Sunday, September 6, 2026

Paskah 2027 Masih Jauh, Justru Sekarang Waktu yang Tepat Menyiapkannya Mari Jo Ka Minahasa --- Nikmati Momen Paskah

 


Paskah 2027 Masih Jauh, Justru Sekarang Waktu yang Tepat Menyiapkannya

Mari Jo Ka Minahasa --- Nikmati Momen Paskah

Oleh: Bert Toar Polii

Paskah 2027 masih jauh.

Bahkan kalau kita melihat kalender hari ini, rasanya belum waktunya berbicara tentang Paskah. Tetapi justru karena masih jauh, sekarang adalah waktu yang paling tepat untuk mulai memikirkannya.

Paskah 2027 akan jatuh pada Minggu, 28 Maret, dengan Jumat Agung pada 26 Maret. Artinya, masih tersedia waktu berbulan-bulan untuk mempersiapkan sebuah konsep yang benar-benar matang.

Pertanyaannya sederhana:

Mengapa kita tidak mulai dari sekarang?

Saya pernah menulis di Kompasiana pada Mei 2022 dengan judul "Mari Jo Ka Minahasa -- Nikamati Momen Khusus Paskah." Gagasan dasarnya waktu itu sederhana: Minahasa memiliki sesuatu yang menarik dan khas, yaitu suasana Paskah yang tidak hanya berlangsung di dalam gereja, tetapi juga hadir dalam kehidupan masyarakat melalui taman Paskah, ornamen, pawai, berbagai perlombaan dan kegiatan komunitas.

Saya mengusulkan agar momen tersebut jangan hanya dinikmati oleh masyarakat Minahasa sendiri.

Mengapa tidak dijadikan daya tarik wisata?

Bukan untuk mengubah Paskah menjadi sekadar tontonan wisata.

Bukan pula untuk mengurangi nilai spiritualnya.

Sebaliknya, justru bagaimana nilai keagamaan, budaya, kreativitas masyarakat dan potensi pariwisata dapat berjalan bersama.

Minahasa mempunyai modal yang kuat

Paskah di Minahasa mempunyai suasana yang khas.

Ada ibadah.

Ada pawai.

Ada taman Paskah.

Ada ornamen yang dibuat dengan kreativitas luar biasa.

Ada kegiatan anak-anak dan pemuda.

Ada berbagai perlombaan.

Ada suasana gereja yang semarak.

Dan yang tidak kalah menarik, ada keterlibatan masyarakat.

Inilah yang sebenarnya menjadi modal utama sebuah destinasi wisata budaya.

Dalam tulisan saya tahun 2022, saya bahkan membayangkan Tondano sebagai salah satu pusat kegiatan. Gereja Sentrum Tondano dan Lapangan Sam Ratulangi dapat menjadi bagian dari pusat kegiatan, sementara berbagai kawasan kota dapat dihias dengan ornamen Paskah. Kegiatan olahraga, kuliner dan pertunjukan budaya juga dapat ikut memperkaya suasana.

Sekarang, setelah beberapa tahun berlalu, saya semakin yakin bahwa gagasan itu layak dipikirkan kembali.

Tetapi kali ini dengan pendekatan yang lebih serius.

Jangan menunggu Paskah tiba

Kesalahan yang sering kita lakukan adalah baru mulai berpikir ketika sebuah acara sudah dekat.

Ketika Paskah tinggal beberapa minggu, baru mencari panitia.

Baru mencari sponsor.

Baru membuat poster.

Baru menghubungi hotel.

Baru memikirkan transportasi.

Baru mencari pengisi acara.

Akhirnya semuanya dilakukan terburu-buru.

Padahal kalau ingin menjadikan Paskah sebagai salah satu daya tarik wisata Minahasa, yang harus dijual bukan hanya acaranya, tetapi pengalaman yang akan diperoleh pengunjung.

Karena itu, Paskah 2027 harus dipikirkan sebagai sebuah Paskah Season, bukan sekadar perayaan satu hari.

Bagaimana kalau Paskah Minahasa 2027 dibuat sebagai sebuah rangkaian?

Bayangkan seorang wisatawan datang ke Minahasa beberapa hari sebelum Jumat Agung.

Ia tidak hanya datang untuk menghadiri ibadah.

Ia bisa melihat berbagai taman Paskah.

Mengunjungi gereja-gereja tua.

Menikmati suasana kota Tondano.

Melihat ornamen Paskah di kampung-kampung.

Menikmati Danau Tondano.

Menyaksikan pertunjukan budaya.

Mencicipi kuliner Minahasa.

Mengunjungi UMKM.

Mengikuti jalan sehat atau kegiatan bersepeda.

Dan pada malam hari menikmati suasana kota yang sudah dihias dengan nuansa Paskah.

Dengan konsep seperti itu, Paskah menjadi pengalaman.

Bukan hanya acara.

Tondano bisa menjadi titik pusat

Tondano memiliki posisi yang menarik untuk dijadikan salah satu pusat kegiatan.

Kota ini memiliki sejarah, Danau Tondano, gereja-gereja tua, kawasan perkotaan, kuliner dan masyarakat yang dapat dilibatkan.

Bayangkan kalau Lapangan Sam Ratulangi ditata menjadi salah satu pusat kegiatan.

Di sana bisa dibuat Paskah Village atau Taman Paskah Minahasa.

Ada panggung budaya.

Ada UMKM.

Ada kuliner.

Ada kerajinan.

Ada pameran sejarah.

Ada informasi paket wisata.

Ada kegiatan anak-anak.

Dan tentu saja ada ruang yang cukup untuk kegiatan yang memiliki makna keagamaan.

Dari pusat kota, wisatawan kemudian dapat diarahkan untuk mengunjungi berbagai lokasi lain.

Dengan demikian, kegiatan tidak hanya terpusat di satu tempat.

Seluruh Minahasa ikut bergerak.

Jangan lupakan budaya Minahasa

Dalam diskusi mengenai pariwisata Sulawesi Utara yang saya tulis kembali pada 2025, saya pernah menyampaikan bahwa kita tidak harus meniru Bali.

Kita harus memanfaatkan apa yang kita miliki.

Minahasa memiliki kekayaan budaya sendiri.

Maengket.

Kolintang.

Musik bambu.

Cakalele.

Kuliner.

Tradisi masyarakat.

Keramahan orang Minahasa.

Danau Tondano.

Bentang alam pegunungan.

Semua itu dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata.

Paskah bisa menjadi salah satu pintu masuk untuk memperkenalkan kekayaan tersebut.

Bukan dengan membuat budaya sekadar sebagai pertunjukan tempelan, tetapi dengan melibatkan komunitas yang memang hidup dengan budaya tersebut.

Paskah dan ekonomi masyarakat

Hal lain yang tidak boleh dilupakan adalah ekonomi.

Kalau wisatawan datang, mereka membutuhkan tempat menginap.

Mereka makan.

Mereka menggunakan transportasi.

Mereka membeli oleh-oleh.

Mereka mencari tempat wisata.

Mereka membutuhkan pemandu.

Mereka membeli produk UMKM.

Artinya, kalau dirancang dengan baik, sebuah rangkaian Paskah dapat memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat.

Karena itu, pemerintah tidak perlu bekerja sendirian.

Justru harus dibuat kolaborasi besar.

Pemerintah daerah.

Gereja.

Jemaat.

Komunitas.

Pelaku pariwisata.

Hotel.

Restoran.

UMKM.

Seniman.

Budayawan.

Pemuda.

Media.

Diaspora Minahasa.

Dan tentu saja masyarakat umum.

Bagaimana dengan orang Minahasa di perantauan?

Ini juga menarik.

Orang Minahasa yang tinggal di Jakarta, Bandung, Surabaya, Makassar, Papua, bahkan di luar negeri, tentu memiliki kerinduan untuk pulang.

Kalau Paskah Minahasa 2027 dipersiapkan jauh-jauh hari, mengapa tidak dibuat sebagai momentum "Pulang Kampung Paskah"?

Bukan sekadar pulang untuk bertemu keluarga.

Tetapi pulang sekaligus menikmati suasana Paskah di tanah leluhur.

Bayangkan promosi:

"Paskah 2027 --- Mari Jo Pulang Ka Minahasa."

Ini bisa menjadi kampanye yang sangat kuat.

Jangan hanya Tondano

Tondano boleh menjadi salah satu pusat.

Tetapi jangan sampai Paskah Minahasa hanya menjadi acara Tondano.

Setiap wilayah memiliki kesempatan menampilkan kekhasannya.

Tomohon mempunyai karakter sendiri.

Kawangkoan mempunyai kuliner.

Langowan mempunyai kekayaan budaya.

Remboken memiliki Danau Tondano.

Sonder, Kawangkoan, Tumpaan, Amurang dan wilayah lainnya mempunyai potensi masing-masing.

Dengan demikian, wisatawan bisa dibuat tinggal lebih lama.

Datang ke satu tempat.

Kemudian bergerak ke tempat lain.

Paskah menjadi pintu masuk untuk mengenal Minahasa secara lebih luas.

Persiapannya justru harus dimulai sekarang

Kalau ide ini dianggap bagus, tidak ada alasan menunggu sampai awal 2027.

Justru mulai sekarang dapat dilakukan hal-hal sederhana:

Membentuk tim kecil untuk menyusun konsep.

Mendata kegiatan Paskah yang sudah berjalan di berbagai wilayah.

Memilih kegiatan yang dapat dikembangkan.

Menyusun kalender Paskah 2027.

Menghubungkan gereja dan komunitas.

Mengajak pemerintah daerah.

Mencari mitra swasta.

Mendata hotel dan homestay.

Mendata UMKM.

Menyusun paket wisata.

Menyiapkan promosi digital.

Dan yang terpenting, menentukan siapa melakukan apa.

Tidak harus langsung besar.

Yang penting konsepnya jelas.

Jangan sampai ide ini berhenti sebagai tulisan

Saya menyadari bahwa tulisan seperti ini mudah sekali dibaca, kemudian dilupakan.

Karena itu saya justru berharap tulisan ini menjadi bahan diskusi.

Kalau memang dianggap tidak layak, katakan tidak layak.

Kalau terlalu sulit, mari kita cari bagian yang bisa dilakukan.

Tetapi kalau dianggap sebagai ide yang baik, mari kita mulai memikirkan bagaimana mewujudkannya.

Sebab Paskah 2027 masih jauh.

Dan justru itu keuntungannya.

Kita masih mempunyai waktu untuk membuat perencanaan.

Masih mempunyai waktu untuk mencari dukungan.

Masih mempunyai waktu untuk mengajak masyarakat.

Masih mempunyai waktu untuk mencari sponsor.

Masih mempunyai waktu untuk mempromosikan.

Masih mempunyai waktu untuk memperbaiki kekurangan.

Dan masih mempunyai waktu untuk membuat sesuatu yang sederhana menjadi besar.

Minahasa tidak perlu menunggu menjadi Bali

Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa Minahasa harus menjadi seperti Bali.

Tidak.

Minahasa harus menjadi Minahasa.

Kita mempunyai sejarah sendiri.

Budaya sendiri.

Tradisi sendiri.

Alam sendiri.

Karakter masyarakat sendiri.

Dan salah satu kekuatan yang kita miliki adalah suasana Paskah yang sudah hidup di tengah masyarakat.

Tinggal bagaimana sesuatu yang sudah ada itu ditata, dikemas dan dipromosikan dengan baik.

Dalam tulisan saya tentang pariwisata Sulawesi Utara, saya pernah menyampaikan bahwa sebenarnya Sulut mempunyai banyak kegiatan yang dapat mengisi kalender pariwisata sepanjang tahun. Paskah hanyalah salah satunya.

Karena itu, mungkin inilah saatnya kita berhenti berpikir bahwa wisatawan hanya datang ke Sulawesi Utara untuk melihat Bunaken.

Mereka bisa datang untuk merasakan Minahasa.

Dan Paskah bisa menjadi salah satu pintu masuknya.

Mari Jo Ka Minahasa

Paskah 2027 memang masih jauh.

Tetapi kalau kita ingin membuatnya menjadi sesuatu yang berbeda, jangan tunggu sampai Paskah sudah di depan mata.

Mulai sekarang kita bicara.

Mulai sekarang kita berdiskusi.

Mulai sekarang kita menyusun konsep.

Mulai sekarang kita mengajak pemerintah, gereja, pelaku usaha, komunitas dan masyarakat.

Kalau akhirnya hanya menjadi sebuah kegiatan kecil, tidak apa-apa.

Tetapi kalau dari sebuah gagasan kecil kemudian lahir sebuah tradisi baru yang setiap tahun dinanti orang, tentu akan jauh lebih baik.

Mari Jo Ka Minahasa.

Mari Nikamati Momen Paskah.

Dan untuk Paskah 2027, mungkin slogan yang paling tepat adalah:

"Paskah 2027 --- Mari Jo Pulang Ka Minahasa."

Karena yang kita tawarkan bukan sekadar sebuah acara.

Kita menawarkan pengalaman.
Kita menawarkan budaya.
Kita menawarkan kerinduan untuk pulang.
Dan yang paling penting, kita tetap menjaga makna Paskah itu sendiri

No comments: