BRIDGE
INDONESIA KESANDUNG DI HONGKONG
Oleh : Bert
Toar Polii
Suatu
kenyataan pahit harus diderita tim bridge Indonesia ketika mengikuti 37th
Pacific Asia Bridge Federation Champhionship di Hotel Regal Riverside Hongkong
8-18 Mei 1997 yang lalu.
Berbekal
segudang prestasi seperti medali perak Olympiade Bridge 1996 serta meraih
prestasi gemilang pada hampir semua rangkaian turnamen uji-coba , antara lain:
Juara tiga kali Australia Terbuka; Juara
NEC Bridge Festival 1977 di Jepang ternyata bukan jaminan sukses meraih
juara Pasific Asia Bridge Federation Championsip. Bahkan, tim Indonesia gagal
mengulang prestasi yang telah dilakukan secara berturut-turut tahun 1993 dan
tahun 1995 yaitu menjadi wakil Zone VI pada kejuaraan dunia Bermuda Bowl.
Tim
Indonesia yang diperkuat Munawar Sawirudin sebagai Kapten Tidak Bermain dengan
para pemain Henky Lasut-Eddy Manoppo, Denny Sacul-Taufik Asbi dan Sance
Panelewen-Franky Karwur harus mengakui keunggulan saingan beratnya China dan
Taiwan.
Hampir
sepanjang pertandingan, tim kita bermain dibawah standar. Setelah menyelesaikan
22 session babak pendahuluan, berada diurutan keempat dibawah Taiwan, China dan
Jepang. Taiwan sebagai juara babak pendahuluan
otomatis merebut Piala Rebullida Cup untuk kesepuluh kalinya. Hal ini
membuat persaingan antara Indonesia dan Taiwan dalam meraih piala Rebullida Cup
kini semakain ketat, kedua negara telah sama-sama meraih piala Rebullida Cup
sebanyak sepuluh kali. Beruntung Indonesia masih unggul dalam perebutan juara
PABF Congress. Sejak diadakan pertama kali tahun 1988 di Singapura, turnamen
yang berlangsung setiap empat tahun sekali, Indonesia telah berhasil menjuarai
dua kali yaitu tahun 1992 dan 1996 sedangkan Taiwan baru sekali di tahun 1988.
Pada
pertarungan menentukan wakil Zone VI untuk mengikuti Kejuaraan Dunia Bermuda
Bowl
yang
menggunakan sistim double knock-out, Indonesia kembali gagal menghadang
keperkasaan China dan Taiwan.
Pada
session pertama, Taiwan sebagai juara babak pendahuluan diberikan hak untuk
memilih. Taiwan memilih Jepang ketimbang
Indonesia, walaupun peringkat Jepang masih lebih baik dari Indonesia. Dengan
sendirinya Indonesia harus berhadapan dengan China.
Hal
ini memang telah diantisipasi sebelumnya oleh tim Indonesia. Frans Waleleng
sebagai Chief de Mission sebelum “captain’s meeting” mengungkapkan, Taiwan
tidak mungkin memilih kita sebagai lawannya, untuk itu kepada para pemain
dinstruksikan agar menyiapkan strategi melawan China.
Hasil
session pertama , Taiwan dan China keluar sebagai pemenang sehingga pada
session kedua mereka harus saling berhadapan demikian juga bagi regu yang kalah
yaitu Indonesia dan Jepang.
Pada
saat yang sangat menentukan, China yang kali ini turun dengan sebagian besar
pemain muda akhirnya mampu menundukan semifinalist olympiade bridge 1996 regu
Taiwan dan meraih tiket pertama mewakili
Zone VI ke Kejuaraan Dunia Bermuda Bowl yang akan berlangsung Oktober mendatang
di Hammamet, Tunisia.
Untuk
merebut jatah tiket kedua bagi Zone VI, regu Taiwan harus bertarung dengan
Indonesia yang memenangkan pertarungan dengan Jepang pada session kedua.
Pertarungan
yang sangat menegangkan antara kedua kubu ini berhasil dimenangkan Taiwan
dengan skor tipis 125-121 IMP. Hasil ini
sekaligus memupuskan harapan Indonesia untuk berlaga di kejuaraan dunia
Bermuda Bowl.
“Walaupun
kita gagal kali ini tetapi saya atas nama Pengurus Besar Gabsi menyampaikan
ucapan terima kasih kepada para pemain yang telah berjuang sekuat tenaga. Para
pemain telah melaksanakan pesan Ketua Umum PB GABSI Letjen TNI Wiranto saat
melepas tim dari markas Kostrad yaitu agar para atlet “peduli ,berbuat dan
bertanggung jawab”. Semoga kekalahan ini dapat menjadi pelajaran yang sangat
berharga buat kita semua demi mencapai apa yang kita cita-citakan yaitu menjadi
juara dunia tahun 2001 saat kejuaraan dunia Bermuda Bowl/Venice Cup berlangsung
di Indonesia” demikian diungkapkan Roy E. Tirtadji selaku Ketua Badan
Pembentukan dan Pembinaan Tim Nasional Gabungan Bridge Seluruh Indonesia dalam
pengarahannya setelah pertandingan selesai.
Kejutan dibagian Putri dan
Junior
Kegagalan
di bagian putra ternyata tidak mempengaruhi penampilan tim putri dan junior.
Tim putri yang terdiri dari Donny Tuerah, Kapten Tidak Bermain dengan para
pemain Lusye Bojoh, Joice Tueje-Mandolang, Sarce Pontoh, Linda Sitompul, Waya
Langkay dan Siti Haerani mampu melumpuhkan Jepang di session kedua babak double
knock-out dan pada session terakhir hanya kalah 9 IMP dari regu Taiwan.
Kekalahan
tipis dari regu Taiwan sekaligus membuyarkan harapan seluruh supporter
Indonesia yang sangat mendambakan tim putri kita mencatat sejarah baru lolos ke
kejuaraan dunia Venice Cup untuk pertama kali.. Regu China dan Taiwan yang juga
telah meraih juara 1 dan 2 Ckittakarchorn Cup akhirnya menjadi wakil Zone VI
untuk mengkuti Venice Cup yang penyelenggaraannya berbarengan dengan Bermuda
Bowl..
Sementara
itu regu Junior yang terdiri dari Arwin Budiraharja sebagai Kapten Tidak
Bermain dengan para pemain Leslie Gontha-Dirk Lumanauw, Bill Mondigir-Vabian
Lasut dan Vecky Manoppo-Syamsul Hidayat walaupun sudah berusaha sekuat tenaga
akhirnya harus tersingkir gara-gara 1 IMP. Pada session terakhir ketika melawan
Jepang, Indonesia kalah 3 IMP yang berarti kalah 16-14 VP. Dengan kekalahan
ini, Indonesia yang telah mengumpulkan 352,5 VP harus puas ditempat keempat
dibawah China 376 VP, Jepang 353,5 VP dan Taiwan 353 VP.
Seandainya
Indonesia pada pertarungan terakhir melawan Jepang hanya kalah 2 IMP atau 15-15
VP maka Indonesia akan berada di urutan kedua dan lolos mewakili Zone VI untuk
mengikuti Kejuaraan Dunia Junior di Kanada Agustus mendatang.
Kejuaraan Open Pairs
Kubu
Indonesia cukup terhibur ketika pasangan junior Leslie Gontha- Dirk
Lumanauw berhasil keluar sebagai juara
kedua dan Roy E. Tirtadji walaupun kini lebih banyak bertindak sebagai pembina
daripada bermain bridge berpasangan dengan penulis mampu keluar sebagai juara III kejuaraan pasangan
Pasific Asia Bridge Federation. Sebagai juara I diraih pasangan H.W. Wong-K.L.
Choy dari Hongkong.
Pertarungan
di Kejuaraan Pasangan yang diikuti 66 pasangan dibagi dalam2 session, babak
pendahuluan dan babak final. 26 pasangan
hasil babak pendahuluan ditambah 6 pasangan seeded dari China (sebagai
penghargaan atas lolosnya kedua regu China ke Bermuda Bowl dan Venice Cup)
bertanding di babak finall Pada pertaurangan babak final yang diadakan dengan
sistim Barometer, kedua pasangan Indonesia tidak mampu mengungguli pasangan H.W. Wong-K.L.
Choy. Kedua pemain ini selalu unggul dalam pengumpulan angka.
Pemain-pemain
Indonesia yang pernah menjadi juara open pairs PABF,Munawar Sawirudin-Irwan
Rasyid (1990), Bert Toar Polii-George Soo (1994) dan Henky Lasut-Eddy Manoppo
(1996)
Dua
papan yang menarik dari kejuaraan ini:
Trump Coup
Indonesia
vs Hongkong
Board
2 S KQ7
H
A10932
D A1075
C 7
S J83 S 9654
H J8765 H K
D J83 D ¨ 9642
C 32 C J1065
S A102
H Q4
D ¨ KQ
C
AKQ984
Barat Utara Timur Selatan
D.
Sacul Pauline Ling Taufik A Roger
Ling
P 2D (1)
P 2NT (2) P 4NT
(3)
P 5C (4) P 5NT
(5)
P 6C (6) P 7C
(1)
Multi
(2)
Positive
(3)
Tanya Ace. (4) 2 Aces
(5)
Tanya King (6) 1 King
Roger Ling seorang pemain yang sangat berpengalaman
dari Hongkong mampu menyelesaikan kontrak 7C secara manis memanfaatkan
kesalahan kecil yang dibuat pemain kita. Menerima lead C2 dan Timur mainkan C10 ( CJ lebih baik, mengingat
jarang sekali pemain berkelas akan lead dibawah J untuk kontrak
slem).Berdasarkan analisa bahwa CJ ada di Timur maka Roger
Ling cabut dua kali C main D KQ kemudian kemeja dengan HA, main DA ditangan “discard” HQ. Lanjutkan D yang di “ruff” dengan C8 kemudian main SA, SK, ruff ©
H dan kemeja dengan SQ dan akhirnya main H dari meja, Timur kena trump cup. Suatu
penyelesaian yang sangat indah.
Killing Lead
Indonesia
vs Thailand
Board
19 S J102
H
AKQ8732
D Void
C J109
S Q954 S AK86
H 5 H 94
D KJ82 D AQ654
C AK64 C 73
S 73
H J106
D 10973
C Q852
Barat Utara Timur Selatan
E.
Manoppo Adisorn K H. Lasut Pichai
N
P
1D 3H Dbl P
4S P 4NT P
5D P 6S All
pass
6D merupakan kontrak terbaik
buat pasangan Timur Barat tetapi karena utara preemptive 3H maka kontrak ini sulit dicapai.. Adisorn K
seorang pemain sangat berpengalaman dari Thailand menemukan lead yang sangat
mematikan H8 dan Pichai N tidak
menemukan kesulitan, beralih menyerang D setelah menang dengan H10 untuk menggugurkan kontrak.