Dan kalau danau merupakan bagian penting dari ekosistem Minahasa, maka perlindungannya adalah bagian dari kebijakan lingkungan.

Satu danau. Banyak kepentingan. Satu tanggung jawab.

Mungkin Sudah Saatnya Ada "Gerakan Menyelamatkan Tondano"

Saya membayangkan Danau Tondano tidak hanya direhabilitasi melalui proyek pemerintah yang datang dan pergi sesuai siklus anggaran.

Kita membutuhkan sebuah program jangka panjang.

Semacam Gerakan Menyelamatkan Danau Tondano.

Program yang melibatkan pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, PLN, dunia usaha, perguruan tinggi, masyarakat adat dan lokal, kelompok nelayan, pelaku pariwisata, komunitas lingkungan dan generasi muda.

Harus ada target yang jelas.

Berapa luas hutan yang harus dipulihkan?

Berapa banyak sedimentasi yang harus dikendalikan?

Berapa luas eceng gondok yang harus dikurangi?

Bagaimana kualitas air diukur setiap tahun?

Berapa banyak sampah yang berhasil dicegah masuk ke danau?

Berapa banyak masyarakat yang mendapatkan manfaat ekonomi?

Dan yang paling penting:

Apakah kondisi Danau Tondano membaik dari tahun ke tahun?

Karena rehabilitasi tidak boleh diukur hanya dari berapa banyak anggaran yang dibelanjakan atau berapa banyak eceng gondok yang diangkat.

Ukuran keberhasilan haruslah kondisi danau itu sendiri.

Jangan Tunggu Sampai Terlambat

Ada sebuah prinsip sederhana dalam pembangunan:

Aset yang rusak akan membutuhkan biaya lebih besar untuk dipulihkan daripada biaya yang diperlukan untuk menjaganya tetap sehat.

Danau Tondano sudah memberikan tanda-tandanya.

Pendangkalan sudah terjadi.

Ekosistem menghadapi tekanan.

Eceng gondok menjadi persoalan.

Kawasan tangkapan air perlu diperbaiki.

Karena itu sekarang adalah waktunya bertindak.

Bukan setelah danau semakin dangkal.

Bukan setelah kualitas air semakin buruk.

Bukan setelah pembangkit menghadapi persoalan pasokan air.

Dan bukan setelah wisatawan mulai meninggalkan Danau Tondano karena lingkungannya tidak lagi menarik.

Kita harus bergerak sebelum sampai pada titik tersebut.

Danau Tondano Adalah Warisan dan Investasi Masa Depan

Saya kira sudah waktunya kita mengubah cara memandang Danau Tondano.

Jangan hanya melihatnya sebagai tempat untuk menikmati pemandangan.

Jangan hanya melihatnya sebagai lokasi restoran dan objek wisata.

Jangan hanya melihatnya sebagai tempat mencari ikan.

Danau Tondano adalah bagian dari sistem kehidupan Minahasa.

Ia menyimpan air.

Ia mendukung kehidupan masyarakat.

Ia mempunyai fungsi ekologis.

Ia mempunyai nilai ekonomi.

Ia terkait dengan sistem energi.

Dan ia merupakan bagian dari identitas Sulawesi Utara.

Karena itu, menjaga Danau Tondano bukan sekadar pekerjaan Dinas Pariwisata.

Bukan hanya pekerjaan Dinas Lingkungan Hidup.

Bukan hanya pekerjaan pemerintah Kabupaten Minahasa.

Dan bukan hanya tanggung jawab pemerintah.

Ini adalah kepentingan bersama.

Kalau kita berhasil memulihkan Danau Tondano, yang kita selamatkan bukan hanya sebuah danau.

Kita menyelamatkan sumber air.

Kita memperkuat ketahanan energi.

Kita membuka peluang ekonomi.

Kita menjaga lingkungan.

Kita menciptakan lapangan pekerjaan.

Dan kita meninggalkan warisan yang lebih baik bagi generasi Minahasa berikutnya.

Maka sekali lagi:

Danau Tondano bukan sekadar tempat wisata.

Ia adalah aset strategis Sulawesi Utara.

Dan kalau kita menyadari nilainya sekarang, masih ada kesempatan untuk menyelamatkannya.

Bert Toar Polii – Tukang Bridge

No comments: