Tiga Organisasi Kawanua Dukung Olahraga Bridge
Oleh: Bert Toar Polii
Ada sebuah fenomena menarik yang sedang terjadi di tengah masyarakat Kawanua. Tiga organisasi yang memiliki akar kuat dalam komunitas Kawanua ternyata menunjukkan perhatian yang semakin besar terhadap olahraga bridge.
Dimulai dari Kerukunan Keluarga Kawanua (KKK) yang menggelar Kejuaraan Bridge Pasangan memperebutkan Piala Ketua Umum KKK dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-81 di Wale ne Tou Kawanua Kampus IBM ASMI. Malah Ketum KKK Angelica Tengker menyatakan secara terbuka berminat belajar bridge.
Belum selesai gaungnya, kini giliran Alumni SMANTO 170.1 Tondano dengan Ketuanya Irjen Pol (Purn) Carlo Brix Tewu yang menggelar kejuaraan bridge pasangan. Menariknya, pertandingan ini akan berlangsung di Mega Bekasi Hypermall, pada 17 Oktober 2026.
Dan ternyata, POR MAESA tidak mau ketinggalan.
Organisasi olahraga yang telah berusia lebih dari satu abad ini, di bawah kepemimpinan Letjen TNI (Purn) Johny J Lumintang, juga akan menggelar turnamen bridge pasangan di Mega Bekasi Hypermall pada 18 Oktober 2026.
Jadi, dalam dua hari berturut-turut, Mega Bekasi Hypermall akan menjadi tempat berkumpulnya komunitas bridge sekaligus masyarakat Kawanua.
Maesa dan Bridge: Hubungan yang Sudah Lama
Kalau berbicara tentang POR MAESA, sebenarnya tidak mengherankan kalau organisasi ini memberikan perhatian kepada bridge.
Sejak dahulu, di berbagai kota di Indonesia terdapat Maesa Bridge Club. Sebut saja Jakarta, Bandung, Surabaya, Makassar, Balikpapan dan tentu saja Manado.
Artinya, bridge bukan sesuatu yang asing bagi keluarga besar Maesa.
Bahkan, kalau kita melihat sejarah perkembangan bridge di Indonesia, nama orang-orang Manado memang cukup sering muncul. Tidak hanya sebagai pemain, tetapi juga sebagai pengurus, pembina dan tokoh yang ikut membangun olahraga bridge.
Karena itu, ketika hari ini kita melihat KKK, Alumni SMANTO 170.1 dan POR MAESA sama-sama memberikan ruang bagi olahraga bridge, sebenarnya kita sedang melihat sebuah potensi yang jauh lebih besar.
Jangan Berhenti pada Turnamen
Menurut saya, yang menarik bukan sekadar adanya tiga turnamen.
Yang jauh lebih menarik adalah apa yang bisa terjadi apabila ketiga organisasi ini kemudian berkolaborasi.
Bayangkan kalau KKK, Alumni SMANTO 170.1 dan POR MAESA mempunyai program bersama untuk memasyarakatkan bridge.
KKK mempunyai jaringan keluarga Kawanua yang sangat luas.
Alumni SMANTO 170.1 memiliki jaringan alumni yang tersebar di berbagai daerah.
Sementara POR MAESA mempunyai sejarah panjang dalam pembinaan olahraga dan jaringan Maesa yang juga berada di berbagai kota.
Jika ketiga kekuatan ini disatukan, bridge bisa mendapatkan sesuatu yang sangat berharga: basis massa, jaringan, tempat pertandingan, promosi dan regenerasi pemain.
Bahkan tidak tertutup kemungkinan lahir sebuah rangkaian turnamen Kawanua yang dilaksanakan secara berkala di berbagai kota.
Jakarta, Bandung, Surabaya, Makassar, Balikpapan, Manado dan kota-kota lainnya bisa menjadi bagian dari sebuah kalender pertandingan yang lebih terstruktur.
Dan sekali lagi, yang mendapatkan keuntungan bukan hanya ketiga organisasi tersebut.
Olahraga bridge-lah yang akan mendapatkan keuntungan terbesar.
Momentum untuk PB GABSI
Di sinilah saya melihat peran penting PB GABSI.
Kongres GABSI ke-19 di Mamuju akan memilih Ketua Umum PB GABSI untuk periode berikutnya. Siapa pun yang nantinya mendapat amanah memimpin GABSI, saya berharap dapat melihat fenomena ini bukan sekadar sebagai tiga kegiatan yang kebetulan berdekatan.
Ini adalah potensi jaringan yang harus dimanfaatkan untuk pengembangan bridge nasional.
GABSI tidak harus mengambil alih kegiatan mereka.
Justru sebaliknya.
GABSI dapat hadir sebagai fasilitator, membuka komunikasi, memberikan dukungan teknis, membantu standardisasi pertandingan, pembinaan wasit dan director, serta menghubungkan komunitas-komunitas tersebut dengan klub-klub bridge di daerah.
Dengan demikian, kegiatan yang awalnya bersifat komunitas dapat berkembang menjadi bagian dari gerakan yang lebih besar untuk memperkenalkan bridge kepada masyarakat.
Bridge dan Identitas Kawanua
Selama ini ada sebuah kenyataan yang sulit dibantah bahwa olahraga bridge di Indonesia cukup identik dengan orang Manado.
Tentu saja bridge bukan milik orang Manado.
Bridge adalah olahraga untuk semua orang Indonesia.
Namun, kalau sebuah komunitas mempunyai sejarah panjang dan kontribusi yang besar terhadap perkembangan bridge, mengapa tidak kita manfaatkan sebagai salah satu kekuatan untuk mengembangkan olahraga ini?
Justru inilah yang harus dilakukan.
Identitas Kawanua jangan hanya menjadi kebanggaan masa lalu, tetapi bisa menjadi energi untuk membangun masa depan bridge Indonesia.
KKK sudah bergerak.
Alumni SMANTO 170.1 sudah bergerak.
POR MAESA juga bergerak.
Sekarang tinggal bagaimana ketiganya dapat duduk bersama dan mencari titik temu.
Sebab dalam bridge kita belajar satu hal penting:
Tidak ada pasangan yang bisa memenangkan pertandingan sendirian.
Dibutuhkan komunikasi, kerja sama, saling percaya dan kemampuan memainkan kartu yang ada di tangan.
Begitu pula dalam membangun bridge Indonesia.
Kalau tiga kekuatan Kawanua ini mau duduk di satu meja dan memainkan kartu mereka bersama-sama, saya yakin kartunya bisa menjadi jauh lebih kuat.
Dan kalau PB GABSI mampu membaca peluang ini dengan baik, yang menjadi pemenang pada akhirnya bukan KKK, bukan Alumni SMANTO 170.1 dan bukan POR MAESA.
Pemenangnya adalah olahraga bridge Indonesia.
Tak lupa tukang bridge mengucapkan terima kasih kepada Mega Bekasi Hypermall yang selalu bersedia mendukung kegiatan olahraga bridge.

No comments:
Post a Comment