Jawa Tondano, Berkah untuk Tondano: Ketika Perbedaan Menjadi Kekuatan
Oleh: Bert Toar Polii – Tukang Bridge
Ada satu pernyataan yang cukup menggelitik pikiran tukang bridge ketika mengikuti rapat Perkumpulan Alumni SMANTO 170.1 di Grand Sahid Hotel, Jumat, 24 Februari beberapa tahun yang lalu.
“Kampung Jawa Tondano adalah berkah buat Tondano.”
Pernyataan itu disampaikan dengan lantang oleh Andre Opa Sumual.
Awalnya terdengar sederhana. Tetapi semakin dipikirkan, semakin menarik untuk ditelusuri.
Benarkah Jaton—sebutan yang akrab untuk Jawa Tondano—merupakan berkah bagi Tondano?
Menurut saya, jawabannya ya.
Bukan semata-mata karena Jaton telah menjadi bagian dari sejarah Tondano selama hampir dua abad, tetapi karena keberadaan Jaton memberikan sebuah pelajaran penting tentang bagaimana perbedaan dapat berubah menjadi kekuatan.
Jaton lahir dari sebuah tragedi sejarah
Untuk memahami mengapa Jaton begitu istimewa, kita harus kembali ke awal abad ke-19.
Keberadaan masyarakat Jawa di Tondano tidak dapat dipisahkan dari Perang Diponegoro atau Perang Jawa (1825–1830), salah satu perlawanan terbesar terhadap kolonialisme Belanda.
Dalam perang tersebut, Kiai Modjo merupakan salah satu tokoh penting. Ia bukan hanya seorang ulama dan penasihat spiritual Pangeran Diponegoro, tetapi juga terlibat langsung sebagai panglima perang.
Pada tahun 1828, Kiai Modjo ditangkap Belanda. Setelah dibawa ke Batavia, ia bersama para pengikutnya kemudian diasingkan ke Minahasa, Sulawesi Utara.
Kiai Modjo dan rombongannya akhirnya tiba di Tondano sekitar tahun 1829.
Ironisnya, sebuah tragedi dalam sejarah perjuangan melawan penjajahan justru kemudian melahirkan sebuah komunitas yang menjadi salah satu contoh menarik mengenai asimilasi dan akulturasi budaya di Indonesia.
Kiai Modjo kemudian menghabiskan sisa hidupnya di Tondano dan meninggal pada 20 Desember 1848.
Para pengikutnya yang merupakan laki-laki Jawa kemudian menikah dengan perempuan Minahasa asli Tondano.
Dari perkawinan inilah lahir generasi baru yang membawa dua warisan budaya sekaligus:
Jawa dan Minahasa.
Mereka bukan lagi sekadar pendatang Jawa.
Mereka menjadi bagian dari Tondano.
Dan dari proses panjang itulah berkembang masyarakat yang kemudian dikenal sebagai Kampung Jawa Tondano atau Jaton.
Tanggal 3 Mei 1830 kemudian diperingati sebagai hari lahir Kampung Jawa Tondano.
Islam bukan sesuatu yang asing bagi Tondano
Ada hal menarik lainnya dari sejarah ini.
Kehadiran Kiai Modjo dan pengikutnya terjadi hampir bersamaan dengan kedatangan Johann Friedrich Riedel, seorang zendeling yang kemudian berperan besar dalam perkembangan agama Kristen di Tondano.
Riedel datang ke Tondano pada 14 Oktober 1831.
Bedanya, Riedel memang datang dengan tugas menyebarkan agama Kristen, sementara Kiai Modjo dan pengikutnya datang bukan sebagai misionaris Islam, melainkan sebagai orang-orang yang diasingkan Belanda akibat keterlibatan mereka dalam Perang Jawa.
Karena itu, perkembangan kedua agama tersebut mengambil jalan yang berbeda.
Kristen berkembang luas di masyarakat Minahasa, sementara Islam kemudian menjadi bagian kuat dari identitas masyarakat Jawa Tondano.
Namun justru di sinilah menariknya.
Perbedaan agama tidak kemudian menjadi tembok pemisah.
Orang Jawa dan Minahasa hidup berdampingan.
Mereka menikah.
Mereka membangun keluarga.
Mereka saling mengenal tradisi.
Dan selama hampir dua abad, proses tersebut terus berlangsung.
Jaton adalah bukti nyata asimilasi
Kalau kita berbicara mengenai Jaton, sebenarnya kita sedang berbicara tentang sebuah eksperimen sosial yang berlangsung secara alami.
Tidak ada teori akademis yang dirancang di atas kertas.
Tidak ada seminar tentang toleransi.
Tidak ada program pemerintah tentang moderasi beragama.
Yang ada adalah kehidupan sehari-hari.
Orang Jawa datang.
Orang Minahasa menerima.
Kemudian mereka hidup bersama.
Dari sana lahirlah budaya baru.
Itulah sebabnya Jaton bisa disebut sebagai subkultur yang lahir dan berkembang di Tondano.
Budaya Jawa tetap dipelihara, tetapi sekaligus berinteraksi dengan budaya Minahasa.
Jaton akhirnya bukan hanya milik orang Jawa.
Jaton adalah bagian dari identitas Tondano.
Dan mungkin inilah yang dimaksud Andre Opa Sumual ketika mengatakan bahwa Jaton merupakan berkah bagi Tondano.
Ba'do Katupat: ketika tradisi menjadi jembatan
Salah satu warisan budaya Jaton yang sangat menarik adalah tradisi Ba'do Katupat.
Tradisi ini dilaksanakan sekitar satu minggu setelah Hari Raya Idul Fitri.
Bagi masyarakat Jaton, Ba'do Katupat bukan sekadar perayaan Lebaran.
Ia adalah ruang perjumpaan.
Keluarga berkumpul.
Kerabat dari berbagai daerah datang.
Hubungan silsilah kembali ditelusuri.
Dan yang paling menarik, pintu rumah terbuka untuk siapa saja.
Muslim maupun non-Muslim.
Tidak perlu bertanya terlebih dahulu:
“Kamu agamanya apa?”
Yang penting adalah:
“Mari masuk, kita makan bersama.”
Ketupat, lauk-pauk dan berbagai kue disiapkan untuk para tamu.
Suasana kampung menjadi semarak.
Karena itu Ba'do Katupat bukan hanya tradisi keagamaan.
Ia telah berkembang menjadi identitas budaya Jaton dan sekaligus menjadi contoh nyata bagaimana sebuah tradisi dapat menjadi sarana mempererat hubungan sosial.
Kalau dikemas dengan baik, tradisi seperti ini sebenarnya memiliki potensi luar biasa sebagai daya tarik wisata budaya.
Tondano punya modal toleransi yang luar biasa
Kalau kita melihat Tondano hari ini, kekayaan tersebut semakin terlihat.
Tondano bukan hanya memiliki keindahan alam Danau Tondano dan berbagai destinasi wisata.
Tondano juga mempunyai modal budaya dan toleransi yang sangat kuat.
Di Kampung Jawa Tondano terdapat Masjid Agung Al-Falah Kiai Modjo, yang mengingatkan kita pada sejarah panjang komunitas Islam Jawa di Tondano.
Di sisi lain, Tondano juga memiliki Sinagoga Sha'ar Hashamayim, yang menjadi simbol keberadaan komunitas Yahudi di daerah ini.
Ada pula Pura Danu Mandara, yang menjadi tempat ibadah umat Hindu.
Sementara itu, gereja tentu bukan sesuatu yang sulit ditemukan di Tondano. Hampir setiap kampung memiliki gerejanya sendiri.
Dan di pusat kota berdiri Gereja Sentrum, salah satu gereja bersejarah yang menjadi bagian penting dari perjalanan Tondano.
Coba kita renungkan.
Islam ada.
Kristen ada.
Yahudi ada.
Hindu ada.
Dan semuanya berada dalam satu ruang sosial yang sama.
Bukankah ini merupakan modal luar biasa bagi sebuah kota?
Dari toleransi menjadi wisata
Selama ini ketika berbicara tentang pariwisata Tondano, pikiran kita mungkin langsung tertuju kepada Danau Tondano.
Padahal Tondano mempunyai cerita yang jauh lebih besar.
Ada sejarah.
Ada budaya.
Ada agama.
Ada tradisi.
Ada kuliner.
Ada kisah perjuangan.
Dan semuanya bisa dirangkai menjadi sebuah pengalaman wisata yang unik.
Misalnya, wisatawan dapat diajak menelusuri jejak sejarah Perang Tondano, mengunjungi Benteng Moraya, menikmati panorama Danau Tondano, kemudian masuk ke Kampung Jawa Tondano untuk mengenal sejarah Kiai Modjo dan tradisi Ba'do Katupat.
Bahkan wisata religi dapat dikembangkan dengan memperkenalkan berbagai rumah ibadah dan komunitas agama yang hidup berdampingan di Tondano.
Kemudian ada tradisi masyarakat Minahasa seperti Pengucapan Syukur, Kunci Taong, Paskah, serta berbagai perayaan lainnya.
Jika semua itu dikemas dalam sebuah narasi wisata yang baik, Tondano sebenarnya mempunyai sesuatu yang tidak mudah ditemukan di tempat lain:
wisata keberagaman.
Jaton bukan sekadar kampung
Mungkin sudah waktunya kita melihat Jaton dari perspektif yang berbeda.
Jaton bukan hanya sebuah kampung.
Jaton adalah cerita tentang pertemuan dua budaya.
Jaton adalah cerita tentang orang-orang yang datang sebagai tahanan politik tetapi akhirnya menjadi bagian dari masyarakat setempat.
Jaton adalah cerita tentang perkawinan antara laki-laki Jawa dengan perempuan Minahasa.
Jaton adalah cerita tentang lahirnya generasi baru dengan identitas yang berbeda tetapi tetap hidup dalam satu masyarakat.
Dan yang paling penting:
Jaton adalah cerita tentang toleransi yang tidak dibuat-buat.
Toleransi yang lahir dari kehidupan sehari-hari.
Dari bertetangga.
Dari perkawinan.
Dari makan bersama.
Dari saling berkunjung.
Dari saling menghormati.
Pelajaran untuk generasi muda
Inilah yang menurut tukang bridge perlu diketahui oleh generasi muda Tondano.
Kita sering berbicara tentang toleransi seolah-olah itu sesuatu yang baru.
Padahal leluhur kita sudah mempraktikkannya sejak lama.
Hampir dua abad lalu, masyarakat Tondano telah mengalami proses asimilasi dan akulturasi yang menghasilkan sebuah komunitas unik bernama Jawa Tondano.
Mereka tidak kehilangan seluruh identitas asalnya.
Masyarakat Minahasa juga tidak kehilangan identitasnya.
Keduanya justru bertemu dan melahirkan sesuatu yang baru.
Itulah Indonesia.
Bukan tentang menghilangkan perbedaan.
Tetapi tentang bagaimana perbedaan dapat hidup berdampingan dan bahkan menghasilkan kekayaan budaya baru.
Jadi, benarkah Jaton berkah buat Tondano?
Setelah melihat perjalanan sejarahnya, saya semakin memahami pernyataan Andre Opa Sumual.
Ya, Jaton adalah berkah buat Tondano.
Berkah bukan hanya karena Jaton menjadi bagian dari sejarah.
Bukan hanya karena memiliki tradisi Ba'do Katupat.
Bukan hanya karena memiliki kuliner dan budaya Jawa yang khas.
Tetapi karena Jaton memberikan sebuah warisan yang jauh lebih berharga:
sebuah contoh bahwa perbedaan bisa menjadi kekuatan.
Tondano memiliki kesempatan untuk menjadikan warisan ini sebagai kekuatan budaya, pendidikan dan pariwisata.
Yang diperlukan adalah kemauan untuk mengemas, merawat dan menceritakannya kepada dunia.
Sebab kalau generasi muda Tondano sendiri tidak mengenal sejarahnya, jangan berharap orang dari luar akan datang untuk mempelajarinya.
Jangan sampai kita baru menyadari betapa berharganya sebuah warisan ketika warisan itu sudah mulai hilang.
Dan mungkin inilah pesan terbesar dari Jaton:
Kita tidak harus menjadi sama untuk bisa hidup rukun. Kita hanya perlu belajar menghargai perbedaan.
Jaton sudah membuktikannya selama hampir dua abad.
— Bert Toar Polii
Tukang Bridge

No comments:
Post a Comment