Wednesday, September 16, 2026

NOMOR ANTAR PROVINSI UPDATE TEKNIS, PESERTA & JADWAL PERTANDINGAN Mamuju, 17–19 September 2026


 

KEJURNAS BRIDGE KE-60

NOMOR ANTAR PROVINSI

UPDATE TEKNIS, PESERTA & JADWAL PERTANDINGAN

Mamuju, 17–19 September 2026

Laporan dari Mamuju oleh:
Bert Toar Polii – Tukang Bridge


19 REGU SIAP BERTARUNG DI NOMOR ANTAR PROVINSI

Nomor Antar Provinsi akan menjadi nomor pertama yang dipertandingkan dalam rangkaian Kejurnas Bridge ke-60 di Mamuju, Sulawesi Barat.

Berdasarkan pendaftaran terakhir per 16 September 2026, tercatat 19 regu yang akan ambil bagian dalam nomor Antar Provinsi.

Melihat jumlah peserta yang sudah terdaftar, kemungkinan besar pertandingan akan menggunakan format utama 7 Round Robin (7RR) dengan 14 papan setiap ronde.

Panitia Pelaksana Bagian Teknik tetap menyiapkan format alternatif apabila terjadi penambahan peserta pada saat-saat terakhir.


DAFTAR PESERTA

🏆 BEREGU TERBUKA — 7 REGU

  1. Sulawesi Barat
  2. Sulawesi Utara
  3. Sulawesi Tengah
  4. Jawa Tengah
  5. DKI Jakarta
  6. Sulawesi Selatan
  7. Gorontalo

FORMAT

7 Round Robin × 14 papan

Dilanjutkan dengan Semi Final dan Final.


♥️ BEREGU CAMPURAN — 7 REGU

  1. Sulawesi Barat
  2. Sulawesi Utara
  3. Jawa Tengah
  4. Kalimantan Barat Mix
  5. DKI Jakarta
  6. Gorontalo
  7. Sumatera Utara

♀️ BEREGU WANITA — 1 REGU

  1. DKI Jakarta

Karena saat ini Beregu Wanita hanya diikuti oleh 1 regu, maka pertandingan akan digabungkan dengan Beregu Campuran.

Dengan demikian terdapat 8 regu dalam pertandingan gabungan Campuran + Wanita.

FORMAT

7 Round Robin × 14 papan

Dilanjutkan dengan Semi Final dan Final untuk Beregu Campuran.

Khusus Beregu Wanita:
Regu DKI Jakarta tetap dicatat sebagai peserta Beregu Wanita dan dapat dinyatakan sebagai Regu Terbaik Beregu Wanita apabila memperoleh rata-rata minimal 10 VP.


♣️ BEREGU JUNIOR KU30 — 2 REGU

  1. DI Yogyakarta
  2. Gorontalo

FORMAT

3 × 3 Round Robin × 14 papan

Tanpa Play-Off.


♦️ BEREGU JUNIOR KU20 — 2 REGU

  1. Sulawesi Utara
  2. Sulawesi Barat

FORMAT

3 × 3 Round Robin × 14 papan

Tanpa Play-Off.


FORMAT PERTANDINGAN UTAMA

7 REGU — 7RR × 14 PAPAN

Untuk Beregu Terbuka, dengan jumlah 7 regu, digunakan:

7 ROUND ROBIN

14 PAPAN SETIAP RONDE

DILANJUTKAN SEMI FINAL & FINAL

Format yang sama digunakan untuk pertandingan gabungan Beregu Campuran + Beregu Wanita, yang saat ini terdiri dari 8 regu.


TENTATIF JADWAL PERTANDINGAN

KAMIS, 17 SEPTEMBER 2026

WaktuKegiatan
08.45–10.30RR1
10.30–11.30PEMBUKAAN
13.00–14.45RR2
15.00–16.45RR3
17.00–18.45RR4

Pertandingan RR1 akan dimulai sebelum acara Pembukaan. Karena itu seluruh regu diharapkan sudah berada di tempat pertandingan dan siap bermain sebelum pukul 08.45 WITA.


JUMAT, 18 SEPTEMBER 2026

WaktuKegiatan
09.45–11.30RR5
11.30–14.00ISHOMA
14.00–15.45RR6
16.00–17.45RR7

Setelah RR7 selesai, akan diperoleh peringkat akhir Round Robin yang menjadi dasar untuk menentukan regu yang melanjutkan ke babak Semi Final.


SABTU, 19 SEPTEMBER 2026

SEMI FINAL & FINAL

Babak Semi Final dan selanjutnya Final akan dilaksanakan pada Sabtu, 19 September 2026.

Waktu pertandingan akan disesuaikan dengan hasil Round Robin dan kondisi teknis pertandingan.


BAGAIMANA DENGAN PESERTA YANG DATANG TERAKHIR?

Panpel Bagian Teknik tetap membuka kemungkinan adanya regu yang baru tiba malam ini atau besok pagi.

Namun, berdasarkan data peserta per 16 September 2026, jumlah peserta saat ini sudah cukup jelas dan kemungkinan perubahan format relatif kecil.

Karena itu, 7RR × 14 papan merupakan format utama yang dipersiapkan Panpel.


FORMAT ALTERNATIF JIKA PESERTA BERTAMBAH

Apabila terjadi penambahan peserta yang menyebabkan jumlah regu menjadi 9–10 regu, format dapat diubah menjadi:

BEREGU TERBUKA

9RR × 12 papan + Play-Off

BEREGU CAMPURAN

9RR × 12 papan + Play-Off

Untuk Junior, apabila peserta bertambah menjadi 5–6 regu, format dapat berubah menjadi:

2 × 5RR × 10 papan

Dengan jumlah peserta KU lebih dari 2 regu, akan dilaksanakan Play-Off.

Perubahan tersebut hanya akan diberlakukan apabila diperlukan dan akan diumumkan oleh Panpel Bagian Teknik sebelum pertandingan dimulai.


KETENTUAN KHUSUS BEREGU WANITA

Saat ini hanya terdapat 1 regu Beregu Wanita, yaitu DKI Jakarta.

Sesuai ketentuan teknis, pertandingan Beregu Wanita digabungkan dengan Beregu Campuran.

Namun, regu tersebut tetap mengikuti klasifikasi Beregu Wanita.

Untuk dapat dinyatakan sebagai Regu Terbaik Beregu Wanita, regu harus memperoleh:

RATA-RATA MINIMAL 10 VP

Dengan demikian, penggabungan pertandingan tidak menghilangkan kesempatan untuk memperoleh pengakuan sebagai regu terbaik pada kategori Wanita, sepanjang memenuhi persyaratan tersebut.


RINGKASAN KONDISI PESERTA SAAT INI

NomorJumlah ReguFormat
Beregu Terbuka77RR × 14 papan + Play-Off
Beregu Campuran7Gabung dengan Wanita → 8 regu
Beregu Wanita1Gabung Campuran
Junior KU3023 × 3RR × 14 papan
Junior KU2023 × 3RR × 14 papan
TOTAL19 regu

CATATAN PANPEL BAGIAN TEKNIK

  1. Jadwal di atas bersifat tentatif dan dapat mengalami penyesuaian teknis.
  2. Format utama yang dipersiapkan berdasarkan jumlah peserta saat ini adalah 7RR × 14 papan.
  3. Peserta diharapkan hadir tepat waktu dan siap bertanding sesuai jadwal.
  4. Setiap perubahan format akibat penambahan peserta akan diumumkan sebelum pertandingan dimulai.
  5. Panpel Bagian Teknik berhak melakukan penyesuaian teknis yang diperlukan untuk kelancaran pertandingan.
  6. Seluruh peserta diharapkan memperhatikan pengumuman resmi Panpel sebelum pertandingan dimulai.

19 REGU, SATU SEMANGAT

Nomor Antar Provinsi selalu memiliki daya tarik tersendiri karena bukan hanya mempertandingkan kemampuan individu pemain, tetapi juga membawa nama provinsi dan daerah masing-masing.

Dari Sulawesi Barat sebagai tuan rumah, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Gorontalo, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Sumatera Utara hingga DI Yogyakarta, semuanya akan bertemu di meja bridge Mamuju.

Setiap papan akan menjadi pertarungan strategi.

Setiap IMP akan berarti.

Setiap VP akan menentukan posisi.

Dan setelah kartu terakhir dimainkan, yang tersisa bukan hanya angka di papan skor, tetapi juga cerita tentang persahabatan, sportivitas dan kebersamaan para pemain bridge Indonesia.

Selamat bertanding untuk seluruh kontingen.

Dari Mamuju, kita mulai perjalanan menuju juara Kejurnas Bridge ke-60!

Tuesday, September 15, 2026

Tiga Organisasi Kawanua Dukung Olahraga Bridge

 

Tiga Organisasi Kawanua Dukung Olahraga Bridge

Oleh: Bert Toar Polii

Ada sebuah fenomena menarik yang sedang terjadi di tengah masyarakat Kawanua. Tiga organisasi yang memiliki akar kuat dalam komunitas Kawanua ternyata menunjukkan perhatian yang semakin besar terhadap olahraga bridge.

Dimulai dari Kerukunan Keluarga Kawanua (KKK) yang menggelar Kejuaraan Bridge Pasangan memperebutkan Piala Ketua Umum KKK dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-81 di Wale ne Tou Kawanua Kampus IBM ASMI. Malah Ketum KKK Angelica Tengker menyatakan secara terbuka berminat belajar bridge.

Belum selesai gaungnya, kini giliran Alumni SMANTO 170.1 Tondano dengan Ketuanya Irjen Pol (Purn) Carlo Brix Tewu yang menggelar kejuaraan bridge pasangan. Menariknya, pertandingan ini akan berlangsung di Mega Bekasi Hypermall, pada 17 Oktober 2026.

Dan ternyata, POR MAESA tidak mau ketinggalan.

Organisasi olahraga yang telah berusia lebih dari satu abad ini, di bawah kepemimpinan Letjen TNI (Purn) Johny J Lumintang, juga akan menggelar turnamen bridge pasangan di Mega Bekasi Hypermall pada 18 Oktober 2026.

Jadi, dalam dua hari berturut-turut, Mega Bekasi Hypermall akan menjadi tempat berkumpulnya komunitas bridge sekaligus masyarakat Kawanua.

Maesa dan Bridge: Hubungan yang Sudah Lama

Kalau berbicara tentang POR MAESA, sebenarnya tidak mengherankan kalau organisasi ini memberikan perhatian kepada bridge.

Sejak dahulu, di berbagai kota di Indonesia terdapat Maesa Bridge Club. Sebut saja Jakarta, Bandung, Surabaya, Makassar, Balikpapan dan tentu saja Manado.

Artinya, bridge bukan sesuatu yang asing bagi keluarga besar Maesa.

Bahkan, kalau kita melihat sejarah perkembangan bridge di Indonesia, nama orang-orang Manado memang cukup sering muncul. Tidak hanya sebagai pemain, tetapi juga sebagai pengurus, pembina dan tokoh yang ikut membangun olahraga bridge.

Karena itu, ketika hari ini kita melihat KKK, Alumni SMANTO 170.1 dan POR MAESA sama-sama memberikan ruang bagi olahraga bridge, sebenarnya kita sedang melihat sebuah potensi yang jauh lebih besar.

Jangan Berhenti pada Turnamen

Menurut saya, yang menarik bukan sekadar adanya tiga turnamen.

Yang jauh lebih menarik adalah apa yang bisa terjadi apabila ketiga organisasi ini kemudian berkolaborasi.

Bayangkan kalau KKK, Alumni SMANTO 170.1 dan POR MAESA mempunyai program bersama untuk memasyarakatkan bridge.

KKK mempunyai jaringan keluarga Kawanua yang sangat luas.

Alumni SMANTO 170.1 memiliki jaringan alumni yang tersebar di berbagai daerah.

Sementara POR MAESA mempunyai sejarah panjang dalam pembinaan olahraga dan jaringan Maesa yang juga berada di berbagai kota.

Jika ketiga kekuatan ini disatukan, bridge bisa mendapatkan sesuatu yang sangat berharga: basis massa, jaringan, tempat pertandingan, promosi dan regenerasi pemain.

Bahkan tidak tertutup kemungkinan lahir sebuah rangkaian turnamen Kawanua yang dilaksanakan secara berkala di berbagai kota.

Jakarta, Bandung, Surabaya, Makassar, Balikpapan, Manado dan kota-kota lainnya bisa menjadi bagian dari sebuah kalender pertandingan yang lebih terstruktur.

Dan sekali lagi, yang mendapatkan keuntungan bukan hanya ketiga organisasi tersebut.

Olahraga bridge-lah yang akan mendapatkan keuntungan terbesar.

Momentum untuk PB GABSI

Di sinilah saya melihat peran penting PB GABSI.

Kongres GABSI ke-19 di Mamuju akan memilih Ketua Umum PB GABSI untuk periode berikutnya. Siapa pun yang nantinya mendapat amanah memimpin GABSI, saya berharap dapat melihat fenomena ini bukan sekadar sebagai tiga kegiatan yang kebetulan berdekatan.

Ini adalah potensi jaringan yang harus dimanfaatkan untuk pengembangan bridge nasional.

GABSI tidak harus mengambil alih kegiatan mereka.

Justru sebaliknya.

GABSI dapat hadir sebagai fasilitator, membuka komunikasi, memberikan dukungan teknis, membantu standardisasi pertandingan, pembinaan wasit dan director, serta menghubungkan komunitas-komunitas tersebut dengan klub-klub bridge di daerah.

Dengan demikian, kegiatan yang awalnya bersifat komunitas dapat berkembang menjadi bagian dari gerakan yang lebih besar untuk memperkenalkan bridge kepada masyarakat.

Bridge dan Identitas Kawanua

Selama ini ada sebuah kenyataan yang sulit dibantah bahwa olahraga bridge di Indonesia cukup identik dengan orang Manado.

Tentu saja bridge bukan milik orang Manado.

Bridge adalah olahraga untuk semua orang Indonesia.

Namun, kalau sebuah komunitas mempunyai sejarah panjang dan kontribusi yang besar terhadap perkembangan bridge, mengapa tidak kita manfaatkan sebagai salah satu kekuatan untuk mengembangkan olahraga ini?

Justru inilah yang harus dilakukan.

Identitas Kawanua jangan hanya menjadi kebanggaan masa lalu, tetapi bisa menjadi energi untuk membangun masa depan bridge Indonesia.

KKK sudah bergerak.

Alumni SMANTO 170.1 sudah bergerak.

POR MAESA juga bergerak.

Sekarang tinggal bagaimana ketiganya dapat duduk bersama dan mencari titik temu.

Sebab dalam bridge kita belajar satu hal penting:

Tidak ada pasangan yang bisa memenangkan pertandingan sendirian.

Dibutuhkan komunikasi, kerja sama, saling percaya dan kemampuan memainkan kartu yang ada di tangan.

Begitu pula dalam membangun bridge Indonesia.

Kalau tiga kekuatan Kawanua ini mau duduk di satu meja dan memainkan kartu mereka bersama-sama, saya yakin kartunya bisa menjadi jauh lebih kuat.

Dan kalau PB GABSI mampu membaca peluang ini dengan baik, yang menjadi pemenang pada akhirnya bukan KKK, bukan Alumni SMANTO 170.1 dan bukan POR MAESA.

Pemenangnya adalah olahraga bridge Indonesia.

Tak lupa tukang bridge mengucapkan terima kasih kepada Mega Bekasi Hypermall yang selalu bersedia mendukung kegiatan olahraga bridge.

 

BRIDGE & LIFE Episode 3 — Handling Mistakes What Bridge Teaches Us About Dealing with Mistakes

 

BRIDGE & LIFE

Episode 3 — Handling Mistakes

What Bridge Teaches Us About Dealing with Mistakes

Mistakes are unavoidable.

They happen in bridge.

They happen at work.

They happen in business.

They happen in relationships.

And they happen in life.

After many years of playing bridge, I have learned that the most important question is not:

“Did I make a mistake?”

Of course I did.

The more important question is:

“What do I do after I make one?”

That is where bridge becomes much more than a card game.


Every Bridge Player Makes Mistakes

Even the best bridge players in the world make mistakes.

A declarer miscounts the hand.

A defender plays the wrong card.

A partnership misunderstands a signal.

A player misjudges the bidding.

Sometimes we make a simple technical error.

Sometimes we simply make the wrong decision.

And sometimes we have all the right information but interpret it incorrectly.

There is no player who gets everything right.

The difference between players is often not whether they make mistakes, but how they respond to them.


The First Mistake Is Not Always the Biggest Problem

Imagine that you make a serious error on one board.

You lose a lot of IMPs.

You are disappointed.

Perhaps you are even angry with yourself.

Then the next board begins.

You are still thinking about the previous mistake.

Your concentration is affected.

You become afraid of making another mistake.

You start playing too cautiously.

Or perhaps you try too hard to recover what you have lost.

You take unnecessary risks.

And suddenly, one mistake has created another.

This is one of the great dangers in bridge:

The original mistake may be less damaging than the reaction to it.

The same thing happens in life.

A mistake at work does not necessarily become a disaster.

It becomes a disaster when we allow the mistake to affect every decision that follows.


Do Not Let One Bad Board Become a Bad Session

There is a simple principle in bridge:

One bad board is one bad board.

It does not have to become a bad session.

If we lose 12 IMPs on one board, those 12 IMPs are gone.

We cannot get them back by becoming emotional.

We cannot replay the board.

We cannot change the cards.

The only thing we can control is what happens next.

So the best response is:

Analyze. Learn. Reset. Move on.

This sounds simple.

But doing it consistently is one of the hardest skills in competitive bridge.


The Difference Between Analysis and Blame

After a mistake, it is natural to ask:

“Who was wrong?”

But that is not always the most useful question.

A better question is:

“What can we learn from what happened?”

There is a huge difference between analysis and blame.

Blame looks backward and searches for a person.

Analysis looks backward and searches for a lesson.

In a partnership, this distinction is critical.

If partner makes a mistake, saying:

“How could you possibly do that?”

does not help the next board.

But saying:

“Let's see what we missed.”

can help both players improve.

A good partnership analyzes mistakes without destroying trust.


Take Responsibility, But Do Not Punish Yourself

There is another important balance.

We should take responsibility for our mistakes.

If we made the wrong decision, we should be able to say:

“I was wrong.”

That is not weakness.

It is strength.

But accepting responsibility is different from punishing ourselves.

There is no value in repeatedly saying:

“I should never have done that.”

The board is already finished.

The mistake has already happened.

The useful question is:

“What will I do differently next time?”

That question turns regret into learning.


Mistakes Are Information

One of the most useful ways to look at mistakes is to see them as information.

A mistake tells us something.

Perhaps our assumption was wrong.

Perhaps we missed an important clue.

Perhaps our communication with partner was unclear.

Perhaps our judgment of risk was poor.

Perhaps we were too confident.

Perhaps we were too afraid.

The mistake gives us an opportunity to discover something about our own thinking.

In this sense, a mistake is not merely an error.

It is feedback.

And people who learn quickly from feedback often improve faster than people who are afraid of making mistakes.


The Most Dangerous Mistake Is Repeating the Same Mistake

Making a mistake once is part of learning.

Making the same mistake repeatedly without learning from it is something different.

Bridge gives us an excellent opportunity to study our errors.

After a session, we can review difficult boards.

We can ask:

What did I know at the time?

What did I assume?

What information did I overlook?

Was my decision mathematically reasonable?

Did emotion influence my decision?

Did I understand my partner correctly?

What would I do differently if I faced the same situation tomorrow?

This kind of reflection is extremely valuable.

It transforms experience into knowledge.


Sometimes the Mistake Is Not What We Think

There is another fascinating lesson.

Sometimes we look at the result and assume that the mistake was the decision that produced a bad outcome.

But that is not always true.

Perhaps we made the correct percentage play and simply encountered an unlucky distribution.

Perhaps our decision was reasonable given the information available at the time.

This brings us back to a lesson from Episode 1:

A bad result does not automatically mean a bad decision.

We need to examine the process, not only the outcome.

That is important in bridge.

It is even more important in life and business.


The Courage to Admit Mistakes

A strong player must be able to admit:

“I made a mistake.”

So must a good leader.

So must a good manager.

So must a good partner.

Admitting a mistake can be uncomfortable because we sometimes fear losing authority or respect.

But the opposite is often true.

People tend to trust someone who can honestly say:

“I got that wrong.”

It shows confidence.

It shows maturity.

And it creates an environment where other people can also be honest about their mistakes.

A leader who never admits mistakes teaches people to hide theirs.

A leader who admits mistakes teaches people to learn from them.


Give Your Partner the Opportunity to Recover

This is especially important in bridge partnership.

When partner makes a mistake, we may be tempted to remind them about it.

But partner already knows.

What they need is the opportunity to recover.

The next board is not an examination of the previous board.

It is a new problem.

A good partner understands this.

Sometimes the most valuable thing we can say is simply:

“Forget it. Let's play the next one.”

Those words may be more powerful than a long explanation.

Because confidence is fragile.

And a partner who is afraid of making another mistake may not be able to play their best bridge.


Resetting Is a Skill

One of the characteristics of great players is their ability to reset.

They can lose a terrible board and then play the next board as if nothing happened.

Not because they do not care.

They care deeply.

But they understand that emotional energy spent on the past cannot change the result.

They focus on what they can still influence.

This is a powerful life skill.

We cannot change yesterday.

We cannot change what someone said.

We cannot change a decision already made.

But we can decide what we do next.

The ability to reset may be more valuable than the ability to avoid every mistake.


Mistakes Can Make a Partnership Stronger

Interestingly, mistakes do not always weaken a partnership.

Sometimes they make it stronger.

A partnership that survives difficult moments can develop a deeper understanding.

The players learn how each other thinks.

They learn how each other reacts under pressure.

They learn how to communicate more clearly.

They learn when to give advice and when to simply give support.

In that sense, adversity can become part of the partnership's education.

A perfect partnership does not exist.

A strong partnership is one that knows how to recover when things go wrong.


From the Bridge Table to Life

Think about a mistake you have made in your professional life.

Perhaps you made the wrong decision.

Perhaps you trusted the wrong person.

Perhaps you missed an opportunity.

Perhaps a project failed.

Perhaps you said something you later regretted.

We cannot replay that moment.

But we can examine it.

We can understand it.

We can apologize when necessary.

We can repair what can still be repaired.

We can learn.

And then we can move forward.

That is exactly what happens after a difficult bridge board.

The cards are already on the table.

The only question is what we will do with the next hand.


Every Mistake Contains a Choice

A mistake creates a moment of choice.

We can blame.

We can complain.

We can become afraid.

We can give up.

Or we can learn.

We can ask better questions.

We can change our approach.

We can become more resilient.

The mistake itself does not determine our future.

Our response to the mistake does.


The Bridge & Life Lesson

After many years of playing bridge, I have learned that handling mistakes is not about becoming a player who never makes errors.

That player does not exist.

It is about becoming a player who can:

  • recognize a mistake;

  • take responsibility;

  • separate the decision from the result;

  • learn from the experience;

  • avoid unnecessary blame;

  • protect the partnership;

  • reset emotionally;

  • make adjustments; and

  • focus on the next opportunity.

These are not merely skills for bridge.

They are skills for life.

Because life, like bridge, does not allow us to replay every hand.

Sometimes we make a brilliant decision and still lose.

Sometimes we make a terrible decision and get lucky.

Sometimes we misunderstand someone.

Sometimes someone misunderstands us.

Sometimes things simply go wrong.

But there is always another board.

Another decision.

Another opportunity.

Another chance to do better.

So perhaps the real question after a mistake is not:

“Why did this happen to me?”

but:

“What can this mistake teach me before I play the next board?”

And perhaps that is one of the greatest lessons bridge can give us:

You cannot change the cards you have already played. But you can always play the next card better.

From: Bert Toar Polii — Tukang Bridge



PRABOWO DI MEJA BRIDGE: DARI SOLOIST KE PEMAIN PARTNERSHIP

 


PRABOWO DI MEJA BRIDGE: DARI SOLOIST KE PEMAIN PARTNERSHIP
Oleh: Bert Toar Polii -“Tukang Bridge”

Ada satu hal yang sering dilupakan orang ketika bicara kekuasaan: negara bukan papan catur. Ia lebih mirip meja bridge—empat pemain, informasi tidak lengkap, dan kemenangan ditentukan bukan oleh kartu terbaik, tapi oleh cara memainkannya.

Kalau Prabowo Subianto kita dudukkan di meja bridge, gambarnya tidak sesederhana “keras” atau “tegas”. Ia lebih tepat digambarkan sebagai pemain yang pernah ingin memenangkan semua board sendirian—lalu pelan-pelan belajar bahwa bridge bukan permainan ego.

Dan mungkin ini bukan kebetulan. Ia tumbuh dari rumah yang akrab dengan kartu—ibunya, Dora Sigar, dikenal sebagai penggemar bridge fanatik. Di meja itulah, sebenarnya, filosofi kekuasaan bisa dipelajari: jangan pernah jatuh cinta pada kartu sendiri.


Bidding: Antara Ambisi dan Realitas

Dalam bridge, bidding adalah deklarasi ambisi. Terlalu rendah, kita kehilangan peluang. Terlalu tinggi, kita jatuh.

Prabowo di fase awal politiknya terlihat seperti pemain yang senang membuka tinggi. Game, bahkan slam, terasa seperti target yang harus dikejar. Nada besar, visi besar, langkah besar.

Masalahnya, di bridge ada satu hukum sederhana:
Ambisi tanpa distribusi yang tepat hanya akan berakhir “down”.

Namun beberapa tahun terakhir, terlihat perubahan. Ia mulai bermain seperti pemain yang:

  • Lebih sabar membaca kartu partner
  • Lebih realistis terhadap distribusi kekuatan
  • Lebih paham bahwa tidak semua board harus dimenangkan besar

Ini bukan soal berubah menjadi “lemah”. Ini soal naik kelas menjadi pemain yang tahu kapan harus menekan dan kapan harus berhenti.


Declarer Play: Tidak Suka Basa-basi

Sebagai declarer, ada dua tipe pemain:
yang suka finesse berlapis-lapis… dan yang bilang, “tarik truf saja, selesai.”

Prabowo jelas tipe kedua.

Gaya permainannya cenderung:

  • Direct
  • Tidak terlalu ornamental
  • Fokus ke hasil akhir

Dalam konteks negara, ini terlihat sebagai pendekatan yang:

  • Mengutamakan stabilitas
  • Mengejar hasil konkret
  • Kadang terasa kurang “halus”, tapi efektif

Namun di bridge, terlalu cepat menarik truf juga punya risiko:
Anda bisa kehilangan peluang ekstra jika tidak sabar membaca posisi.

Di sinilah ujian berikutnya: apakah ia hanya pemain yang kuat, atau pemain yang juga cukup sabar untuk memaksimalkan setiap trik?


Defense: Keras, Tapi Tidak Boleh Kaku

Latar belakang militer membuat citra Prabowo identik dengan defense yang disiplin. Dalam bridge, ini seperti defender yang:

  • Tidak mudah memberi trick gratis
  • Punya struktur jelas
  • Bermain dengan sinyal yang tegas

Masalahnya, defense terbaik bukan yang paling keras—tapi yang paling adaptif.

Dan di sinilah transformasi paling menarik terjadi. Dalam beberapa tahun terakhir, ia mulai terlihat seperti defender yang:

  • Mau mengubah rencana di tengah jalan
  • Mau membaca ulang situasi
  • Tidak terpaku pada “satu sistem untuk semua keadaan”

Karena di bridge, pemain yang tidak mau berubah biasanya bukan kalah… tapi dipermainkan.


Partnership: Pelajaran Termahal

Ini inti dari semuanya.

Bridge adalah satu-satunya permainan di mana:

  • Anda tidak bisa menang sendirian
  • Kartu terbaik pun bisa kalah jika partner tidak sinkron

Dulu, Prabowo sering terlihat seperti pemain soloist—kuat, dominan, tapi kurang memberi ruang pada partner.

Sekarang? Ceritanya berbeda.

Ia mulai bermain seperti:

  • Pemain yang membangun kepercayaan
  • Pemain yang bersedia “menahan diri” demi sistem
  • Pemain yang mengerti bahwa kemenangan itu kolektif

Dalam bahasa bridge:
bukan lagi tentang siapa pegang As terbanyak, tapi siapa paling sinkron membaca permainan.


Catatan Kritis: Jangan Terjebak Zona Nyaman

Namun ada satu peringatan penting.

Dalam bridge, ketika seorang pemain mulai nyaman dengan partnership dan sistem, ada godaan besar:
bermain aman.

Padahal:

  • Board besar butuh keberanian
  • Slam tidak datang dari kehati-hatian berlebihan

Jika terlalu kompromistis, risiko terbesarnya bukan kalah—
tapi tidak pernah menang besar.

Negara, seperti bridge, butuh dua hal sekaligus:

  • Stabilitas
  • Keberanian mengambil keputusan besar

Tanpa keseimbangan itu, permainan akan datar.


Penutup: Dari Kartu ke Negara

Jika harus diringkas dalam satu kalimat:

Prabowo hari ini bukan lagi pemain yang ingin memenangkan permainan sendirian, tapi pemain yang mulai mengerti bahwa kemenangan sejati di bridge—dan di negara—ditentukan oleh partnership yang hidup, bukan ego yang besar.

Pertanyaannya tinggal satu:
Apakah ia akan berhenti di level “pemain aman”…
atau naik menjadi grandmaster yang tahu kapan harus mengambil risiko besar di saat yang tepat?

Karena di meja bridge, seperti juga di panggung kekuasaan,
yang diingat bukan pemain yang tidak pernah jatuh—
tapi pemain yang tahu kapan harus melompat.

BRIDGE DI MALL: INDONESIA TERNYATA SUDAH LEBIH DAHULU

 


BRIDGE DI MALL: INDONESIA TERNYATA SUDAH LEBIH DAHULU

Oleh: Bert Toar Polii

Pertandingan bridge internasional yang diselenggarakan di dalam pusat perbelanjaan ternyata bukan lagi sesuatu yang asing. Namun, ada fakta menarik yang patut dicatat dalam sejarah perkembangan olahraga bridge.

EA Bridge International Championships yang diselenggarakan di Express Avenue Mall, Chennai, India, memang patut mendapat apresiasi. Kejuaraan tersebut menjadi salah satu event bridge internasional besar yang secara konsisten memanfaatkan pusat perbelanjaan sebagai lokasi pertandingan.

Edisi kedua EA Bridge International Championships 2026 berlangsung pada 7–13 September 2026, dengan total hadiah mencapai INR 1,5 Crore, atau sekitar USD 150.000, dan diikuti peserta dari berbagai negara.

EA Bridge International Championships – Overview

Bridge Federation of India – EA Bridge 2nd International Bridge Championships 2026

Namun ada satu fakta menarik yang perlu dicatat:

INDONESIA TERNYATA SUDAH MENDAHULUINYA

Jika yang dimaksud adalah membawa pertandingan bridge ke dalam pusat perbelanjaan, Indonesia ternyata telah lebih dahulu melakukannya.

Pada tahun 2006, Kejurnas Bridge ke-44 Antar Gabungan diselenggarakan di Point Square Mall, Jakarta Selatan.

Tidak berhenti di sana, beberapa kejuaraan pasangan bridge juga kemudian diselenggarakan di Mega Bekasi Hypermall, Bekasi.

Tentu terdapat perbedaan skala. EA Bridge International Championships memiliki peserta dari berbagai negara dan hadiah yang sangat besar. Karena itu, penyelenggaraannya di Chennai merupakan sebuah terobosan penting dalam penyelenggaraan bridge internasional.

Tetapi dari sisi sejarah penggunaan mall sebagai arena pertandingan bridge, Indonesia memiliki cerita tersendiri.

Dan tradisi tersebut kini kembali dilanjutkan.

SMANTO 170.1 MEMBAWA BRIDGE KEMBALI KE MALL

Dalam rangka memperingati HUT ke-7 Perkumpulan Alumni SMANTO 170.1 Tondano yang jatuh pada 13 Oktober 2026, akan diselenggarakan:

KEJUARAAN BRIDGE PASANGAN ALUMNI SMANTO 170.1

📅 Sabtu, 17 Oktober 2026
📍 Hall Mega Bekasi Hypermall, Lantai 3
🏆 Kejuaraan Bridge Pasangan

Kejuaraan ini bukan hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga menjadi kesempatan bagi para alumni, pecinta bridge, pemain junior dan pelajar untuk bertemu dalam satu arena.

BIAYA PENDAFTARAN

Umum: Rp300.000 per pasangan
Junior U26: Rp150.000 per pasangan
Pelajar: GRATIS

EARLY BIRD

Khusus peserta yang mendaftar dan melakukan pembayaran sebelum 30 September 2026:

Umum: Rp200.000 per pasangan
Junior U26: Rp100.000 per pasangan
Pelajar: GRATIS

HADIAH DAN PENGHARGAAN

Selain memperebutkan Juara 1 sampai 6, panitia juga menyiapkan penghargaan khusus untuk beberapa kategori:

🏆 Best Senior
🏆 Best Ladies
🏆 Best Mixed
🏆 Best Junior U26
🏆 Best Pelajar

Dengan demikian, semakin banyak pemain yang mempunyai kesempatan untuk mendapatkan penghargaan.

CARA PENDAFTARAN

Pendaftaran dan pembayaran dapat dilakukan melalui transfer ke:

BCA
No. Rekening: 2181526698
a.n. Agustina D Awuy B

Untuk  pendaftaran:

Agustina D. Awuy B
WA: 08161436051

Untuk informasi :

Atiek Masloman Sekum Perkumpulan Alumni SMANTO 170.1 Tondano

WA : 087775551078

PENGHARGAAN UNTUK ALUMNI

Kejuaraan ini juga dapat menjadi momentum untuk memberikan penghargaan kepada alumni yang telah memberikan kontribusi terhadap perkembangan olahraga bridge di Indonesia.

Karena itu, panitia dapat menyelenggarakan acara khusus:

SMANTO 170.1 BRIDGE HALL OF FAME

Sebuah penghargaan simbolis kepada alumni yang telah memberikan kontribusi dalam perjalanan olahraga bridge Indonesia.

Nama-nama yang dapat menjadi bagian dari penghormatan awal antara lain:

Bert Toar Polii
Franky Karwur
Tommy Rogi
Jemmy Bojoh
Leslie Gontha
Lusje Olha Bojoh
Joice Grace Tueje

Penghargaan ini bukan berdasarkan siapa yang paling banyak memenangkan pertandingan.

Lebih dari itu, penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi terhadap perjalanan, dedikasi, pengabdian dan kontribusi para alumni terhadap olahraga bridge.

Dengan adanya SMANTO 170.1 Bridge Hall of Fame, peringatan HUT ke-7 Alumni SMANTO 170.1 tidak hanya menjadi sebuah pertandingan bridge, tetapi juga menjadi kesempatan untuk mengenang dan menghormati mereka yang telah ikut membangun perjalanan bridge Indonesia.

DARI MALL, UNTUK BRIDGE INDONESIA

Bridge di mall bukan sekadar memindahkan meja pertandingan dari hotel atau gedung olahraga ke pusat perbelanjaan.

Ada pesan yang lebih besar di baliknya.

Bridge harus semakin dekat dengan masyarakat.

Mall merupakan ruang publik yang setiap hari dikunjungi banyak orang. Ketika pertandingan bridge berlangsung di sana, masyarakat dapat melihat secara langsung bahwa bridge bukan sekadar permainan kartu, melainkan olahraga otak yang membutuhkan kemampuan berpikir, konsentrasi, komunikasi dan kerja sama.

Dari Point Square Jakarta Selatan, Mega Bekasi Hypermall, hingga Express Avenue Mall di Chennai, bridge semakin berani keluar dari ruang-ruang pertandingan konvensional.

Dan kali ini, **Alumni SMANTO 170.1 Tondano ikut melanjutkan tradisi tersebut. Kegiatan ini didukung penuh oleh Ketua Perkumpulan Alumni SMANTO 170.1 Tondano **Inspektur Jenderal Polisi (Irjen Pol) Carlo Brix Tewu

Sabtu, 17 Oktober 2026.

Kita bertanding.
Kita bersilaturahmi.
Kita menghormati para legenda.
Dan kita merayakan 7 tahun Alumni SMANTO 170.1.

BRIDGE DI MALL.

Bukan sekadar pertandingan.
Ini bagian dari perjalanan bridge Indonesia.

Monday, September 14, 2026

Toudano, Tondano atau Toulour? Menelusuri Nama Bahasa dan Identitas Orang Tondano Menurut Boeng Dotulong dan F.S. Watuseke

 


Toudano, Tondano atau Toulour?

Menelusuri Nama Bahasa dan Identitas Orang Tondano Menurut Boeng Dotulong dan F.S. Watuseke

Oleh: Bert Toar Polii

Ada bahasa yang kita pelajari di sekolah.

Ada bahasa yang kita gunakan setiap hari.

Tetapi ada pula bahasa yang kita bawa sebagai bagian dari identitas, meskipun kita sudah jauh meninggalkan tanah kelahirannya.

Bagi saya, Bahasa Tondano adalah bagian yang terakhir itu.

Saya bukan ahli linguistik. Saya juga bukan sejarawan bahasa.

Tetapi saya mempunyai kecintaan yang besar terhadap Bahasa Tondano dan selama bertahun-tahun mencoba memperkenalkannya melalui media sosial, terutama Facebook.

Tidak pernah saya bayangkan bahwa aktivitas sederhana tersebut kemudian membawa saya berkenalan dengan seorang tokoh yang mempunyai perhatian luar biasa terhadap bahasa dan sejarah Tondano:

Alm. Boeng Dotulong.

Dan dari persahabatan itulah saya kemudian semakin memahami bahwa persoalan Toudano, Toundano, Tondano atau Toulour bukan sekadar persoalan ejaan.

Di dalamnya ada sejarah.

Ada identitas.

Ada perjalanan sebuah masyarakat.

Dan ada pertanyaan penting:

Siapa yang berhak memberi nama kepada sebuah bahasa—orang lain, pemerintah, peneliti, atau masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut?


Berawal dari Facebook

Sebelum bertemu langsung, saya dan Boeng Dotulong sudah berkomunikasi melalui Facebook.

Pada waktu itu saya cukup aktif mengajak orang-orang Tondano untuk kembali mengenal dan menggunakan Bahasa Tondano.

Bagi saya, Facebook bukan hanya tempat berbagi foto, berita atau komentar.

Saya melihat media sosial sebagai ruang baru untuk melestarikan bahasa daerah.

Bahasa yang tidak hadir di dunia digital akan semakin sulit menjangkau generasi muda.

Karena itu saya mencoba menulis kosakata, ungkapan, kalimat dan berbagai hal mengenai Bahasa Tondano.

Ternyata aktivitas tersebut diperhatikan oleh Boeng Dotulong.

Hubungan kami kemudian menjadi semakin dekat.

Beliau bahkan menganggap saya sebagai adik.

Pertemuan di Veldhoven

Kami akhirnya bertemu langsung ketika saya mewakili Indonesia dalam Kejuaraan Dunia Bridge di Veldhoven, Belanda.

Pertemuan itu menjadi sangat berkesan karena Belanda ternyata bukan hanya tempat kami bertemu sebagai orang Indonesia yang berada di luar negeri.

Di sana kami justru berbicara tentang Tondano.

Tentang bahasa.

Tentang sejarah.

Tentang budaya.

Tentang kampung halaman.

Setelah itu kami beberapa kali bertemu ketika Boeng pulang kampung ke Tondano.

Hubungan kami semakin erat.

Dan dari percakapan-percakapan itulah saya mengetahui betapa besar perhatian Boeng terhadap tanah kelahirannya.


Boeng Dotulong: jauh dari Tondano, tetapi tidak pernah meninggalkan Tondano

Boeng Dotulong adalah contoh seorang putra daerah yang menurut saya patut diteladani.

Ia telah puluhan tahun meninggalkan Tondano.

Tetapi ia tidak pernah meninggalkan Tondano dalam pikirannya.

Ia terus mengumpulkan informasi.

Mencatat sejarah.

Mendokumentasikan bahasa.

Menyusun silsilah.

Dan yang sangat penting, menulisnya agar dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Salah satu karya pentingnya adalah:

Silsilah Keluarga Gerungan 1500–1990

Karya tersebut kemudian dirujuk dalam tulisan-tulisan mengenai sejarah Toudano.

Salah satu catatan yang mengutip karya Dotulong menyebut bahwa sub-etnis Toudano pada masa pembagian juga disebut Tounsedangan, yang dijelaskan sebagai orang-orang dari Timur. Dotulong juga mencatat istilah Tourikeran. Catatan yang sama menghubungkan kelompok-kelompok Toudano dengan wilayah di sekitar Danau Tondano, termasuk Kauner/Touliang, Temberan/Toulimambot, Kakas dan Remboken.

Ini menunjukkan bahwa bagi Dotulong, pembicaraan mengenai Toudano bukan hanya pembicaraan mengenai bahasa.

Ia juga melihatnya dalam konteks sejarah masyarakat dan perjalanan leluhur.


Dari sejarah keluarga menuju sejarah bahasa

Di sinilah karya Boeng Dotulong menjadi semakin menarik.

Ia tidak berhenti pada sejarah keluarga.

Ia juga menyusun:

Kamus Melayu Manado–Indonesia–Toundano

Karya tersebut diterbitkan pada 2010 dan secara akademis tercatat dalam bibliografi penelitian linguistik sebagai:

Dotulong, Boeng. 2010. Kamus Melayu Manado-Indonesia-Toundano. Jakarta: Percetakan Gramedia.

Bahkan penelitian linguistik mengenai Bahasa Tondano dan Tonsawang menggunakan material dari Kamus Dotulong (2010) sebagai salah satu sumber datanya. Penelitian tersebut menggabungkan rekaman, catatan lapangan dan bahan dari dua kamus, salah satunya karya Dotulong.

Ini sangat penting.

Sebab berarti kamus Boeng Dotulong bukan sekadar buku untuk dibaca oleh orang Tondano.

Ia telah menjadi sumber bagi penelitian linguistik.

Dengan kata lain, pekerjaan Boeng mempunyai nilai ilmiah yang melampaui nostalgia terhadap kampung halaman.


Mengapa “Toundano”?

Ada sesuatu yang menarik dari judul kamus tersebut.

Boeng tidak menulis:

Kamus Melayu Manado–Indonesia–Toulour.

Ia menulis:

Kamus Melayu Manado–Indonesia–Toundano.

Pilihan kata itu penting.

Karena ketika kita membandingkannya dengan tulisan F.S. Watuseke tahun 1987, kita menemukan judul yang sangat tegas:

“Tondano and not Toulour.”

Artikel Watuseke tersebut diterbitkan dalam Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, volume 143, halaman 552–554.

Dengan demikian kita menemukan sebuah garis pemikiran yang menarik:

Boeng Dotulong → Toundano

F.S. Watuseke → Tondano

Keduanya tidak menggunakan Toulour sebagai nama bahasa.


Apa kata F.S. Watuseke?

Tulisan Watuseke sangat penting untuk memahami persoalan ini.

Menurut Watuseke, masyarakat yang menggunakan Bahasa Tondano bukan hanya tinggal di Kota Tondano.

Kelompok linguistik Tondano juga terdapat di kawasan barat dan timur Danau Tondano, sementara di sebelah tenggara dan barat daya danau terdapat penutur dialek Kakas dan Remboken.

Watuseke juga menjelaskan bahwa pada tahun 1920, empat distrik tersebut digabung menjadi satu wilayah administratif yang diberi nama Toulour.

Nama administratif tersebut digunakan selama 46 tahun, sampai pembagian administratif baru pada 1966.

Ini adalah keterangan yang sangat penting.

Karena kita akhirnya memahami mengapa istilah Toulour bisa begitu kuat dalam berbagai dokumen dan literatur.

Ia pernah menjadi nama administratif resmi.

Tetapi Watuseke membedakan nama administratif tersebut dari nama bahasa dan kelompok etnolinguistik.


Tondano atau Toulour?

Menurut Watuseke, nama Toulour bukan nama asli Tondano.

Ia menjelaskan bahwa istilah tersebut berasal dari Bahasa Tombulu dan kemudian semakin sering muncul dalam literatur abad ke-19, terutama karena pengaruh administrasi pemerintahan.

Watuseke bahkan memberikan penjelasan mengenai bagaimana nama Tondano berkembang dari bentuk Toundano/Toudano.

Menurut analisisnya:

tou = manusia/orang

sedangkan unsur rano berkaitan dengan air.

Ia menjelaskan bentuk tersebut sebagai Tou-en-dano, yang kemudian berkaitan dengan makna “orang air” atau masyarakat yang hidup di atau dekat air.

Ini tentu merupakan analisis linguistik Watuseke, dan sebaiknya kita menyebutnya demikian, bukan menjadikannya sebagai satu-satunya tafsir yang tidak dapat diperdebatkan.

Tetapi sebagai sumber sejarah linguistik, pendapat ini sangat penting.


Bahkan orang Tondano sendiri mempunyai bentuk nama yang berbeda

Watuseke memberikan informasi yang menarik mengenai bagaimana kelompok Minahasa lain menyebut orang Tondano.

Menurutnya:

  • orang Tontémboan menyebut mereka Tondano;
  • orang Tonséa' menggunakan Tou-doud;
  • kelompok Kalawat-Atas menggunakan Tou-dour.

Ini menunjukkan bahwa variasi nama bukanlah sesuatu yang aneh.

Bahasa-bahasa Minahasa saling berhubungan dan masing-masing kelompok dapat mempunyai cara sendiri untuk menyebut kelompok lainnya.

Jadi, persoalan Tondano–Toulour harus dilihat dalam konteks hubungan antarkelompok Minahasa.


Lalu mengapa Toulour menjadi begitu populer?

Jawabannya ternyata mempunyai dimensi sejarah.

Watuseke menjelaskan bahwa istilah Toulour semakin sering muncul dalam literatur abad ke-19, terutama akibat pengaruh administrasi pemerintahan kolonial.

Informasi mengenai wilayah Minahasa banyak dikumpulkan melalui pusat pemerintahan di Manado.

Nama-nama yang digunakan dalam administrasi kemudian masuk ke dalam berbagai tulisan dan literatur.

Jadi, istilah yang kemudian menjadi lazim dalam literatur belum tentu merupakan nama yang digunakan masyarakat tersebut untuk bahasanya sendiri.

Ini merupakan persoalan yang juga terjadi dalam banyak sejarah bahasa di dunia.


Tiga dialek Bahasa Tondano

Ada hal lain yang sering terlupakan ketika kita membicarakan Bahasa Tondano.

Bahasa Tondano bukan hanya bahasa yang digunakan di pusat Kota Tondano.

Dokumentasi mengenai Bahasa Tondano yang memuat bahan Boeng Dotulong menyebut tiga dialek:

  1. Dialek Tondano
  2. Dialek Kakas
  3. Dialek Remboken

Wilayah penggunaan Bahasa Tondano juga tidak berhenti di Tondano. Dokumentasi tersebut menyebut kawasan sekitar Danau Tondano dan wilayah lainnya, termasuk komunitas transmigrasi serta masyarakat Tondano di perantauan.

Dengan demikian, ketika kita mengatakan Bahasa Tondano, kita sedang berbicara mengenai sebuah tradisi linguistik yang wilayah sejarahnya lebih luas daripada sekadar batas administratif Kota Tondano.


Kamus Dotulong dan bukti dari Leiden

Bagi saya, bagian paling istimewa dari kisah ini adalah sebuah dokumen yang masih saya simpan.

Dokumen itu diberikan langsung kepada saya oleh Alm. Boeng Dotulong.

Dokumen tersebut berupa Verklaring, bertanggal:

Leiden, 4 Oktober 2011.

Isinya menyatakan bahwa KITLV menerima:

Kamus Melayu Manado – Indonesia – Toundano

karya:

B.J.D.A.G. Dotulong (Arnhem, 2010)

untuk keperluan perpustakaan KITLV.

Dokumen tersebut ditandatangani oleh Drs. Reinder Storm, yang pada dokumen tercantum sebagai Hoofd afd. Collecties, Kepala Departemen Koleksi KITLV, Leiden.




Dari KITLV ke Leiden University Libraries

Ada satu klarifikasi penting.

Pada 4 Oktober 2011, dokumen tersebut memang menyebut perpustakaan KITLV.

Namun sejak 1 Juli 2014, koleksi KITLV dipercayakan kepada Leiden University Libraries (UBL). KITLV sendiri menjelaskan bahwa UBL sekarang bertanggung jawab atas pengelolaan koleksi tersebut.

Jadi kita dapat mengatakan dengan tepat:

Kamus karya Boeng Dotulong diterima untuk koleksi perpustakaan KITLV di Leiden pada 4 Oktober 2011. Koleksi KITLV kemudian berada di bawah pengelolaan Leiden University Libraries sejak 2014.

Ini lebih akurat daripada sekadar mengatakan “kamus tersebut ada di perpustakaan Belanda.”

Dan maknanya bagi saya sangat besar.

Sebuah karya tentang Bahasa Tondano, yang lahir dari kecintaan seorang putra Tondano, akhirnya tersimpan dalam salah satu pusat koleksi ilmiah penting mengenai Indonesia di Leiden.


Dari Tondano ke Leiden

Bayangkan perjalanan sebuah buku.

Ia lahir dari kecintaan seorang putra Tondano.

Ditulis dan diselesaikan di Arnhem.

Diterbitkan pada 2010.

Kemudian pada 4 Oktober 2011 diterima oleh KITLV di Leiden.

Hari ini koleksi KITLV dikelola oleh Leiden University Libraries. KITLV menyebut koleksinya sebagai salah satu koleksi besar mengenai Indonesia dan Asia Tenggara.

Perjalanan tersebut bukan sekadar perjalanan sebuah buku.

Itu adalah perjalanan sebuah bahasa daerah menuju ruang pengetahuan dunia.


Sebuah kebetulan yang indah

Ada sesuatu yang sampai sekarang saya rasakan sangat istimewa.

Saya berusaha memperkenalkan Bahasa Tondano melalui Facebook.

Boeng Dotulong melihat apa yang saya lakukan.

Beliau kemudian mengatakan kepada saya bahwa semangat saya melestarikan Bahasa Tondano di Facebook menjadi salah satu pendorong baginya untuk sesegera mungkin menyelesaikan kamus Bahasa Tondano.

Saya tentu tidak menganggap diri saya sebagai orang yang menyebabkan lahirnya kamus tersebut.

Karya itu adalah hasil kerja keras Boeng sendiri.

Tetapi saya merasa bersyukur jika semangat kecil yang saya tunjukkan di media sosial ternyata ikut memberikan dorongan kepadanya.

Di situlah saya belajar:

Dalam pelestarian budaya, kita tidak pernah tahu seberapa jauh pengaruh sebuah tindakan kecil.

Satu tulisan dapat menginspirasi orang lain.

Satu kosakata dapat membuat orang kembali bertanya tentang bahasa leluhurnya.

Satu unggahan Facebook dapat mendorong seseorang menyelesaikan sebuah buku.


Dari Boeng Dotulong ke generasi digital

Boeng bekerja pada zamannya.

Ia mengumpulkan bahan.

Menulis.

Menyusun.

Mencetak.

Menerbitkan buku.

Saya hidup pada zaman yang berbeda.

Saya mempunyai Facebook.

Blog.

Video.

Audio.

Arsip digital.

Dan sekarang teknologi kecerdasan buatan.

Karena itu, tugas kita bukan menggantikan karya Boeng.

Tugas kita adalah meneruskan dan mengembangkannya.

Kamus yang dulu berbentuk buku dapat didigitalisasi.

Kosakata dapat diberi contoh kalimat.

Kata-kata dapat direkam pengucapannya.

Cerita rakyat dapat direkam dalam bentuk audio dan video.

Bahasa Tondano dapat diajarkan melalui media sosial.

Dan suatu hari nanti kita dapat membangun Arsip Digital Bahasa Tondano yang lebih lengkap.

Upaya digitalisasi bahasa dan budaya Minahasa sendiri kini juga telah menjadi perhatian dalam penelitian dan proyek pelestarian bahasa.


Jadi, Toudano, Toundano, Tondano atau Toulour?

Setelah melihat berbagai sumber, saya kira kita tidak perlu menjawabnya secara emosional.

Kita perlu membedakan sejarah setiap istilah.

Toudano

Merupakan bentuk yang digunakan dalam sejumlah dokumentasi dan tulisan mengenai masyarakat serta bahasa tersebut, termasuk dalam bahan-bahan Boeng Dotulong.

Toundano

Ini adalah bentuk yang sangat penting karena digunakan Boeng Dotulong dalam judul kamusnya:

Kamus Melayu Manado–Indonesia–Toundano.

Tondano

Merupakan bentuk yang digunakan secara luas sekarang dan secara tegas dipertahankan oleh F.S. Watuseke sebagai nama bahasa dan kelompok etnolinguistik tersebut.

Toulour

Mempunyai sejarah penggunaan yang berbeda. Menurut Watuseke, istilah tersebut bukan nama asli Tondano, berasal dari Tombulu, dan kemudian menjadi kuat karena penggunaan administratif dan literatur. Bahkan pernah menjadi nama resmi wilayah administratif selama 1920–1966.

Jadi kita tidak perlu menghapus istilah Toulour dari sejarah.

Tetapi kita juga perlu berhati-hati jangan sampai istilah administratif dan historis tersebut menggantikan nama bahasa yang digunakan oleh masyarakatnya sendiri.


Bukan hanya soal nama

Pada akhirnya, saya kira persoalan ini bukan sekadar:

Tondano atau Toulour?

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

Apakah Bahasa Tondano masih akan digunakan oleh generasi berikutnya?

Karena bahasa dapat kehilangan penuturnya jauh lebih cepat daripada kehilangan namanya.

Sebuah bahasa dapat tetap tercatat dalam ensiklopedia.

Dapat tercantum dalam katalog perpustakaan.

Dapat mempunyai kode bahasa.

Dapat mempunyai kamus.

Tetapi kalau anak-anak tidak lagi menggunakannya, bahasa tersebut akan kehilangan fungsi sosialnya.

Dan itu yang harus kita cegah.


Warisan terbesar Boeng Dotulong

Bagi saya, warisan Boeng Dotulong bukan hanya Silsilah Keluarga Gerungan 1500–1990.

Bukan hanya Kamus Melayu Manado–Indonesia–Toundano.

Warisan terbesarnya adalah teladan.

Teladan seorang putra daerah yang meskipun telah puluhan tahun meninggalkan Tondano, tidak pernah melupakan tanah kelahirannya.

Ia menunjukkan bahwa mencintai kampung halaman tidak berarti harus selalu tinggal di kampung halaman.

Kita dapat berada di Arnhem.

Di Jakarta.

Di Leiden.

Di Amerika.

Di Australia.

Di mana pun.

Tetapi kita tetap dapat membawa Tondano bersama kita.

Melalui bahasa.

Melalui sejarah.

Melalui buku.

Melalui keluarga.

Dan melalui ingatan.


Dari buku ke Facebook, dari Facebook ke dunia digital

Kalau saya melihat kembali perjalanan ini, ada sebuah lingkaran yang menarik.

Boeng Dotulong mengumpulkan sejarah.

Boeng Dotulong menyusun kamus.

Kamusnya menyeberangi lautan dan diterima KITLV.

Karya tersebut kemudian digunakan sebagai sumber dalam penelitian linguistik.

Sementara itu:

Saya mencoba membawa Bahasa Tondano ke Facebook.

Kemudian kami bertemu.

Dan sekarang, setelah Boeng tidak lagi bersama kita, saya merasa mempunyai tanggung jawab moral untuk terus memperkenalkan Bahasa Tondano melalui media yang tersedia pada zaman saya.

Mungkin inilah cara sebuah warisan budaya berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dari buku ke Facebook.

Dari Facebook ke dunia digital.


Terima kasih, Boeng

Saya beruntung pernah mengenal Boeng Dotulong.

Lebih dari itu, saya beruntung pernah dianggap sebagai adiknya.

Saya masih menyimpan dokumen yang beliau berikan kepada saya.

Dokumen yang membuktikan bahwa pada 4 Oktober 2011, karya beliau diterima oleh KITLV di Leiden.

Ketika melihat dokumen tersebut sekarang, saya tidak hanya melihat selembar surat.

Saya melihat perjalanan seorang putra Tondano.

Saya melihat kecintaannya kepada bahasa leluhur.

Saya melihat kerja kerasnya.

Saya melihat persahabatan kami.

Dan saya melihat sebuah pesan untuk generasi berikutnya.

Jangan menunggu bahasa kita hilang baru kita mulai menyelamatkannya.

Dokumentasikan sekarang.

Gunakan sekarang.

Ajarkan sekarang.

Banggalah sekarang.

Karena bahasa yang hanya disimpan di perpustakaan akan menjadi arsip.

Tetapi bahasa yang digunakan oleh masyarakat akan tetap menjadi bahasa yang hidup.


Tondano bukan sekadar nama

Mungkin pada akhirnya kita boleh mengatakan:

Toudano, Toundano dan Tondano adalah bagian dari perjalanan sejarah nama masyarakat dan bahasanya.

Sedangkan Toulour mempunyai sejarah penggunaan yang berbeda dan tidak seharusnya begitu saja dianggap sebagai nama asli Bahasa Tondano, terutama jika mengikuti argumentasi F.S. Watuseke.

Tetapi lebih penting daripada memenangkan perdebatan tentang nama adalah memastikan bahwa generasi muda masih dapat mengatakan:

“Saya bisa berbicara Bahasa Tondano.”

Sebab selama bahasa itu masih diucapkan, bahasa itu masih hidup.

Dan selama masih ada orang yang mau mencatat, mengajarkan, menggunakan dan mencintainya—

Tondano tidak akan hilang.


Sumber penting

  • F.S. Watuseke, “Tondano and not Toulour,” Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 143 (1987), 552–554.
  • Boeng Dotulong, Kamus Melayu Manado–Indonesia–Toundano, 2010. Karya ini tercatat dalam bibliografi penelitian linguistik.
  • Timothy C. Brickell, “Reduplication in Tondano and Tonsawang” — menggunakan material dari Kamus Dotulong (2010) sebagai salah satu sumber data.
  • Silsilah Keluarga Gerungan 1500–1990, karya Boeng Dotulong, yang dirujuk dalam dokumentasi sejarah Toudano.
  • Dokumentasi mengenai negeri-negeri pengguna Bahasa Tondano dan tiga dialek: Tondano, Kakas dan Remboken.
  • KITLV mengenai status koleksinya dan pengelolaan oleh Leiden University Libraries sejak 2014.