Thursday, September 17, 2026

Empat Generasi Manoppo: Ketika Bridge Menjadi Warisan Keluarga

 


Empat Generasi Manoppo: Ketika Bridge Menjadi Warisan Keluarga

Oleh: Bert Toar Polii – Tukang Bridge

Ada keluarga yang mewariskan rumah.

Ada yang mewariskan usaha.

Ada pula yang mewariskan nama besar.

Tetapi ada keluarga yang mewariskan kecintaan terhadap bridge—dan keluarga Manoppo adalah salah satu contoh paling menarik di Indonesia.

Dalam perjalanan panjang saya mengenal olahraga bridge, nama Manoppo bukanlah nama yang asing. Bahkan jauh sebelum saya mengenal banyak pemain bridge seperti sekarang, saya sudah berjumpa dengan generasi pertama keluarga ini.

Namanya Opa Victor Wayong Manoppo.

Awal dari sebuah tradisi

Awal tahun 1970-an, ketika saya masih kuliah di Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado dan sudah mulai kecanduan bermain bridge, saya sempat bermain bersama Opa Victor Wayong Manoppo.

Saat itu tentu saya belum membayangkan bahwa keluarga yang satu ini kelak akan melahirkan pemain-pemain bridge sampai empat generasi.

Bridge bagi keluarga Manoppo rupanya bukan sekadar permainan.

Ia seperti sebuah tradisi yang berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dari Opa Victor, kecintaan terhadap bridge kemudian diteruskan oleh tiga putranya:

Utu, Buang, dan Eddy.

Ketiganya memiliki kemampuan bermain bridge. Tetapi perjalanan masing-masing kemudian mengambil jalan yang berbeda.

Dan dari sinilah lahir salah satu pasangan yang pernah menjadi pembicaraan di dunia bridge Indonesia:

Manoppo Bersaudara

Dua bersaudara, Freddy Manoppo—yang akrab dipanggil Utu—dan Eddy Manoppo, menjadi kombinasi yang sangat dikenal.

Nama Manoppo Bersaudara kemudian menjadi bagian dari cerita panjang bridge Indonesia.

Mereka bukan hanya bermain karena hubungan darah sebagai kakak-adik. Mereka juga menemukan chemistry sebagai pasangan bridge.

Dalam bridge, hubungan keluarga tidak otomatis menghasilkan pasangan yang baik.

Di meja bridge, kartu tidak mengenal kakak atau adik.

Yang berbicara adalah bidding, permainan kartu, defense, komunikasi dan chemistry.

Tetapi Freddy dan Eddy mampu membangun kombinasi yang membuat nama Manoppo semakin dikenal.

Ketika satu saudara berhenti, yang lain menemukan pasangan baru

Dalam perjalanan berikutnya, Freddy atau Utu kemudian memilih mundur dari dunia bridge.

Eddy tetap melanjutkan perjalanan.

Dan menariknya, pasangan berikutnya masih berada dalam lingkaran keluarga.

Eddy kemudian berpasangan dengan Henky Lasut.

Bukan sekadar karena mereka cocok sebagai pemain.

Ada hubungan keluarga yang membuat kisah ini semakin menarik.

Henky Lasut menikah dengan Corrie Manoppo, adik dari Utu, Eddy dan Buang.

Jadi, bridge kembali mempertemukan anggota keluarga Manoppo—kali ini bukan hanya sebagai saudara kandung, tetapi juga melalui hubungan perkawinan.

Sementara itu, Buang Manoppo, meskipun juga piawai bermain bridge, memilih lebih berkonsentrasi pada pekerjaannya di Kantor Gubernur Sulawesi Utara.

Dengan demikian, tiga bersaudara ini akhirnya menjalani jalan masing-masing.

Namun benang merahnya tetap sama:

bridge.


Dan rupanya cerita itu belum selesai...

Kalau kisahnya berhenti pada Freddy, Eddy dan Buang, sebenarnya sudah cukup menarik.

Tetapi keluarga Manoppo ternyata belum selesai menulis sejarahnya.

Anak-anak dan cucu-cucu mereka ikut masuk ke dunia bridge.

Dan pada Kejurnas Bridge ke-60 di Mamuju, Sulawesi Barat, saya mendapatkan pemandangan yang bagi saya sangat istimewa.

Tiga generasi keluarga Manoppo hadir bersama di satu tempat.

Di tengah hiruk-pikuk Kejurnas dan Kongres GABSI, tiba-tiba saya melihat wajah yang sudah sangat saya kenal sejak masa muda saya bermain bridge.

Eddy Manoppo.

Kini beliau hadir bersama generasi yang lebih muda.

Ada Vita Lasut,  putri Corrie Manoppo dan Henky Lasut.

Ada Vecky Manoppo, putra Buang Manoppo.

Dan ada Mario Mambu, generasi yang lebih muda lagi, putra dari putri Utu Manoppo.

Kalau ditarik ke belakang, garis keluarganya menjadi semakin menarik:

Opa Victor Wayong Manoppo

Utu – Buang – Eddy Manoppo

Generasi cucu: antara lain Vita Lasut dan Vecky Manoppo

Generasi berikutnya: Mario Mambu

Itulah sebabnya saya menyebutnya sebagai empat generasi Manoppo dalam sejarah bridge.


Tiga generasi berkumpul, empat generasi dalam sejarah

Foto yang saya abadikan di Mamuju menjadi lebih dari sekadar foto bersama.

Dari kiri:

Vecky Manoppo
Vita Lasut
Eddy Manoppo
Mario Mambu

Empat orang.

Tetapi di balik empat orang itu terdapat empat lapis generasi sejarah keluarga.

Dan ada sesuatu yang menarik lagi.

Mereka tidak hanya membawa nama keluarga.

Mereka juga benar-benar aktif dalam kompetisi bridge.

Sebelumnya, dalam Tugu Muda Cup, saya juga sempat melihat kombinasi yang tidak kalah menarik.

Eddy Manoppo, Vecky Manoppo dan Mario Mambu bermain dalam satu tim atas nama Mampang Bridge Community.

Tim ini bahkan berhasil melangkah sampai babak final.

Bayangkan saja.

Seorang pemain dari generasi senior bermain satu tim dengan generasi yang jauh lebih muda, bahkan sampai generasi berikutnya.

Di meja bridge, umur menjadi tidak terlalu penting.

Yang penting adalah bagaimana mereka membaca kartu, memahami sistem, berkomunikasi dengan partner dan menghadapi lawan.

Dan yang lebih menarik lagi, ada satu detail yang menunjukkan bagaimana bridge mampu membawa seseorang keluar dari batas daerah asal keluarganya.

Vecky Manoppo tidak memperkuat Sulawesi Utara

Dalam Kejurnas di Mamuju ini, Vecky Manoppo mewakili DKI Jakarta, bukan Sulawesi Utara.

Sementara akar keluarganya jelas sangat kuat di Manado dan Sulawesi Utara.

Ini juga menunjukkan satu hal penting dalam olahraga modern.

Seorang pemain bisa lahir dari tradisi daerah tertentu, tetapi kemudian berkembang dan berkompetisi membawa nama daerah atau provinsi lain.

Yang dibawa bukan hanya kartu.

Tetapi juga nama keluarga, pengalaman, dan tradisi yang telah diwariskan sebelumnya.


Bridge Sebagai Warisan yang Tidak Tertulis

Saya mengenal Opa Victor ketika saya masih mahasiswa.

Saat itu saya hanyalah seorang anak muda yang sedang keranjingan bridge.

Tidak pernah terbayangkan bahwa puluhan tahun kemudian saya akan berdiri di sebuah Kejurnas dan melihat nama Manoppo masih ada di meja-meja pertandingan.

Dari Opa Victor.

Kemudian kepada Utu, Buang dan Eddy.

Dari generasi itu kemudian muncul generasi berikutnya.

Dan sekarang, kita sudah melihat generasi yang lebih muda lagi.

Inilah yang membuat saya selalu mengatakan bahwa bridge bukan hanya olahraga pikiran. Bridge juga olahraga yang mampu membangun jembatan antargenerasi.

Kakek bermain.

Anaknya bermain.

Cucunya bermain.

Bahkan cicitnya ikut bermain.

Tidak banyak olahraga yang memungkinkan empat generasi sebuah keluarga tetap memiliki hubungan yang begitu kuat melalui satu aktivitas yang sama.

Dan keluarga Manoppo memperlihatkan contoh nyata tentang hal itu.


Dari Opa Victor ke Mamuju 2026

Kalau Opa Victor Wayong Manoppo masih bisa melihat dari tempatnya sekarang, mungkin beliau akan tersenyum melihat perkembangan keluarganya.

Dulu, mungkin hanya sekadar bermain bridge bersama teman-teman.

Kemudian anak-anaknya ikut bermain.

Lalu cucu-cucunya.

Dan sekarang generasi berikutnya ikut duduk di meja bridge.

Sebuah perjalanan yang tidak direncanakan sebagai proyek keluarga.

Tidak ada program khusus untuk menciptakan empat generasi pemain bridge.

Semuanya terjadi secara alami.

Karena satu hal sederhana:

cinta kepada bridge.

Dan mungkin inilah bentuk warisan yang paling indah.

Bukan warisan berupa harta.

Bukan pula sekadar nama besar.

Tetapi semangat untuk terus bermain, belajar, bertanding dan mencintai olahraga yang sama.

Dari Manado tahun 1970-an sampai Mamuju 2026, perjalanan keluarga Manoppo membuktikan satu hal:

Bridge boleh dimainkan dengan kartu, tetapi warisannya diteruskan melalui manusia.

Dan saya beruntung pernah menjadi saksi dari perjalanan itu—dari masa ketika saya masih mahasiswa Unsrat dan pertama kali duduk berhadapan dengan Opa Victor Wayong Manoppo, sampai hari ini ketika saya melihat generasi-generasi berikutnya keluarga Manoppo tetap berada di meja bridge.

Empat generasi.
Satu keluarga.
Satu kecintaan: BRIDGE.

Bert Toar Polii
Tukang Bridge
Mamuju, September 2026

No comments: