Thursday, September 10, 2026

Dari WBF Bridge Academy ke Executive Mini Bridge Express Membawa Bridge Masuk Institusi

 


Dari WBF Bridge Academy ke Executive Mini Bridge Express

Membawa Bridge Masuk Institusi

Bert Toar Polii -- Tukang Bridge

Ada sebuah perjalanan panjang yang menarik di balik gagasan Bridge Masuk Institusi.

Gagasan ini tidak muncul begitu saja.

Ia berangkat dari keyakinan bahwa bridge bukan hanya permainan untuk mengisi waktu luang, bukan hanya olahraga yang dipertandingkan dalam kejuaraan, dan bukan pula sekadar permainan kartu yang sulit dipelajari.

Bridge mempunyai sesuatu yang jauh lebih besar.

Bridge adalah permainan yang melatih cara berpikir, mengambil keputusan, berkomunikasi, bekerja sama, mengelola risiko, membaca situasi dan bertanggung jawab terhadap keputusan yang dibuat.

Karena itu, bridge sebenarnya sangat relevan untuk masuk ke lingkungan institusi.

Pertanyaannya kemudian adalah:

Bagaimana cara membawa bridge ke dalam institusi dengan metode yang sesuai dengan karakter orang dewasa yang bekerja?

Dari pertanyaan inilah kemudian lahir gagasan mengembangkan Executive Mini Bridge Express.

Dan menariknya, perkembangan terbaru dari World Bridge Federation (WBF) Bridge Academy justru memberikan perspektif baru terhadap gagasan tersebut.

WBF juga sedang memikirkan hal yang sama

Pada 22 Juni 2026, World Bridge Federation menerbitkan berita mengenai program terbaru WBF Bridge Academy dengan judul:

"Teachers from over 35 countries discovered the WBF Bridge Academy's new method."

Beritanya menarik.

Lebih dari 100 guru bridge dari lebih dari 35 negara mengikuti rangkaian pertama seminar WBF Bridge Academy -- Discovery yang berlangsung secara online pada Mei dan Juni 2026.

Pesertanya datang dari berbagai belahan dunia, termasuk Australia, Singapura, Hong Kong, Thailand, India, Indonesia, Jepang, berbagai negara Eropa, Brasil, Bolivia, Chile, Uruguay, Uganda dan Afrika Selatan.

Dengan kata lain, persoalan bagaimana membawa lebih banyak orang ke meja bridge bukan hanya persoalan Indonesia.

Ini adalah persoalan global.

WBF sendiri menjelaskan bahwa World Bridge Academy -- Discovery merupakan metode pengajaran lengkap yang siap digunakan oleh guru dengan berbagai tingkat pengalaman. Metode tersebut dilengkapi materi siap pakai, termasuk deals, manuals dan arrowed decks, serta dapat digunakan baik dalam pembelajaran di kelas maupun secara online.

Tujuannya sederhana tetapi sangat penting:

memberikan kepada para guru alat untuk membawa pemain-pemain baru ke dalam permainan bridge.

Saya ikut di dalamnya

Bagi saya, berita tersebut mempunyai hubungan pribadi.

Pada 27 Mei 2026, saya mengikuti salah satu sesi WBF Academy -- Discovery Seminar.

Setelah mengikuti seminar tersebut, saya menerima Certificate of Participation dari World Bridge Academy.

Sertifikat itu secara resmi mencantumkan nama saya:

Bert Toar Polii

dan menyatakan bahwa saya telah mengikuti WBF Academy Discovery Seminar serta mempelajari metode pengajaran baru dari World Bridge Federation.

Sertifikat tersebut bertanggal 27 May 2026 dan ditandatangani oleh Franck Riehm, WBF President, serta Jean-Pierre Desmoulins dari World Bridge Academy.

WBF juga menyatakan bahwa seluruh guru yang mengikuti seminar menerima Certificate of Participation yang ditandatangani oleh kedua pejabat tersebut.

Bagi saya, sertifikat ini tentu merupakan sebuah penghargaan dan kenangan yang menyenangkan.

Tetapi yang lebih penting justru adalah apa yang saya dapatkan dari pengalaman tersebut.

Saya melihat bahwa WBF sedang terus mengembangkan cara bagaimana bridge diperkenalkan kepada masyarakat.

Dan hal itu sangat berhubungan dengan apa yang selama ini saya pikirkan.

Dari WBF Bridge Academy ke Executive Mini Bridge Express

Beberapa waktu sebelumnya saya sudah mempelajari dan menggunakan berbagai materi dari WBF Bridge Academy.

Namun saya melihat ada persoalan lain.

Metode yang ditujukan untuk memperkenalkan bridge kepada pemula tentu tidak selalu dapat diterapkan begitu saja kepada semua kelompok masyarakat.

Anak-anak mempunyai karakter belajar yang berbeda dengan orang dewasa.

Demikian pula seorang pegawai atau profesional yang bekerja setiap hari mempunyai kebutuhan yang berbeda dengan seorang siswa sekolah.

Seorang pegawai mungkin hanya mempunyai waktu terbatas.

Mereka tidak mungkin mengikuti pelajaran bridge dengan jadwal yang panjang seperti seseorang yang memang ingin menjadi pemain kompetitif.

Mereka juga tidak selalu mempunyai ambisi menjadi juara.

Sebagian mungkin hanya ingin mengenal bridge.

Sebagian ingin mempunyai kegiatan intelektual yang menyenangkan.

Sebagian ingin bermain bersama teman-teman kantor.

Sebagian mungkin tertarik karena melihat bahwa bridge dapat melatih kemampuan berpikir dan mengambil keputusan.

Dari sinilah saya kemudian mengembangkan gagasan:

Executive Mini Bridge Express.

Apa itu Executive Mini Bridge Express?

Executive Mini Bridge Express adalah sebuah pendekatan pembelajaran bridge yang mengambil inspirasi dari materi dan filosofi pengajaran WBF Bridge Academy, tetapi dikembangkan dan disesuaikan untuk kebutuhan orang dewasa, khususnya pegawai dan profesional.

Jadi EMBX bukan sekadar "kursus bridge yang dipercepat".

Konsepnya lebih luas.

Tujuannya adalah membuat seseorang yang sama sekali belum mengenal bridge dapat memperoleh pengalaman bermain yang nyata dalam waktu relatif singkat.

Peserta tidak langsung dibebani dengan seluruh kompleksitas bridge.

Mereka diperkenalkan secara bertahap.

Mereka bermain.

Mereka mencoba mengambil keputusan.

Mereka berdiskusi dengan partner.

Mereka mengalami sendiri bahwa setiap keputusan mempunyai konsekuensi.

Dengan demikian, bridge diperkenalkan bukan sebagai kumpulan teori yang harus dihafalkan, tetapi sebagai pengalaman berpikir dan bekerja sama.

Mengapa Mini?

Kata Mini bukan berarti bridge-nya diperkecil.

Yang diperkecil adalah hambatan untuk memulai belajar bridge.

Ini penting.

Salah satu persoalan terbesar dalam memperkenalkan bridge adalah kesan bahwa bridge merupakan permainan yang sangat sulit.

Bagi orang yang belum pernah bermain, istilah seperti bidding, declarer, dummy, trump, contract, lead dan defense saja sudah dapat membuat mereka merasa bahwa bridge bukan permainan untuk mereka.

Padahal persoalan sebenarnya bukan apakah bridge sulit.

Persoalannya adalah:

Bagaimana kita memperkenalkannya?

Kalau seseorang langsung diberikan seluruh aturan bridge, kemungkinan besar ia akan merasa kewalahan.

Tetapi kalau ia diajak duduk di meja, diberikan kartu, dijelaskan secara sederhana, kemudian langsung merasakan kesenangan mengambil keputusan, persepsinya bisa berubah.

Karena itu, dalam EMBX kita mencoba memulai dari pengalaman.

Learn by playing.

Belajar dengan bermain.

Mengapa Executive?

Karena sasaran yang ingin kita buka lebih luas adalah dunia kerja.

Pegawai, manajer, profesional, pimpinan perusahaan, ASN, dosen, guru, tenaga profesional dan berbagai kelompok masyarakat dewasa lainnya.

Bridge mempunyai banyak nilai yang sangat dekat dengan kehidupan profesional.

Di meja bridge kita harus membuat keputusan berdasarkan informasi yang tersedia.

Informasi tersebut tidak pernah lengkap.

Kita harus memperkirakan kemungkinan.

Kita harus mempertimbangkan risiko.

Kita harus berkomunikasi dengan partner.

Kita harus memahami bahwa keputusan sendiri dapat memengaruhi hasil bersama.

Dan yang paling menarik:

kita harus belajar menerima bahwa tidak semua keputusan akan menghasilkan kemenangan.

Ini semua adalah pengalaman yang sangat dekat dengan kehidupan profesional.

Bridge sebagai laboratorium pengambilan keputusan

Bayangkan seorang pegawai berada di meja bridge.

Ia memegang kartu.

Partner memberikan informasi melalui bidding.

Lawan juga memberikan informasi.

Kemudian ia harus mengambil keputusan.

Apakah harus pass?

Apakah harus bid?

Seberapa tinggi?

Haruskah mengambil risiko?

Atau justru berhenti?

Situasi seperti ini sebenarnya merupakan simulasi kecil dari kehidupan nyata.

Dalam pekerjaan kita juga sering menghadapi situasi yang sama.

Informasi tidak lengkap.

Waktu terbatas.

Ada risiko.

Ada partner atau anggota tim.

Ada pihak lain yang mempunyai kepentingan berbeda.

Dan keputusan harus dibuat.

Bridge memberikan sebuah lingkungan yang aman untuk melatih hal tersebut.

Kalau salah mengambil keputusan, konsekuensinya hanya satu papan bridge.

Kita dapat membahasnya.

Kita dapat belajar dari kesalahan.

Kemudian kita mencoba lagi.

Karena itu bridge dapat dilihat sebagai semacam laboratorium pengambilan keputusan.

Bridge mengajarkan teamwork

Ada satu hal yang membedakan bridge dari banyak permainan lainnya.

Bridge dimainkan berpasangan.

Partner bukan lawan.

Partner adalah orang yang harus kita ajak bekerja sama.

Tetapi komunikasi dengan partner mempunyai batas.

Kita tidak boleh mengatakan semua yang kita pikirkan.

Kita harus menyampaikan informasi melalui sistem yang disepakati.

Ini menghasilkan sebuah pelajaran yang sangat menarik mengenai komunikasi.

Komunikasi bukan sekadar berbicara.

Komunikasi adalah menyampaikan informasi yang benar, pada saat yang tepat, dengan cara yang dapat dipahami oleh partner.

Dan partner harus memberikan respons berdasarkan informasi tersebut.

Inilah salah satu alasan bridge sangat menarik untuk lingkungan institusi.

Dari permainan menjadi pembelajaran SDM

Di sinilah konsep Bridge Masuk Institusi menjadi lebih besar daripada sekadar program memperkenalkan olahraga bridge.

Bridge dapat menjadi media pembelajaran SDM.

Bukan berarti kita mengklaim bahwa bermain bridge otomatis membuat seseorang menjadi pemimpin yang lebih baik.

Tidak sesederhana itu.

Tetapi bridge menyediakan situasi permainan yang secara alami menuntut sejumlah kemampuan:

  • analytical thinking;

  • decision making;

  • communication;

  • partnership;

  • risk management;

  • concentration;

  • discipline;

  • emotional control;

  • strategic thinking;

  • accountability.

Kemampuan-kemampuan tersebut juga dibutuhkan dalam dunia kerja.

Karena itu bridge dapat digunakan sebagai media experiential learning.

Peserta bukan hanya mendengar ceramah mengenai teamwork.

Mereka mengalaminya.

Bukan hanya mendengar teori mengenai pengambilan keputusan.

Mereka harus mengambil keputusan.

Bukan hanya membaca mengenai risiko.

Mereka harus berhadapan dengan risiko.

Inilah yang ingin dibawa oleh Bridge Masuk Institusi

Gagasan Bridge Masuk Institusi yang sedang digarap oleh Didi Andries, Ketua Pengkot GABSI Jakarta Pusat, menurut saya mempunyai arti strategis.

Selama ini kita sering berpikir:

Bagaimana membawa orang ke klub bridge?

Pertanyaan tersebut memang penting.

Tetapi mungkin kita juga harus membalik pertanyaannya:

Bagaimana membawa bridge ke tempat orang-orang beraktivitas?

Kalau pegawai bekerja di sebuah institusi, mengapa harus selalu menunggu mereka datang ke klub?

Mengapa tidak bridge yang datang ke institusi?

Dari sinilah konsep Bridge Masuk Institusi menjadi menarik.

Bridge dapat diperkenalkan di:

kantor, perusahaan, BUMN, lembaga pemerintah, kampus, sekolah, organisasi profesi, komunitas dan berbagai institusi lainnya.

Dengan pendekatan yang tepat, mereka tidak harus langsung menjadi pemain turnamen.

Tahap pertama cukup:

Kenal Coba Suka Bermain Berkembang.

Empat pertemuan yang menentukan

Salah satu gagasan yang dikembangkan dalam Executive Mini Bridge Express adalah membuat proses belajar menjadi praktis dan tidak terlalu panjang.

Format yang kita kembangkan adalah empat pertemuan, masing-masing sekitar tiga jam.

Bagi orang yang bekerja, format seperti ini jauh lebih realistis daripada menawarkan kursus yang berlangsung berbulan-bulan sebelum peserta sempat merasakan permainan bridge yang sesungguhnya.

Empat pertemuan tersebut bukan dimaksudkan untuk membuat seseorang menjadi pemain bridge yang sudah mahir.

Targetnya berbeda.

Targetnya adalah:

membuat seseorang mengenal bridge, memahami prinsip dasarnya, dapat bermain dan kemudian tertarik untuk melanjutkan.

Kalau setelah empat pertemuan seseorang berkata:

"Ternyata bridge menarik juga. Saya ingin bermain lagi."

maka program tersebut sudah mencapai salah satu tujuan terpentingnya.

Jangan membuat pemula takut kepada bridge

Ini menurut saya merupakan prinsip yang sangat penting.

Kita harus berhenti memperkenalkan bridge dengan cara yang membuat pemula merasa bahwa mereka sedang memasuki sebuah ujian.

Bridge memang mempunyai aturan.

Bridge memang mempunyai teori.

Bridge memang mempunyai sistem bidding yang kompleks.

Tetapi semuanya itu tidak harus diberikan sekaligus.

Orang belajar mengemudi juga tidak dimulai dengan mempelajari seluruh teori mesin mobil.

Ia duduk di kursi pengemudi.

Memegang kemudi.

Menyalakan mesin.

Kemudian mulai bergerak.

Demikian pula bridge.

Biarkan mereka bermain terlebih dahulu.

Setelah muncul rasa ingin tahu, teori akan lebih mudah diterima.

WBF Discovery dan EMBX: dua arah yang bertemu

Di sinilah pengalaman saya mengikuti WBF Academy Discovery Seminar pada 27 Mei 2026 menjadi semakin menarik.

WBF kini mengembangkan Discovery sebagai metode pengajaran lengkap dan siap pakai bagi para guru, dengan materi yang dapat disesuaikan dengan kelas, budaya dan bahasa yang berbeda.

Saya melihat ada kesamaan semangat dengan apa yang selama ini saya pikirkan melalui Executive Mini Bridge Express:

jangan membuat orang takut kepada bridge.

Buat bridge lebih mudah didekati.

Buat proses belajar lebih menarik.

Berikan pengalaman bermain.

Kemudian biarkan ketertarikan tumbuh.

Tetapi EMBX mempunyai sasaran yang lebih spesifik.

Orang dewasa yang bekerja.

Karena itu, materi dan pendekatannya perlu disesuaikan dengan kehidupan mereka.

Bukan meniru WBF

Hal ini perlu ditegaskan agar posisi Executive Mini Bridge Express jelas.

EMBX bukan program resmi World Bridge Federation.

Saya mengambil dan mempelajari materi serta pendekatan dari WBF Bridge Academy, kemudian mengembangkannya sesuai kebutuhan yang saya lihat di Indonesia.

Dengan demikian, EMBX adalah sebuah adaptasi dan pengembangan.

Justru di sinilah pentingnya seorang pengajar tidak hanya menjadi pengguna materi.

Seorang pengajar harus mampu melihat:

Apa yang cocok untuk peserta saya?

Apa yang harus disederhanakan?

Apa yang harus diubah?

Apa yang harus ditambahkan?

WBF menyediakan kerangka dan perangkat.

Kita di Indonesia harus mampu menerjemahkannya sesuai kebutuhan masyarakat kita.

Dari guru menjadi fasilitator

Program Bridge Masuk Institusi juga menuntut perubahan cara berpikir pengajar.

Seorang pengajar tidak cukup hanya menguasai bridge.

Ia harus mampu menjadi fasilitator pembelajaran.

Peserta institusi mungkin tidak bertanya:

"Apa arti opening bid 1NT?"

Mereka mungkin justru bertanya:

"Mengapa saya harus memilih keputusan ini?"

Atau:

"Apa hubungannya permainan ini dengan pekerjaan saya?"

Atau:

"Mengapa partner saya mengambil keputusan yang berbeda?"

Pertanyaan-pertanyaan tersebut justru dapat menjadi pintu masuk yang menarik.

Karena setelah permainan selesai, kita dapat melakukan debriefing.

Apa yang terjadi?

Mengapa keputusan tersebut diambil?

Informasi apa yang tersedia?

Apa yang tidak kita ketahui?

Apakah kita terlalu mengambil risiko?

Bagaimana komunikasi dengan partner?

Apa yang dapat dipelajari?

Di situlah permainan berubah menjadi pembelajaran.

Bridge untuk pimpinan dan pegawai

Saya membayangkan suatu saat sebuah perusahaan dapat mengatakan:

"Kami ingin karyawan kami belajar bridge."

Bukan karena perusahaan tersebut ingin semua pegawainya menjadi atlet bridge.

Tetapi karena perusahaan melihat bridge sebagai salah satu bentuk intellectual recreation dan experiential learning.

Seorang pimpinan perusahaan dapat bermain dengan pegawainya.

Seorang manajer dapat bermain dengan anggota timnya.

Pegawai dari departemen yang berbeda dapat menjadi partner.

Mereka duduk di meja yang sama.

Tidak ada jabatan.

Tidak ada struktur organisasi.

Yang ada hanyalah kartu, partner, keputusan dan hasil.

Dan mungkin justru di situ terjadi sesuatu yang menarik.

Orang yang biasanya jarang berbicara di kantor bisa menjadi partner yang sangat baik.

Orang yang sangat senior bisa belajar mendengarkan.

Orang yang sangat percaya diri bisa belajar bahwa tidak semua keputusan harus dipaksakan.

Orang yang terbiasa bekerja sendiri bisa merasakan pentingnya partner.

Bridge menciptakan ruang interaksi yang berbeda.

Bridge bukan sekadar permainan kartu

Ini juga alasan mengapa saya selalu merasa perlu menjelaskan bahwa kita tidak sedang berusaha menjual bridge sebagai permainan kartu biasa.

Bridge memang menggunakan kartu.

Tetapi yang dimainkan sebenarnya adalah:

informasi, logika, komunikasi, probabilitas, strategi dan keputusan.

Empat pemain menggunakan 52 kartu.

Informasi yang tersedia tidak lengkap.

Setiap pemain harus membuat keputusan.

Kemudian hasil keputusan tersebut dibandingkan.

Itulah yang membuat bridge menjadi permainan intelektual yang sangat kaya.

Dan kekayaan inilah yang ingin kita bawa keluar dari klub bridge.

Dari klub ke institusi

Selama bertahun-tahun perkembangan bridge sering berpusat pada klub.

Orang yang ingin bermain bridge mencari klub.

Klub mengadakan permainan.

Pemain bertemu.

Turnamen berlangsung.

Sistem tersebut tetap penting.

Tetapi kalau kita ingin memperbesar basis pemain, kita membutuhkan sumber baru.

Institusi dapat menjadi salah satu sumber tersebut.

Bayangkan bila satu perusahaan memperkenalkan bridge kepada 20 pegawai.

Bukan tidak mungkin beberapa dari mereka kemudian terus bermain.

Kemudian mereka mengajak pasangan atau teman.

Kemudian muncul kelompok baru.

Kemudian mereka mengikuti permainan klub.

Dari situ mungkin muncul pemain yang serius.

Dan dari pemain yang serius itulah suatu hari bisa muncul atlet.

Jadi:

Bridge Masuk Institusi tidak bertentangan dengan pembinaan prestasi.

Justru ia dapat menjadi salah satu pintu masuk menuju pembinaan prestasi.

Dari pegawai menjadi pemain

Ini yang saya bayangkan sebagai sebuah rantai pengembangan:

Institusi Pegawai Pemula Pemain Rekreasional Pemain Klub Pemain Kompetitif.

Tidak semua orang harus sampai tahap terakhir.

Dan memang tidak perlu.

Kalau seseorang hanya bermain bridge seminggu sekali bersama teman-temannya, itu sudah merupakan keberhasilan.

Kalau seseorang kemudian tertarik mengikuti turnamen, lebih baik lagi.

Kalau akhirnya ada yang menjadi pemain tingkat nasional, itu bonus.

Yang penting kita menciptakan jalur masuk.

Peran GABSI Jakarta Pusat

Gagasan yang sedang digarap oleh Didi Andries sebagai Ketua Pengkot GABSI Jakarta Pusat menjadi menarik karena mempunyai potensi untuk menjembatani dunia bridge dengan dunia institusi.

Organisasi bridge tidak cukup hanya menyelenggarakan pertandingan.

Ia juga harus mencari cara agar bridge semakin dikenal masyarakat.

Program Bridge Masuk Institusi dapat menjadi salah satu bentuk pengembangan tersebut.

Dan Executive Mini Bridge Express dapat menjadi salah satu model pelatihannya.

Dengan demikian, kita tidak berhenti pada slogan:

"Bridge Masuk Institusi."

Kita mempunyai produk pembelajaran yang konkret:

Executive Mini Bridge Express.

Sebuah buku yang bukan hanya tentang bridge

Karena itu, buku Bridge Masuk Institusi yang sedang kita kembangkan juga sebaiknya tidak menjadi buku teknik bridge.

Buku ini bukan buku yang mengajarkan seluruh sistem bidding.

Bukan pula buku yang ditujukan hanya kepada pemain bridge.

Sasaran buku jauh lebih luas:

pimpinan perusahaan, ASN, guru, dosen, mahasiswa, HR, pengambil kebijakan, pengelola institusi dan siapa saja yang tertarik menggunakan bridge sebagai media pengembangan manusia.

Pesan utamanya sederhana:

Bridge dapat dimainkan sebagai olahraga, tetapi manfaatnya dapat jauh melampaui meja pertandingan.

Play Bridge. Think Better. Lead Together.

Karena itu saya merasa tagline yang kita pilih untuk gagasan ini sangat tepat:

PLAY BRIDGE. THINK BETTER. LEAD TOGETHER.

Bermain Bridge. Berpikir Lebih Baik. Memimpin Bersama.

Tiga kalimat pendek.

Tetapi menggambarkan perjalanan yang ingin kita bangun.

Play Bridge

Mulailah dengan bermain.

Jangan takut.

Jangan merasa harus menjadi ahli.

Cobalah.

Think Better

Setelah bermain, kita mulai berpikir.

Mengapa saya memilih keputusan itu?

Apakah ada pilihan yang lebih baik?

Bagaimana membaca informasi?

Bagaimana memperhitungkan risiko?

Lead Together

Dan akhirnya kita belajar bahwa kepemimpinan tidak selalu berarti berdiri di depan.

Dalam bridge, kita harus bekerja bersama partner.

Kita harus mempercayai sistem.

Kita harus menghormati keputusan partner.

Dan kita harus bertanggung jawab atas keputusan sendiri.

Seminar WBF 2026 memberi energi baru

Bagi saya pribadi, mengikuti WBF Academy Discovery Seminar pada 27 Mei 2026 datang pada waktu yang tepat.

Saya sudah lama memikirkan bagaimana bridge dapat diperkenalkan kepada kelompok masyarakat yang lebih luas.

Saya sudah mengembangkan Executive Mini Bridge Express dengan mengambil inspirasi dari WBF Bridge Academy dan menyesuaikannya untuk orang dewasa.

Kemudian muncul gagasan yang lebih besar:

Bridge Masuk Institusi.

Dan pada saat yang hampir bersamaan, WBF meluncurkan metode Discovery yang baru.

Lebih dari 100 guru dari lebih dari 35 negara mempelajari metode tersebut. Indonesia termasuk di dalamnya.

Saya menjadi salah satu pesertanya.

Karena itu, sertifikat yang saya terima bukan hanya menjadi koleksi pribadi.

Bagi saya, sertifikat tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang pengembangan gagasan tentang bagaimana bridge diajarkan dan bagaimana bridge dikembangkan.

Kita tidak boleh berhenti pada sertifikat

Ada satu hal yang selalu saya pegang.

Sertifikat bukan tujuan.

Sertifikat adalah bukti bahwa kita pernah belajar.

Yang lebih penting adalah apa yang kita lakukan setelah belajar.

WBF telah memberikan metode.

Kita sudah belajar.

Sekarang tantangannya adalah bagaimana mengembangkan dan menerapkannya di Indonesia.

Dan di sinilah Executive Mini Bridge Express mempunyai tempat.

Bukan sebagai salinan WBF Discovery.

Tetapi sebagai salah satu bentuk pengembangan lokal yang mencoba menjawab kebutuhan yang berbeda:

bagaimana memperkenalkan bridge kepada orang dewasa yang bekerja.

Masa depan bridge mungkin tidak hanya berada di klub

Selama ini kita mungkin terlalu terbiasa berpikir bahwa seseorang yang ingin belajar bridge harus mencari klub.

Saya justru ingin membalik cara berpikir tersebut.

Mengapa klub tidak membawa bridge keluar?

Masuk ke kantor.

Masuk ke perusahaan.

Masuk ke kampus.

Masuk ke sekolah.

Masuk ke lembaga.

Masuk ke komunitas.

Masuk ke berbagai institusi.

Dengan cara seperti itu, bridge tidak lagi menunggu orang datang.

Bridge yang datang menemui masyarakat.

Sebuah perjalanan baru

Dari WBF Bridge Academy saya belajar bahwa metode pengajaran harus terus berkembang.

Dari Executive Mini Bridge Express saya mencoba mengadaptasinya untuk kebutuhan orang dewasa.

Dari gagasan Bridge Masuk Institusi saya melihat kemungkinan yang lebih besar:

bridge bukan hanya untuk pemain bridge.

Bridge juga bisa menjadi media untuk mempertemukan orang.

Media untuk belajar.

Media untuk berpikir.

Media untuk bekerja sama.

Media untuk mengembangkan kemampuan mengambil keputusan.

Dan mungkin suatu hari nanti, ketika seorang pegawai yang pertama kali mengenal bridge melalui program di kantornya kemudian datang ke sebuah klub dan mengikuti turnamen pertamanya, kita akan menyadari bahwa sebuah langkah kecil telah menghasilkan perjalanan panjang.

Itulah yang kita harapkan.

Bukan membuat semua pegawai menjadi juara bridge.

Tetapi membuka pintu agar mereka mengenal bridge.

Setelah mengenal, mereka mungkin menyukainya.

Setelah menyukai, mereka mungkin memainkannya.

Dan dari pemain-pemain baru itulah masa depan bridge Indonesia akan tumbuh.

Karena pada akhirnya:

Jangan hanya membawa pemain ke meja bridge.

Bawalah bridge ke tempat orang-orang berada.

Play Bridge. Think Better. Lead Together.

No comments: