Monday, September 14, 2026

Bridge Bukan Judi, Melainkan Olahraga Otak

 


Bridge Bukan Judi, Melainkan Olahraga Otak

Oleh: Bert Toar Polii – Tukang Bridge


Ada satu persoalan yang sejak dahulu sering menjadi tantangan dalam memperkenalkan bridge kepada masyarakat Indonesia: bridge menggunakan kartu.

Bagi sebagian orang, kartu langsung mengingatkan pada permainan judi. Padahal, menggunakan kartu tidak otomatis berarti berjudi. Yang menentukan apakah sebuah permainan merupakan judi atau bukan adalah unsur taruhan dan perjudian yang menyertainya.

Di sinilah kita perlu membedakan dengan jelas antara permainan kartu untuk berjudi dan Contract Bridge sebagai cabang olahraga.

Bridge menggunakan kartu, tetapi bukan permainan judi

Bridge atau lebih lengkap Contract Bridge memang menggunakan 52 kartu sebagai alat permainan. Namun kartu hanyalah media dalam olahraga ini.

Dalam pertandingan bridge resmi, pemain tidak mempertaruhkan uang berdasarkan kartu yang mereka dapatkan. Mereka bertanding berdasarkan kemampuan mengelola informasi, membuat keputusan, melakukan komunikasi melalui bidding, menghitung kemungkinan, membaca situasi dan bekerja sama dengan pasangan.

Karena itulah bridge dikenal sebagai salah satu mind sport atau olahraga otak.

Bridge bahkan memiliki banyak kesamaan dengan catur. Keduanya membutuhkan konsentrasi, strategi, perencanaan, kemampuan menghitung dan mengambil keputusan.

Perbedaannya, dalam bridge terdapat unsur ketidakpastian kartu, sehingga kemampuan pemain bukan hanya menentukan langkah terbaik, tetapi juga bagaimana mengambil keputusan berdasarkan informasi yang tersedia.

Bridge justru sangat menekankan kejujuran

Salah satu hal yang menarik dalam bridge adalah prinsip transparansi dan sportivitas.

Dalam pertandingan resmi, setiap pemain mempunyai kewajiban memberikan informasi yang benar sesuai aturan.

Sistem penawaran atau bidding menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Ketika sebuah penawaran mempunyai arti khusus, pasangan lawan dapat meminta penjelasan melalui prosedur yang dikenal sebagai alert.

Jawaban terhadap alert harus diberikan secara benar, singkat dan jelas.

Jika seorang pemain atau pasangan memberikan informasi yang tidak benar atau menyesatkan, mereka dapat dikenai penalty sesuai peraturan pertandingan.

Dengan demikian, bridge justru merupakan olahraga yang sangat ketat dalam masalah kejujuran dan keterbukaan informasi.

Dummy harus membuka seluruh kartunya

Ada satu hal lagi yang membedakan bridge dari permainan kartu biasa.

Setelah kontrak ditentukan, pemain yang menjadi dummy harus membuka seluruh kartunya di atas meja.

Semua kartu dummy dapat dilihat oleh declarer, defender maupun pengawas pertandingan.

Artinya, dalam posisi tersebut tidak ada kartu yang disembunyikan dari pemain yang memang berhak melihatnya.

Sistem seperti ini merupakan bagian dari mekanisme pertandingan bridge untuk memastikan permainan berlangsung secara transparan dan sesuai aturan.

Karena itu, menyamakan bridge dengan permainan kartu yang digunakan untuk berjudi adalah sebuah kesalahpahaman yang perlu diluruskan.

Bagaimana pandangan ulama?

Yang menarik, persoalan ini sebenarnya sudah pernah dibahas secara khusus di Indonesia.

Pada 22 April 2012, Dewan Pimpinan Pusat Majelis Silaturrahim Kyai dan Pengasuh Pondok Pesantren se-Indonesia mengeluarkan surat Nomor 007/DPP/MSKP31/IV/2012 dengan perihal:

“Tausiyah Tentang Olah Raga Bridge.”

Surat tersebut ditujukan kepada Bapak H. Dahlan Iskan, yang ketika itu menjabat Ketua Umum Pengurus Besar GABSI.

Dalam surat tersebut dijelaskan bahwa setelah membaca surat Ketua Umum PB GABSI Nomor 500/PBGABSI/IV/2012 dan mendengarkan masukan anggota MSKP31 berdasarkan referensi kitab-kitab ulama salafusshalih, mereka memberikan tanggapan mengenai olahraga bridge.

Poin pentingnya sangat menarik.

Pertama: olahraga bridge pada prinsipnya mubah

Dalam tausiyah tersebut dinyatakan bahwa pada prinsipnya hukum asal berbagai bentuk olahraga, termasuk olahraga bridge, adalah mubah.

Kemudian olahraga dapat menjadi sesuatu yang dianjurkan karena olahraga merupakan aktivitas yang dapat membantu membentuk kesehatan fisik maupun mental.

Namun, surat tersebut juga mengakui bahwa terdapat sebagian ulama yang memberikan pandangan berbeda terhadap permainan tertentu yang menggunakan dadu, kartu dan sejenisnya karena dikhawatirkan menyebabkan seseorang lalai terhadap kewajiban agama atau menjadi sarana perjudian.

Kedua: permainan kartu boleh sepanjang memenuhi syarat

Bagian ini sangat penting untuk diketahui.

Dalam tausiyah tersebut disebutkan bahwa sebagian ulama berpandangan olahraga bermain kartu hukumnya mubah atau boleh, sepanjang memenuhi beberapa syarat.

Tiga syarat yang disebutkan adalah:

A. Tidak menyebabkan tertundanya sholat.

B. Tidak bercampur dengan unsur judi.

C. Tidak berkata-kata kotor, termasuk bergunjing.

Jadi, persoalannya bukan semata-mata kartunya, tetapi bagaimana permainan tersebut dilakukan dan apakah terdapat unsur-unsur yang dilarang.

Dokumen tersebut bahkan menutup dengan harapan:

“Semoga Olahraga Bridge dapat berkembang dengan baik sesuai dengan syariat agama Islam dan diridhai Allah SWT.”

Ini adalah dokumen yang menurut saya penting untuk diketahui oleh masyarakat bridge Indonesia.

Pernah menjadi hambatan dalam perkembangan bridge

Stigma bahwa bridge adalah permainan judi memang pernah menjadi salah satu hambatan dalam usaha memasyarakatkan olahraga ini di Indonesia.

PB GABSI pernah menghadapi berbagai penolakan. Bahkan dalam perjalanan sejarahnya, bridge pernah mengalami kesulitan untuk masuk dan bertahan dalam program olahraga pelajar.

Hal seperti ini sebenarnya tidak hanya terjadi di Indonesia.

Malaysia Contract Bridge Association juga pernah menghadapi persoalan serupa dalam upaya memperkenalkan bridge kepada masyarakat.

Padahal, kalau bridge dipahami sebagai olahraga, yang terlihat justru adalah unsur pendidikan dan pengembangan kemampuan berpikir.

Bridge masuk sekolah

Untungnya, keadaan perlahan berubah.

Para pebridge yang peduli terhadap masa depan olahraga ini terus memperkenalkan bridge kepada generasi muda.

Di sejumlah daerah, bridge mulai masuk ke sekolah sebagai kegiatan ekstrakurikuler.

Bahkan ada sekolah-sekolah Islam di Jawa Timur yang memberikan kesempatan kepada muridnya untuk memilih bridge sebagai salah satu kegiatan ekstrakurikuler.

Di Amuntai, Kalimantan Selatan, pelajar yang berlatih bridge bahkan pernah memanfaatkan aula masjid sebagai tempat latihan.

Bagi saya, ini merupakan gambaran yang sangat menarik.

Kalau bridge identik dengan judi, tentu akan sulit membayangkan olahraga ini mendapatkan ruang di lingkungan pendidikan dan tempat yang mempunyai nilai keagamaan.

Tetapi ketika bridge ditempatkan pada konteks yang benar—sebagai olahraga, permainan strategi dan olahraga otak—pandangan masyarakat pun dapat berubah.

Aceh juga pernah menjadi bagian dari perjalanan ini

Ketika PB GABSI akan menyelenggarakan Kejurnas Bridge di Aceh, persoalan mengenai pandangan agama terhadap bridge juga menjadi perhatian.

PB GABSI bahkan berupaya mendapatkan pandangan keagamaan dari pihak yang berwenang di Aceh untuk mendukung penyelenggaraan kegiatan tersebut.

Ini menunjukkan bahwa sejak dahulu para pengurus bridge Indonesia menyadari bahwa perkembangan olahraga ini tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis dan organisasi.

Bridge juga harus mampu menjelaskan kepada masyarakat bahwa olahraga bridge berbeda dengan perjudian.

Jangan melihat kartunya, lihat olahraganya

Mungkin inilah pesan terpenting yang perlu kita sampaikan.

Jangan hanya melihat bahwa bridge menggunakan kartu, kemudian langsung menyimpulkan bahwa bridge adalah judi.

Kartu hanyalah alat.

Seperti bola yang bisa digunakan untuk bermain sepak bola tetapi juga bisa digunakan untuk hal lain, kartu juga dapat menjadi media untuk berbagai aktivitas.

Yang membedakan adalah aturan, tujuan dan bagaimana permainan itu dilakukan.

Dalam bridge olahraga, tidak ada taruhan sebagai bagian dari pertandingan. Yang diperebutkan adalah prestasi.

Yang diuji adalah kemampuan berpikir.

Yang dibangun adalah sportivitas, konsentrasi, komunikasi dan kerja sama.

Dan yang paling penting, seperti ditegaskan dalam tausiyah tahun 2012 tersebut, olahraga kartu dapat dilakukan sepanjang tidak mengandung judi, tidak melalaikan kewajiban sholat dan tidak disertai perkataan kotor maupun bergunjing.

Sebuah dokumen sejarah yang penting

Dokumen yang saya tampilkan bersama tulisan ini mungkin sudah berusia lebih dari 14 tahun.

Tetapi isinya masih sangat relevan.

Surat tersebut bukan sekadar dokumen administratif. Ia merupakan bagian dari sejarah perjuangan bridge Indonesia untuk mendapatkan pengakuan bahwa Contract Bridge adalah olahraga, bukan perjudian.

Karena itu, dokumen seperti ini sebaiknya tidak hilang begitu saja.

Generasi bridge sekarang perlu mengetahui bahwa sebelum mereka dapat bermain bridge dengan bebas di berbagai tempat, sudah ada generasi sebelumnya yang harus menghadapi berbagai kesalahpahaman tentang olahraga ini.

Dan perjuangan itu belum selesai.

Kita masih perlu terus menjelaskan kepada masyarakat:

BRIDGE BUKAN JUDI.

BRIDGE ADALAH OLAHRAGA OTAK.

Bermain bridge dengan benar berarti bertanding dengan aturan, sportivitas, kejujuran dan prestasi.


Catatan sejarah: Surat yang dilampirkan bertanggal 22 April 2012, Nomor 007/DPP/MSKP31/IV/2012, dengan perihal Tausiyah Tentang Olah Raga Bridge. Dokumen tersebut ditandatangani atas nama Dewan Pimpinan Pusat Majelis Silaturrahim Kyai dan Pengasuh Pondok Pesantren se-Indonesia, dengan KH. Nder Muhammad Iskandar, SQ sebagai Ketua Umum. Pada bagian akhir, dokumen mencantumkan rujukan antara lain At-Tamhid karya Al-Hafidz Ibnul-Bar dan Al-Qurtubi.

Jawa Tondano, Berkah untuk Tondano: Ketika Perbedaan Menjadi Kekuatan


 

Jawa Tondano, Berkah untuk Tondano: Ketika Perbedaan Menjadi Kekuatan

Oleh: Bert Toar Polii – Tukang Bridge

Ada satu pernyataan yang cukup menggelitik pikiran tukang bridge ketika mengikuti rapat Perkumpulan Alumni SMANTO 170.1 di Grand Sahid Hotel, Jumat, 24 Februari beberapa tahun yang lalu.

“Kampung Jawa Tondano adalah berkah buat Tondano.”

Pernyataan itu disampaikan dengan lantang oleh Andre Opa Sumual.

Awalnya terdengar sederhana. Tetapi semakin dipikirkan, semakin menarik untuk ditelusuri.

Benarkah Jaton—sebutan yang akrab untuk Jawa Tondano—merupakan berkah bagi Tondano?

Menurut saya, jawabannya ya.

Bukan semata-mata karena Jaton telah menjadi bagian dari sejarah Tondano selama hampir dua abad, tetapi karena keberadaan Jaton memberikan sebuah pelajaran penting tentang bagaimana perbedaan dapat berubah menjadi kekuatan.

Jaton lahir dari sebuah tragedi sejarah

Untuk memahami mengapa Jaton begitu istimewa, kita harus kembali ke awal abad ke-19.

Keberadaan masyarakat Jawa di Tondano tidak dapat dipisahkan dari Perang Diponegoro atau Perang Jawa (1825–1830), salah satu perlawanan terbesar terhadap kolonialisme Belanda.

Dalam perang tersebut, Kiai Modjo merupakan salah satu tokoh penting. Ia bukan hanya seorang ulama dan penasihat spiritual Pangeran Diponegoro, tetapi juga terlibat langsung sebagai panglima perang.

Pada tahun 1828, Kiai Modjo ditangkap Belanda. Setelah dibawa ke Batavia, ia bersama para pengikutnya kemudian diasingkan ke Minahasa, Sulawesi Utara.

Kiai Modjo dan rombongannya akhirnya tiba di Tondano sekitar tahun 1829.

Ironisnya, sebuah tragedi dalam sejarah perjuangan melawan penjajahan justru kemudian melahirkan sebuah komunitas yang menjadi salah satu contoh menarik mengenai asimilasi dan akulturasi budaya di Indonesia.

Kiai Modjo kemudian menghabiskan sisa hidupnya di Tondano dan meninggal pada 20 Desember 1848.

Para pengikutnya yang merupakan laki-laki Jawa kemudian menikah dengan perempuan Minahasa asli Tondano.

Dari perkawinan inilah lahir generasi baru yang membawa dua warisan budaya sekaligus:

Jawa dan Minahasa.

Mereka bukan lagi sekadar pendatang Jawa.

Mereka menjadi bagian dari Tondano.

Dan dari proses panjang itulah berkembang masyarakat yang kemudian dikenal sebagai Kampung Jawa Tondano atau Jaton.

Tanggal 3 Mei 1830 kemudian diperingati sebagai hari lahir Kampung Jawa Tondano.

Islam bukan sesuatu yang asing bagi Tondano

Ada hal menarik lainnya dari sejarah ini.

Kehadiran Kiai Modjo dan pengikutnya terjadi hampir bersamaan dengan kedatangan Johann Friedrich Riedel, seorang zendeling yang kemudian berperan besar dalam perkembangan agama Kristen di Tondano.

Riedel datang ke Tondano pada 14 Oktober 1831.

Bedanya, Riedel memang datang dengan tugas menyebarkan agama Kristen, sementara Kiai Modjo dan pengikutnya datang bukan sebagai misionaris Islam, melainkan sebagai orang-orang yang diasingkan Belanda akibat keterlibatan mereka dalam Perang Jawa.

Karena itu, perkembangan kedua agama tersebut mengambil jalan yang berbeda.

Kristen berkembang luas di masyarakat Minahasa, sementara Islam kemudian menjadi bagian kuat dari identitas masyarakat Jawa Tondano.

Namun justru di sinilah menariknya.

Perbedaan agama tidak kemudian menjadi tembok pemisah.

Orang Jawa dan Minahasa hidup berdampingan.

Mereka menikah.

Mereka membangun keluarga.

Mereka saling mengenal tradisi.

Dan selama hampir dua abad, proses tersebut terus berlangsung.

Jaton adalah bukti nyata asimilasi

Kalau kita berbicara mengenai Jaton, sebenarnya kita sedang berbicara tentang sebuah eksperimen sosial yang berlangsung secara alami.

Tidak ada teori akademis yang dirancang di atas kertas.

Tidak ada seminar tentang toleransi.

Tidak ada program pemerintah tentang moderasi beragama.

Yang ada adalah kehidupan sehari-hari.

Orang Jawa datang.

Orang Minahasa menerima.

Kemudian mereka hidup bersama.

Dari sana lahirlah budaya baru.

Itulah sebabnya Jaton bisa disebut sebagai subkultur yang lahir dan berkembang di Tondano.

Budaya Jawa tetap dipelihara, tetapi sekaligus berinteraksi dengan budaya Minahasa.

Jaton akhirnya bukan hanya milik orang Jawa.

Jaton adalah bagian dari identitas Tondano.

Dan mungkin inilah yang dimaksud Andre Opa Sumual ketika mengatakan bahwa Jaton merupakan berkah bagi Tondano.

Ba'do Katupat: ketika tradisi menjadi jembatan

Salah satu warisan budaya Jaton yang sangat menarik adalah tradisi Ba'do Katupat.

Tradisi ini dilaksanakan sekitar satu minggu setelah Hari Raya Idul Fitri.

Bagi masyarakat Jaton, Ba'do Katupat bukan sekadar perayaan Lebaran.

Ia adalah ruang perjumpaan.

Keluarga berkumpul.

Kerabat dari berbagai daerah datang.

Hubungan silsilah kembali ditelusuri.

Dan yang paling menarik, pintu rumah terbuka untuk siapa saja.

Muslim maupun non-Muslim.

Tidak perlu bertanya terlebih dahulu:

“Kamu agamanya apa?”

Yang penting adalah:

“Mari masuk, kita makan bersama.”

Ketupat, lauk-pauk dan berbagai kue disiapkan untuk para tamu.

Suasana kampung menjadi semarak.

Karena itu Ba'do Katupat bukan hanya tradisi keagamaan.

Ia telah berkembang menjadi identitas budaya Jaton dan sekaligus menjadi contoh nyata bagaimana sebuah tradisi dapat menjadi sarana mempererat hubungan sosial.

Kalau dikemas dengan baik, tradisi seperti ini sebenarnya memiliki potensi luar biasa sebagai daya tarik wisata budaya.

Tondano punya modal toleransi yang luar biasa

Kalau kita melihat Tondano hari ini, kekayaan tersebut semakin terlihat.

Tondano bukan hanya memiliki keindahan alam Danau Tondano dan berbagai destinasi wisata.

Tondano juga mempunyai modal budaya dan toleransi yang sangat kuat.

Di Kampung Jawa Tondano terdapat Masjid Agung Al-Falah Kiai Modjo, yang mengingatkan kita pada sejarah panjang komunitas Islam Jawa di Tondano.

Di sisi lain, Tondano juga memiliki Sinagoga Sha'ar Hashamayim, yang menjadi simbol keberadaan komunitas Yahudi di daerah ini.

Ada pula Pura Danu Mandara, yang menjadi tempat ibadah umat Hindu.

Sementara itu, gereja tentu bukan sesuatu yang sulit ditemukan di Tondano. Hampir setiap kampung memiliki gerejanya sendiri.

Dan di pusat kota berdiri Gereja Sentrum, salah satu gereja bersejarah yang menjadi bagian penting dari perjalanan Tondano.

Coba kita renungkan.

Islam ada.
Kristen ada.
Yahudi ada.
Hindu ada.

Dan semuanya berada dalam satu ruang sosial yang sama.

Bukankah ini merupakan modal luar biasa bagi sebuah kota?

Dari toleransi menjadi wisata

Selama ini ketika berbicara tentang pariwisata Tondano, pikiran kita mungkin langsung tertuju kepada Danau Tondano.

Padahal Tondano mempunyai cerita yang jauh lebih besar.

Ada sejarah.

Ada budaya.

Ada agama.

Ada tradisi.

Ada kuliner.

Ada kisah perjuangan.

Dan semuanya bisa dirangkai menjadi sebuah pengalaman wisata yang unik.

Misalnya, wisatawan dapat diajak menelusuri jejak sejarah Perang Tondano, mengunjungi Benteng Moraya, menikmati panorama Danau Tondano, kemudian masuk ke Kampung Jawa Tondano untuk mengenal sejarah Kiai Modjo dan tradisi Ba'do Katupat.

Bahkan wisata religi dapat dikembangkan dengan memperkenalkan berbagai rumah ibadah dan komunitas agama yang hidup berdampingan di Tondano.

Kemudian ada tradisi masyarakat Minahasa seperti Pengucapan Syukur, Kunci Taong, Paskah, serta berbagai perayaan lainnya.

Jika semua itu dikemas dalam sebuah narasi wisata yang baik, Tondano sebenarnya mempunyai sesuatu yang tidak mudah ditemukan di tempat lain:

wisata keberagaman.

Jaton bukan sekadar kampung

Mungkin sudah waktunya kita melihat Jaton dari perspektif yang berbeda.

Jaton bukan hanya sebuah kampung.

Jaton adalah cerita tentang pertemuan dua budaya.

Jaton adalah cerita tentang orang-orang yang datang sebagai tahanan politik tetapi akhirnya menjadi bagian dari masyarakat setempat.

Jaton adalah cerita tentang perkawinan antara laki-laki Jawa dengan perempuan Minahasa.

Jaton adalah cerita tentang lahirnya generasi baru dengan identitas yang berbeda tetapi tetap hidup dalam satu masyarakat.

Dan yang paling penting:

Jaton adalah cerita tentang toleransi yang tidak dibuat-buat.

Toleransi yang lahir dari kehidupan sehari-hari.

Dari bertetangga.

Dari perkawinan.

Dari makan bersama.

Dari saling berkunjung.

Dari saling menghormati.

Pelajaran untuk generasi muda

Inilah yang menurut tukang bridge perlu diketahui oleh generasi muda Tondano.

Kita sering berbicara tentang toleransi seolah-olah itu sesuatu yang baru.

Padahal leluhur kita sudah mempraktikkannya sejak lama.

Hampir dua abad lalu, masyarakat Tondano telah mengalami proses asimilasi dan akulturasi yang menghasilkan sebuah komunitas unik bernama Jawa Tondano.

Mereka tidak kehilangan seluruh identitas asalnya.

Masyarakat Minahasa juga tidak kehilangan identitasnya.

Keduanya justru bertemu dan melahirkan sesuatu yang baru.

Itulah Indonesia.

Bukan tentang menghilangkan perbedaan.

Tetapi tentang bagaimana perbedaan dapat hidup berdampingan dan bahkan menghasilkan kekayaan budaya baru.

Jadi, benarkah Jaton berkah buat Tondano?

Setelah melihat perjalanan sejarahnya, saya semakin memahami pernyataan Andre Opa Sumual.

Ya, Jaton adalah berkah buat Tondano.

Berkah bukan hanya karena Jaton menjadi bagian dari sejarah.

Bukan hanya karena memiliki tradisi Ba'do Katupat.

Bukan hanya karena memiliki kuliner dan budaya Jawa yang khas.

Tetapi karena Jaton memberikan sebuah warisan yang jauh lebih berharga:

sebuah contoh bahwa perbedaan bisa menjadi kekuatan.

Tondano memiliki kesempatan untuk menjadikan warisan ini sebagai kekuatan budaya, pendidikan dan pariwisata.

Yang diperlukan adalah kemauan untuk mengemas, merawat dan menceritakannya kepada dunia.

Sebab kalau generasi muda Tondano sendiri tidak mengenal sejarahnya, jangan berharap orang dari luar akan datang untuk mempelajarinya.

Jangan sampai kita baru menyadari betapa berharganya sebuah warisan ketika warisan itu sudah mulai hilang.

Dan mungkin inilah pesan terbesar dari Jaton:

Kita tidak harus menjadi sama untuk bisa hidup rukun. Kita hanya perlu belajar menghargai perbedaan.

Jaton sudah membuktikannya selama hampir dua abad.

Bert Toar Polii
Tukang Bridge

KE MAMUJU JANGAN PULANG SEBELUM MENCOBA KULINER INI!

 


KE MAMUJU JANGAN PULANG SEBELUM MENCOBA KULINER INI!

Oleh : Bert Toar Polii - Tukang Bridge

Mamuju bukan hanya tentang pantai, laut dan keindahan Sulawesi Barat. Mamuju juga punya kekayaan kuliner yang merupakan bagian dari identitas masyarakat Mandar.

Bagi Anda yang baru pertama kali datang ke Mamuju, ada satu cara sederhana untuk mengenal daerah ini: makanlah seperti orang Mamuju makan.

Tidak perlu mencari restoran mewah. Justru beberapa makanan paling menarik dapat ditemukan di warung sederhana, pasar, rumah makan lokal dan lapak pinggir jalan.

1. Jepa + Bau Peapi — pasangan yang tidak boleh dilewatkan

Kalau hanya punya kesempatan mencoba satu kombinasi makanan khas Mamuju, saya akan memilih Jepa dan Bau Peapi.

Jepa adalah makanan berbentuk pipih yang dibuat dari singkong parut yang dicampur kelapa kemudian dipanggang. Dahulu Jepa menjadi makanan pokok masyarakat pesisir Mandar, terutama sebagai bekal bagi nelayan yang pergi melaut.

Teksturnya khas: bagian luar lebih renyah sementara bagian dalam lembut dan padat.

Tetapi pengalaman makan Jepa belum lengkap tanpa Bau Peapi.

Bau Peapi adalah ikan laut yang dimasak dengan kuah kuning berbumbu khas Mandar. Rasanya gurih, segar, sedikit asam dan kaya rempah.

Inilah yang membuat kombinasi Jepa dan Bau Peapi begitu menarik.

Jepa menjadi pengganti nasi, sementara Bau Peapi menjadi lauknya.

Kalau ingin mencobanya di Mamuju, salah satu tempat yang dapat dicari adalah Jepa Mandar di Jl. Tengku Cik Ditiro.

2. Sambal Penja — kecil ikannya, besar rasanya

Jangan lewatkan Sambal Penja.

Penja merupakan ikan kecil yang sangat dikenal dalam kuliner Sulawesi Barat. Diolah menjadi sambal, rasanya gurih dan khas serta sangat cocok disantap bersama nasi maupun Jepa.

Sambal Penja juga menarik karena memperlihatkan bagaimana masyarakat pesisir memanfaatkan hasil laut yang sederhana menjadi makanan dengan karakter rasa yang kuat.

3. Kaledo — pencinta tulang dan sumsum wajib mencoba

Bagi penggemar makanan berkuah dan sumsum, Kaledo layak masuk daftar.

Potongan tulang kaki sapi dimasak hingga menghasilkan kuah yang gurih dengan sumsum yang menjadi daya tarik utamanya.

Di kawasan Maleo Town Square, informasi kuliner yang kami temukan menyebut adanya Kaledo di area food court.

Namun sebelum berangkat khusus untuk Kaledo, sebaiknya cek kembali ketersediaannya karena tempat dan menu dapat berubah.

4. Pisang Epe — teman menikmati malam di Mamuju

Setelah makan malam, saatnya mencari jajanan.

Pisang Epe adalah salah satu pilihan menarik. Pisang dibakar dan dipipihkan kemudian disajikan dengan saus manis.

Paling nikmat disantap hangat sambil menikmati suasana malam.

Di sekitar kawasan Matos dan Grand Maleo, jajanan malam seperti Pisang Epe dapat ditemukan bersama minuman hangat seperti Saraba.

5. Saraba — minuman hangat khas malam hari

Kalau malam mulai terasa dingin, cobalah Saraba.

Minuman hangat berbahan dasar jahe ini cocok diminum setelah menikmati jajanan malam.

Pisang Epe + Saraba adalah kombinasi sederhana tetapi sangat cocok untuk menutup perjalanan kuliner di Mamuju.

6. Durian Mamuju — kalau datang pada musimnya, jangan lewatkan!

Ini bagian yang sangat menarik.

Mamuju juga dikenal dengan produksi durian lokalnya. Bahkan pada musim panen, kawasan tertentu dapat berubah menjadi tempat berburu durian.

Salah satu daerah yang menarik perhatian adalah Tapalang, termasuk Dusun Pempioang yang dikenal sebagai salah satu sentra durian.

Kalau datang sekitar musim panen, pengalaman membeli durian langsung dari petani atau pedagang lokal tentu jauh lebih menarik daripada sekadar membeli durian di kota.

Dan kalau Anda datang pada September, jangan lupa bertanya kepada warga lokal:

“Di mana durian yang baru jatuh hari ini?”

Itulah pertanyaan yang bisa membawa Anda pada pengalaman kuliner yang berbeda.

LALU, DI MANA MAKANNYA?

Untuk wisatawan yang baru pertama kali berada di Mamuju, kawasan Jl. Yos Sudarso – Pantai Manakarra – Maleo Town Square cukup strategis untuk memulai perburuan kuliner.

Di kawasan tersebut terdapat beberapa rumah makan dan tempat kuliner.

Untuk makanan laut, misalnya, Anda dapat mencoba RM New Sambalutta Seafood, yang berada di Jl. Yos Sudarso, tepat di kawasan Pantai Manakarra.

RM New Sambalutta Seafood

Sementara untuk makanan khas Mandar, jangan hanya mencari restoran besar. Tanyakan kepada warga setempat di mana mereka biasa membeli Jepa dan Bau Peapi.

Karena sering kali, makanan tradisional terbaik justru berada di tempat yang tidak terlalu terlihat oleh wisatawan.

MAMUJU: MAKANANNYA ADALAH BAGIAN DARI CERITA

Yang membuat kuliner Mamuju menarik bukan hanya rasanya.

Di balik Jepa ada cerita tentang masyarakat pesisir Mandar.

Di balik Bau Peapi ada tradisi mengolah hasil laut.

Di balik Penja ada kekayaan laut yang dimanfaatkan masyarakat.

Dan di balik durian ada cerita tentang kebun, petani dan musim panen.

Karena itu, wisata kuliner Mamuju seharusnya bukan sekadar mencari makanan enak.

Tetapi mencari pengalaman.

Datang sebagai wisatawan, makan seperti orang lokal, dan pulang membawa cerita dari Mamuju.

Sunday, September 13, 2026

🇵🇭 Eala vs 🇮🇩 Janice Tjen Hitung-hitungan Ekonomis dan Ranking: Asian Games atau Beijing?

 


🇵🇭 Eala vs 🇮🇩 Janice Tjen

Hitung-hitungan Ekonomis dan Ranking: Asian Games atau Beijing?

Oleh: Bert Toar Polii – Tukang Bridge

Ada satu pertanyaan menarik di balik keputusan Alex Eala dan Janice Tjen menghadapi benturan jadwal Asian Games 2026 dengan WTA 1000 China Open di Beijing:

Sebenarnya berapa harga yang harus dibayar seorang pemain profesional ketika memilih membela negaranya daripada mengikuti turnamen WTA 1000?

Kasus Eala dan Janice menjadi menarik karena keduanya sama-sama pemain papan atas Asia, tetapi mengambil keputusan berbeda.

Janice memilih tetap bermain di Beijing. Eala memilih Asian Games.

Dan kalau kita hitung secara ekonomi dan ranking, ternyata persoalannya jauh lebih kompleks daripada sekadar "dapat uang berapa?"


1. Pertama-tama: Beijing bukan turnamen biasa

China Open di Beijing adalah WTA 1000 Mandatory.

Edisi 2026 berlangsung 30 September–11 Oktober, dengan 96 pemain tunggal dan total komitmen hadiah US$9,415,725.

Distribusi poin WTA 1000 96-player pada dasarnya:

Hasil BeijingPoin
Juara1.000
Final650
Semifinal390
Perempat final215
R16120
R3265
R6435
R9610

Jadi ketika seorang pemain seperti Janice memilih Beijing, dia sebenarnya tidak hanya memilih satu pertandingan.

Dia memilih sebuah paket:

ranking points + prize money + pengalaman melawan pemain top + exposure + kontinuitas WTA + memenuhi kewajiban mandatory.


2. Berapa nilai uang yang dipertaruhkan?

Sebagai gambaran, distribusi hadiah China Open 2025 adalah:

HasilHadiah
JuaraUS$1,124,380
FinalisUS$597,890
SemifinalUS$332,160
Perempat finalUS$189,075
R16US$103,225
R32US$60,400
R64US$35,260
R96US$23,760

Angka 2026 dapat berubah, sehingga saya tidak akan menganggap tabel 2025 sebagai angka pasti untuk Beijing 2026.

Tetapi skala ekonominya jelas.

Bahkan jika Janice hanya menang satu pertandingan di Beijing, nilainya sudah bisa mencapai puluhan ribu dolar.


3. Sekarang kita lihat Janice

WTA saat ini mencatat Janice Tjen di ranking No. 35, dengan career-high No. 35 dan prize money karier sekitar US$969.109.

Ini sangat penting.

Janice sedang berada pada fase membangun posisi permanen di level elite WTA.

Dengan ranking sekitar 35, setiap poin sangat berharga.

Misalnya secara sederhana:

Kalau Janice kalah awal di Beijing

Ia masih bisa mendapatkan sekitar:

10–35 poin + prize money.

Tetapi jika dia mampu menang beberapa ronde:

65 → 120 → 215 → 390 poin

dan seterusnya.

Dan 120 atau 215 poin pada level ini bisa mempunyai efek nyata terhadap:

  • seedings,
  • direct acceptance,
  • peluang masuk WTA 500/1000,
  • peluang Grand Slam,
  • dan pendapatan berikutnya.

4. Inilah yang sering tidak terlihat: nilai sebuah ranking point

Misalnya Janice memperoleh tambahan 120 poin di Beijing.

Kita tidak boleh mengatakan:

"120 poin = US$X."

Tidak sesederhana itu.

Tetapi 120 poin dapat membuatnya lebih mudah masuk turnamen berikutnya.

Kemudian turnamen berikutnya memberikan kesempatan mendapatkan:

lebih banyak poin → ranking naik → entry lebih mudah → hadiah lebih besar → sponsor lebih besar.

Jadi ada efek compound.

Karena itu bagi pemain yang sedang naik seperti Janice, ranking point sebenarnya adalah aset ekonomi.


5. Lalu apa yang diperoleh Eala dari Asian Games?

Di sinilah perhitungannya menjadi menarik.

Eala saat ini berada di ranking No. 18 dunia, career-high No. 18. WTA mencatat prize money kariernya sekitar US$1,68 juta.

Dengan posisi seperti itu, Eala sudah mempunyai platform ekonomi dan ranking yang jauh lebih kuat.

Artinya:

Marginal value satu turnamen tambahan bagi Eala mungkin lebih kecil dibanding marginal value sebuah Asian Games gold medal.

Ini bukan berarti ranking tidak penting.

Justru sebaliknya.

Tetapi Eala sudah memiliki ranking yang cukup tinggi sehingga satu keputusan kehilangan satu WTA 1000 tidak otomatis menghancurkan kariernya.


6. Dan ada satu "jackpot" yang sangat besar

Olimpiade Los Angeles 2028.

ITF menjelaskan bahwa untuk siklus LA 2028, juara tunggal Asian Games dapat memperoleh ITF Place menuju Olimpiade, dengan syarat memenuhi kriteria kelayakan termasuk berada dalam Top 500.

Jadi bagi Eala:

Beijing

Potensi:

1.000 WTA points + hadiah besar + exposure WTA

tetapi harus melalui kompetisi yang sangat berat.

Asian Games

Potensi:

🥇 Asian Games Gold + peluang mendapatkan tempat langsung menuju LA 2028.

Ini mengubah seluruh kalkulasi.


7. Mari kita buat simulasi sederhana

Skenario A — Eala memilih Beijing

Misalkan Eala mencapai R16.

Dia mendapatkan:

120 WTA points

plus hadiah uang.

Kalau mencapai semifinal:

390 points

Kalau final:

650 points

Kalau juara:

1.000 points.

Tetapi tidak ada jaminan dia mencapai hasil tersebut.


Skenario B — Eala memilih Asian Games

Dia mendapatkan kesempatan mengejar:

🥇 Medali emas Asian Games

dan berdasarkan jalur kualifikasi yang dijelaskan ITF, juara tunggal Asian Games mempunyai jalur khusus menuju Olimpiade LA 2028 jika memenuhi persyaratan.

Jadi nilai Asian Games untuk Eala bukan:

"hadiah uang Asian Games vs hadiah uang Beijing."

Melainkan:

"1.000 poin potensial di Beijing vs kesempatan memenangkan gelar kontinental dan jalur Olimpiade."

Itu keputusan yang jauh lebih strategis.


8. Tetapi ada harga yang harus dibayar Eala

Dan inilah bagian yang membuat keputusannya berani.

Eala sebenarnya wajib mengikuti Beijing berdasarkan statusnya.

GMA melaporkan bahwa Eala, yang saat itu berada di No. 18 dunia, otomatis memenuhi syarat masuk China Open dan bahwa WTA 1000 mandatory memang mewajibkan pemain yang memenuhi kriteria untuk tampil, kecuali mendapatkan exemption.

Federasi Filipina sudah meminta exemption kepada WTA.

Jadi keputusan Eala sebenarnya adalah:

"Saya memilih negara, dan saya siap menghadapi konsekuensinya jika WTA tidak memberi pengecualian."

Itulah yang membuat kasus Eala berbeda.


9. Bagaimana dengan Janice?

Janice juga sebenarnya ingin bermain untuk Indonesia.

Ia secara terbuka mengatakan bahwa keputusan tersebut bukan keputusan mudah dan bahwa ia bangga setiap kali mendapat kesempatan mengenakan seragam Indonesia. Ia juga telah memiliki pengalaman meraih medali bersama tim nasional.

Tetapi Janice menerima konfirmasi dari WTA bahwa dia tidak mendapatkan exemption.

Karena itu ia memilih Beijing.

Jadi jangan sampai narasinya menjadi:

Eala patriotik, Janice tidak.

Menurut saya itu tidak adil.

Yang berbeda adalah strategi karier dan posisi mereka dalam tangga WTA.


10. Kalau dibuat seperti neraca investasi

JANICE

Investasi Beijing

  • ranking points
  • prize money
  • menjaga status WTA
  • pengalaman menghadapi pemain elite
  • peluang naik ranking
  • menjaga momentum karier

Yang dikorbankan

− Asian Games
− peluang medali
− pengalaman nasional
− peluang mengejar jalur khusus Olimpiade melalui Asian Games


EALA

Investasi Asian Games

  • peluang emas
  • representasi Filipina
  • pengalaman nasional
  • potensi jalur Olimpiade 2028
  • legacy
  • popularitas di Filipina
  • nilai sponsor jangka panjang

Yang dikorbankan

− kesempatan memperoleh hingga 1.000 WTA points
− prize money Beijing
− kesempatan menghadapi elite WTA
− kemungkinan terkena sanksi WTA


11. Ada perbedaan yang sangat penting: "uang sekarang" vs "nilai masa depan"

Menurut saya ini inti persoalannya.

Janice memilih memaksimalkan career capital.

Eala memilih memaksimalkan legacy capital.

Janice sedang membangun:

Ranking → Tournament Access → Prize Money → Sponsorship → Career

Sedangkan Eala sudah mempunyai ranking 18 dan WTA title, sehingga bisa mengambil risiko lebih besar untuk sesuatu yang mungkin jauh lebih bernilai dalam jangka panjang:

Asian Games Gold → Olympic qualification → National icon → Sponsorship → Legacy


12. Kalau saya menjadi penasihat kedua pemain

Saya mungkin memberikan nasihat yang berbeda.

Kepada Janice:

"Beijing masuk akal."

Karena dia sedang berada di ranking 35 dan membangun karier di level elite.

Satu tahun lagi mungkin posisi Janice sudah jauh lebih kuat sehingga dia bisa membuat keputusan berbeda.

Kepada Eala:

"Asian Games juga masuk akal."

Karena ranking 18 memberikan cushion yang lebih besar dan Asian Games hanya datang empat tahun sekali.

Eala sendiri mengatakan alasan yang sangat sederhana tetapi kuat: Asian Games hanya terjadi setiap empat tahun dan dia menikmati bermain bersama tim Filipina.


13. Jadi siapa yang membuat keputusan lebih benar?

Tidak ada jawaban absolut.

Kalau ukurannya:

💰 Pendapatan jangka pendek

Janice lebih rasional.

📈 Ranking WTA

Janice lebih rasional.

🎾 Konsistensi karier WTA

Janice lebih rasional.

🥇 Prestasi olahraga regional

Eala lebih berani.

🇵🇭 Legacy nasional

Eala lebih berani.

🏅 Peluang menuju LA 2028 melalui Asian Games

Eala mendapatkan upside yang sangat besar.


Tetapi saya menemukan satu hal yang sangat menarik

Kasus ini sebenarnya membuka pertanyaan yang jauh lebih besar daripada Eala dan Janice:

Apakah sistem olahraga internasional sekarang terlalu memaksa atlet memilih antara "membela negara" dan "membangun karier profesional"?

Asian Games adalah event empat tahunan.

WTA adalah pekerjaan mereka.

Dan keduanya memiliki kepentingan yang sah.

Ironisnya, atlet yang paling dibutuhkan negaranya justru bisa menjadi atlet yang paling sulit dilepas oleh tur profesional.

Menurut saya, ini bukan hanya masalah Eala atau Janice.

Ini adalah masalah desain sistem olahraga modern.

Dan dari perspektif Indonesia, kasus Janice seharusnya menjadi bahan evaluasi serius bagi Kemenpora, KONI, KOI, PP Pelti dan federasi olahraga lain: bagaimana memastikan atlet profesional Indonesia tidak dipaksa memilih antara karier profesional dan Merah Putih.

Karena kalau suatu hari pemain bridge Indonesia mengalami konflik serupa antara World Bridge Games/World Championship dengan event nasional, kita juga harus sudah mempunyai mekanisme yang jelas.

Bukan ketika konflik terjadi baru mencari jalan keluar.

BAB 2 Filosofi Sistem GIB Mengapa Robot Melakukan Bidding Seperti Itu?

 


BAB 2

Filosofi Sistem GIB

Mengapa Robot Melakukan Bidding Seperti Itu?

Bridge Insight #2

"Dalam bridge modern, bidding bukan sekadar mencari kontrak terbaik. Bidding adalah proses pertukaran informasi. Semakin akurat informasi yang dipertukarkan, semakin besar peluang pasangan mencapai kontrak optimal."


Belajar Berpikir Seperti Robot

Banyak pemain yang pertama kali bermain dengan Robot GIB merasa heran.

"Kenapa robot membuka 1♦ padahal hanya memiliki empat kartu?"

"Mengapa robot tidak menaikkan suit saya?"

"Kenapa robot memilih 3NT, bukan 4♥?"

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini muncul karena sebagian besar pemain masih melihat bidding sebagai proses memilih kontrak. GIB melihatnya secara berbeda.

Bagi GIB, setiap bid adalah informasi.

Kontrak akhir hanyalah hasil dari proses pertukaran informasi yang dilakukan secara sistematis.

Inilah filosofi utama yang mendasari seluruh sistem bidding GIB.


Lima Prinsip Dasar Sistem GIB

Prinsip 1

Sistem Lebih Penting daripada Kejeniusan

Robot tidak pernah mencoba menjadi "pintar".

Robot tidak pernah membuat bidding spektakuler.

Robot tidak pernah melakukan psychic bid.

Sebaliknya, GIB selalu memilih bid yang paling sesuai dengan sistem.

Konsistensi jauh lebih berharga daripada kreativitas yang tidak dapat dipahami pasangan.

Bagi pemain manusia, inilah pelajaran pertama.

Bridge pasangan dimenangkan oleh komunikasi yang jelas, bukan oleh kejutan.


Prinsip 2

Setiap Bid Harus Memberikan Informasi

Dalam sistem GIB, setiap bid memiliki arti.

Tidak ada bid yang dilakukan "sekadar mencoba."

Ketika robot membuka 1NT, pasangan langsung mengetahui beberapa informasi penting:

  • tangan seimbang,

  • kekuatan 15–17 HCP,

  • distribusi yang terbatas,

  • peluang game.

Sebaliknya, jika pembukaan dilakukan dengan 1♣, informasi yang diberikan sama sekali berbeda.

Semakin akurat informasi yang diberikan, semakin mudah pasangan menentukan langkah berikutnya.


Prinsip 3

Membatasi Rentang Kekuatan

Salah satu ciri sistem modern adalah penggunaan rentang kekuatan (range) yang sempit.

Misalnya:

OpeningKekuatan
1NT15–17 HCP
2NT20–21 HCP
2♣22+ HCP

Dengan rentang yang jelas, responder tidak perlu menebak-nebak kekuatan pasangan.

Inilah salah satu alasan mengapa sistem 2/1 jauh lebih akurat dibanding banyak sistem lama.


Prinsip 4

Distribusi Sama Pentingnya dengan HCP

Banyak pemain pemula hanya menghitung High Card Points (HCP).

Robot tidak.

GIB juga memperhatikan:

  • distribusi,

  • panjang suit,

  • singleton,

  • void,

  • fit dengan pasangan,

  • total points.

Karena itulah keputusan robot sering tampak berbeda dari pemain manusia yang hanya berpatokan pada HCP.


Prinsip 5

Selalu Berpikir Beberapa Bid ke Depan

Robot tidak hanya memikirkan bid berikutnya.

Robot sudah memperkirakan perkembangan lelang hingga beberapa putaran.

Misalnya ketika membuka 1♦, robot sudah mengetahui kemungkinan respons yang akan muncul dan bagaimana rebid terbaik pada setiap kemungkinan tersebut.

Pendekatan inilah yang membuat bidding GIB tampak sangat terstruktur.


Mengapa GIB Menggunakan Sistem 2/1 Game Force?

Sistem 2/1 Game Force dipilih karena memberikan keseimbangan antara ketepatan informasi dan ruang bidding.

Dengan sistem ini, pasangan dapat:

  • menemukan fit mayor lebih cepat,

  • mengevaluasi peluang game dengan lebih akurat,

  • mengeksplorasi slam secara efisien,

  • menghindari kontrak parsial yang kurang menguntungkan.

Bagi robot, struktur seperti ini jauh lebih mudah dianalisis dibanding sistem yang terlalu fleksibel.


Konsistensi Mengalahkan Kreativitas

Pemain manusia sering tergoda untuk "menyimpang sedikit" dari sistem.

Robot tidak pernah melakukannya.

Jika suatu bid berarti 15–17 HCP hari ini, maka besok dan tahun depan artinya tetap sama.

Konsistensi seperti inilah yang menciptakan komunikasi yang andal.

Bridge modern bukan tentang siapa yang paling kreatif, tetapi siapa yang paling konsisten dalam bekerja sama dengan pasangannya.


Pelajaran dari GIB

  • Jadikan sistem sebagai bahasa bersama dengan pasangan.

  • Berikan informasi yang akurat, bukan informasi yang mengesankan.

  • Jangan mengubah arti suatu bid hanya karena situasi tertentu.

  • Batasi rentang kekuatan agar pasangan dapat mengambil keputusan dengan percaya diri.

  • Ingatlah bahwa tujuan bidding adalah membantu pasangan, bukan menunjukkan kehebatan diri.


Kesalahan Umum Pemain

Beberapa kebiasaan yang sering mengganggu komunikasi pasangan adalah:

  • Membuka terlalu ringan atau terlalu berat.

  • Mengubah arti bid sesuai perasaan.

  • Terlalu sering melakukan psychic bid.

  • Menganggap pasangan akan memahami maksud yang tidak pernah disepakati.

  • Tidak disiplin mengikuti sistem.

Semua kebiasaan tersebut hampir tidak pernah dilakukan oleh GIB.


Bridge Challenge

Apakah Anda Siap Berpikir Seperti GIB?

Sebelum mempelajari opening bid pada bab berikutnya, tanyakan kepada diri sendiri:

  1. Apakah setiap bid yang saya lakukan benar-benar memberikan informasi?

  2. Apakah pasangan saya memahami arti setiap bid saya?

  3. Apakah saya mengikuti sistem secara konsisten?

  4. Apakah saya sudah membatasi kekuatan tangan dengan tepat?

  5. Apakah saya memikirkan perkembangan bidding beberapa langkah ke depan?

Jika jawaban Anda belum seluruhnya "Ya", maka Bab 3 akan menjadi awal perjalanan untuk membangun cara berpikir yang lebih sistematis.


Kutipan Bab 2

"Robot tidak pernah berusaha menjadi kreatif. Robot berusaha menjadi konsisten. Dalam bridge pasangan, konsistensi hampir selalu lebih berharga daripada kejutan."

BRIDGE & LIFE Episode 2 — Partnership & Trust Learning About Trust from the Bridge Table

 


BRIDGE & LIFE

Episode 2 — Partnership & Trust

Learning About Trust from the Bridge Table

One of the most fascinating things about bridge is that we do not play alone.

We play as a partnership.

Two people sit opposite each other, holding different cards and seeing different information, but sharing one goal:

to achieve the best possible result as a team.

And I believe this is one of the greatest lessons bridge can teach us about life and work:

The success of a partnership is not determined only by how good each individual is, but by how well they can work together and trust each other.


Two Great Players Do Not Necessarily Make a Great Partnership

In bridge, we often assume that if two very strong players are paired together, the result must be extraordinary.

Not necessarily.

Two excellent players may fail to become a good partnership.

Why?

They may have different playing styles.

They may think differently.

They may have different levels of risk tolerance.

They may both want to be the person making the key decisions.

And most dangerously:

they may not trust each other.

On the other hand, two players who are not individually considered the very best may become a remarkably strong partnership because they understand each other, complement each other, and trust one another.

The same thing happens in life and at work.

A company does not become great simply because it has many smart people.

An organization becomes great when its smart people are able to work together as a team.


Trust Begins Before the Cards Are Played

In bridge, trust does not begin when your partner plays a card.

Trust begins before the board is even played.

We have to trust that our partner will follow the agreements we have made.

The bidding system must be understood by both players.

Signals and carding methods must have the same meaning.

If our partner does something we do not understand, we should not immediately assume that they have made a mistake.

Perhaps we simply have not understood what they meant.

This is what makes a partnership different from two people who happen to be sitting opposite each other.

Partnership requires agreement, communication, and trust.


We Do Not Have to Think the Same Way

This is a very important lesson.

Trust does not mean that we always have the same opinion.

In fact, a healthy partnership allows two people to have different views.

Our partner may see a board from a different perspective.

Our partner may make a decision we would not have made.

Our partner may choose a level of risk that we consider too high.

But as long as we understand that the decision was made with the best interests of the partnership in mind, we should respect it.

Trust does not mean, “I know you will always be right.”

Trust means:

“I believe you are trying to make the best decision for us.”

This is extremely important in life.

We do not need people who always agree with us.

We need people who can offer a different perspective while remaining on the same side.


Communication Is More Than Talking

Bridge also teaches us that communication does not always happen through words.

Bidding is communication.

The opening lead is communication.

The way we play a card is communication.

Even a small card can send a message to our partner.

But communication is useful only when both people understand the same language.

The same applies at work.

An organization can hold many meetings, send countless emails, and create numerous presentations.

But if the people inside it do not share a common understanding, communication will not create effective teamwork.

Good communication is not about how much we talk.

Good communication is about how well our message is understood.


Do Not Make Your Partner Afraid of Making Mistakes

This may be one of the most important lessons in partnership.

Imagine a player who shows frustration every time their partner makes a mistake.

Eventually, the partner will start playing in fear.

They will no longer think:

“What is the best decision?”

Instead, they may start thinking:

“What should I do so my partner does not get angry?”

That is dangerous.

When people are afraid of making mistakes, their creativity and courage disappear.

The same thing happens in the workplace.

A leader who constantly blames employees may succeed in making people obedient.

But that does not necessarily mean they will become willing to take initiative.

A good partnership creates confidence, not fear.


After a Mistake, There Is Another Board

In bridge, your partner will make mistakes.

You will make mistakes too.

No player is perfect.

What matters is what happens after the mistake.

Do we blame our partner?

Do we keep talking about the mistake?

Do we lose trust?

Or do we say:

“OK. We learned from that. Now let's focus on the next board.”

This is one of the reasons I love bridge as a lesson for life.

After one board is finished, we get another opportunity.

The previous mistake should not destroy the next board.

The same is true in life and at work.

A mistake in one project does not have to destroy a working relationship.

A bad decision does not have to destroy trust.

What matters is how we learn from it and improve.


Trust Is Built Slowly and Lost Quickly

Trust is not built in a single day.

It is built through many small decisions.

Our partner says something, and we see that they keep their word.

They promise to do something, and they do it.

They make a mistake and admit it.

They succeed and do not take all the credit for themselves.

Little by little, trust grows.

But trust can also disappear quickly.

When we start blaming our partner to protect ourselves, hiding our mistakes, or taking advantage of the partnership, the foundation begins to crack.

Therefore:

Trust is not something we ask for. It is something we build.


A Good Partnership Makes Us Better

There is another important point that is sometimes overlooked.

A good partner does not simply make us feel comfortable.

A good partner also makes us become a better player.

They may see something we do not see.

They may remind us when we are being too aggressive.

They may encourage us when we are being too cautious.

They may point out our mistakes without putting us down.

And we should do the same for them.

That is what a real partnership is about.

Not about who is better.

But about how two people make each other better.


From Bridge to the Workplace

Think about a team in a company.

There is a leader.

Someone who generates ideas.

Someone who is extremely detail-oriented.

Someone who is willing to take risks.

Someone who communicates exceptionally well.

Someone who works behind the scenes but is absolutely essential.

They do not all have the same personality.

And they should not.

A good team is not a team where everyone is the same.

A good team is one where the differences between its members become a strength.

Just like in bridge partnership.

Your partner does not have to be a copy of you.

Your partner should be someone who complements you.


Partnership Teaches Humility

Ultimately, playing as a partnership teaches us something very simple:

I cannot win the game alone.

No matter how good the cards I hold, I need my partner.

No matter how capable I am, there are things that only my partner can do.

And perhaps this applies to almost every area of life.

We may have extraordinary abilities.

But we still need other people.

Family.

Friends.

Colleagues.

Business partners.

Teachers.

Students.

And people who sometimes give us perspectives we would never have considered ourselves.

Admitting that we need other people is not weakness.

It is a sign of maturity.


The Real Meaning of Partnership

After many years of playing bridge, I have come to understand that partnership is not simply about two people sitting opposite each other at a bridge table.

Partnership is about:

  • trusting each other;

  • having clear agreements;

  • communicating well;

  • respecting differences;

  • giving each other room to make decisions;

  • creating an environment where mistakes are not feared;

  • not blaming too quickly;

  • learning from mistakes together;

  • complementing each other; and

  • making each other better.

All of these things apply not only at the bridge table.

They apply in families.

At work.

In business.

In organizations.

And in life.


Every Partnership Has Its Ups and Downs

Some partnerships last for many years.

Some last for only a few matches.

Some partnerships produce great victories.

Others end because both players realize that they are no longer a good fit.

But from every partnership, we learn something.

We learn about ourselves.

We learn how to understand other people.

We learn how to communicate.

We learn how to trust.

And, perhaps most importantly:

we learn when to lead, when to follow, and when to trust our partner.

That is one of the beautiful things about bridge.


The Bridge & Life Lesson

In bridge, as in life, partnership is not about finding someone who always thinks like you. It is about finding someone you can trust when you think differently.

From: Bert Toar Polii — Tukang Bridge

Polinema Bridge Tournament II: 105 Pasang Meriahkan Turnamen Bridge di Politeknik Negeri Malang

 


Polinema Bridge Tournament II: 105 Pasang Meriahkan Turnamen Bridge di Politeknik Negeri Malang

Oleh: Bert Toar Polii – Tukang Bridge

Malang, 13 September 2026 — Dunia bridge kembali bergairah di Malang. Sebanyak 105 pasangan ambil bagian dalam Polinema Bridge Tournament II yang berlangsung di Aula Mesin Lantai 4, Politeknik Negeri Malang (Polinema), Minggu, 13 September 2026.

Yang menarik, turnamen ini tidak hanya diikuti pemain kategori Open, tetapi mempertemukan pemain dari berbagai kelompok usia, mulai dari SD melalui Mini Bridge, SMP, SMA, KU-26 hingga Open.

Komposisi peserta tersebut menjadi gambaran yang sangat positif bagi perkembangan dan regenerasi bridge Indonesia. Bridge tidak hanya dimainkan oleh pemain senior, tetapi mulai tumbuh dari lingkungan sekolah hingga perguruan tinggi.

105 Pasangan dari Empat Kelompok

Jumlah peserta terbagi dalam empat kategori:

  • Open & KU-26: 41 pasangan

  • SMA: 21 pasangan

  • SMP: 21 pasangan

  • SD (Mini Bridge): 22 pasangan

Dengan demikian, total 105 pasangan berpartisipasi dalam Polinema Bridge Tournament II.

Turnamen dibuka oleh Ketua Umum UKM Olahraga Polinema, Nabila Rindi Cecilia.

Persaingan Ketat di Kategori Open

Kategori Open menghadirkan persaingan yang sangat menarik.

Pasangan Rachel Abiyu Setiawan – Jonathan Wahyu Christia Nanta dari UBAYA tampil sebagai juara dengan skor impresif 83,34%.

Mereka hanya unggul tipis dari pasangan Mohammad Wisolus Solihin – Ainul Kiromah dari Kabupaten Jember, yang meraih 83,12%.

Sementara itu, posisi ketiga ditempati Ahmad Jauhari – Dimas Wiyoga Bhakti dari Kota Tasikmalaya dengan 82,40%.

Empat besar kategori Open:

  1. 🥇 Rachel Abiyu Setiawan – Jonathan Wahyu Christia Nanta (UBAYA) — 83,34%

  2. 🥈 Mohammad Wisolus Solihin – Ainul Kiromah (Kabupaten Jember) — 83,12%

  3. 🥉 Ahmad Jauhari – Dimas Wiyoga Bhakti (Kota Tasikmalaya) — 82,40%

  4. Aulia Rukmi Setyoningrum – Chaezar Deva Ra Nizami (UNAIR) — 74,51%

Tiga pasangan teratas bahkan mampu menembus angka 82%, menunjukkan kualitas persaingan yang sangat tinggi.

KU-26: Generasi Muda Mulai Unjuk Kemampuan

Kategori KU-26 menjadi salah satu bagian penting dalam turnamen ini karena memperlihatkan munculnya pemain-pemain muda yang berpotensi menjadi kekuatan bridge Indonesia di masa depan.

Juara pertama diraih Ramadhani Setiawan – Aldo Yanuar Syachputra dari UBAYA dengan skor 78,13%.

Posisi kedua ditempati pasangan tuan rumah Polinema, Sandrina Athallia Dwi Andselma – Citra Marissa, dengan 76,20%.

Empat besar KU-26:

  1. 🥇 Ramadhani Setiawan – Aldo Yanuar Syachputra (UBAYA) — 78,13%

  2. 🥈 Sandrina Athallia Dwi Andselma – Citra Marissa (Polinema) — 76,20%

  3. 🥉 Jasmine Ufairoh – Arsinta Regina Putri (Kabupaten Pasuruan) — 75,79%

  4. Aris – Wahyu (Kabupaten Pasuruan) — 73,58%

SMA dan SMP: Regenerasi Bridge Terlihat Nyata

Yang juga menggembirakan adalah penampilan para pemain usia sekolah.

Pada kategori SMA, gelar juara menjadi milik Sultan Rafief Furqon – Yoga Aditiya Febriansyah dari SMA Negeri 2 Jember dengan skor impresif 84,56%.

Sementara itu, kategori SMP dimenangkan Dinantiar Salwa Azzahra – Krishna Putra Laksmana dari SMPN 1 Sukorejo dengan 84,79%.

Empat Besar SMA

  1. 🥇 Sultan Rafief Furqon – Yoga Aditiya Febriansyah (SMA Negeri 2 Jember) — 84,56%

  2. 🥈 M. Shalahudin Fatih Junaedi – Azman Syaiban Ulya (Jambangan Kuat Surabaya Hebat) — 79,80%

  3. 🥉 Lahira Sevaleonika – Tiara Indah Azzary (SMAN 1 Pandaan) — 79,03%

  4. Ringgo Rayi Maulana Malsy – M. Maula Yusuf (SMKN 1 Pasuruan) — 71,06%

Empat Besar SMP

  1. 🥇 Dinantiar Salwa Azzahra – Krishna Putra Laksmana (SMPN 1 Sukorejo) — 84,79%

  2. 🥈 Ahmad Dahlan Ahsan – Fariya Nada Aprilia Alami (SMPN 2 Pamekasan) — 80,26%

  3. 🥉 Muhammad Shabri Darmawan – Danda Wardana Ramadhani (SMPN 1 Sukodono Lumajang) — 72,14%

  4. Puja Aulia – Kayla Salsabila Quanezha (SMPN 9 Kota Blitar) — 70,24%

Mini Bridge SD: Masa Depan Bridge Indonesia

Salah satu pemandangan paling menarik dalam Polinema Bridge Tournament II adalah kehadiran 22 pasangan SD yang bertanding dalam kategori Mini Bridge.

Bagi saya, inilah salah satu indikator paling penting dari sebuah turnamen bridge.

Regenerasi tidak dimulai ketika seorang pemain sudah berusia 20 tahun. Regenerasi dimulai sejak anak-anak mengenal bridge.

Karena itu, kehadiran 22 pasangan Mini Bridge patut mendapatkan apresiasi.

Empat besar Mini Bridge SD:

  1. 🥇 Inggrid Griselda Parisya Nareswari – Dea Ayu Anggraini
    SDN 2 Tanjungsari Kota Blitar — 68,885%

  2. 🥈 Al Hamizan Muhammad Dwidana – Muhammad Abilal Yodha Budiono
    SDN Model Kota Malang — 64,40%

  3. 🥉 Yoji Andra Prasetya – Syandha Nur Kikiss
    SDN Dawuhan Lor 02 Lumajang — 64,225%

  4. Abidzar Al Ghifari – Muhammad Aldenasta Wicaksono
    SDN Sukorame 2 Kota Kediri — 63,87%

Empat pasangan teratas semuanya mampu mencatatkan skor di atas 63%, menunjukkan persaingan yang cukup ketat di kalangan pemain usia sekolah dasar.

Apresiasi untuk Pemain Polinema

Sebagai tuan rumah, Polinema juga memberikan perhatian khusus kepada pemain terbaik dari kampusnya.

Best Polinema 1 diraih pasangan Ken Ken Caterina Khelvin Syauqi Endyananta – [nama pasangan belum tercantum] dengan skor 61,18%.

Sementara Best Polinema 2 diraih Abdul Muid – M. Rizqi Romadhoni dengan 53,30%.

Penghargaan khusus seperti ini penting untuk memberikan motivasi kepada mahasiswa tuan rumah agar semakin aktif berlatih dan berkompetisi.

Bukan Sekadar Turnamen

Polinema Bridge Tournament II menurut saya mempunyai arti yang lebih besar daripada sekadar mencari juara.

Dengan menghadirkan 105 pasangan dalam rentang usia yang sangat luas, turnamen ini secara tidak langsung memperlihatkan sebuah ekosistem pembinaan yang ideal:

SD → SMP → SMA → KU-26 → Open

Inilah jalur yang diperlukan untuk memastikan regenerasi atlet bridge Indonesia berjalan secara berkesinambungan.

Bridge bukan hanya permainan kartu.

Di dalamnya terdapat logika, matematika, konsentrasi, komunikasi, kerja sama, pengambilan keputusan dan kemampuan mengendalikan emosi.

Karena itu, semakin banyak sekolah dan perguruan tinggi yang memberikan ruang bagi bridge, semakin besar pula peluang Indonesia melahirkan generasi pemain baru yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.

Dari Malang untuk Masa Depan Bridge Indonesia

Polinema Bridge Tournament II telah memberikan satu pesan penting:

Masa depan bridge Indonesia harus dibangun dari bawah.

Dan proses itu tidak perlu menunggu besok.

Proses itu sudah berlangsung hari ini di Malang.

Sebanyak 105 pasangan telah duduk bersama di meja bridge. Anak-anak SD bermain Mini Bridge, siswa SMP dan SMA bertanding, mahasiswa KU-26 mengasah kemampuan, sementara pemain Open menunjukkan kualitas permainan mereka.

Semua berada dalam satu arena.

Itulah yang membuat turnamen ini menarik.

105 pasangan.
Empat jenjang.
Satu semangat.

Membangun Masa Depan Bridge Indonesia.