Menelusuri Jejak Prestasi Indonesia di Kejuaraan Dunia Bridge
Ternyata lebih panjang daripada yang tercatat dalam daftar "Previous Winners"
Oleh: Bert Toar Polii -- Tukang Bridge
Ketika membaca buku resmi The 2025 World Bridge Team Championships, perhatian saya tertuju pada satu bagian yang sederhana tetapi menarik: "Previous Winners".
Daftar tersebut mencatat para juara dunia dari berbagai kejuaraan seperti Bermuda Bowl, Venice Cup, d'Orsi Trophy dan Wuhan Cup.
Namun ada satu persoalan.
"Previous Winners" hanya mencatat juara.
Akibatnya, negara yang pernah menjadi runner-up atau meraih medali perunggu seolah-olah tidak mempunyai sejarah prestasi di kejuaraan dunia.
Padahal, ketika saya mencoba menelusuri kembali arsip World Bridge Federation (WBF) dengan bantuan AI, ditambah dengan ingatan dan pengalaman langsung sebagai bagian dari beberapa tim Indonesia, ternyata jejak prestasi Indonesia di pentas dunia cukup panjang.
Bahkan ada prestasi di kategori Open, Women, Seniors, Pairs dan Youth/Girls.
Tulisan ini merupakan upaya untuk mengumpulkan kembali catatan tersebut.
Rhodes 1996: Indonesia Menembus Final Open Teams
Salah satu prestasi terbesar Indonesia terjadi pada World Bridge Team Olympiad 1996 di Rhodes, Yunani.
Indonesia berhasil mencapai final Open Teams. Lawannya adalah Prancis, yang akhirnya mempertahankan gelar dengan kemenangan 358--269. WBF mencatat enam pemain Indonesia: Franky Steven Karwur, Henky Lasut, Eddy Manoppo, Santje Panelewen, Denny Jacob Sakul dan Giovanni Watulingas.
Tetapi ada bagian lain dari sejarah Rhodes 1996 yang tidak terlihat dalam daftar WBF tersebut.
Struktur official tim Indonesia ketika itu adalah:
Manager: Ananta Widjaya
NPC: Munawar Sawiruddin
Asisten Team Manager: Bert Toar Polii
Saya sendiri ikut dalam rombongan tersebut sebagai Asisten Team Manager.
Jadi Rhodes 1996 bukan sekadar sebuah angka di buku sejarah. Saya mengalaminya sendiri.
Dan bagi Indonesia, mencapai final Olympiad Open Teams adalah pencapaian yang luar biasa. Bahkan laporan resmi WBF menyebut bahwa bagi Lasut, Sacul dan Manoppo, inilah kesempatan terdekat mereka untuk merebut medali emas setelah bermain di berbagai kejuaraan dunia selama lebih dari dua dekade.
Indonesia -- Runner-up World Bridge Team Olympiad 1996.
2002: Runner-up Rosenblum Cup di Montreal
Prestasi Open Teams Indonesia kembali muncul pada Rosenblum Cup 2002 di Montreal, Kanada.
WBF mencatat tim Indonesia dengan nama Munawar Team, yang menjadi runner-up di belakang Lavazza Italia.
Pemain Indonesia:
- Taufik Gautama Asbi
- Franky Karwur
- Henky Lasut
- Eddy Manoppo
- Denny Sacul
- Robert Parasian
Team Manager: Amran Zamzami
NPC: Munawar Sawiruddin
Dengan demikian, Indonesia telah dua kali mencapai final kejuaraan dunia Open Teams dalam periode tersebut:
1996 -- Olympiad Rhodes --
2002 -- Rosenblum Cup Montreal --
Ini jelas bukan prestasi biasa.
Era Kejayaan Tim Senior
Kalau ada satu periode yang sangat konsisten dalam sejarah prestasi Indonesia, menurut saya adalah era Tim Senior.
2005 -- Estoril, Portugal
Pada d'Orsi Seniors Trophy 2005, Indonesia berhasil menjadi:
Runner-up
Pemain:
- Arwin Budirahardja
- Henky Lasut
- Eddy Manoppo
- Denny Sacul
- Munawar Sawiruddin
- Amiruddin Yusuf
Dalam daftar WBF, nama Bert Toar Polii tercantum sebagai NPC.
Tetapi ada catatan penting.
Saya tidak berangkat ke Estoril.
Kemungkinan nama saya sudah dimasukkan dalam proses pendaftaran tim oleh PB GABSI, tetapi kemudian saya tidak jadi berangkat.
Ini menjadi pelajaran menarik dalam menyusun sejarah olahraga.
Nama yang tercantum dalam daftar administratif belum tentu berarti orang tersebut hadir di lokasi.
Karena itu, untuk dokumentasi sejarah, saya kira perlu dibedakan antara "tercatat sebagai NPC" dan "hadir sebagai NPC".
2007 -- Shanghai: Saya Hadir sebagai NPC
Dua tahun kemudian Indonesia kembali tampil di final d'Orsi Seniors Trophy, kali ini di Shanghai.
Pemain:
- Henky Lasut
- Anindra Lubis
- Eddy Manoppo
- Denny Sacul
- Munawar Sawiruddin
- Ferdinand Waluyan
NPC: Bert Toar Polii
.
Indonesia kembali meraih:
Runner-up d'Orsi Trophy 2007
Dua medali perak dalam tiga penyelenggaraan menunjukkan konsistensi luar biasa tim senior Indonesia.
2008 -- Beijing: Medali Perunggu
Pada World Mind Sports Games 2008 di Beijing, Indonesia kembali naik podium dalam kategori Senior Teams.
Peringkat 3
Pemain:
- Michael Bambang Hartono
- Henky Lasut
- Eddy Manoppo
- Denny Sacul
- Munawar Sawiruddin
- Ferdy Waluyan
NPC: Arianto Djadjanegara
Coach: Tanudjan Sugiarto
Prestasi ini memperlihatkan kesinambungan kekuatan pemain senior Indonesia.
2009 -- So Paulo: Tiga Kali Podium d'Orsi
Pada d'Orsi Seniors Trophy 2009 di So Paulo, Indonesia kembali merebut medali.
Peringkat 3
Pemain:
- Arianto Karna Djajanegara
- Michael Bambang Hartono
- Henky Lasut
- Eddy Manoppo
- Denny Sacul
- Munawar Sawiruddin
NPC: Santje Panelewen
Dengan demikian, Indonesia berhasil meraih podium d'Orsi Trophy dalam tiga penyelenggaraan:
2005 --
2007 --
2009 --
Rangkaian ini layak disebut sebagai salah satu periode terbaik Indonesia dalam sejarah kategori Senior.
2010 -- Philadelphia: Rand Cup
Prestasi senior Indonesia berlanjut pada Rand Cup 2010 di Philadelphia.
Tim Gabrial UI berhasil meraih:
Peringkat 3
Pemain:
- Michael Bambang Hartono
- Henky Lasut
- Eddy Manoppo
- Denny Sacul
- Munawar Sawiruddin
NPC: Peter Tora Wangsaputra
Sekali lagi terlihat nama-nama yang sudah berkali-kali memperkuat Indonesia di tingkat dunia.
2011 -- Veldhoven: Tim Putri Membuat Sejarah
Kalau sebelumnya prestasi Indonesia banyak datang dari Open dan Senior, maka Venice Cup 2011 di Veldhoven, Belanda membuka babak baru.
Tim putri Indonesia berhasil mencapai final Venice Cup.
Runner-up / Medali Perak
Pemain:
- Lusje Olha Bojoh
- Fera Damayanti
- Suci Amita Dewi
- Kristina Wahyu Murniati
- Riantini
- Julita Grace Tueje
NPC: Bert Toar Polii
Coach: Hasyim Arif
WBF mencatat secara resmi bahwa Prancis mengalahkan Indonesia 193--103 di final dan Indonesia memperoleh medali dunia pertamanya di Venice Cup.
Bagi saya, Veldhoven 2011 adalah salah satu pencapaian yang paling membanggakan.
Tim yang relatif muda berhasil menembus final kejuaraan dunia wanita.
2014 -- Sanya: Tahun yang Sangat Istimewa
Kemudian datang World Bridge Series 2014 di Sanya, China.
Tahun ini menghasilkan beberapa prestasi Indonesia sekaligus.
Henky Lasut -- Eddy Manoppo
Prestasi paling tinggi datang dari pasangan:
Henky Lasut -- Eddy Manoppo
yang berhasil menjadi:
JUARA DUNIA SENIOR PAIRS
Ini sangat penting karena merupakan gelar juara dunia yang diraih pasangan Indonesia.
Jadi setelah bertahun-tahun Indonesia mengumpulkan medali perak dan perunggu, akhirnya ada nama Indonesia yang berdiri sebagai juara dunia. Berkat prestasi ini mereka berhak menyandang World Grand Master Senior, satu-satunya di APBF.
Pertamina EP -- McConnell Cup
Tim putri Pertamina EP juga meraih medali perunggu pada McConnell Cup.
Pemain:
- Rury Andhani
- Lusje Olha Bojoh
- Suci Amita Dewi
- Kristina Wahyu Murniati
- Conny Sumampouw
- Julita Grace Tueje
NPC: Veterano Sitompul
Medali Perunggu
World Women Pairs
Pasangan:
Suci Amita Dewi -- Kristina Wahyu Murniati
juga berhasil meraih:
Medali Perunggu World Women Pairs
Dengan demikian, Sanya 2014 menjadi salah satu tahun paling sukses dalam sejarah prestasi Indonesia di pentas dunia.
2016 -- Salsomaggiore: Prestasi Girls U26 yang Jangan Dilupakan
Sebelumnya saya sempat mengatakan bahwa belum ditemukan prestasi khusus Junior Indonesia.
Setelah ditelusuri lebih jauh, ternyata pernyataan itu harus diperbaiki.
Pada 16th World Youth Team Championships 2016 di Salsomaggiore, Italia, tim Girls U26 Indonesia berhasil mencapai semifinal dan akhirnya menempati peringkat ke-4 dunia.
Jadi walaupun tidak memperoleh medali, masuk empat besar dunia adalah prestasi yang sangat layak dicatat.
Enam pemain Indonesia:
- Gabriela Bindi Desai Eva
- Yunita Fytry
- Fransisca Tri Martanti
- Elsya Saktia Ningtias
- Ernis Sefita
- Fortina Mora Sibuea
NPC: Handojo Susanto
Coach: Bert Toar Polii
Perjalanan Indonesia sampai semifinal membuat pencapaian ini jauh lebih berarti daripada sekadar posisi keempat.
Dan ada satu hal yang sangat menarik.
Joan Gerard Youth Award
Tim Girls U26 Indonesia juga memperoleh Joan Gerard Award.
Penghargaan ini bukan medali berdasarkan hasil pertandingan. Joan Gerard Award diberikan untuk mengapresiasi fair play, good sportsmanship, persahabatan dan sikap positif terhadap partner maupun lawan. Arsip WBF Salsomaggiore mencatat penghargaan ini sebagai bagian dari program Youth Championships.
Jadi Salsomaggiore 2016 memberikan dua catatan penting:
Peringkat 4 Dunia Girls U26
Joan Gerard Youth Award
Bagi saya, ini memiliki makna tersendiri.
Karena seorang atlet tidak hanya dinilai dari menang atau kalah.
Ada nilai-nilai yang membuat olahraga menjadi olahraga.
Jadi, Apa Saja Prestasi Indonesia?
Setelah seluruh penelusuran ini, daftar yang berhasil kita kumpulkan adalah:
Tahun |
Kejuaraan |
Kategori |
Prestasi |
|
1996 |
World Bridge Team Olympiad -- Rhodes |
Open Teams |
Runner-up |
|
2002 |
Rosenblum Cup -- Montreal |
Open Teams |
Runner-up |
|
2005 |
d'Orsi Trophy -- Estoril |
Seniors |
Runner-up |
|
2007 |
d'Orsi Trophy -- Shanghai |
Seniors |
Runner-up |
|
2008 |
World Mind Sports Games -- Beijing |
Seniors |
Peringkat 3 |
|
2009 |
d'Orsi Trophy -- So Paulo |
Seniors |
Peringkat 3 |
|
2010 |
Rand Cup -- Philadelphia |
Seniors |
Peringkat 3 |
|
2011 |
Venice Cup -- Veldhoven |
Women Teams |
Runner-up |
|
2014 |
McConnell Cup -- Sanya |
Women Teams |
Peringkat 3 |
|
2014 |
World Women Pairs -- Sanya |
Women Pairs |
Peringkat 3 |
|
2014 |
World Senior Pairs -- Sanya |
Senior Pairs |
Juara |
|
2016 |
World Youth Team Championships -- Salsomaggiore |
Girls U26 |
Peringkat 4 |
|
2016 |
Joan Gerard Youth Award |
|

No comments:
Post a Comment