Thursday, September 3, 2026

Bahasa Tondano: Bahasa, Ejaan, Tata Bahasa, dan Upaya Melestarikannya

 


Bahasa Tondano: Bahasa, Ejaan, Tata Bahasa, dan Upaya Melestarikannya

Oleh : Bert Toar Polii - Tukang Bridge

Bahasa Tondano merupakan salah satu warisan budaya penting masyarakat Tondano dan Minahasa. Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga menyimpan cara pandang, sejarah, kebiasaan, serta identitas masyarakat yang menggunakannya.

Karena itu, mempelajari dan mendokumentasikan Bahasa Tondano menjadi bagian penting dari upaya mempertahankan warisan budaya tersebut agar tidak hilang bersama berkurangnya jumlah penuturnya.

Mengenal Bahasa Tondano melalui kosakata

Salah satu cara paling sederhana untuk mempelajari sebuah bahasa adalah mengenal kosakatanya.

Beberapa contoh kosakata Bahasa Tondano yang terdokumentasi antara lain:

  • abu = riawu, kurap

  • ar = en dano, rano --- air

  • ar madidi = en dano makaro'ko' --- air panas

  • ar luda = e nw, en w --- air liur

  • ajar = turu', maturu'

  • badiri = mato'or, maredi

  • baju = labung

  • baju batangang = lalupa

  • baju karjaa = labung tetumpa

  • cirita = i asar

  • cirita dongng = umanen --- dongeng.

Yang menarik, sebuah kata sering kali tidak berdiri sendiri. Penggunaannya dalam kalimat dapat memperlihatkan perubahan bentuk, bunyi, maupun struktur yang menjadi ciri Bahasa Tondano.

Sistem aksara dan ejaan

Bahasa Tondano dituliskan menggunakan aksara Latin. Dalam bahan yang dikumpulkan, abjad yang digunakan mencakup a, aa, b, d, e, , , gh, g, i, ii, k, l, m, n, ng, o, oo, ou, p, r, s, t, u, uu, w, y, serta hamzah atau tanda glotal.

Huruf c, f, j, dan ny disebut sebagai konsonan yang tidak asli dalam Bahasa Tondano.

Untuk kata-kata asing yang menggunakan huruf tertentu, terdapat penyesuaian. Misalnya:

  • calana menjadi salana

  • cerutu menjadi suruut

  • meja menjadi meya

Sementara ny dijelaskan sebagai bentuk penggantian dari ni apabila diikuti vokal. Contohnya:

  • niaku nyaku = saya

  • nia'i nye'i = ini.

Bunyi "gh"

Salah satu ciri menarik Bahasa Tondano adalah penggunaan gh.

Dalam bahan ini dijelaskan bahwa bunyi tersebut merupakan bunyi uvular atau bunyi anak tekak yang tidak memiliki padanan langsung dalam abjad Latin biasa. Karena itu digunakan gabungan huruf gh.

Contohnya:

  • ghe'gher = dingin

  • ghenang = ingatan

  • ghorem = di dalam.

Dalam lingkungan tertentu, bunyi tersebut dapat berubah ketika didahului kata sandang eng, sehingga ghe'gher menjadi eng ge'ger, ghenang menjadi eng genang, dan ghorem menjadi eng gorem.

Perubahan bunyi dalam pengucapan

Bahasa Tondano memiliki aturan perubahan bunyi yang menarik.

Salah satunya adalah perubahan bunyi r menjadi bunyi yang terdengar seperti d ketika didahului bunyi sengau.

Misalnya:

  • en raa' diucapkan en daa' = darah

  • en rano diucapkan en dano = air

  • en rui diucapkan en dui = tulang.

Hal serupa terjadi pada kata yang diawali w setelah partikel em. Dalam pengucapan, bunyinya dapat terdengar sebagai b:

  • em wal terdengar em bal = rumah

  • em wn terdengar em bn = padi

  • em wuter terdengar em buter = berat.

Ini menunjukkan bahwa antara bentuk tulisan dan bentuk pengucapan terdapat aturan fonologis tertentu yang menjadi bagian penting dalam memahami Bahasa Tondano.

Kata sandang dan partikel

Kata sandang merupakan bagian penting dalam struktur Bahasa Tondano.

Kata sandang si banyak digunakan, misalnya:

  • si kaloku = sahabat saya

  • si kompo' = belalang.

Bentuk jamaknya menggunakan s, misalnya:

  • s tou = orang

  • s rongit = nyamuk.

Sementara ni digunakan pada kata pengganti nama dalam bentuk tertentu, misalnya:

  • ni koo = engkau

  • ni kou = kamu

  • ni sia = dia

  • ni sa = mereka

  • ni ei = ini.

Partikel e, em, en, dan eng juga mempunyai pola penggunaan tertentu berdasarkan bunyi awal kata yang mengikutinya.

Glotal atau hamzah

Tanda apostrof atau glotal (') bukan sekadar tanda tulisan. Dalam Bahasa Tondano, tanda ini dapat membedakan kata yang bentuk tulisannya hampir sama tetapi berbeda pengucapan dan arti.

Contohnya:

  • wawa = basi

  • wawa' = bawah

  • wa'wa' = coba

  • wou = bau

  • wo'u = kura-kura

  • wou' = dibasahi.

Glotal juga tetap ditulis di antara dua vokal yang sama:

  • paa = loteng

  • kiit = habis

  • soo = mana

  • pa'a = paha

  • ki'it = ikut

  • so'o = tidak mau.

Karena itu, tanda apostrof dalam Bahasa Tondano perlu diperhatikan dengan serius. Kesalahan penempatan dapat menyebabkan perubahan arti.

Dialek Bahasa Tondano

Bahan yang dikumpulkan juga menyebut adanya tiga dialek, yaitu Tondano, Kakas, dan Remboken.

Perbedaannya antara lain dapat terlihat pada beberapa kosakata:

TondanoKakas/RembokenIndonesia

lodi londi perahu
rebur rembur gemuk
ll' lh' leher

Perbedaan semacam ini menunjukkan adanya keragaman penggunaan bahasa di wilayah sekitarnya.

Reduplikasi dan imbuhan

Bahasa Tondano juga mempunyai sistem pengulangan suku kata atau reduplikasi. Reduplikasi umumnya terjadi pada suku pertama.

Contohnya:

  • asar asaren

  • uman umanen

  • lobo' lelobo' = jala.

Selain reduplikasi, terdapat berbagai imbuhan seperti ma-, me-, pa-/pe-, ka-/ke-, maki-, paki-, mapa-, papa-, dan maka-, yang masing-masing mempunyai fungsi dan pola pembentukan tertentu.

Hal ini memperlihatkan bahwa Bahasa Tondano mempunyai sistem pembentukan kata yang cukup kaya dan layak didokumentasikan secara lebih sistematis.

Bahasa Tondano dalam percakapan

Bahasa tidak akan hidup jika hanya disimpan sebagai daftar kosakata. Bahasa harus digunakan.

Salah satu contoh menarik dalam bahan ini adalah percakapan antara Si Utu dari Jakarta dan Si Tole dari Rinegetan. Dalam dialog tersebut muncul pembicaraan tentang kemampuan berbahasa Tondano dan tentang Bertje yang mengajarkan Bahasa Tondano serta membuat kelompok "Lestarikan Bahasa Tondano" di internet.

Pesannya sangat jelas: mereka yang masih mengetahui Bahasa Tondano mempunyai tanggung jawab untuk meneruskannya kepada generasi berikutnya.

Dalam dialog tambahan yang diberi judul "en asar ni Bert T. Poli", pesan tersebut ditegaskan kembali. Mereka yang masih mengetahui Bahasa Tondano diminta untuk mengajarkan dan menunjukkan bahasa tersebut kepada anak-anak agar mereka rajin mempelajarinya.

Dari tulisan lama menuju digitalisasi Bahasa Tondano

Sehubungan dengan kampanye yang saya lakukan agar ada upaya yang lebih serius untuk mendigitalisasi Bahasa Tondano, saya mencoba kembali mengumpulkan tulisan-tulisan yang pernah saya buat mengenai bahasa ini.

Tulisan-tulisan tersebut tentu masih jauh dari sempurna. Karena itu, saya mencoba menyusunnya kembali, memperbaiki penyajiannya, mengelompokkan materi yang masih tercecer, serta menggabungkannya dengan berbagai bahan yang pernah saya terima dan simpan.

Tujuannya bukan sekadar membuat sebuah tulisan baru, tetapi mulai membangun dokumentasi digital Bahasa Tondano yang suatu saat dapat dikembangkan menjadi sesuatu yang jauh lebih besar.

Saya juga ingin menyampaikan terima kasih kepada Alm. Boeng Dotulong, yang telah memberikan begitu banyak materi kepada saya mengenai Bahasa Tondano, termasuk Kamus Melayu Manado -- Indonesia -- Toudano.

Materi-materi seperti inilah yang sangat berharga. Ketika sebuah bahasa mulai menghadapi ancaman berkurangnya penutur, setiap kamus, catatan, daftar kosakata, contoh kalimat, cerita, dan tulisan lama menjadi sumber yang penting untuk diselamatkan dan didigitalisasi.

Apa yang saya lakukan sekarang pada dasarnya adalah mencoba menghidupkan kembali bahan-bahan yang sudah ada, menyusunnya dengan lebih baik, lalu membawanya ke ruang digital agar dapat dipelajari dan dikembangkan oleh generasi berikutnya.

Dengan demikian, digitalisasi Bahasa Tondano bukan berarti menggantikan bahasa lisan atau bahasa yang hidup di tengah masyarakat. Sebaliknya, digitalisasi harus menjadi alat untuk membantu bahasa itu tetap hidup.

Mengapa dokumentasi digital penting?

Bahasa Tondano mempunyai sistem yang cukup kompleks: ada aturan ejaan, perubahan bunyi, kata sandang, partikel, reduplikasi, imbuhan, serta perbedaan dialek.

Artinya, Bahasa Tondano bukan sekadar kumpulan kata-kata daerah. Ia mempunyai struktur dan sistem kebahasaan sendiri.

Karena itu, setiap kosakata, contoh kalimat, cerita, percakapan, dan penjelasan tata bahasa yang berhasil dikumpulkan merupakan bagian dari dokumentasi kebudayaan.

Digitalisasi memungkinkan bahan-bahan tersebut tidak hanya tersimpan dalam buku atau catatan pribadi, tetapi dapat dikembangkan menjadi:

  • kamus digital Bahasa Tondano;

  • basis data kosakata dan contoh kalimat;

  • arsip tulisan dan cerita dalam Bahasa Tondano;

  • materi pembelajaran untuk generasi muda;

  • rekaman pengucapan;

  • bahan untuk penelitian kebahasaan;

  • serta berbagai aplikasi digital yang dapat membantu orang belajar Bahasa Tondano.

Ini tentu bukan pekerjaan yang dapat diselesaikan oleh satu orang.

Diperlukan kerja sama antara penutur Bahasa Tondano, keluarga, tokoh masyarakat, akademisi, pemerhati bahasa, generasi muda, dan mereka yang mempunyai kemampuan di bidang teknologi digital.

Bahasa akan hidup kalau digunakan

Ancaman terbesar terhadap sebuah bahasa bukan hanya ketika kosakatanya mulai terlupakan, tetapi ketika bahasa tersebut tidak lagi digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, pelestarian Bahasa Tondano tidak cukup hanya dengan membuat daftar kata.

Bahasa harus:

  • digunakan dalam percakapan;

  • diajarkan kepada anak-anak;

  • ditulis;

  • didokumentasikan;

  • digunakan dalam cerita dan dialog;

  • diperkenalkan melalui media baru;

  • dan terus dipakai dalam kehidupan sehari-hari.

Internet justru dapat menjadi salah satu sarana penting untuk melakukan hal tersebut.

Apa yang dahulu hanya dapat disampaikan dari orang tua kepada anak, sekarang dapat didokumentasikan dan dipelajari oleh orang yang berada jauh dari Tondano.

Menjaga bahasa berarti menjaga identitas

Bahasa Tondano merupakan bagian dari warisan budaya masyarakat Tondano.

Jika sebuah bahasa hilang, yang hilang bukan hanya kata-kata. Bersama bahasa itu dapat ikut hilang cara tertentu dalam menyampaikan pikiran, cerita, pengalaman, humor, nilai-nilai, dan ingatan kolektif masyarakat.

Karena itu, melestarikan Bahasa Tondano bukan berarti menolak perkembangan zaman.

Justru sebaliknya.

Bahasa Tondano dapat diperkenalkan melalui cara-cara modern: media sosial, internet, video, tulisan, percakapan digital, dan komunitas daring.

Yang penting adalah bahasa tersebut tetap digunakan.

Kalau masih ada yang bisa berbahasa Tondano, mari ajarkan kepada yang belum bisa.

Kalau masih ada yang mengingat sebuah kata, mari tuliskan.

Kalau masih ada cerita dalam Bahasa Tondano, mari ceritakan kembali.

Dan kalau masih ada bahan-bahan lama yang tersimpan di rumah, di buku, atau dalam arsip pribadi, jangan biarkan semuanya hilang. Mari digitalisasikan.

Karena pada akhirnya, cara terbaik untuk melestarikan Bahasa Tondano bukan hanya dengan mengatakan:

"Lestarikan Bahasa Tondano."

Tetapi dengan terus menggunakan, mendokumentasikan, dan mendigitalisasikan Bahasa Tondano.

Bahasa kita adalah identitas kita.
Bahasa kita adalah warisan kita.
Dan tanggung jawab kita adalah memastikan warisan itu sampai kepada generasi berikutnya.

No comments: