Kejurnas Bridge ke-60 Mamuju: Tidak Sesuai Harapan, tetapi Semangat Bridge Indonesia Tetap Menyala
Oleh: Bert Toar Polii
Setelah melalui proses pendaftaran yang cukup panjang, akhirnya peserta Kejurnas Bridge ke-60 di Mamuju mulai terkumpul.
Jumlahnya memang belum sesuai dengan harapan awal. Khususnya untuk nomor Antar Provinsi, dari sekitar 30 Pengprov GABSI yang sudah terbentuk, baru tujuh provinsi yang secara resmi tercatat mendaftar sampai pembaruan terakhir.
Namun, saya kira kita tidak perlu melihatnya semata-mata dari sisi jumlah.
Di balik setiap provinsi, kabupaten/kota dan perkumpulan yang memastikan kehadirannya di Mamuju, ada perjuangan tersendiri untuk mengumpulkan pemain dan, yang paling penting, mencari biaya keberangkatan.
Tujuh provinsi tetap akan bertarung
Untuk nomor Antar Provinsi Beregu Terbuka, peserta yang sudah terdaftar adalah:
- Sulawesi Utara
- Sulawesi Tengah
- Gorontalo
- Sulawesi Selatan
- Sulawesi Barat
- DKI Jakarta
- Jawa Tengah
Jumlah ini memang belum mendekati harapan. Tetapi tujuh provinsi tersebut akan menjadi bagian penting dari pertarungan memperebutkan gelar juara nasional di Mamuju.
Yang menarik, selain nomor Open, beberapa provinsi juga sudah memastikan keikutsertaan pada nomor khusus.
Beregu Mixed akan mempertemukan:
- Jawa Tengah
- DKI Jakarta
- Sumatera Utara
- Sulawesi Utara
- Kalimantan Barat
Sedangkan Beregu Putri/Wanita sudah mencatat:
- DKI Jakarta
- Sulawesi Barat
Untuk Beregu Junior KU30, sementara ini baru tercatat:
- DI Yogyakarta
Untuk kategori Senior belum ada peserta yang tercatat dalam daftar Antar Provinsi terakhir.
Demikian pula kategori junior lainnya masih terbuka untuk kemungkinan penambahan peserta.
Antar Kabupaten/Kota justru cukup menggembirakan
Kalau jumlah provinsi belum seperti yang diharapkan, nomor Antar Kabupaten/Kota memberikan gambaran yang lebih positif.
Sampai daftar terakhir, tercatat 28 peserta Kabupaten/Kota.
Untuk Kelas A:
- Kota Semarang
- Kota Manado
- Kota Tomohon
- Kota Palu
- Kota Jakarta Selatan
- Kota Jakarta Pusat
- Kota Bogor
Sementara Kelas B diikuti:
- Mamuju A
- Mamuju B
- Kabupaten Mamasa
- Kabupaten Mamuju Tengah
- Kabupaten Majene
- Kabupaten Polewali Mandar
- Kabupaten Minahasa Utara
- Kabupaten Buleleng
- Kabupaten Bombana
- Gabmin Minahasa
Selain itu, ada beberapa nomor beregu khusus Antar Kabupaten/Kota.
Beregu Campuran
- Kabupaten Polewali Mandar
- Kabupaten Manado
- Kota Tomohon
- Kabupaten Minahasa Utara
- Kota Semarang
- Kabupaten Majene
- Kabupaten Bombana
Beregu Wanita
- Kota Polewali Mandar
Beregu Senior
- Kota Manado
Beregu Junior KU20
- Kota Tomohon
Beregu Junior KU25
- Kabupaten Polewali Mandar
Kehadiran kategori Wanita, Senior dan terutama Junior merupakan hal yang sangat positif.
Sebab Kejurnas bukan hanya berbicara tentang prestasi hari ini. Kejurnas juga harus menjadi tempat mempersiapkan generasi pemain bridge Indonesia masa depan.
Antar Perkumpulan juga tetap berjalan
Nomor Antar Perkumpulan saat ini sudah mencatat 11 peserta, yaitu:
- Bridge Antam Kolaka 1
- Bridge Antam Kolaka 2
- Bridge Antam Kolaka Mixed
- Sulawesi Tengah
- Djarum Super
- Djarum Bold Mixed
- Alunand
- Preservasi Jalan
- Preservasi Jembatan
- Gabma Majene
- MBC Mampang
Sementara Pasangan Terbuka sudah mencapai 9 pasangan.
Dengan demikian, berdasarkan update terakhir, terdapat:
7 provinsi Antar Provinsi
9 pasangan Pasangan Terbuka
28 peserta Antar Kabupaten/Kota
11 perkumpulan Antar Perkumpulan
Angka-angka ini masih mungkin berubah karena pendaftaran belum benar-benar ditutup.
Mengapa peserta Antar Provinsi belum banyak?
Pertanyaan ini tentu wajar.
Apalagi Pengprov GABSI sekarang sudah tersebar di sekitar 30 provinsi.
Menurut saya, kita harus melihat kondisi ini secara realistis.
Faktor dana sangat terasa.
Untuk datang ke Mamuju, sebuah kontingen dari luar Sulawesi harus memikirkan biaya transportasi, akomodasi, konsumsi dan kebutuhan lainnya.
Dalam kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, kemampuan daerah untuk membiayai kegiatan olahraga juga ikut terbatas.
Banyak Pengprov berharap mendapatkan dukungan dari KONI daerah. Tetapi kita juga harus memahami bahwa anggaran KONI terbatas dan harus dibagi kepada banyak cabang olahraga serta berbagai kegiatan.
Jadi, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa daerah tidak berminat mengikuti Kejurnas.
Bisa saja persoalannya jauh lebih sederhana:
Ingin datang, tetapi belum mampu membiayai keberangkatannya.
Ini menjadi pekerjaan rumah kita bersama.
Panitia masih membuka pintu
Ada satu hal yang menurut saya patut diapresiasi.
Walaupun daftar peserta resmi sudah diumumkan, Panitia Pelaksana masih memberikan kesempatan sampai last minute kepada peserta yang terlambat mendaftar.
Bahkan prinsip yang disampaikan Panpel sangat sederhana:
“Asal hadir di Mamuju, pasti akan ditampung.”
Tentu secara teknis Panpel harus menyesuaikan dengan kondisi pertandingan dan jadwal yang sudah disusun. Tetapi semangatnya jelas: jangan sampai masalah keterlambatan administrasi menjadi alasan seseorang atau sebuah daerah batal datang ke Mamuju.
Jadi bagi yang masih berusaha mendapatkan dukungan dana, masih mencari tiket atau baru memperoleh kepastian keberangkatan, jangan langsung menyerah.
Hubungi Panitia.
Masih ada kemungkinan untuk bergabung.
Kejurnas bukan sekadar angka peserta
Pada akhirnya, kita harus melihat Kejurnas dalam perspektif yang lebih luas.
Kejurnas adalah tempat bertemu.
Tempat pemain dari Sulawesi bertemu pemain dari Jawa, Sumatera, Kalimantan dan daerah lainnya.
Tempat pemain senior bertemu generasi muda.
Tempat klub-klub bertemu dan membangun jaringan.
Dan yang tidak kalah penting, tempat kita memperkuat persaudaraan dalam keluarga besar bridge Indonesia.
Karena itu, tujuh provinsi yang datang ke Mamuju bukan sekadar angka tujuh.
Mereka adalah tujuh daerah yang memilih untuk tetap berjuang hadir di tengah keterbatasan.
Begitu juga dengan 28 peserta Kabupaten/Kota dan 11 perkumpulan.
Mereka adalah bagian dari denyut kehidupan bridge Indonesia.
Mamuju adalah awal evaluasi untuk Kejurnas berikutnya
Kondisi ini juga harus menjadi bahan evaluasi bagi kita semua.
Kalau jumlah Pengprov sudah mencapai sekitar 30 tetapi biaya perjalanan menjadi salah satu hambatan utama, maka kita perlu memikirkan model Kejurnas yang lebih ramah terhadap daerah.
Bagaimana menekan biaya peserta?
Bagaimana meningkatkan dukungan sponsor?
Bagaimana membuat pemerintah daerah melihat Kejurnas sebagai bagian dari promosi daerah?
Bagaimana meningkatkan dukungan KONI?
Dan bagaimana PB GABSI bersama Pengprov dapat membantu menciptakan ekosistem pembiayaan yang lebih baik?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar memperdebatkan mengapa sebuah provinsi tidak hadir.
Tetap semangat, Mamuju!
Mungkin peserta Kejurnas Mamuju belum sebanyak yang kita harapkan.
Tetapi bridge Indonesia tetap hidup.
Masih ada pemain yang berlatih.
Masih ada klub yang mengirimkan tim.
Masih ada daerah yang berjuang mencari dana.
Masih ada pemain junior yang mulai bermimpi menjadi pemain nasional.
Dan masih ada orang-orang yang percaya bahwa bridge harus terus berkembang di Indonesia.
Karena itu, kepada seluruh peserta yang sudah memastikan keberangkatan:
Selamat datang di Mamuju!
Bertandinglah dengan sportif.
Nikmati persahabatannya.
Kejar prestasinya.
Dan bawa pulang pengalaman terbaik untuk daerah masing-masing.
Bagi yang masih mempertimbangkan untuk datang:
Jangan urungkan niat. Kalau bisa sampai Mamuju, Panitia akan berusaha menampung.
Karena Kejurnas bukan hanya tentang siapa yang menjadi juara.
Kejurnas juga tentang siapa yang tetap datang, tetap bermain dan tetap menjaga semangat bridge Indonesia.
Sampai jumpa di Mamuju!
Kejurnas Bridge ke-60 — Mamuju, 17–26 September 2026
Bridge untuk Persatuan Indonesia.

No comments:
Post a Comment