Tuesday, September 8, 2026

🏆 JUARA BERTAHAN DATANG KE HAINAN 🇮🇩 Indonesia Siap Mempertahankan Gelar U31 APBF Youth Championships 2026

 


🏆 JUARA BERTAHAN DATANG KE HAINAN

🇮🇩 Indonesia Siap Mempertahankan Gelar U31 APBF Youth Championships 2026

23–28 September 2026 | Hainan, China

Generasi muda bridge Asia-Pasifik kembali berkumpul.

Dari 23 sampai 28 September 2026, Hainan, China, akan menjadi panggung 26th Asia Pacific Bridge Federation Youth Championships, sebuah kejuaraan yang sangat penting dalam kalender pembinaan bridge di kawasan Asia-Pasifik.

Dan tahun ini perhatian kita tentu tertuju kepada satu tim:

🇮🇩 TIM U31 INDONESIA

Bukan karena Indonesia sekadar ikut.

Indonesia datang ke Hainan sebagai JUARA BERTAHAN U31.

Setelah merebut gelar U31 pada APBF Youth Championships 2025 di Ayutthaya, Thailand, Indonesia kembali mengirimkan tim untuk mempertahankan mahkota tersebut.

Pada 2025, Indonesia tampil luar biasa dan berhasil mengalahkan China di babak final untuk merebut medali emas U31. Kemenangan itu sekaligus membawa Indonesia menjadi wakil Zone 6 Asia-Pasifik ke 19th World Youth Team Championships di Salsomaggiore, Italia.

Kini satu tahun kemudian, tantangan baru sudah menunggu.

Dan kali ini Indonesia akan tampil secara mandiri di kategori U31 Open.


🏆 EMPAT PEMAIN JUARA BERTAHAN KEMBALI

Komposisi tim Indonesia 2026 sangat menarik.

Dari enam pemain yang didaftarkan, empat merupakan bagian dari tim yang merebut gelar U31 APBF 2025:

  • Della Ayu Nobira

  • Desy Noervita Rahayu

  • Dewita Sonya Tarabunga

  • Stefanus Endras Wijayanto

Dua pemain lainnya adalah:

  • Fransisca Martanti

  • Muhammad Hasyimi

Keenam nama tersebut tercantum dalam daftar resmi peserta U31 Xiao Jiang Cup di situs Chinese Contract Bridge Association (CCBA).

Jadi, meskipun ada perubahan komposisi dibandingkan tim juara 2025, Indonesia tetap membawa empat pemain yang sudah merasakan tekanan dan atmosfer menjadi juara Asia-Pasifik.

Dan dua pemain tambahan bukanlah pemain baru di arena internasional.

Justru sebaliknya.

Fransisca dan Hasyimi membawa pengalaman panjang dari generasi youth Indonesia sebelumnya.


🌟 FRANSISCA MARTANTI: DARI SALSOMAGGIORE KE U31

Nama Fransisca Martanti mempunyai perjalanan yang sangat menarik dalam sejarah pembinaan bridge youth Indonesia.

Jauh sebelum masuk kelompok U31, Fransisca sudah mengenakan seragam Merah Putih pada kejuaraan internasional youth.

Pada 20th Youth Asia Pacific Bridge Federation Championships di Bangkok tahun 2015, Fransisca tampil untuk Indonesia pada kategori Girls bersama Gabriela Bindi Desi Eva. Indonesia meraih medali perak dan memperoleh tiket ke kejuaraan dunia.

Setahun kemudian, pengalaman tersebut berlanjut ke panggung dunia.

Pada 16th World Youth Team Championships 2016 di Salsomaggiore, Italia, Fransisca memperkuat tim Girls U26 Indonesia bersama:

Gabriela Bindi Desi Eva, Yunita Fytry, Ernis Sefita, Elsya S. Ningtias dan Fortina Mora Sibuea.

Hasilnya luar biasa.

Indonesia berhasil menembus semifinal dan akhirnya menempati peringkat keempat dunia.

Dalam perjalanan menuju semifinal, Indonesia bahkan berhasil mengalahkan tim unggulan China sebelum akhirnya kalah dari Australia di semifinal dan kembali kalah dari Norwegia dalam perebutan tempat ketiga.

Pengalaman tersebut membuat Fransisca menjadi salah satu pemain yang memiliki kesinambungan perjalanan youth yang sangat panjang.

Pada 2023, ketika Indonesia kembali tampil dalam rangkaian APBF Youth Championships dan World Youth Teams Championships, Fransisca kembali menjadi bagian dari tim. Bahkan ia disebut sebagai satu-satunya pemain yang tampil pada rangkaian event 2016, 2023 dan generasi berikutnya.

Artinya, Fransisca bukan sekadar tambahan pemain untuk tim U31 2026.

Ia membawa pengalaman beberapa generasi pembinaan youth Indonesia.

Dan pengalaman bermain di Salsomaggiore tentu merupakan modal yang sangat berharga ketika harus menghadapi pertandingan internasional dengan tekanan tinggi.


🌟 MUHAMMAD HASYIMI: PERJALANAN PANJANG SEJAK YOUNGSTERS

Nama Muhammad Hasyimi juga mempunyai cerita yang tidak kalah menarik.

Perjalanan internasionalnya sudah dimulai ketika ia masih berada pada kelompok usia yang jauh lebih muda.

Pada 20th Youth APBF Championships 2015 di Bangkok, Hasyimi memperkuat Indonesia pada kategori Youngsters, berpasangan dengan Ali Akbar. Indonesia memang hanya finis di peringkat kelima pada kategori tersebut, tetapi pengalaman internasional itu menjadi bagian dari proses panjang pembentukan Hasyimi sebagai pemain nasional.

Dua tahun kemudian, pada APBF 2017, Hasyimi kembali memperkuat tim Junior Indonesia bersama Ali Akbar.

Bersama Andy Pramana/Restu Narendra dan Healtho B. Argario/Zulfikar AP, tim Junior Indonesia berhasil memperoleh tiket menuju Kejuaraan Dunia Junior 2018.

Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa Hasyimi sudah melewati beberapa jenjang pembinaan:

Youngsters → U21 → U26 → U31.

Dengan kata lain, ia juga bukan pemain baru.

Ia adalah produk dari proses pembinaan youth Indonesia yang sudah berlangsung cukup panjang.

Bahkan dalam beberapa tahun terakhir Hasyimi masih dipercaya memperkuat tim nasional pada berbagai kategori, termasuk ketika tampil bersama tim Mixed Indonesia pada APBF 2025.


🔥 KOMBINASI JUARA DAN PENGALAMAN

Di sinilah kekuatan menarik tim Indonesia 2026.

Komposisinya bukan sekadar:

empat pemain lama + dua pemain baru.

Tetapi lebih tepat disebut:

Empat juara bertahan + dua pemain berpengalaman lintas generasi.

Empat pemain membawa pengalaman langsung dari kemenangan 2025:

🇮🇩 Della Ayu Nobira
🇮🇩 Desy Noervita Rahayu
🇮🇩 Dewita Sonya Tarabunga
🇮🇩 Stefanus Endras Wijayanto

Sementara Fransisca dan Hasyimi membawa pengalaman panjang dari perjalanan youth Indonesia sebelumnya.

Kombinasi seperti ini tentu menarik.

Ada pemain yang sudah tahu bagaimana rasanya menjadi juara.

Ada pemain yang sudah mengalami tekanan Kejuaraan Dunia.

Ada pemain yang sudah bertanding di berbagai kelompok usia.

Dan semuanya sekarang harus menyatu menjadi satu tim.


🇮🇩 EMPAT PEMAIN JUARA 2025

Untuk memahami kualitas tim ini, kita perlu kembali sebentar ke Thailand.

Pada APBF Youth Championships 2025 di Ayutthaya, Indonesia turun dengan:

Rachma Shaumi – Dewita Sonya Tarabunga
Mohammad Shahbana Satriawan – Stefanus Endras Wijayanto
Della Ayu Nobira – Desy Noervita Rahayu

Di bawah Team Manager Dr. Eng. Nenen R. Djauhaari ep. Sastramihardja, Coach Very Pangkerego, dan NPC Tonny P. Sastramihardja, Indonesia berhasil menjuarai U31 setelah mengalahkan China di final.

Keberhasilan tersebut kemudian membawa tim Indonesia ke 19th World Youth Team Championships di Salsomaggiore, Italia sebagai wakil Zone 6 Asia-Pasifik.

Kini Rachma dan Shahbana tidak lagi berada dalam susunan tim U31 Hainan 2026.

Tetapi empat pemain lainnya tetap ada.

Dan mereka membawa sesuatu yang sangat berharga:

pengalaman menjadi juara.


🌏 HAINAN 2026: TANTANGANNYA BERBEDA

Kejuaraan tahun ini diselenggarakan di Hainan, China, pada 23–28 September.

Menurut CCBA, penyelenggaranya adalah Board and Card Games Administrative Center of the General Administration of Sport of China bersama Chinese Contract Bridge Association, sementara Asia Pacific Bridge Federation (APBF) bertindak sebagai host.

Venue pertandingan berada di Hainan, China.

Dan kategori U31 akan memperebutkan Xiao Jiang Cup.

Yang menarik, berdasarkan daftar resmi CCBA saat ini, nomor U31 diikuti oleh empat tim:

🇸🇬 Singapore
🇨🇳 Chinese Taipei
🇨🇳 China U31
🇮🇩 Indonesia

Dengan hanya empat tim, setiap pertandingan tentu sangat penting.

Tidak ada ruang untuk terlalu banyak melakukan kesalahan.

Setiap session dapat menentukan posisi akhir.


🇨🇳 CHINA: LAWAN DAN TUAN RUMAH

China tentu menjadi salah satu lawan yang paling menarik.

Selain bermain di kandang sendiri, China juga mempunyai tradisi pembinaan bridge youth yang kuat.

Lebih menarik lagi, China adalah tim yang pernah dikalahkan Indonesia pada final U31 APBF Youth Championships 2025.

Karena itu, pertandingan Indonesia-China di Hainan akan mempunyai cerita tersendiri.

Apakah Indonesia mampu mengulang keberhasilan di Thailand?

Atau justru tuan rumah akan membalas kekalahan tersebut di kandangnya sendiri?

Itulah salah satu duel yang patut ditunggu.


🇸🇬 SINGAPORE DAN CHINESE TAIPEI

Dua lawan lainnya juga tidak boleh diremehkan.

Singapore selama ini merupakan salah satu negara yang konsisten mengembangkan bridge youth di Asia.

Sementara Chinese Taipei juga memiliki tradisi kuat dalam pembinaan pemain muda.

Menariknya, Chinese Taipei merupakan tim yang dikalahkan Indonesia pada semifinal U31 APBF Youth Championships 2025 sebelum Indonesia kemudian menghadapi China di final.

Artinya, ketiga lawan Indonesia di Hainan bukanlah nama asing.

Mereka sudah pernah bertemu dalam persaingan youth Asia-Pasifik.


🏆 BUKAN SEKADAR MEMPERTAHANKAN GELAR

Tentu target pertama Indonesia adalah mempertahankan gelar.

Tetapi ada makna yang jauh lebih besar.

U31 adalah jembatan menuju tim nasional senior.

Pemain yang sekarang berusia di bawah 31 tahun akan menjadi bagian penting dari kekuatan bridge Indonesia pada tahun-tahun mendatang.

Karena itu, keberhasilan mempertahankan gelar akan memberikan lebih dari sekadar medali emas.

Ia akan memberikan:

  • kepercayaan diri kepada pemain;

  • pengalaman bertanding internasional;

  • pengalaman menghadapi tekanan;

  • kesempatan menguji partnership;

  • pengalaman bermain dengan sistem pertandingan internasional;

  • dan yang paling penting, keyakinan bahwa regenerasi Indonesia berjalan dengan baik.


🌱 REGENERASI ADALAH TARGET JANGKA PANJANG

Bridge Indonesia mempunyai sejarah panjang menghasilkan pemain-pemain hebat.

Tetapi setiap generasi akhirnya harus digantikan oleh generasi berikutnya.

Karena itu, program youth tidak boleh hanya dinilai berdasarkan apakah Indonesia memenangkan satu kejuaraan atau tidak.

Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:

Siapa pemain yang akan menjadi tulang punggung tim nasional Indonesia lima atau sepuluh tahun mendatang?

Della.

Desy.

Dewita.

Stefanus.

Fransisca.

Hasyimi.

Nama-nama tersebut sekarang mempunyai kesempatan untuk membuktikan diri.

Dan bagi Fransisca serta Hasyimi, Hainan juga merupakan bagian dari perjalanan panjang yang sudah mereka mulai sejak masih bermain di kelompok usia yang lebih muda.


🇮🇩 INDONESIA TIDAK DATANG UNTUK BELAJAR SAJA

Tentu pengalaman adalah bagian penting dari kejuaraan youth.

Tetapi Indonesia tidak datang ke Hainan hanya untuk belajar.

Indonesia datang sebagai juara bertahan.

Itu berarti standar yang harus dipasang juga berbeda.

Tidak perlu takut kepada China.

Tidak perlu minder terhadap Singapore.

Tidak perlu gentar menghadapi Chinese Taipei.

Di meja bridge, semua kembali menjadi empat pemain melawan empat pemain.

Kartu dibagikan secara fair.

Dan hasil akhirnya ditentukan oleh bagaimana setiap pasangan memainkan kartunya.


🎯 APA YANG AKAN MENENTUKAN?

Ada beberapa faktor yang menurut saya akan sangat menentukan perjalanan Indonesia.

1. Konsistensi

Kejuaraan beregu tidak dimenangkan hanya dengan satu atau dua session bagus.

Yang dibutuhkan adalah konsistensi dari awal sampai akhir.

2. Partnership

Indonesia mempunyai enam pemain yang harus dibentuk menjadi kombinasi partnership yang paling efektif.

Pengalaman dan chemistry akan sangat menentukan.

3. Mental

Ini mungkin faktor paling penting.

Kesalahan kecil di bridge bisa menghasilkan swing besar.

Pemain harus mampu melupakan board yang buruk dan segera kembali fokus pada board berikutnya.

4. Strategi

Dengan hanya empat tim, strategi memainkan pemain dan pasangan menjadi sangat penting.

Siapa yang bermain melawan siapa, kapan melakukan rotasi dan bagaimana menjaga stamina dapat menentukan hasil akhir.

5. Pengalaman

Di sinilah Fransisca dan Hasyimi dapat memberikan kontribusi besar.

Mereka sudah merasakan pertandingan internasional sejak usia muda.

Mereka tahu bagaimana atmosfer pertandingan besar.

Dan pengalaman tersebut dapat membantu pemain yang lebih muda menghadapi tekanan.


🌟 DUA GENERASI DALAM SATU TIM

Ada sesuatu yang menarik dari tim Indonesia kali ini.

Jika melihat perjalanan Fransisca dan Hasyimi, mereka sebenarnya menjadi semacam jembatan antara beberapa generasi pemain youth Indonesia.

Fransisca sudah bermain di Salsomaggiore 2016.

Hasyimi sudah tampil di APBF sejak 2015.

Kemudian muncul generasi Della, Desy, Dewita dan Stefanus.

Kini mereka berada dalam satu tim.

Ini bukan hanya cerita tentang enam pemain.

Ini adalah cerita tentang regenerasi bridge Indonesia.


🇮🇩 MISI HAINAN

Jadi, ketika keenam pemain Indonesia duduk di meja pertandingan di Hainan nanti, mereka tidak hanya membawa kartu.

Mereka membawa:

gelar juara bertahan,

pengalaman Kejuaraan Dunia,

pengalaman APBF,

pengalaman lintas kelompok usia,

dan tentu saja

nama besar Indonesia.

Tantangannya jelas.

Pertahankan gelar.

Tetapi perjalanan menuju ke sana tidak akan mudah.

China ingin merebutnya di kandang sendiri.

Singapore ingin menunjukkan kekuatannya.

Chinese Taipei juga ingin membalas kekalahan sebelumnya.

Dan Indonesia harus membuktikan bahwa kemenangan 2025 bukan kebetulan.


🏆 BISAKAH INDONESIA BACK-TO-BACK?

Inilah pertanyaan terbesar menjelang Hainan.

Bisakah Indonesia menjadi juara U31 APBF Youth Championships dua tahun berturut-turut?

Empat pemain sudah pernah merasakan emas.

Dua pemain lainnya membawa pengalaman panjang dari generasi youth sebelumnya.

Sekarang semuanya tergantung bagaimana mereka menyatukan pengalaman tersebut menjadi satu kekuatan.

Tidak ada yang perlu ditakuti.

Tidak ada yang mustahil.

Duduk di meja.

Fokus pada setiap board.

Mainkan bridge terbaik.

Dan berjuang sampai board terakhir.

Karena Indonesia bukan datang sebagai pendatang baru.

Indonesia datang sebagai JUARA BERTAHAN.

Dan di Hainan nanti, Merah Putih mempunyai satu misi:

🇮🇩 PERTAHANKAN GELAR!

Selamat berjuang Tim U31 Indonesia!

Della – Desy – Dewita – Stefanus – Fransisca – Hasyimi

Indonesia BISA! 🇮🇩🏆


DATA KEJUARAAN

26th Asia Pacific Bridge Federation Youth Championships 2026
📅 23–28 September 2026
📍 Hainan, China
🏆 U31 Open – Xiao Jiang Cup
🇮🇩 Indonesia – Juara Bertahan U31

Peserta U31 yang tercatat di CCBA:
🇸🇬 Singapore
🇨🇳 Chinese Taipei
🇨🇳 China U31
🇮🇩 Indonesia

Sumber utama: Chinese Contract Bridge Association (CCBA) dan catatan resmi GABSI mengenai kemenangan Indonesia pada APBF Youth Championships 2025.

No comments: