Toudano, Tondano atau Toulour?
Menelusuri Nama Bahasa dan Identitas Orang Tondano Menurut Boeng Dotulong dan F.S. Watuseke
Oleh: Bert Toar Polii
Ada bahasa yang kita pelajari di sekolah.
Ada bahasa yang kita gunakan setiap hari.
Tetapi ada pula bahasa yang kita bawa sebagai bagian dari identitas, meskipun kita sudah jauh meninggalkan tanah kelahirannya.
Bagi saya, Bahasa Tondano adalah bagian yang terakhir itu.
Saya bukan ahli linguistik. Saya juga bukan sejarawan bahasa.
Tetapi saya mempunyai kecintaan yang besar terhadap Bahasa Tondano dan selama bertahun-tahun mencoba memperkenalkannya melalui media sosial, terutama Facebook.
Tidak pernah saya bayangkan bahwa aktivitas sederhana tersebut kemudian membawa saya berkenalan dengan seorang tokoh yang mempunyai perhatian luar biasa terhadap bahasa dan sejarah Tondano:
Alm. Boeng Dotulong.
Dan dari persahabatan itulah saya kemudian semakin memahami bahwa persoalan Toudano, Toundano, Tondano atau Toulour bukan sekadar persoalan ejaan.
Di dalamnya ada sejarah.
Ada identitas.
Ada perjalanan sebuah masyarakat.
Dan ada pertanyaan penting:
Siapa yang berhak memberi nama kepada sebuah bahasa—orang lain, pemerintah, peneliti, atau masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut?
Berawal dari Facebook
Sebelum bertemu langsung, saya dan Boeng Dotulong sudah berkomunikasi melalui Facebook.
Pada waktu itu saya cukup aktif mengajak orang-orang Tondano untuk kembali mengenal dan menggunakan Bahasa Tondano.
Bagi saya, Facebook bukan hanya tempat berbagi foto, berita atau komentar.
Saya melihat media sosial sebagai ruang baru untuk melestarikan bahasa daerah.
Bahasa yang tidak hadir di dunia digital akan semakin sulit menjangkau generasi muda.
Karena itu saya mencoba menulis kosakata, ungkapan, kalimat dan berbagai hal mengenai Bahasa Tondano.
Ternyata aktivitas tersebut diperhatikan oleh Boeng Dotulong.
Hubungan kami kemudian menjadi semakin dekat.
Beliau bahkan menganggap saya sebagai adik.
Pertemuan di Veldhoven
Kami akhirnya bertemu langsung ketika saya mewakili Indonesia dalam Kejuaraan Dunia Bridge di Veldhoven, Belanda.
Pertemuan itu menjadi sangat berkesan karena Belanda ternyata bukan hanya tempat kami bertemu sebagai orang Indonesia yang berada di luar negeri.
Di sana kami justru berbicara tentang Tondano.
Tentang bahasa.
Tentang sejarah.
Tentang budaya.
Tentang kampung halaman.
Setelah itu kami beberapa kali bertemu ketika Boeng pulang kampung ke Tondano.
Hubungan kami semakin erat.
Dan dari percakapan-percakapan itulah saya mengetahui betapa besar perhatian Boeng terhadap tanah kelahirannya.
Boeng Dotulong: jauh dari Tondano, tetapi tidak pernah meninggalkan Tondano
Boeng Dotulong adalah contoh seorang putra daerah yang menurut saya patut diteladani.
Ia telah puluhan tahun meninggalkan Tondano.
Tetapi ia tidak pernah meninggalkan Tondano dalam pikirannya.
Ia terus mengumpulkan informasi.
Mencatat sejarah.
Mendokumentasikan bahasa.
Menyusun silsilah.
Dan yang sangat penting, menulisnya agar dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Salah satu karya pentingnya adalah:
Silsilah Keluarga Gerungan 1500–1990
Karya tersebut kemudian dirujuk dalam tulisan-tulisan mengenai sejarah Toudano.
Salah satu catatan yang mengutip karya Dotulong menyebut bahwa sub-etnis Toudano pada masa pembagian juga disebut Tounsedangan, yang dijelaskan sebagai orang-orang dari Timur. Dotulong juga mencatat istilah Tourikeran. Catatan yang sama menghubungkan kelompok-kelompok Toudano dengan wilayah di sekitar Danau Tondano, termasuk Kauner/Touliang, Temberan/Toulimambot, Kakas dan Remboken.
Ini menunjukkan bahwa bagi Dotulong, pembicaraan mengenai Toudano bukan hanya pembicaraan mengenai bahasa.
Ia juga melihatnya dalam konteks sejarah masyarakat dan perjalanan leluhur.
Dari sejarah keluarga menuju sejarah bahasa
Di sinilah karya Boeng Dotulong menjadi semakin menarik.
Ia tidak berhenti pada sejarah keluarga.
Ia juga menyusun:
Kamus Melayu Manado–Indonesia–Toundano
Karya tersebut diterbitkan pada 2010 dan secara akademis tercatat dalam bibliografi penelitian linguistik sebagai:
Dotulong, Boeng. 2010. Kamus Melayu Manado-Indonesia-Toundano. Jakarta: Percetakan Gramedia.
Bahkan penelitian linguistik mengenai Bahasa Tondano dan Tonsawang menggunakan material dari Kamus Dotulong (2010) sebagai salah satu sumber datanya. Penelitian tersebut menggabungkan rekaman, catatan lapangan dan bahan dari dua kamus, salah satunya karya Dotulong.
Ini sangat penting.
Sebab berarti kamus Boeng Dotulong bukan sekadar buku untuk dibaca oleh orang Tondano.
Ia telah menjadi sumber bagi penelitian linguistik.
Dengan kata lain, pekerjaan Boeng mempunyai nilai ilmiah yang melampaui nostalgia terhadap kampung halaman.
Mengapa “Toundano”?
Ada sesuatu yang menarik dari judul kamus tersebut.
Boeng tidak menulis:
Kamus Melayu Manado–Indonesia–Toulour.
Ia menulis:
Kamus Melayu Manado–Indonesia–Toundano.
Pilihan kata itu penting.
Karena ketika kita membandingkannya dengan tulisan F.S. Watuseke tahun 1987, kita menemukan judul yang sangat tegas:
“Tondano and not Toulour.”
Artikel Watuseke tersebut diterbitkan dalam Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, volume 143, halaman 552–554.
Dengan demikian kita menemukan sebuah garis pemikiran yang menarik:
Boeng Dotulong → Toundano
F.S. Watuseke → Tondano
Keduanya tidak menggunakan Toulour sebagai nama bahasa.
Apa kata F.S. Watuseke?
Tulisan Watuseke sangat penting untuk memahami persoalan ini.
Menurut Watuseke, masyarakat yang menggunakan Bahasa Tondano bukan hanya tinggal di Kota Tondano.
Kelompok linguistik Tondano juga terdapat di kawasan barat dan timur Danau Tondano, sementara di sebelah tenggara dan barat daya danau terdapat penutur dialek Kakas dan Remboken.
Watuseke juga menjelaskan bahwa pada tahun 1920, empat distrik tersebut digabung menjadi satu wilayah administratif yang diberi nama Toulour.
Nama administratif tersebut digunakan selama 46 tahun, sampai pembagian administratif baru pada 1966.
Ini adalah keterangan yang sangat penting.
Karena kita akhirnya memahami mengapa istilah Toulour bisa begitu kuat dalam berbagai dokumen dan literatur.
Ia pernah menjadi nama administratif resmi.
Tetapi Watuseke membedakan nama administratif tersebut dari nama bahasa dan kelompok etnolinguistik.
Tondano atau Toulour?
Menurut Watuseke, nama Toulour bukan nama asli Tondano.
Ia menjelaskan bahwa istilah tersebut berasal dari Bahasa Tombulu dan kemudian semakin sering muncul dalam literatur abad ke-19, terutama karena pengaruh administrasi pemerintahan.
Watuseke bahkan memberikan penjelasan mengenai bagaimana nama Tondano berkembang dari bentuk Toundano/Toudano.
Menurut analisisnya:
tou = manusia/orang
sedangkan unsur rano berkaitan dengan air.
Ia menjelaskan bentuk tersebut sebagai Tou-en-dano, yang kemudian berkaitan dengan makna “orang air” atau masyarakat yang hidup di atau dekat air.
Ini tentu merupakan analisis linguistik Watuseke, dan sebaiknya kita menyebutnya demikian, bukan menjadikannya sebagai satu-satunya tafsir yang tidak dapat diperdebatkan.
Tetapi sebagai sumber sejarah linguistik, pendapat ini sangat penting.
Bahkan orang Tondano sendiri mempunyai bentuk nama yang berbeda
Watuseke memberikan informasi yang menarik mengenai bagaimana kelompok Minahasa lain menyebut orang Tondano.
Menurutnya:
- orang Tontémboan menyebut mereka Tondano;
- orang Tonséa' menggunakan Tou-doud;
- kelompok Kalawat-Atas menggunakan Tou-dour.
Ini menunjukkan bahwa variasi nama bukanlah sesuatu yang aneh.
Bahasa-bahasa Minahasa saling berhubungan dan masing-masing kelompok dapat mempunyai cara sendiri untuk menyebut kelompok lainnya.
Jadi, persoalan Tondano–Toulour harus dilihat dalam konteks hubungan antarkelompok Minahasa.
Lalu mengapa Toulour menjadi begitu populer?
Jawabannya ternyata mempunyai dimensi sejarah.
Watuseke menjelaskan bahwa istilah Toulour semakin sering muncul dalam literatur abad ke-19, terutama akibat pengaruh administrasi pemerintahan kolonial.
Informasi mengenai wilayah Minahasa banyak dikumpulkan melalui pusat pemerintahan di Manado.
Nama-nama yang digunakan dalam administrasi kemudian masuk ke dalam berbagai tulisan dan literatur.
Jadi, istilah yang kemudian menjadi lazim dalam literatur belum tentu merupakan nama yang digunakan masyarakat tersebut untuk bahasanya sendiri.
Ini merupakan persoalan yang juga terjadi dalam banyak sejarah bahasa di dunia.
Tiga dialek Bahasa Tondano
Ada hal lain yang sering terlupakan ketika kita membicarakan Bahasa Tondano.
Bahasa Tondano bukan hanya bahasa yang digunakan di pusat Kota Tondano.
Dokumentasi mengenai Bahasa Tondano yang memuat bahan Boeng Dotulong menyebut tiga dialek:
- Dialek Tondano
- Dialek Kakas
- Dialek Remboken
Wilayah penggunaan Bahasa Tondano juga tidak berhenti di Tondano. Dokumentasi tersebut menyebut kawasan sekitar Danau Tondano dan wilayah lainnya, termasuk komunitas transmigrasi serta masyarakat Tondano di perantauan.
Dengan demikian, ketika kita mengatakan Bahasa Tondano, kita sedang berbicara mengenai sebuah tradisi linguistik yang wilayah sejarahnya lebih luas daripada sekadar batas administratif Kota Tondano.
Kamus Dotulong dan bukti dari Leiden
Bagi saya, bagian paling istimewa dari kisah ini adalah sebuah dokumen yang masih saya simpan.
Dokumen itu diberikan langsung kepada saya oleh Alm. Boeng Dotulong.
Dokumen tersebut berupa Verklaring, bertanggal:
Leiden, 4 Oktober 2011.
Isinya menyatakan bahwa KITLV menerima:
Kamus Melayu Manado – Indonesia – Toundano
karya:
B.J.D.A.G. Dotulong (Arnhem, 2010)
untuk keperluan perpustakaan KITLV.
Dokumen tersebut ditandatangani oleh Drs. Reinder Storm, yang pada dokumen tercantum sebagai Hoofd afd. Collecties, Kepala Departemen Koleksi KITLV, Leiden.
Dari KITLV ke Leiden University Libraries
Ada satu klarifikasi penting.
Pada 4 Oktober 2011, dokumen tersebut memang menyebut perpustakaan KITLV.
Namun sejak 1 Juli 2014, koleksi KITLV dipercayakan kepada Leiden University Libraries (UBL). KITLV sendiri menjelaskan bahwa UBL sekarang bertanggung jawab atas pengelolaan koleksi tersebut.
Jadi kita dapat mengatakan dengan tepat:
Kamus karya Boeng Dotulong diterima untuk koleksi perpustakaan KITLV di Leiden pada 4 Oktober 2011. Koleksi KITLV kemudian berada di bawah pengelolaan Leiden University Libraries sejak 2014.
Ini lebih akurat daripada sekadar mengatakan “kamus tersebut ada di perpustakaan Belanda.”
Dan maknanya bagi saya sangat besar.
Sebuah karya tentang Bahasa Tondano, yang lahir dari kecintaan seorang putra Tondano, akhirnya tersimpan dalam salah satu pusat koleksi ilmiah penting mengenai Indonesia di Leiden.
Dari Tondano ke Leiden
Bayangkan perjalanan sebuah buku.
Ia lahir dari kecintaan seorang putra Tondano.
Ditulis dan diselesaikan di Arnhem.
Diterbitkan pada 2010.
Kemudian pada 4 Oktober 2011 diterima oleh KITLV di Leiden.
Hari ini koleksi KITLV dikelola oleh Leiden University Libraries. KITLV menyebut koleksinya sebagai salah satu koleksi besar mengenai Indonesia dan Asia Tenggara.
Perjalanan tersebut bukan sekadar perjalanan sebuah buku.
Itu adalah perjalanan sebuah bahasa daerah menuju ruang pengetahuan dunia.
Sebuah kebetulan yang indah
Ada sesuatu yang sampai sekarang saya rasakan sangat istimewa.
Saya berusaha memperkenalkan Bahasa Tondano melalui Facebook.
Boeng Dotulong melihat apa yang saya lakukan.
Beliau kemudian mengatakan kepada saya bahwa semangat saya melestarikan Bahasa Tondano di Facebook menjadi salah satu pendorong baginya untuk sesegera mungkin menyelesaikan kamus Bahasa Tondano.
Saya tentu tidak menganggap diri saya sebagai orang yang menyebabkan lahirnya kamus tersebut.
Karya itu adalah hasil kerja keras Boeng sendiri.
Tetapi saya merasa bersyukur jika semangat kecil yang saya tunjukkan di media sosial ternyata ikut memberikan dorongan kepadanya.
Di situlah saya belajar:
Dalam pelestarian budaya, kita tidak pernah tahu seberapa jauh pengaruh sebuah tindakan kecil.
Satu tulisan dapat menginspirasi orang lain.
Satu kosakata dapat membuat orang kembali bertanya tentang bahasa leluhurnya.
Satu unggahan Facebook dapat mendorong seseorang menyelesaikan sebuah buku.
Dari Boeng Dotulong ke generasi digital
Boeng bekerja pada zamannya.
Ia mengumpulkan bahan.
Menulis.
Menyusun.
Mencetak.
Menerbitkan buku.
Saya hidup pada zaman yang berbeda.
Saya mempunyai Facebook.
Blog.
Video.
Audio.
Arsip digital.
Dan sekarang teknologi kecerdasan buatan.
Karena itu, tugas kita bukan menggantikan karya Boeng.
Tugas kita adalah meneruskan dan mengembangkannya.
Kamus yang dulu berbentuk buku dapat didigitalisasi.
Kosakata dapat diberi contoh kalimat.
Kata-kata dapat direkam pengucapannya.
Cerita rakyat dapat direkam dalam bentuk audio dan video.
Bahasa Tondano dapat diajarkan melalui media sosial.
Dan suatu hari nanti kita dapat membangun Arsip Digital Bahasa Tondano yang lebih lengkap.
Upaya digitalisasi bahasa dan budaya Minahasa sendiri kini juga telah menjadi perhatian dalam penelitian dan proyek pelestarian bahasa.
Jadi, Toudano, Toundano, Tondano atau Toulour?
Setelah melihat berbagai sumber, saya kira kita tidak perlu menjawabnya secara emosional.
Kita perlu membedakan sejarah setiap istilah.
Toudano
Merupakan bentuk yang digunakan dalam sejumlah dokumentasi dan tulisan mengenai masyarakat serta bahasa tersebut, termasuk dalam bahan-bahan Boeng Dotulong.
Toundano
Ini adalah bentuk yang sangat penting karena digunakan Boeng Dotulong dalam judul kamusnya:
Kamus Melayu Manado–Indonesia–Toundano.
Tondano
Merupakan bentuk yang digunakan secara luas sekarang dan secara tegas dipertahankan oleh F.S. Watuseke sebagai nama bahasa dan kelompok etnolinguistik tersebut.
Toulour
Mempunyai sejarah penggunaan yang berbeda. Menurut Watuseke, istilah tersebut bukan nama asli Tondano, berasal dari Tombulu, dan kemudian menjadi kuat karena penggunaan administratif dan literatur. Bahkan pernah menjadi nama resmi wilayah administratif selama 1920–1966.
Jadi kita tidak perlu menghapus istilah Toulour dari sejarah.
Tetapi kita juga perlu berhati-hati jangan sampai istilah administratif dan historis tersebut menggantikan nama bahasa yang digunakan oleh masyarakatnya sendiri.
Bukan hanya soal nama
Pada akhirnya, saya kira persoalan ini bukan sekadar:
Tondano atau Toulour?
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Apakah Bahasa Tondano masih akan digunakan oleh generasi berikutnya?
Karena bahasa dapat kehilangan penuturnya jauh lebih cepat daripada kehilangan namanya.
Sebuah bahasa dapat tetap tercatat dalam ensiklopedia.
Dapat tercantum dalam katalog perpustakaan.
Dapat mempunyai kode bahasa.
Dapat mempunyai kamus.
Tetapi kalau anak-anak tidak lagi menggunakannya, bahasa tersebut akan kehilangan fungsi sosialnya.
Dan itu yang harus kita cegah.
Warisan terbesar Boeng Dotulong
Bagi saya, warisan Boeng Dotulong bukan hanya Silsilah Keluarga Gerungan 1500–1990.
Bukan hanya Kamus Melayu Manado–Indonesia–Toundano.
Warisan terbesarnya adalah teladan.
Teladan seorang putra daerah yang meskipun telah puluhan tahun meninggalkan Tondano, tidak pernah melupakan tanah kelahirannya.
Ia menunjukkan bahwa mencintai kampung halaman tidak berarti harus selalu tinggal di kampung halaman.
Kita dapat berada di Arnhem.
Di Jakarta.
Di Leiden.
Di Amerika.
Di Australia.
Di mana pun.
Tetapi kita tetap dapat membawa Tondano bersama kita.
Melalui bahasa.
Melalui sejarah.
Melalui buku.
Melalui keluarga.
Dan melalui ingatan.
Dari buku ke Facebook, dari Facebook ke dunia digital
Kalau saya melihat kembali perjalanan ini, ada sebuah lingkaran yang menarik.
Boeng Dotulong mengumpulkan sejarah.
Boeng Dotulong menyusun kamus.
Kamusnya menyeberangi lautan dan diterima KITLV.
Karya tersebut kemudian digunakan sebagai sumber dalam penelitian linguistik.
Sementara itu:
Saya mencoba membawa Bahasa Tondano ke Facebook.
Kemudian kami bertemu.
Dan sekarang, setelah Boeng tidak lagi bersama kita, saya merasa mempunyai tanggung jawab moral untuk terus memperkenalkan Bahasa Tondano melalui media yang tersedia pada zaman saya.
Mungkin inilah cara sebuah warisan budaya berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dari buku ke Facebook.
Dari Facebook ke dunia digital.
Terima kasih, Boeng
Saya beruntung pernah mengenal Boeng Dotulong.
Lebih dari itu, saya beruntung pernah dianggap sebagai adiknya.
Saya masih menyimpan dokumen yang beliau berikan kepada saya.
Dokumen yang membuktikan bahwa pada 4 Oktober 2011, karya beliau diterima oleh KITLV di Leiden.
Ketika melihat dokumen tersebut sekarang, saya tidak hanya melihat selembar surat.
Saya melihat perjalanan seorang putra Tondano.
Saya melihat kecintaannya kepada bahasa leluhur.
Saya melihat kerja kerasnya.
Saya melihat persahabatan kami.
Dan saya melihat sebuah pesan untuk generasi berikutnya.
Jangan menunggu bahasa kita hilang baru kita mulai menyelamatkannya.
Dokumentasikan sekarang.
Gunakan sekarang.
Ajarkan sekarang.
Banggalah sekarang.
Karena bahasa yang hanya disimpan di perpustakaan akan menjadi arsip.
Tetapi bahasa yang digunakan oleh masyarakat akan tetap menjadi bahasa yang hidup.
Tondano bukan sekadar nama
Mungkin pada akhirnya kita boleh mengatakan:
Toudano, Toundano dan Tondano adalah bagian dari perjalanan sejarah nama masyarakat dan bahasanya.
Sedangkan Toulour mempunyai sejarah penggunaan yang berbeda dan tidak seharusnya begitu saja dianggap sebagai nama asli Bahasa Tondano, terutama jika mengikuti argumentasi F.S. Watuseke.
Tetapi lebih penting daripada memenangkan perdebatan tentang nama adalah memastikan bahwa generasi muda masih dapat mengatakan:
“Saya bisa berbicara Bahasa Tondano.”
Sebab selama bahasa itu masih diucapkan, bahasa itu masih hidup.
Dan selama masih ada orang yang mau mencatat, mengajarkan, menggunakan dan mencintainya—
Tondano tidak akan hilang.
Sumber penting
- F.S. Watuseke, “Tondano and not Toulour,” Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 143 (1987), 552–554.
- Boeng Dotulong, Kamus Melayu Manado–Indonesia–Toundano, 2010. Karya ini tercatat dalam bibliografi penelitian linguistik.
- Timothy C. Brickell, “Reduplication in Tondano and Tonsawang” — menggunakan material dari Kamus Dotulong (2010) sebagai salah satu sumber data.
- Silsilah Keluarga Gerungan 1500–1990, karya Boeng Dotulong, yang dirujuk dalam dokumentasi sejarah Toudano.
- Dokumentasi mengenai negeri-negeri pengguna Bahasa Tondano dan tiga dialek: Tondano, Kakas dan Remboken.
- KITLV mengenai status koleksinya dan pengelolaan oleh Leiden University Libraries sejak 2014.

No comments:
Post a Comment