Tuesday, September 1, 2026

Eceng Gondok dan Pelajaran tentang Solusi Murah yang Terlupakan Dari Mapalus, Ikan Koan hingga Kumbang Neochetina: Mencari Cara Cerdas Menyelamatkan Danau Tondano

 


Eceng Gondok dan Pelajaran tentang Solusi Murah yang Terlupakan

Dari Mapalus, Ikan Koan hingga Kumbang Neochetina: Mencari Cara Cerdas Menyelamatkan Danau Tondano

Oleh: Bert Toar Polii

Ada sebuah ironi besar dalam persoalan eceng gondok di Danau Tondano.

Kita mengeluarkan tenaga, waktu, dan anggaran untuk mengangkat tanaman yang menutupi permukaan danau. Tetapi setelah dibersihkan, eceng gondok kembali tumbuh.

Lalu kita membersihkannya lagi.

Dan tumbuh lagi.

Siklus tersebut dapat berlangsung tanpa akhir.

Karena itu, mungkin sudah waktunya kita mengubah pertanyaan.

Bukan lagi:

“Bagaimana mengangkat eceng gondok sebanyak-banyaknya?”

Tetapi:

“Bagaimana membuat eceng gondok tidak lagi mampu berkembang secara tidak terkendali?”

Perbedaan kedua pertanyaan tersebut sangat penting.

Yang pertama menghasilkan kegiatan pembersihan.

Yang kedua menghasilkan sistem pengendalian.

Dan di sinilah kita perlu kembali melihat berbagai solusi murah yang sebenarnya sudah lama dikenal, tetapi mungkin belum dimanfaatkan secara terpadu.

Tidak Semua Masalah Membutuhkan Alat Berat

Alat berat tentu mempunyai fungsi.

Jika eceng gondok sudah menutup jalur perairan, mengganggu keramba, mengancam intake PLTA, atau membentuk hamparan yang sangat luas, pengangkatan mekanis memang diperlukan.

Pemerintah Kabupaten Minahasa bersama PLN bahkan telah menggunakan pagar bambu untuk menghalau eceng gondok dan melakukan pengangkutan secara rutin. Data yang dipublikasikan Pemkab Minahasa menunjukkan volume eceng gondok yang terangkut dari kawasan terkait mencapai 13.042 m³ pada 2020, 20.440 m³ pada 2021, 17.900 m³ pada 2022, dan 9.148 m³ pada 2023.

Angka tersebut menunjukkan betapa besarnya biomassa yang harus ditangani.

Tetapi sekaligus menimbulkan pertanyaan:

Apakah kita akan terus mengangkatnya dari tahun ke tahun?

Kalau jawabannya ya, maka kita sebenarnya belum memiliki solusi permanen.

Alat berat seharusnya menjadi salah satu senjata, bukan satu-satunya strategi.

Ada “Pasukan Biologis” yang Bisa Membantu

Menariknya, Danau Tondano sebenarnya sudah memiliki dasar penelitian untuk pendekatan biologis.

Penelitian yang dilakukan para peneliti Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi menguji beberapa jenis ikan untuk mengetahui kemampuan mereka mengonsumsi eceng gondok.

Jenis ikan yang diuji antara lain ikan koan, tawes, betutu, dan payangka.

Hasilnya cukup menarik.

Ikan koan ukuran 15–30 cm merupakan yang paling efektif, dengan konsumsi rata-rata sekitar 3,2 gram eceng gondok per ekor per hari dalam kondisi percobaan.

Temuan ini penting.

Artinya, gagasan menggunakan ikan sebagai salah satu pengendali eceng gondok bukan sekadar teori.

Danau Tondano sendiri sudah pernah menjadi lokasi penelitian mengenai hal tersebut.

Tetapi Jangan Asal Menebar Ikan

Di sinilah kita harus berhati-hati.

Saya tidak menganjurkan agar ikan koan langsung ditebar dalam jumlah besar ke seluruh Danau Tondano.

Mengapa?

Karena sebuah danau bukan hanya tempat tumbuhnya eceng gondok. Di dalamnya terdapat berbagai jenis ikan, tumbuhan air, plankton dan organisme lainnya yang membentuk sebuah ekosistem.

Ikan yang dimaksudkan untuk memakan eceng gondok juga bisa memakan tumbuhan air lain.

Pengalaman pengelolaan gulma air di Indonesia bahkan menunjukkan bahwa pelepasan ikan koan langsung ke perairan terbuka dapat menimbulkan persoalan ekologis apabila tidak dirancang dengan baik. Pedoman pengendalian gulma air juga merekomendasikan pendekatan yang lebih terkendali, yaitu mengombinasikan pemanenan fisik dengan pemanfaatan ikan koan dalam wadah budidaya atau zona terlokalisasi.

Jadi konsepnya bukan:

“Tebar ikan sebanyak-banyaknya.”

Tetapi:

“Gunakan ikan secara terkendali sebagai bagian dari sistem pengendalian.”

Mengapa Pengalaman Takengon Menarik?

Saya pernah menulis tentang persoalan eceng gondok di Danau Laut Tawar, Takengon, Aceh.

Pengalaman dari daerah lain seperti Takengon memberi kita satu pelajaran penting: jangan takut belajar dari danau lain.

Setiap danau tentu memiliki karakteristik ekologis berbeda. Karena itu, apa yang dilakukan di satu danau tidak boleh begitu saja disalin ke danau lainnya.

Tetapi prinsipnya dapat dipelajari.

Jika ada cara sederhana, murah dan ramah lingkungan yang pernah dicoba di tempat lain, mengapa kita tidak mengujinya di Danau Tondano melalui penelitian dan proyek percontohan?

Terlebih lagi, untuk Danau Tondano kita tidak harus memulai dari nol karena penelitian mengenai ikan koan sudah pernah dilakukan.

Bagaimana Kalau Kita Membuat “Zona Ikan”?

Saya membayangkan sebuah eksperimen sederhana.

Bukan langsung menebarkan ikan ke seluruh danau.

Kita buat beberapa zona pengendalian eceng gondok di lokasi yang sudah dipilih berdasarkan penelitian.

Eceng gondok dikonsentrasikan menggunakan barrier bambu atau jaring.

Kemudian ikan koan ditempatkan dalam zona tersebut.

Masyarakat bersama peneliti melakukan pengamatan:

  • berapa banyak eceng gondok yang dimakan;

  • berapa cepat pertumbuhannya kembali;

  • bagaimana kualitas air;

  • apakah terdapat perubahan populasi ikan lain;

  • berapa biaya yang diperlukan;

  • dan apakah metode tersebut layak diperluas.

Dengan cara ini, kita tidak berjudi dengan ekosistem Danau Tondano.

Kita bereksperimen secara ilmiah dalam skala kecil terlebih dahulu.

Jika berhasil, baru diperluas.

Menggabungkan Ikan dengan Kumbang

Pendekatan ikan juga tidak harus berdiri sendiri.

Ada senjata biologis lain yang jauh lebih kecil tetapi menarik: kumbang Neochetina.

Dua spesies yang dikenal sebagai agen pengendali eceng gondok adalah Neochetina eichhorniae dan Neochetina bruchi.

Menariknya, penelitian mengenai kumbang Neochetina juga telah dilakukan di Danau Tondano. Penelitian lapangan menunjukkan bahwa peningkatan jumlah kumbang meningkatkan kerusakan pada daun eceng gondok dan menurunkan biomassanya.

Bahkan Universitas Sam Ratulangi telah menerbitkan buku khusus mengenai pemanfaatan Neochetina sebagai agen pengendali hayati eceng gondok di Danau Tondano.

Jadi kita sebenarnya mempunyai dua pendekatan biologis yang menarik:

ikan memakan biomassa tanaman,

sementara

kumbang menyerang tanaman dan menekan pertumbuhannya.

Mengapa tidak keduanya diteliti dalam satu sistem pengendalian terpadu?

Dan Mapalus Menjadi Pasukan Ketiga

Kemudian ada satu “teknologi” yang sebenarnya sudah dimiliki Minahasa sejak dahulu:

Mapalus.

Masyarakat tidak perlu menunggu eceng gondok menutupi seluruh permukaan danau.

Setiap desa di sekitar Danau Tondano dapat memiliki kelompok pengawas dan pengendali eceng gondok.

Mereka dapat melakukan:

deteksi dini → lokalisasi → pemanenan → pemanfaatan.

Dengan sistem seperti itu, masyarakat menjadi bagian dari sistem pengelolaan danau, bukan sekadar penonton.

Danau Tondano tidak mungkin dijaga hanya oleh pemerintah.

Danau Tondano adalah milik bersama.

Barrier Bambu: Teknologi Sederhana yang Jangan Diremehkan

Pagar bambu mungkin terlihat terlalu sederhana dibandingkan kapal ponton atau ekskavator.

Tetapi justru karena sederhana, murah dan mudah diperbaiki, barrier bambu mempunyai nilai strategis.

PLN dan Pemkab Minahasa sendiri telah menggunakan pagar bambu untuk menghalau eceng gondok.

Bayangkan kalau sistem ini dikembangkan menjadi jaringan barrier yang dirancang berdasarkan arah arus, muara sungai dan lokasi konsentrasi eceng gondok.

Eceng gondok tidak dibiarkan bergerak bebas ke seluruh danau.

Ia dilokalisasi.

Setelah itu masyarakat dapat memanennya.

Dan di titik inilah barrier, Mapalus dan ikan koan dapat bekerja bersama.

Eceng Gondok Jangan Lagi Dianggap Sampah

Setelah dipanen, persoalan berikutnya adalah pemanfaatannya.

Eceng gondok dapat diolah menjadi kompos, bahan kerajinan, biogas, dan produk lain setelah melalui proses yang tepat.

Penelitian terbaru dari Universitas Sam Ratulangi juga mengembangkan pembuatan kompos eceng gondok sebagai bagian dari upaya konservasi Danau Tondano.

Tetapi sekali lagi, kita harus menggunakan pendekatan ilmiah.

Eceng gondok menyerap berbagai zat dari air tempat ia tumbuh. Karena itu, bila akan dimanfaatkan sebagai pupuk atau pakan, perlu dipastikan terlebih dahulu bahwa bahan tersebut aman dan memenuhi standar.

Dengan demikian, pembersihan danau tidak berhenti pada:

angkat → angkut → buang.

Tetapi menjadi:

angkat → olah → manfaatkan → jual.

Inilah ekonomi sirkular.

Tetapi Akar Masalah Tetap Harus Dikejar

Ada satu hal yang tidak boleh kita lupakan.

Eceng gondok bukanlah satu-satunya masalah.

Ia adalah gejala dari perairan yang kaya nutrien.

Danau Tondano sendiri telah mengalami tekanan eutrofikasi dan degradasi kualitas perairan. Kajian mengenai Danau Tondano menunjukkan bahwa sumber pencemar dari pertanian dan aktivitas manusia di daerah tangkapan air perlu mendapat perhatian.

Karena itu, kalau kita hanya membunuh eceng gondok tanpa mengurangi sumber nutrien, kita akan terus berada dalam lingkaran yang sama.

Eceng gondok tumbuh.

Kita bersihkan.

Eceng gondok tumbuh lagi.

Kita bersihkan lagi.

Dan seterusnya.

Itu bukan solusi. Itu rutinitas.

Solusi sebenarnya adalah mengurangi nutrien yang masuk ke danau sambil mengendalikan eceng gondok yang sudah terlanjur tumbuh.

Lima Pasukan Menyelamatkan Danau Tondano

Kalau seluruh gagasan ini dirangkum, saya membayangkan strategi pengendalian eceng gondok Danau Tondano mempunyai lima pasukan:

1. ALAT BERAT
Untuk menghadapi serangan besar dan keadaan darurat.

2. MAPALUS
Untuk pembersihan dan pemantauan rutin oleh masyarakat.

3. IKAN KOAN
Untuk pengendalian biologis yang terukur dalam zona tertentu.

4. KUMBANG NEOCHETINA
Untuk menekan pertumbuhan eceng gondok secara biologis.

5. BARRIER BAMBU + PENGENDALIAN HULU
Untuk mencegah penyebaran dan mengurangi sumber nutrien.

Lima pendekatan tersebut tidak saling menggantikan.

Mereka saling melengkapi.

Kita Tidak Membutuhkan Proyek Terbesar

Kita membutuhkan sistem terbaik.

Inilah pelajaran paling penting dari persoalan eceng gondok.

Jangan mengukur keberhasilan hanya dari berapa ton tanaman yang berhasil diangkat.

Ukurlah dari:

berapa persen luas eceng gondok berkurang,

berapa lama hasil pengendalian bertahan,

berapa banyak biaya yang dapat dihemat,

berapa banyak masyarakat yang terlibat,

dan yang paling penting:

apakah kualitas ekosistem Danau Tondano membaik?

Kalau jawabannya ya, maka kita telah menemukan solusi.

Saatnya Membuat Pilot Project

Karena itu saya mengusulkan sesuatu yang sederhana:

PILOT PROJECT PENGENDALIAN ECENG GONDOK DANAU TONDANO

Tidak perlu langsung mencakup seluruh danau.

Pilih beberapa lokasi.

Libatkan Universitas Sam Ratulangi, Pemkab Minahasa, Pemprov Sulawesi Utara, PLN, kelompok nelayan, masyarakat desa, dan para ahli lingkungan.

Uji beberapa metode:

barrier bambu + Mapalus + ikan koan + Neochetina + pemanfaatan biomassa.

Ukur hasilnya selama satu periode yang cukup.

Kalau berhasil, perluas.

Kalau tidak berhasil, perbaiki.

Itulah cara kerja ilmu pengetahuan.

Bukan sekadar menghabiskan anggaran, tetapi belajar dari setiap rupiah yang dikeluarkan.

Dan mungkin, pada akhirnya, Danau Tondano justru akan mengajarkan sesuatu yang lebih besar kepada kita.

Bahwa menyelesaikan persoalan lingkungan tidak selalu harus dimulai dengan alat yang paling mahal.

Kadang-kadang jawabannya sudah ada di sekitar kita:

seekor ikan,

seekor kumbang,

sebatang bambu,

sekelompok masyarakat yang bergotong royong,

dan ilmu pengetahuan yang digunakan dengan benar.

Itulah mungkin pelajaran tentang solusi murah yang selama ini terlupakan.

Danau Tondano tidak membutuhkan perang satu kali melawan eceng gondok.

Danau Tondano membutuhkan sistem pertahanan yang bekerja setiap hari.

Karena tujuan akhirnya bukan sekadar mengalahkan “monster hijau”.

Tujuan akhirnya adalah membuat Danau Tondano kembali sehat—dan mampu bertahan untuk generasi yang akan datang.

No comments: