Thursday, September 3, 2026

Terima Kasih Anna Newton — Belasan Tahun Membantu Menjaga Nama dan Sejarah Bridge Indonesia

 


Terima Kasih Anna Newton — Belasan Tahun Membantu Menjaga Nama dan Sejarah Bridge Indonesia

Oleh : Bert Toar Polii - Tukang Bridge 

Ada orang-orang yang sangat berjasa bagi perkembangan bridge dunia, tetapi namanya jarang terdengar di meja pertandingan.

Mereka bukan pemain yang memenangkan Bermuda Bowl, bukan pula kapten tim yang mengangkat trofi. Mereka bekerja di belakang layar—mengurus komunikasi, administrasi, sistem, data pemain, hasil pertandingan dan berbagai persoalan yang baru terasa penting ketika terjadi kesalahan.

Anna Newton adalah salah satu dari orang-orang tersebut.

Ketika membaca Daily Bulletin World Bridge Series Katowice 2026, Bulletin 13 tanggal 3 September 2026, saya menemukan tulisan yang sangat menarik berjudul “The Dynamic Duo – Mark and Anna Newton.” WBF memberikan penghormatan khusus kepada pasangan ini atas kontribusi panjang mereka terhadap dunia bridge.

Bagi saya, tulisan tersebut sekaligus membangkitkan banyak kenangan.

Saya sudah mengenal Anna sejak lama. Selama belasan tahun, kami berkomunikasi dan bekerja sama dalam berbagai persoalan yang menyangkut pemain-pemain Indonesia, terutama mengenai nama pemain dan catatan Master Points mereka di database WBF.

Dan dari pengalaman itu saya tahu bahwa pekerjaan yang kelihatannya sederhana tersebut ternyata sangat penting.


Anna dan perjalanan panjangnya di dunia bridge

Perjalanan Anna di dunia bridge sudah dimulai sejak 1980-an.

Pada 1984, Anna Brabner menjadi Secretary British Bridge League dan menjalankan tugas tersebut sampai 1999. Pada 1987 ia diundang bekerja sebagai sekretaris pada European Championships di Brighton. Setelah itu ia mulai terlibat dalam hampir semua World Championships dan banyak Youth Championships.

Di dunia bridge internasional, Anna dikenal dengan beberapa nama. Ia menikah dengan John Gudge pada 1989 dan kemudian tetap menggunakan nama Gudge setelah John meninggal pada 1993.

Pekerjaannya di WBF juga sangat beragam. Ia pernah menangani Systems Desk, Press Room dan Player Liaison. Pada 1999, setelah masa kerjanya di British Bridge League berakhir, ia secara resmi bergabung dengan WBF sebagai Communications Manager dan juga menjadi sekretaris beberapa komite WBF.

Yang menarik, selama perjalanan panjangnya itu Anna bekerja dengan tujuh Presiden WBF: Denis Howard, Bobby Wolff, Ernesto d'Orsi, José Damiani, Gianarrigo Rona, Jan Kamras dan Franck Riehm.

Bersama Mark Newton, sejak 1999 ia juga mengembangkan dan mengorganisasi World Simultaneous Pairs, selain berbagai kegiatan simultaneous pairs lainnya.

Prestasinya bahkan mendapat pengakuan dari International Bridge Press Association. Pada tahun 2000 Anna dinobatkan sebagai IBPA International Bridge Personality of the Year, sebuah penghargaan yang ketika itu baru diberikan kepada dua perempuan.


Hubungan saya dengan Anna

Tetapi semua catatan tersebut adalah sejarah resmi.

Bagi saya, Anna mempunyai arti yang jauh lebih personal.

Saya mengenalnya bukan hanya sebagai orang WBF yang selalu hadir di berbagai kejuaraan dunia. Saya mengenalnya sebagai teman dan partner kerja yang selama bertahun-tahun bersedia membantu ketika saya menemukan persoalan dengan data pemain Indonesia.

Salah satu pekerjaan yang paling sering kami lakukan adalah memeriksa dan memperbaiki nama pemain Indonesia di database WBF.

Bagi orang yang melihatnya dari luar, mungkin persoalan seperti ini dianggap sepele.

Padahal tidak.


Ketika satu pemain bisa menjadi dua orang

Database internasional tentu harus menghadapi persoalan yang sangat manusiawi: orang yang sama bisa mempunyai beberapa cara penulisan nama.

Di Indonesia masalah ini bahkan cukup sering terjadi.

Nama lengkap bisa berbeda dengan nama panggilan. Nama bisa ditulis dengan susunan yang berbeda. Kadang nama keluarga digunakan, kadang tidak.

Akibatnya, seseorang yang sebenarnya hanya satu pemain bisa muncul sebagai dua identitas berbeda.

Contoh yang pernah kami temui adalah Amiruddin Jusuf.

Di satu tempat namanya tercatat sebagai Amiruddin Jusuf, tetapi di tempat lain bisa muncul hanya sebagai Yusuf.

Bagi sistem database, ini berpotensi menjadi dua orang yang berbeda.

Akibatnya seorang pemain bahkan dapat mempunyai dua nomor anggota, sementara catatan Master Points-nya juga bisa terpecah.

Padahal orangnya sama.

Di sinilah komunikasi dengan Anna menjadi sangat penting.

Kami bisa membicarakan kasusnya, memberikan informasi tambahan dan kemudian menelusuri catatan yang ada untuk memastikan apakah dua nama tersebut memang merujuk kepada orang yang sama.


Kasus Julita Grace Tueje

Ada lagi contoh yang menurut saya sangat menarik, yaitu Julita Grace Tueje.

Julita lebih dikenal dengan nama panggilan Joice.

Dalam catatan tertentu bisa muncul nama Joice Tueje, sementara ada pula nama Joice Mandolang.

Sekilas, orang yang tidak mengenal pemain Indonesia tentu bisa mengira bahwa semuanya adalah orang yang berbeda.

Padahal justru di sinilah diperlukan pengetahuan tentang pemain dan sejarah bridge Indonesia.

Persoalan seperti ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan melihat sebuah nama.

Harus ada manusia yang memahami konteksnya.

Dan selama bertahun-tahun saya sangat terbantu karena dapat berdiskusi dengan Anna mengenai kasus-kasus seperti ini.


Bahkan pemain yang sudah meninggal tetap harus diperhatikan

Yang tidak kalah penting adalah pemain Indonesia yang sudah meninggal dunia.

Mungkin ada yang berpikir, untuk apa lagi memperbaiki data seseorang yang sudah tidak bermain?

Bagi saya jawabannya jelas:

Karena mereka adalah bagian dari sejarah bridge Indonesia.

Mereka pernah bermain. Mereka pernah mengikuti pertandingan. Mereka pernah memperoleh Master Points. Mereka pernah membawa nama Indonesia atau klubnya dalam berbagai kompetisi.

Meninggalnya seorang pemain tidak berarti sejarahnya boleh menjadi tidak rapi.

Justru kita harus memastikan bahwa generasi berikutnya dapat menemukan catatan mereka dengan benar.

Karena itu, pekerjaan merapikan database juga merupakan bagian dari menghormati para pemain yang telah mendahului kita.


Bukan sekadar memperbaiki nama

Dari pengalaman saya, semakin lama saya semakin menyadari bahwa pekerjaan ini sebenarnya bukan hanya soal database.

Ketika kita memperbaiki nama seorang pemain, kita mungkin juga sedang memperbaiki:

  • nomor anggota;
  • identitas pemain;
  • catatan pertandingan;
  • akumulasi Master Points;
  • gelar atau pencapaian;
  • dan akhirnya sejarah prestasi pemain tersebut.

Karena itu saya sering melihat pekerjaan Anna dari sudut yang sedikit berbeda.

Kami bukan hanya correcting names.

Kami sebenarnya sedang berusaha correcting bridge history.

Sebuah nama mungkin hanya terdiri dari beberapa kata di layar komputer.

Tetapi bagi seorang pemain, nama itu adalah identitas dan seluruh perjalanan hidupnya dalam bridge.


Mark Newton, pasangan yang melengkapi Anna

Tidak lengkap rasanya membicarakan Anna tanpa Mark Newton.

Bulletin 13 memang menyebut mereka sebagai “The Dynamic Duo.”

Mark mempunyai latar belakang yang sangat kuat dalam bidang IT. Ia mulai terlibat dengan WBF pada 1994 dan menjadi IT Manager selama sepuluh tahun. Ia kemudian tetap membantu WBF sebagai konsultan.

Salah satu tugas penting Mark adalah mengambil alih pemeliharaan WBF Master Points setelah meninggalnya Pietro Bernasconi. Ia menjalankan pekerjaan tersebut dan mengelola halaman informasi Master Points sampai 2023.

Mark juga mengembangkan teknologi, termasuk sistem scoring untuk Simultaneous Pairs.

Jadi, kalau dipikir-pikir, sangat menarik melihat pasangan ini.

Anna berurusan dengan manusia, komunikasi dan administrasi.
Mark berurusan dengan teknologi, sistem dan database.

Keduanya saling melengkapi.


Penghargaan yang layak

WBF akhirnya memberikan penghormatan resmi kepada keduanya.

Anna menerima WBF Silver Medal, sementara Mark menerima WBF Bronze Medal, sebagai pengakuan atas kontribusi luar biasa mereka kepada dunia bridge.

Penghargaan tersebut tentu sangat layak.

Namun bagi saya, penghargaan pribadi kepada Anna jauh lebih sederhana.

Yaitu mengucapkan:

Terima kasih, Anna.

Terima kasih untuk belasan tahun kerja sama.

Terima kasih karena selalu bersedia membantu ketika saya menemukan persoalan dengan nama pemain Indonesia.

Terima kasih karena ikut memastikan catatan Master Points pemain Indonesia tidak terpecah hanya karena perbedaan penulisan nama.

Terima kasih karena membantu menjaga agar pemain-pemain Indonesia—termasuk mereka yang sudah meninggal—tetap mempunyai tempat yang benar dalam sejarah bridge dunia.

Dan terutama, terima kasih untuk persahabatan yang terbangun selama bertahun-tahun.


Sekarang waktunya beristirahat

Bulletin 13 juga menceritakan bahwa pada 2014 Anna pindah bersama Mark ke Orkney dan mereka menikah pada 2024. Di luar bridge, Anna mempunyai banyak kegemaran: memasak, arkeologi, fotografi, bird watching, membaca, menulis, musik, film dan teater. Dan tentu saja memasak—yang bahkan disebut berulang kali dalam tulisan tersebut!

Setelah begitu panjang memberikan waktu dan tenaga untuk bridge dunia, saya kira sekarang memang waktunya Anna menikmati kehidupan yang lebih santai.

Nikmati Orkney.

Nikmati keluarga.

Nikmati Mark.

Nikmati memasak, membaca, fotografi, arkeologi dan semua hal yang selama ini mungkin harus berbagi waktu dengan kesibukan WBF.

Bridge dunia sudah mendapatkan begitu banyak dari Anda.

Dan bridge Indonesia juga mempunyai alasan khusus untuk berterima kasih.

Selamat beristirahat, Anna.

Thank you for all these years of friendship and cooperation.

Dan kalau suatu hari nanti Anda membuka kembali database WBF dan menemukan nama seorang pemain Indonesia sudah tertulis dengan benar, mungkin Anda tidak akan mengingat lagi siapa yang pernah meminta koreksi tersebut.

Tetapi kami di Indonesia akan mengingat bahwa pernah ada seseorang bernama Anna Newton yang membantu memastikan nama itu tidak hilang dari sejarah.

Terima kasih, Anna. ❤️


No comments: